DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
65. Rahasia Besar yang Disimpan oleh Sang Pembunuh Barantai


__ADS_3

Sore itu menjelang petang, terlihat dua sosok misterius yang sedang berenang…tidak, mereka sedang berlari di atas air mendekati pantai utara pulau Jawa.  Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk tiba di daratan dan segera mencapai kota Jakarta Pusat.


“Hei, Rambut Jabrik, kamu sudah menemukan orangnya?”  Kata seseorang dengan pakaian setelan jas lengkap dengan rambutnya yang halus dan matanya yang sipit sambil berlari dengan meloncati puncak-puncak bangunan.


Si rambut jabrik tampak mencari-cari dengan kekuatan deteksi anginnya sambil turut pula berlari dengan meloncati puncak-puncak bangunan.


“Ketemu kau.  Hahahaha!  Dia ada di dalam rumah sakit di arah jam 10.”  Jawab si rambut jabrik yang memiliki penutup mata di mata kirinya dengan rambut jabriknya yang dia cat hijau.  Terlihat pula tindikan di lidah yang dia julurkan ketika tertawa.


“Berhenti, Mata Sipit!”  Ujar si rambut jabrik tiba-tiba seraya menghentikan pergerakan rekannya.


“Ada apa Rambut Jabrik?”


“Di depan, ada seseorang yang mencurigakan.”


Terlihat di depan mereka, sebuah sosok misterius dengan pakaian serba hitam menutupi seluruh tubuhnya dengan penutup kepala hitam serta topeng pierot putih yang tersenyum bengis sedang berusaha menghalangi jalan mereka.  Ya, dialah sang pembunuh berantai misterius yang sedang dicari-cari oleh Petugas Dono dan rekan-rekannya.


***


“Maaf atas ketidaksopanan saya juga.  Perkenalkan, nama saya Kaiser Dewantara, calon pewaris utama Dewantara Group.”  Balas Kaiser memperkenalkan diri atas perkenalan diri Airi dengan senyum ala pangeran di wajahnya serta dengan sedikit membungkukkan badannya.


Airi membalas senyum Kaiser itu dengan senyum pula, tetapi senyum itu tampak mengerikan seolah-olah Airi akan melakukan sesuatu yang nakal kepada Kaiser.


“Kaiser, siapa orang itu?”  Tanya Lu Shou kepada Kaiser.


“Maaf memotong pembicaraan kalian, tetapi ini bukan saatnya kita mengobrol.  Musuh telah mendekat.”


Ekspresi Kaiser berubah tajam setelah mendengar perkataan Airi.  Lu Shou pun tampak meningkatkan kewaspadaannya karena juga dapat merasakan hawa bahaya yang mendekat itu.


“Hei, kamu tampaknya cukup hebat.  Apakah kamu kultivator level E?  Bisakah aku menitipkan Kaiser kepadamu sebentar selagi aku mengurus dua kultivator level E itu?”  Tanya Airi dengan logat bahasa Jepang ala Kyotonya yang khas.


Lu Shou berpura-pura tidak mengerti bahasa Jepang dan mengabaikan perkataan Airi tersebut seraya berbalik badan dan bersiul-siul.  Hal itu lantas membuat Airi yang tenang pun menjadi tampak emosi.  Kaiser segera menengahi mereka.


“Aku juga baru tahu ternyata Lu Shou-san adalah seorang kultivator.  Level E malahan.  Dia orang yang bisa dipercaya.  Dia akan melindungiku dengan baik.  Jadi, tidak usah khawatirkan yang ada di sini.  Fokuslah pada apa yang mesti kamu lakukan, Airi-san.”  Jawab Kaiser.


Mata Airi seketika terbelalak ketika Kaiser menyebutkan nama Lu Shou.

__ADS_1


“Mata biru, perawakan tinggi, tetapi kurus, serta dengan wajah yang tampan.  Juga dari bahasa yang kamu gunakan…Mungkinkah kamu Lu Shou, anak Lu Tianfeng yang mengirimkan kedua pembunuh bayaran itu?  Tidak mungkin.  Dari yang kudengar, Lu Shou walaupun memiliki potensi untuk terbangkitkan, bahkan setelah 5 tahun pelatihan spartan dari ayahnya, dia tetap tidak mampu untuk membangkitkan kemampuannya sehingga Lu Tianfeng mencapnya sebagai anak yang tidak berguna.”  Ujar Airi dengan tidak percaya.


“Benar, dia adalah Lu Shou, anak Lu Tianfeng.  Lebih penting daripada itu.  Aku baru saja mendengar informasi yang menarik.  Apakah aku tidak salah tangkap terhadap apa yang Airi-san sampaikan bahwa Lu Tianfeng mengirimkan pembunuh bayaran untukku?  Apakah dia berniat untuk membunuhku?  Tetapi kenapa?”  Tanya Kaiser yang tampak tidak percaya tentang informasi yang barusan didengarnya tetapi berusaha mempertahankan ketenangannya.”


Ekspresi Lu Shou yang ada di samping Kaiser berubah menjadi sedih.  Dia sudah bisa menduga kalau ayahnya pada akhirnya akan melakukan hal ini.


Airi kemudian mengalihkan kewaspadaannya dari kedua pembunuh bayaran yang mendekat kepada Lu Shou.  Mereka berdua pun saling beradu tatap dengan tidak sopan satu sama lain.


Melihat sikap saling tidak ramah yang ditujukan oleh kedua belah pihak tersebut, Kaiser pun kembali mengambil inisiatif untuk menengahi, “Tenanglah, Lu Shou tidak akan menyakitiku Airi-san.”


“Darimana kamu yakin hal itu Kaiser-kun?”  Tanya Airi dengan sedikit kasar kepada Kaiser atas pernyataannya tersebut.


“Aku sangat peka merasakan gelombang energi orang-orang di sekitarku.  Aku bisa langsung tahu bahwa Shou-san tidak pernah berniat menyakitiku.”


“Bagaimana kamu bisa merasakannya?  Apakah kamu juga orang yang terbangkitkan?”


“Tidak.  Aku bukan orang yang terbangkitkan.  Malahan, aku sama sekali tidak berniat menjadi salah satunya dengan menghindari segala macam bentuk pelatihan yang disarankan oleh kakekku Ducias.”


“Kalau begitu, pernyataanmu itu tidak meyakinkan.  Aku tidak mungkin mengambil resiko meninggalkanmu di sini dengannya.  Dia bisa saja disuruh oleh ayahnya untuk membunuhmu ketika kamu lengah.”


“Dia bisa saja sedang menunggu waktu yang tepat ketika tidak ada saksi…”


“Ayahku sama sekali tidak tahu bahwa aku terbangkitkan dan aku sama sekali tidak berniat untuk menyakiti Kaiser.”  Bentak Lu Shou dalam bahasa Jepang secara tiba-tiba, memotong perkataan Airi sebelum dia menyelesaikan ucapannya yang akhirnya membongkar rahasianya bahwa dia juga mahir dalam berbahasa Jepang.


“Kamu ternyata juga bisa bahasa kami.  Kenapa dari tadi kamu pura-pura tidak mengetahuinya?  Ini semakin membuatku curiga padamu.”  Mengetahui satu kebohongan Lu Shou itu, Airi semakin waspada terhadap Lu Shou dan semakin tampak menjaga Kaiser jikalau Lu Shou tiba-tiba akan melakukan serangan dadakan.


Seketika, perhatian Airi dan Lu Shou teralihkan keluar.


“Tampaknya ada orang ketiga di luar…Apa?  Pergerakan mereka terhenti?”  Ujar Airi dengan kaget.


“Mereka tampaknya saling bertarung satu sama lain.  Jika ini memang perbuatan Ayah, maka aku semakin tidak akan membiarkannya.  Tak kusangka, Ayah benar-benar menjalankan rencananya itu padahal sudah berkali-kali kuingatkan.”  Ujar Lu Shou tertunduk kesal terhadap kebodohan ayahnya.


“Airi, kalau tidak salah namamu, benar kan?  Kamu saja yang mengawasi Kaiser di sini.  Aku yang akan menghadapi para pembunuh bayaran itu.”


Lu Shou melangkah maju hendak melompat keluar lewat jendela, tetapi Airi dengan sigap menodongkan pisaunya ke leher Shou.

__ADS_1


“Airi…-san, apa maksudnya ini?”


“Apa yang hendak kamu lakukan?  Jangan-jangan, kamu hendak menyingkirkan orang yang sedang menghalangi pembunuh bayaran itu kemari, lalu bersama-sama dengan para pembunuh bayaran itu menyerang?”  Airi pun melampiaskan kecurigaannya kepada Lu Shou.


“Kuaaakh!”


Tanpa terduga, Kaiser tiba-tiba batuk darah.


“Kaiser!”


“Kaiser-kun!”


Keduanya pun panik dan segera menggapai Kaiser.


“Ini pasti karena ulahmu yang membuatnya terpental di dinding barusan yang membuat Kaiser-kun jadi seperti ini.”


“Kamu pikir karena siapa aku menyerang?”


Shinomiya Airi dan Lu Shou pun saling bertatapan intens satu sama lain.


***


“Kuaaakh!”


Terlihat darah segar hasil muntahan keluar mengalir dari balik topeng pembunuh berantai itu.  Tampaknya, serangan kombinasi kedua kultivator level E itu memberikan pukulan telak baginya.


Si mata sipit pun berlari sekali lagi mendekati pembunuh berantai dengan kedua tangannya yang nampak berubah menjadi logam yang sangat keras.  Si mata sipit pun melayangkan cakar logamnya kepada pembunuh berantai.  Si pembunuh berantai pun menggunakan katana pendeknya untuk menangkis serangan itu.


Tetapi dengan sigap, si rambut jabrik menggunakan serangan jarak jauh berupa peluru angin sebesar kelereng bertubi-tubi yang tampak dia keluarkan melalui telunjuk kanannya kepada si pembunuh berantai.  Si pembunuh berantai melompat untuk menghindari serangan itu.  Akan tetapi sebuah kelereng angin berhasil mengenai bagian bawah topengnya sehingga pecah dan menunjukkan bagian bawah wajah si pembunuh berantai.


Tampak bahwa pembunuh berantai itu terdesak.  Namun, dalam situasi terdesaknya itu, dia malah tersenyum dari balik topeng putih pierotnya yang kini hanya menutupi bagian atas wajahnya.


“Kalian memang berada di level yang berbeda.  Sungguh seperti yang diharapkan dari iblis dunia lain yang merasuki tubuh manusia.”  Ujar pembunuh berantai seraya tersenyum bengis menggantikan senyum di topengnya yang hilang.


Kedua kultivator itu tampak mematung karena terkejut perihal pembunuh berantai di depannya itu mengetahui rahasia terbesar mereka.

__ADS_1


__ADS_2