
Araka melemparkan dirinya ke atas kasurnya yang empuk. Badannya yang besar hampir saja mengenai smartphonenya yang juga sedang terbaring di atas kasur. Dia kemudian memejamkan matanya.
Tiba-tiba, dering HP sekali lagi terdengar. Araka mengangkat telepon itu. Kali ini panggilan datang dari Riandra.
“Hei Araka, apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa kita semua akan mati? Bagaimana anak buahmu akan mengurus semua ini?” Ucap Riandra dengan panik. Sangat jelas dari suaranya ketakutan yang amat mendalam.
Araka hanya terdiam mendengar itu. Terlihat kekosongan di balik matanya yang hitam.
***
Pagi itu, Dono dan beberapa calon polisi dari akademi kepolisian mengunjungi sekolah Kaiser dengan berkedok sosialisasi bahaya narkoba. Berkat Bu Indri, mereka dengan mudah dapat diterima di sekolah. Tetapi karena kegiatan yang mendadak, OSIS menjadi sangat sibuk dalam mempersiapkan acara tersebut.
Hal itu juga berlaku untuk kelas Kaiser. Ketua OSIS meminta agar ketua dan wakil ketua masing-masing kelas agar membantu di bagian logistik dan peralatan, sementara sekretaris dan bendahara kelas membantu dalam persiapan di kelas. Oleh karena itu, Loki dan Nayla [2] yang adalah ketua dan wakil ketua di kelasnya bersiap untuk pergi dan menyerahkan urusan kelas kepada Kaiser dan Ratih yang merupakan sekretaris dan bendahara kelas.
Namun, ketika Loki dan Nayla hendak pergi, Ratih mencegatnya.
“Loki, Nayla, tunggu!” Ratih tiba-tiba memanggil mereka seraya menarik tangan Kaiser yang sedang duduk di kursinya.
“Kamu tega ya memberikan pekerjaan berat kepada perempuan, sementara ada laki-laki di anggota OSIS kelas kita.” Ucap Ratih tampak meledek Loki.
“Tapi itu kan pembagian dari Ketua OSIS.” Loki berusaha menjelaskan.
Tanpa menggubris ucapan Loki, Ratih lantas melepaskan genggamannya dari tangan Kaiser lalu dengan tingkah genit menyambar ke depan Kaiser dan tersenyum imut seraya menyatukan kedua tangannya di bagian belakang tubuhnya.
“Tuan Muda Kaiser juga tidak tega kan?” Tanya Ratih kepada Kaiser berusaha tampak imut.
“Itu…” Kaiser agak ragu dalam memberikan jawaban karena tidak dapat memastikan motif wanita itu.
“Aku tidak apa-apa kok Ratih…” Nayla berusaha menolak Ratih, tetapi dengan sigap Ratih mengabaikannya. Ratih segera mendorong Kaiser dari arah belakangnya ke arah Loki.
__ADS_1
“Jadi mohon kerjasamanya ya, Loki, Tuan Muda. Serahkan urusan di kelas kepadaku dan Nayla.” Ucap Ratih seraya melambaikan kedua tangannya.
Loki dan Kaiser pun dengan keheranan segera meninggalkan kelas.
***
Di tempat lain, di saat para siswa dari akademi kepolisian diberikan pembagian tugas di masing-masing kelas untuk sosialisasi, Dono memulai penyelidikannya mengenai misteri kunci itu.
Kunci perpustakaan barat laut ada 4 buah, master key dimiliki oleh pihak sekuriti, sementara 3 salinannya masing-masing ditempatkan di ruang guru, OSIS, dan satunya lagi dimiliki oleh penjaga perpustakaan itu sendiri. Kunci dari penjaga perpustakaan dan pihak sekuriti aktif digunakan sehingga bisa dikeluarkan dari penyelidikan sehingga Dono hanya fokus pada penyelidikan kunci di ruang guru dan di ruang OSIS.
Dono pun menyuruh salah satu siswa yang dibawanya dari akademi kepolisian untuk menanyakan perihal kunci perpustakaan itu di ruang OSIS. Adapun Dono menyelidiki kunci perpustakaan yang ada di ruang guru.
Kunci itu sendiri dipegang oleh salah satu guru olahraga bernama Pak Kasim. Dono segera meminta Pak Kasim untuk memeriksa kunci itu. Pak Kasim pun mengeluarkan kunci dari sakunya untuk membuka laci di meja di mana dia menaruh cadangan kunci-kunci sekolah yang diamanahkan kepadanya. Diapun segera menelusuri daftar inventaris kunci untuk menemukan kode kunci yang dimaksud. Kunci berkode Lib201. Namun, ketika, dia hendak mengambil kunci dengan kode tersebut, di luar dugaan, kunci itu telah menghilang.
Dono kemudian menanyakan kepada Pak Kasim bahwa kapan terakhir kali Pak Kasim memeriksanya. Namun sayangnya, Pak Kasim tidak ingat lagi perihal jarangnya atau bahkan tidak pernah sama sekali kunci digunakan sejak disimpan oleh Pak Kasim. Pak Kasim tampak panik dan meraba-raba sekali lagi tumpukan kunci yang disusun rapi berdasarkan abjad di kodenya itu. Siapa tahu, tanpa sengaja, kunci terselip di urutan abjad yang salah. Namun, usahanya sia-sia.
Mereka kemudian memeriksa CCTV yang merekam di dalam ruangan guru tersebut. Alangkah terkejutnya mereka setelah mengetahui bahwa alat perekam CCTV telah rusak tanpa diketahui oleh siapapun di ruang guru itu. Berdasarkan rekaman terakhir, diperkirakan CCTV rusak sejak bulan lalu.
Di tengah hebohnya ruang guru karena kunci yang hilang, Alicia masuk ke sana.
“Saya lihat orang mencurigakan yang sempat mengutak-atik meja Bapak.” Alicia berkata dengan penuh percaya diri.
“Siapa?” Pak Kasim tampak mempertanyakannya.
“Kaiser. Aku lihat dia sempat memeriksa laci meja Bapak sewaktu ruang guru kosong.”
Dono dan Bu Indri pun saling tatap atas jawaban Alicia sementara guru-guru lain tampak menjadi lebih gaduh dalam berbisik-bisik.
Dalam kegaduhan itu, siswa akademi kepolisian yang tadi disuruh oleh Dono untuk mengecek kunci perpustakaan di ruang OSIS telah tiba. Siswa itu segera menghampiri Dono dan membisikkan sesuatu. Dono yang mendengarnya tiba-tiba membelalakkan matanya.
__ADS_1
Rupanya, cadangan kunci-kunci sekolah di ruang OSIS dikelola oleh sekretaris OSIS dan koordinator OSIS bagian inventaris. Sayangnya, koordinator OSIS bagian inventaris di sekolah itu tidak lain adalah Kaiser.
[Lantas mengapa kunci di ruang guru menghilang? Bukankah lebih mudah untuk menjalankan rencananya, jika Kaiser menggunakan kunci di ruang OSIS? Dia dengan mudah dapat mengambilnya lalu disimpan kembali tanpa seorangpun bisa mengetahuinya. Ada yang aneh.] Pikir Dono.
Meninggalkan keraguannya sejenak, Dono yang sedari tadi didesak oleh Alicia dan juga didorong oleh rasa penasarannya tentang apa yang sebenarnya terjadi akhirnya bersama Alicia, Bu Indri, Pak Kasim, serta beberapa guru lain segera menuju ke ruang kelas Kaiser yang letaknya dari ruang guru hanya diantarai oleh ruang staf administrasi.
“Ayo Pak mari kita segera periksa loker Kaiser. Di sanalah dia pasti menyembunyikan kuncinya yang digunakannya untuk melakukan kejahatannya.” Alicia yang baru tiba di kelas itu langsung berlari dan memeriksa loker milik Kaiser.
“Kejahatan? Kamu tahu…” Dono tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi Alicia lebih dulu meninggalkannya untuk memasuki kelas. Kelihatannya Dono penasaran tentang mengapa Alicia tahu motifnya memeriksa kunci perpustakaan.
Dia tampak merogoh-rogoh loker itu dengan ekspresi panik.
“Lho kok tidak ada?” Ucap Alicia panik seraya masih merogoh-rogoh isi loker itu.
“Ada apa Alicia? Sedang mencari ini?” Ratih menghampiri Alicia seraya menunjukkan sebuah kunci berkodekan Lib201 di tangannya.
“Kunci itu? Lihat! Lihat itu Pak! Itu kuncinya! Perempuan itu dan Kaiser pasti bekerjasama untuk melakukan kejahatannya!” Ucap Alicia tampak panik, tetapi mencoba untuk tetap mempertahankan pendapatnya.
“Ooooh.” Ratih memandang Alicia dengan tampang merendahkan.
“Mirna, perlihatkan video itu.”
“Baik.”
“Triit.”
Dengan instruksi Ratih, videopun dinyalakan. Di dalamnya tampak Alicia sedang berbicara dengan seseorang. Rekaman video selanjutnya mempertontonkan seorang yang berpakaian serba hitam dan menutupi wajahnya mengutak-atik meja Pak Kasim.
Kurang lebih sekitar setengah jam kemudian, penjahat akhirnya meninggalkan ruang guru tersebut. Perekam video tampak mengikuti penjahat itu keluar ruangan yang akhirnya memanjat pagar tembok untuk meninggalkan sekolah.
__ADS_1
Sudut pandang kamera video berubah, tetapi masih mempertontonkan penjahat yang sama, tetapi kali ini sudut pandang videonya dari luar sekolah. Video lalu menunjukkan penjahat itu membuka topengnya. Di luar dugaan, itu adalah orang yang diajak berbicara oleh Alicia tadi.
[2] Nayla inilah wanita berkacamata yang sering memarahi Beni jika ribut di kelas