
“Siapa wanita ini Kaiser?” Andika yang keheranan dengan adanya wanita baru di samping Kaiser pun mau tidak mau bertanya.
“Dia Airi. Untuk sementara, dia akan menjadi bodyguardku untuk melindungiku.” Jawab Kaiser seraya duduk di kursinya.
“Oh, begitukah?” Ujar Andika seraya menatap Airi secara seksama dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Airi nampaknya tidak mempedulikan Andika dan hanya mengobrol secara natural dengan Kaiser seraya tertawa bahagia. Tampak keserasian yang begitu menawan antara pria yang sangat tampan dan wanita yang cantik jelita yang duduk di kursi bagian paling belakang itu. Andika yang menyadari hal itu, tak dapat menahan kekesalannya.
“Tunggu, tunggu, tunggu! Kenapa kamu duduk di kursiku? Kursi ini milikku!” Bentak Andika kepada Airi seraya memukul meja.
“Sudah kukatakan, mulai hari ini, aku yang akan menjadi teman sebangku Kaiser. Kamu silakan cari tempat duduk lain.” Jawab Airi dengan santai.
“Akulah teman sebangku Kaiser. Sahabat berharganya. Takkan kuserahkan posisi ini kepada siapapun!” Ujar Andika dengan nada marah khasnya yang terkesan lucu seraya memeluk Kaiser sambil menunjukkan ekspresi mata yang berkaca-kaca.
“Apa yang kamu lakukan Andika?” Kaiser pun berujar seraya melepaskan pelukan Andika padanya.
Kaiser lantas menatap Andika lalu mendapatinya telah berkaca-kaca bagaikan anak anjing yang akan ditinggalkan oleh tuannya. Diapun mengembuskan nafas panjang seraya mengusap-usap dahinya.
“Kamu ini selalu saja aneh-aneh, Andika. Hanya karena pisah tempat duduk, mana mungkin menghapus persahabatan kita. Kamu juga Airi, berhenti menggoda Andika.”
“Hehehehe.”
Airi hanya tertawa nakal mendengarkan komentar Kaiser, sementara Andika hanya menunduk patuh dengan ekspresi sedih di wajahnya bagaikan anak anjing yang tidak akan diajak lagi keluar bermain oleh tuannya.
“Andika, kamu bisa duduk di sini kok. Biar aku saja yang duduk di kursi kosong di samping Mutia.”
Adrian yang duduk di kursi di depan Kaiser pun tak dapat menahan simpatinya dan berbaik hati mengalah untuk Andika seraya tersenyum bagaikan melihat seorang kakak yang menyerahkan permen yang baru saja akan dimakannya setelah melihat adiknya yang menangis karena permennya terjatuh di tanah.
__ADS_1
“Tapi…” Ujar Andika seraya menatap Kaiser dengan ekspresi memelas yang kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Airi.
“Pria sejati harus mengalah pada wanita yang cantik jelita. Bukankah begitu peribahasanya?” Ujar Airi seraya menatap Andika dengan senyum nakal di wajahnya.
“Mana ada peribahasa yang seperti itu!” Bentak Andika sekali lagi dengan nada marahnya yang terkesan lucu yang membuat orang mungkin akan senang untuk menjahilinya.
Kaiser menatap ke arah Andika dengan ekspresi simpati. Andika pun turut memperhatikan Kaiser. Mata mereka berdua pun akhirnya saling bertemu. Andika kemudian mengembuskan nafas panjang.
“Baiklah, aku mengalah.” Ujar Andika seraya duduk di kursi kosong di depan Kaiser, peninggalan Adrian itu.
Beni pun menyambut Andika sebagai rekan sebangku barunya dengan tinju lembut di bahu kiri Andika seraya tersenyum ramah. Andika pun membalasnya dengan tawa canggung di wajahnya. Namun, seketika ekspresi wajah itu berubah menjadi ekspresi yang super duper kesal ketika mendapati Airi dari belakang telah tersenyum sinis padanya sebagai tanda penuh kemenangan terhadapnya.
Sesi tinjauan wali kelas selama 30 menit pun dimulai sebelum jam pelajaran pertama berlangsung. Tampak Wali Kelas memarahi Airi karena sebagai murid baru, dia bukannya langsung ke ruang guru untuk melapor ke Wali Kelas perihal kepindahannya sementara selama berada di Indonesia, tetapi malah duluan masuk ke kelas dan berbincang-bincang santai dengan Kaiser.
Wali Kelas hampir menghabiskan setengah dari waktu sesi tinjauan kelas itu hanya untuk memarahi Airi. Setelah dimarahi habis-habisan oleh wali kelas, barulah Shinomiya Airi dapat memperkenalkan dirinya kepada seluruh penghuni kelas dan resmi bergabung sebagai salah satu anggota kelas.
Airi sekali lagi mengangkat kepalanya. Kali ini perhatian Kaiser telah teralihkan dengan pemandangan di luar jendela.
Airi kemudian menyadari bahwa Andika juga menatapnya dengan intens, tetapi bukan pandangan orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama setelah melihat kejelitaan wajahnya, melainkan ekspresi kesal bagaikan seorang anak yang marah harus berbagi ibu dengan anak yang dititipkan oleh tetangga.
Airi pun menunjukkan senyum sinis nan jahatnya pada Andika. Melihat itu, Andika pun bertambah kesal. Beni terpaksa harus menepuk-nepuk pundak Andika dengan tanpa dapat menahan tawa lucu di wajahnya itu untuk menenangkan kekesalan Andika tersebut.
Seketika, perhatian Airi teralihkan sekali lagi. Kali ini, dengan anak yang duduk di kursi kedua di belakang Ratih. Dia adalah Wilda.
Jam istirahat pertama tiba. Airi segera menyeret Kaiser meninggalkan tempat duduknya. Andika yang berbalik yang sebelumnya hendak mengajak Kaiser makan bareng di kantin, telah mendapati sahabatnya itu telah direbut oleh seorang wanita bernama Airi.
Andika hanya dapat menahan kekesalannya pada tindakan seenaknya oleh Airi itu. Beni pun sekali lagi menepuk pundak Andika dengan senyum ramah di wajahnya untuk menenangkan bocah kekanak-kanakan itu.
__ADS_1
Rupanya Airi menyeret Kaiser ke rombongan Ratih and The Gang. Airi pun mengatakan sesuatu yang luar biasa yang membuat perhatian seisi kelas tertuju padanya.
“Hei, kamu. Padahal sudah terbangkitkan, tetapi tampaknya kamu belum bisa mengendalikan aliran cakramu. Mau kuajari? Aku yakin kamu bisa menjadi kultivator yang baik dengan arahanku.” Ujar Airi dengan santai kepada sosok kacamata di antara mereka, dialah Wilda.
“Apa?” Ratih pun keheranan dengan perkataan Airi sementara Mirna hanya dapat terdiam menganga.
Sebagai keluarga pencari informasi yang andal di Indonesia, Ratih tentunya sudah mendengar desas-desus tentang keberadaan para kultivator tersebut. Tetapi mendengar hal itu langsung dari mulut teman sekelasnya, terlebih berdasarkan statement-nya, dia seakan-akan adalah salah satu bagian dari komunitas itu, Ratih tidak dapat menyembunyikan ekspresi kagetnya itu.
“Airi-san.” Ujar Kaiser dengan lemas seraya menekan-nekan jidatnya.
“Maafkan atas kesembronoan ucapan temanku ini, tetapi bisakah kami meminjam Wilda sebentar?” Ujar Kaiser seryaa menunjukkan ekspresi merasa bersalah kepada mereka bertiga.
“Tuan Muda tidak perlu berkata seperti itu kok.”
“Iya, Ratih benar. Kami baik-baik saja Tuan Muda.”
Ujar Ratih dan Mirna seraya tersenyum ramah kepada Kaiser. Kaiser pun membalas senyuman itu dengan senyuman pula.
Kaiser, Airi, dan Wilda kemudian menuju ke ruang gymnasium yang terletak di gedung olahraga. Sebagai pemilik jabatan koordinator bidang inventaris OSIS di sekolahnya, Kaiser dengan mudah dapat mengakses kunci ruangan mana saja di sekolahnya.
Tanpa sepengetahuan mereka, tidak, sebagai pemilik indra yang tajam, Airi tentu tahu, tetapi memilih untuk pura-pura tidak tahu, Andika, Beni, dan Loki membuntuti mereka.
“Hei, Andika, apa perlu kita membuntuti mereka sampai seperti ini?” Ujar Beni kepada Andika.
“Tentu saja harus. Kita tidak akan tahu apa yang akan dilakukan oleh rubah wanita itu kepada sahabat kita. Bagaimana jika dia memanfaatkan tubuhnya itu untuk merusak Kaiser?” Jawab Andika.
“Hei, bukankah pikiranmu terlalu jauh, Andika?” Loki yang sedari tadi diam sembari mengawasi dari belakang, akhirnya tak tahan untuk turut berkomentar.
__ADS_1
Namun, di luar dugaan Loki, dari balik celah pintu di mana mereka mengintip, Airi dan Wilda melepaskan pakaian bagian atas mereka. Untungnya, mereka tetap mengenakan BH mereka sehingga bagian sensitif itu tidak turut terintip oleh para pengintip itu. Wajah Andika, Beni, dan Loki seraya turut berubah menjadi merah padam.