DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
72. Hipnotis Massal


__ADS_3

“Airi, apakah semua anak sindrom pelangi adalah orang yang terbangkitkan?  Tanya Wilda kepada Airi yang ada di depannya.


“Tidak.  Namun, di dalam tubuh para anak sindrom pelangi seperti kita terdapat cakra bawaan sejak lahir yang lebih memudahkan kita untuk terbangkitkan.”  Jawab Airi.


“Kalau begitu, apakah Tuan Muda juga bisa terbangkitkan?”


Alih-alih menjawab pertanyaan Wilda itu, Airi malah menatap Kaiser yang ada di sebelahnya dengan senyum nakal.


“Aku tidak mau terlibat hal-hal demikian.  Hidup normal adalah yang terbaik.”


“Begitu ya.”


Mendengar jawaban dari Kaiser, Wilda pun menjadi murung.  Kaiser yang tajam segera menyadari bahwa ucapannya tanpa sengaja telah melukai Wilda yang baru saja mampu mengendalikan kekuatan terbangkitkannya.  Dia pun berbalik menatap Wilda.


“Ah, bukan begitu Wilda.  Aku sama sekali tidak menganggap buruk orang-orang yang terbangkitkan.  Hanya saja preferensiku lebih menyukai hidup yang biasa-biasa saja.”


Kaiser tampak salah tingkah menjelaskan kepada Wilda.  Wilda hanya mengangguk seraya tersenyum canggung sebagai tanggapan yang membuat Kaiser malah bertambah tidak enak.  Airi memperhatikan adegan itu.


“Hei Kaiser-kun, apa jangan-jangan kamu khawatir menjadi mandul setelah terbangkitkan?  Tanya Airi penasaran.


“Yah, itu salah satunya.”


“Kalau itu, kamu tidak perlu khawatir.  Anak sindrom pelangi berbeda dengan para kultivator jadul yang mandul.  Sudah ada total 6 kasus anak yang terlahir dari pasangan ‘seed’.  Ah, seed itu istilah untuk anak sindrom pelangi yang terbangkitkan.  Empat dari mereka mampu mewarisi warna mata dari salah satu orang tua mereka.  Dua lainnya entah mengapa malah terlahir sebagai anak yang normal.


Juga ada total 24 kasus anak yang terlahir dari pasangan seed dan orang normal.  Dua belas dari mereka mewarisi warna mata orang tua seed mereka, dua belas lainnya terlahir sebagai anak normal.  Aneh juga jika kamu belum mengetahui hal ini?  Padahal akses informasi keluargamu bagus kan?”


“Itu aku sudah tahu.  Tetap saja aku khawatir. Apalagi 6 yang kamu sebutkan dari total 30 pasangan seed kan?  Dan 24 itu adalah dari total 98 pasangan seed dan orang normal yang tersebar di seluruh penjuru dunia.  Persentasinya hanya sekitar 20 sampai dengan 25 persen saja.


Terlebih, dunia kultivator itu menyeramkan.  Kamu harus selalu siap untuk membunuh atau tidak dirimu yang akan terbunuh.  Aku tidak mau hidup dalam kehidupan yang menganggap remeh arti nyawa manusia seperti itu.”


“Tidak kuduga kamu orang yang lembek ya, Kaiser-kun.”


Mendengar jawaban Kaiser, Airi menertawakan Kaiser dengan senyum nakal di wajahnya.  Kaiser tampak sedikit kesal dengan provokasi Airi itu.


Mereka bertiga pun memasuki kelas kembali.  Dimulai dari Kaiser dan Airi lalu menyusul Wilda di belakang mereka.


“Kaiser, kamu lama sekali.  Pelajaran ketiga hampir selesai.  Untungnya hari ini hanya ada kelas mandiri karena gurunya berhalangan hadir.”  Ujar Andika menyambut Kaiser.


“Oh, begitukah?  Syukurlah, artinya aku tidak ketinggalan pelajaran.”

__ADS_1


Airi yang berjalan di belakang Kaiser lantas menatap Andika dengan senyum nakal di wajahnya.


“Apa yang kamu tertawakan Perempuan Rubah?”  Ujar Andika kesal.


“Andika, omonganmu tidak sopan pada Shinomiya-san.”  Melihat hal itu, Kaiser pun memarahi Andika.


“Maaf.”  Andika tidak dapat melawan sahabatnya itu dan hanya tertunduk meminta maaf.


“Hehehe.”  Namun, Airi semakin menggoda Andika dengan tawa nakalnya.


“Shinomiya-san, kamu juga jangan berbuat tidak sopan pada Andika.”  Kaiser balik memarahi Airi.


“Uh, Kaiser-kun.  Kenapa kamu jadi menyapaku dengan formal begitu.  A-i-ri-san, kamu harus menyapaku dengan nama belakangku.  Atau kamu juga boleh melewatkan san-nya, cukup memanggilku dengan Airi.”  Ujar Airi dengan nada nakal kepada Kaiser.


“Hah, terserah kamu saja Airi-san.  Kalau begitu, kamu juga harus akur dengan Andika atau aku tidak akan memperlakukanmu sebagai orang dekat.”  Balas Kaiser seraya memangkukan dagunya di atas tangan kanan yang ditopangkannya di atas meja.


“Hehehe.  Baiklah, Kaiser-kun.”  Jawab Airi seraya tersenyum menggoda kepada Kaiser.


Airi lantas membungkuk secara alami sehingga mulutnya sejajar dengan telinga Andika.  Diapun tanpa sepengetahuan Kaiser, membisikkan sesuatu ke telinga Andika.


“Bagaimana body-ku?  Menggairahkan bukan?  Pasti Kaiser-kun pun akan klepek-klepek jika melihatnya.  Oh ya, apa yang akan Kaiser-kun pikirkan jika mengetahui bahwa temannya adalah tukang intip?  Aku beritahu ke orangnya tidak ya kalau temannya baru saja mengintip tadi?”


“Hei!”  Ujar Andika panik.  Keringat tampak membasahi sekujur tubuhnya.


“Tidak apa-apa kok, Kaiser.”  Jawab Andika tampak panik.


Kaiser menatap lama Andika.  Andika kemudian tersenyum canggung menanggapinya.  Melihat ekspresi Andika yang seakan menyembunyikan sesuatu yang tak ingin Kaiser ketahui darinya, Kaiser pun mendesah pelan dan memutuskan untuk membiarkan Andika dengan privasinya itu.


Kaiser pun akhirnya mengalihkan perhatiannya dari Andika dengan kembali membenamkan kepalanya ke meja.


“Hei, Perempuan Rubah, sebaiknya kamu jaga mulut kamu baik-baik kepada Kaiser ya.  Aku juga bukannya sengaja ingin melihat pemandangan itu.  Malahan aku yang rugi karena tidak sengaja telah melihatnya.”  Bisik Andika kepada Airi.


“Ho, kamu tidak hanya mengancamku, tetapi juga menghina tubuhku yang seksi ini.  Baiklah, kuputuskan untuk mengadukannya kepada Kaiser-kun”  Airi balas berbisik dengan senyum jahat di wajahnya.


Andika pun menahan tangan Airi agar tidak pergi.


“Tunggu.  Apa yang kamu inginkan untuk menutup mulutmu?”


“Semua koleksi foto imut Kaiser yang kamu miliki.”

__ADS_1


“Akh, apa saja selain itu, kumohon.”


“Tidak ada tawar menawar.”


“Akh!  Baiklah, deal.”


Airi pun tersenyum puas karena berhasil memenangkan pertarungan mental itu disertai dengan hadiah yang sepadan.


***


Sore itu, Loki latihan berpedang seperti biasa di padepokannya.  Dia mengingat-ingat kembali obrolannya dengan Beni dan Andika.


Loki berpikir bahwa jika segala tindakan media, kepolisian, termasuk tindakan Lu Tianfeng itu adalah hasil dari hipnotis massal, maka semuanya menjadi masuk akal.  Dia bisa melihat motif pelaku untuk menyingkirkan orang-orang yang mengganggunya dengan berupaya mengalihkan segala jejaknya agar tidak nampak di permukaan kepada Kaiser yang kebetulan juga berhubungan buruk dengan korban.


Lantas siapa pelakunya?  Dan apakah mungkin ada kekuatan orang yang terbangkitkan yang mampu melakukan hipnotis massal?  Loki saat ini telah mengetahui bahwa ada kekuatan orang yang terbangkitkan yang mampu mengendalikan jalan pikiran orang-orang jika mencium nafasnya di Norwegia.  Tetapi untuk mengendalikan jalan pikiran orang-orang dengan lingkup satu negara, apakah itu mungkin?


Apakah jangan-jangan Kaiser adalah salah satu target dari pelaku itu pula di mana nantinya Kaiser akan dikambinghitamkannya atas pembunuhan yang dilakukannya?  Lantas siapakah orang yang memiliki dendam kepada kelompok Lu Tianfeng sekaligus kepada keluarga Dewantara?


Sejenak kemudian Fero telah masuk melalui pintu yang terbuka dan berdiri tepat di belakang Loki.  Loki rupanya menyadari hal itu walaupun Fero berdiri tepat di titik butanya.


Loki pun tanpa basa-basi, membuka obrolan tersebut.


“Hei, Fero.  Mengapa kamu pikir polisi justru terlalu fokus menyelidiki Kaiser dalam kasus pembunuhan berantai itu?  Tidakkah menurutmu itu aneh?”


“Apa maksudmu?”


Loki pun menceritakan segala hal yang menjadi keraguannya, mulai dari tingkah media, polisi, serta Lu Tianfeng yang terkesan aneh dalam menanggapi kasus pembunuhan berantai itu, termasuk mengenai kemungkinan hipnotis massal tersebut.  Awalnya, Fero ragu, namun setelah diberitahu, diapun akhirnya menyadari kejanggalan tersebut.


Fero pun segera menelepon kaptennya, Danielo, sembari beregas keluar untuk segera ke kantornya.  Namun, tiba-tiba hujan deras turun sehingga Fero bergegas balik untuk meminjam jas hujan dari Loki terlebih dahulu.


Namun, sesaat kemudian,


“Eh, aneh.  Kok aku menelepon Kapten Danielo ya?”


“Fero, ada laporan baru apa?”


“Ah, maaf Kapten.  Tampaknya aku salah pencet.”


Telepon pun ditutup dan nampak raut keheranan di balik wajah Fero.

__ADS_1


“Kalau tidak salah, tadi ada sesuatu yang ingin aku lakukan setelah mendengar sesuatu dari kamu.  Tapi aku lupa.  Kita bicara apa tadi ya, Loki?”  Ujar Fero seraya menatap Loki yang sedang berlatih pedang.


“Eh, apa memangnya tadi kita sempat ngobrol ya, Fero?”  Jawab Loki dengan keheranan.


__ADS_2