
Pagi itu, Araka yang hendak keluar jogging, membongkar-bongkar isi kamarnya hendak mencari handuk kecil yang terbuat dari bahan penyerap keringat yang baik yang biasa dia gunakan untuk melap keringatnya ketika jogging. Barangnya sudah tampak lusuh, tetapi masih tetap dia gunakan karena barang itu adalah simbol kenangan berharganya bersama dengan Dirga sewaktu kecil dulu.
Dia mengacak-acak isi lemarinya. Tanpa sengaja, suatu foto kenangan masa orientasi siswa 3 tahun yang lalu di SMPnya dulu terjatuh. Ada 6 orang di foto itu. Namun yang menonjol di foto itu tidak lain adalah Araka yang satu-satunya tidak botak di foto itu. Terlihat Araka yang lebih muda dari yang sekarang merangkul bahu salah seorang dari kelima siswa yang botak di foto itu. Walaupun botak, terlihat wajah tampan namun belum matang dengan penampilannya yang walau terlihat malu-malu tetapi anggun serta warna matanya yang menonjol dari yang lain. Dialah Kaiser yang berfoto sewaktu Araka menjadi senior pendampingnya di masa orientasi siswa. Araka terlihat sangat bahagia di foto itu di mana Araka merangkul Kaiser dengan tangan kanannya dan menunjukkan posisi V di tangan kirinya sambil tertawa cerah sedangkan Kaiser mengarahkan pandangannya ke arah yang berlawanan dari wajah seniornya itu sambil tertawa kecut dengan ekspresi imut di wajahnya.
“Aku baru ingat bahwa ada masa seperti ini dulu ya? Bocah itu masih tampak lugu di sini.” Ucap Araka seraya tersenyum hangat. Namun, beberapa saat kemudian, ekspresinya berubah menjadi kesedihan.
“Kenapa semuanya jadi seperti ini?” Ucap Araka dengan mata yang berkaca-kaca.
Suara pecahan piring kemudian membuyarkan lamunan Araka. Araka pun segera keluar dari kamarnya untuk melihat apa yang terjadi. Didapatinya, tangan ibunya telah berdarah akibat pecahan piring. Dia lantas berteriak.
“Pengasuh, apa yang kamu lakukan? Kenapa ibuku bisa sampai terluka seperti ini?” Teriak Araka dengan marah.
“Maaf Tuan Araka, Nyonya sendiri yang ingin bantu-bantu menyiapkan sarapan buat Tuan Araka karena Nyonya sudah lama tidak membuat masakan buat Tuan Araka.” Jawab Sang Pengasuh yang baru dipekerjakan itu setelah pengasuh yang sebelumnya dipecat.
“Itu benar Araka. Jangan salahkan bibinya. Ibu sendiri yang mau bantu-bantu Bi Minah untuk membuatkanmu sarapan. Ibu hanya, merasa sesak tidak dapat melakukan tugas seorang ibu yang seharusnya untukmu.” Ujar Sang Ibu secara melakolis. Tanpa sadar, air mata menetes di pipinya.
Melihat ibunya yang meneteskan air matanya, Araka lantas memeluk ibunya dengan erat.
“Ibu tidak perlu melakukan apapun buat Araka. Dengan Ibu selamat saja dari insiden tragis itu, Araka sudah sangat bersyukur. Jadi Araka mohon Bu, jangan lukai diri Ibu karena jika Ibu terluka lagi, Araka rasanya tak sanggup lagi…Hiks…Hiks…” Araka pun tak kuasa menahan air matanya. Dia turut menangis mendampingi ibunya.
“Yuk Bu, kita serahkan saja urusan memasak ke yang ahlinya, Bi Minah.” Seraya dengan ucapannya itu, Araka menggopoh ibunya dengan hati-hati kembali ke kursi roda.
__ADS_1
Dengan muka yang sendu, Araka memperhatikan ibunya yang kurus dan lemah. Dia akhirnya kembali tersadar setelah melihat kembali luka ibunya di telapak tangan kanannya itu.
“Ah, pasti sakit ya Bu. Bu Litia, bantu aku untuk mengobati ibuku.” Araka pun segera memberikan perintah kepada pengasuh baru ibunya itu untuk mengobati ibunya yang terluka.
Sang Pengasuh pun dengan sigap mengambil kotak P3K kemudian merawat luka Bu Melisa, Ibu Araka. Araka tetap di sisi ibunya untuk memperhatikan. Beberapa saat kemudian, pengasuh pun mengantarkan Sang Ibu kembali ke kamarnya untuk beristirahat sejenak sebelum tibanya waktu sarapan.
***
Kaiser, sejak kapan hubungan kita menjadi buruk begini? Apakah karena aku membuli Dios? Ataukah karena aku mendukung keluarga yang bermusuhan dengan keluargamu? Ataukah memang sejak awal kepribadian kita yang tak cocok?
Sewaktu aku pertama kali melihatmu di masa orientasi siswa sebagai salah satu siswa baru dari luar [6], aku salut padamu. Kamu dengan cepat berbaur dengan teman-temanmu dan bahkan tidak diperlakukan sebagai orang luar oleh anak-anak lingkaran dalam [7].
Apapun itu, yang jelas itulah yang membuatku iri padamu. Jika saja aku memiliki bakat sepertimu, pasti upayaku untuk segera secara sah terangkat menjadi keluarga Lu pasti tidak akan memiliki hambatan.
Kamu masih ingat, tidak? Beberapa kali aku mencoba untuk mendekatimu untuk menjadikanmu salah satu bawahanku. Tetapi kamu selalu saja menghindar. Andaikan waktu itu kamu setuju, mungkin semuanya tidak akan berjalan buruk seperti sekarang. Aku tidak perlu menjalin relasi dengan Pak Sudarmin kemudian mengenal Silva sehingga aku tidak akan perlu mengenal salah satu temannya yang bernama Rihana. Jika demikian, tidak akan ada orang yang menghasut Dirga yang bodoh itu untuk membuli sahabatmu itu.
Terus terang, jika aku bisa diberikan kesempatan untuk mewujudkan satu permohonanku, maka aku akan memilih untuk kembali ke masa lalu dan membatalkan tindakanku bekerjasama dengan Pak Sudarmin sehingga aku bisa berteman denganmu. Walaupun pada akhirnya, aku tidak mungkin menjadikanmu bawahanku karena pada akhirnya kamu menjadi pewaris utama Dewantara Group menggantikan sepupumu Danial yang jelas-jelas di bawah perlindungan salah satu keluarga Jepang berpengaruh. Tetapi paling tidak, tidak akan ada yang menghalangi aku untuk menjadikanmu temanku. Yah, walaupun jika itu terjadi, aku mungkin harus melupakan ambisiku untuk menjadi pewaris bisnis Keluarga Lu karena Keluarga Lu sangatlah anti Jepang.
Kaiser, tahukah kamu? Aku pernah bilang kan bahwa aku tidak pernah menyesal membuli Dios di hadapanmu?
Itu semua bohong!
__ADS_1
Namun, walaupun jika waktu diulang kembali ke saat itu terjadi, mungkin aku tetap akan harus melakukan hal yang sama. Itu semua kulakukan demi martabat keluargaku yang kamu tahu kan, ayahku adalah seorang mafia. Jika aku tidak melakukannya ketika dituntut untuk melakukannya oleh orang-orang di dalam lingkaran relasi, aku pasti sudah langsung ditendang oleh ayahku karena dinilai pengecut. Dan jika itu terjadi, bagaimana dengan nasib ibuku? Aku masih terlalu muda untuk menafkahi sendiri hidupku dan ibuku tanpa dukungan ayahku kala itu. Aku tidak punya siapa-siapa selain ayahku yang kubenci itu untuk menggantungkan hidup kami.
Namun, kamu tahu, melihat hal itu membuatmu jauh dariku, itu sangat membuat hatiku sakit. Namun, kini tidak ada lagi jalan untuk mengembalikannya. Aku sangat menyesal.
Kaiser, masih ingat tidak dengan peristiwa ketika aku dan Aleka berusaha membulimu? Waktu itu, aku juga membawa empat orang lain, salah satunya anak kelas satu teman sekelasmu, namanya Fahrul. Terus terang waktu itu aku sangat kaget melihat kamu yang biasanya ramah dan murah senyum bisa berwajah bengis seperti itu. Kamu bahkan bisa menghajar Aleka yang badannya besar itu sampai babak belur hingga dia sampai menangis memanggil-manggil ayahnya. Sungguh di luar dugaanku.
Kaiser, sebenarnya masih ada rahasia yang aku sembunyikan darimu. Mengenai kasus pembulian itu, aku dan Silva telah berusaha mencoba mengontrol emosi anak-anak yang lain sehingga seharusnya luka Dios tidak membuat nyawanya terancam. Aku begitu yakin ketika kami meninggalkannya, walaupun Dios babak belur, tidak ada luka vital di badannya.
Namun, mungkin karena ini kelengahanku meninggalkan Tirta di belakang. Kulihat dia memberi pukulan sekali lagi setelah kami meninggalkan tempat itu. Aku lihat pukulannya biasa saja sehingga tidak kupermasalahkan. Aku tidak menyangka bahwa pukulan terakhir itu bisa membuat keadaan Dios sampai seperti sekarang ini.
Namun bisa saja hal itu disebabkan oleh komplikasi yang baru muncul setelah luka beberapa saat yang menyebabkan Dios koma sampai sekarang. Apapun itu, akulah yang salah karena tidak mampu mencegah hal itu terjadi sedari awal sehingga tidak ada gunanya aku berargumentasi.
Sekali lagi, maaf itu juga bohong!
Yang sebenarnya adalah keirianku pada Dios yang membakar hatiku ini. Aku sangat iri dengannya yang bisa berteman denganmu. Itulah yang menjadi pemicu mengapa sedari awal aku tidak mencegah hal ini terjadi. Ada hasrat tersembunyi dari diriku yang ingin melihatnya menderita karena aku yang dari status tinggi dikalahkan olehnya yang dari status rendah dalam memperoleh posisi sebagai sahabatmu.
Sekali lagi, maafkan aku, Kaiser.
NB: [6] Rata-rata siswa baru SMP Puncak Bakti berasal dari SD Puncak Bakti, tetapi Kaiser berasal dari pindahan SD Nusa jaya
[7] Anak-anak dari SD Puncak Bakti yang melanjutkan ke SMP Puncak Bakti. Mereka rata-rata adalah anak-anak dari keluarga terpandang yang membentuk lingkaran relasi di antara sesama diri mereka sendiri dan sulit untuk memperlakukan orang lain di luar lingkaran relasi mereka sebagai teman
__ADS_1