DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
94. Pertemuan Kembali Silva dan Kaiser


__ADS_3

Pagi itu, Silva terlihat menyetir dengan kikuk perihal kendaraan yang digunakannya adalah kendaraan yang bukan seperti yang biasa dia gunakan.


“Duh, Ayah bodoh!  Mengapa mata-mata Ayah ada di mana-mana?  Begitu aku menginap di hotel, mereka langsung tahu lokasi hotelku berdasarkan riwayat transaksi kartu kreditku.  Bahkan ketika aku mencoba mengelabui mereka dengan menarik uang di ATM yang jauh dari lokasiku menginap, mereka tetap dapat menemukanku dari rekaman CCTV jalan yang berhasil merekam mobilku.”


Silva pun membuang badannya bersandar di sandaran jok mobil.


“Aku terpaksa meninggalkan mobil kesayanganku agar tak dapat dilacak oleh Ayah.  Dan beginilah jadinya sekarang.  Aku harus mengendarai mobil sewaan jelek ini.”  Ujar Silva dengan nada kesal.


Tanda lampu merah jalan pun menyala.  Dan tiba-tiba,


“Praaaak!”


Silva yang terlambat menyadari lampu merah itu, akhirnya tak kuasa mengendalikan rem mobilnya kemudian menabrak mobil yang ada di depannya.


Akibat kecerobohannya yang tidak mengenakan sabuk pengaman, walau dengan tabrakan yang tidak terlalu keras, dia berhasil terpental ke kaca depan mobil dan melukai kepalanya.


Diapun segera dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk memperoleh perawatan.  Entah ini takdir atau apa, rumah sakit terdekat tempat Silva dilarikan tersebut adalah RS Dewantara Group.


Silva yang pingsan sekitar 5 jam, akhirnya tersadar.  Namun, apa yang dipikirkannya ketika tersadar adalah keinginan untuk mengisap sebatang rokok.  Setelah bertanya kepada suster, dia pun menuju ke kantin yang menjual rokok yang terletak di sebelah taman.


Dia berjalan tanpa menyadari bahwa rumah sakit tempat dia dirawat adalah rumah sakit milik musuh bebuyutan keluarganya.  Ketika hendak keluar taman, Silva pun tanpa sengaja mendapati Ratih yang sedang membawa Bu Melisa jalan-jalan dari kursi rodanya bersama Kaiser.  Tampak ekspresi bahagia yang tulus di wajah Ratih yang selama ini belum pernah sekalipun disaksikan oleh Silva selama dia mengenal Ratih di SMP.


***


“Ratih, benarkah ini tidak apa-apa?  Aku bisa merawat Bu Melisa seorang diri.  Lagipula inilah satu-satunya yang dapat aku lakukan untuk Senior Araka.  Kamu tidak memiliki kewajiban untuk terlibat.”  Bisik Kaiser kepada Ratih.


Mendengar hal itu, Ratih pun tersenyum manis lantas membalas bisikan tersebut.


“Tuan Muda tidak perlu merasa tidak enak kok.  Lagipula aku juga memperoleh keuntungan di sini.  Bisa dekat dengan Tuan Muda seperti ini.”


“Ratih.”  Lirih Kaiser yang tampak merasa sungkan pada Ratih.

__ADS_1


“Atau apakah keberadaanku di sini mengganggu Tuan Muda Kaiser?”


“Mana mungkin!”  Ujar Kaiser cepat dengan panik dengan ekspresi yang merasa bersalah.


“Hahahaha.”  Ratih pun tertawa melihat ekspresi lucu idolanya tersebut.


“Lagipula, ketimbang Tuan Muda, keluargaku-lah yang lebih dekat dengan keluarga Lu Tianfeng.  Setidaknya, hal inilah yang dapat kulakukan demi persahabatan lama keluarga kami.  Jadi ini pada dasarnya tidak ada sangkut pautnya dengan Tuan Muda kok.”  Ratih pun menjawab dengan tenang.


“Begitukah?”


“Tetapi keberadaan Tuan Muda Kaiser di sisiku saat ini adalah bonus tersendiriku sebagai seorang penggemar.”  Ujar Ratih dengan senyum cerah di wajahnya.


Awalnya Kaiser ragu, namun ketimbang menolaknya, Ratih pasti akan lebih senang mendengar ucapan terima kasih darinya.


“Terima kasih, Ratih.”  Ujar Kaiser dengan senyum ala pangerannya.


Melihat keindahan yang tiada tara itu, muka Ratih pun memerah.


***


Mulutnya menganga menyaksikan penampilan Ratih yang anggun.  Dia tidak lagi mengenakan rok mini dan pakaian minim yang memperlihatkan setengah dadanya, melainkan pakaian gaun tertutup yang takkan lagi membuat pria nakal terangsang melihatnya.


Senyumnya pun kini tampak lebih tulus.  Jika sewaktu SMP didapatinya Ratih juga sering menggaet pria dengan senyum pura-pura polosnya, namun kali ini dia tersenyum begitu syahdu di hadapan Kaiser.  Matanya benar-benar menunjukkan aura cinta yang tulus.


“Apa yang kamu lakukan bodoh!  Semua pria itu br*ng**k.  Mereka ada hanya untuk jadi mainan kita.  Wanitalah yang harus memegang kendali dalam hubungan.  Tetapi mengapa kamu mau sampai diperdaya begitu oleh anak lembek itu!”  Desah Silva yang tak tahan oleh tingkah bodoh Ratih menurutnya itu.


Niatnya untuk merokok pun sirna setelah menyaksikan pemandangan menjijikkan barusan baginya itu.  Dia pun kembali ke lobi rumah sakit.  Namun, jahitan pada luka di kepala Silva secara tiba-tiba kembali terbuka dan mengeluarkan darah.


Menyaksikan darah menetes keluar dari perban yang membalut luka Silva tersebut, salah seorang suster kemudian menghampirinya dan segera membawanya kembali ke ruang UGD.


***

__ADS_1


Malam harinya, Kaiser masih tampak berada di area rumah sakit untuk memantau kondisi Dios.  Dia menunggu Agni di lobi lantai satu rumah sakit yang pergi sementara untuk memesan makanan.  Di situlah dia tanpa sengaja bertemu dengan Silva yang juga kebetulan keluar menuju taman untuk menghirup udara malam.


“Kamu?”  Teriak Kaiser sedikit membentak.


“Apa yang kamu lakukan di rumah sakit ini?  Apa jangan-jangan kalian ingin menyakiti Dios lagi?!”  Kaiser pun segera melayangkan pertanyaan itu dengan ekspresi waspada di wajahnya begitu melihat salah satu pelaku bully tersebut berada di dekat sahabatnya yang sedang terbaring koma.


Mendengar judge negatif Kaiser yang secara langsung tanpa menilai situasi tersebut, Silva menggertakkan giginya.  Dia kesal karena Kaiser serta-merta mencap dirinya berbuat jahat begitu melihatnya.


“Aku di sini juga bukan karena kemauanku.  Aku kecelakaan dan tanpa kuketahuiku, aku sudah dibawa ke rumah sakit ini.”  Ujar Silva dengan tampak menunduk menahan kesalnya.


“Hei, Kaiser, apa bagimu aku ini wanita sejahat itu?”  Silva dengan lirihan rendah, tampak marah dan menatap langsung ke mata biru Kaiser.


Kaiser lama menatapnya.  Dia menimbang-nimbang kemungkinan benar atau tidaknya ucapan perempuan licik di hadapannya yang dia kenal tidak segan-segan berbohong untuk memenuhi hasratnya itu.


“Kalau begitu, maafkan aku karena menuduhmu yang tidak-tidak tanpa menilai situasi terlebih dahulu.  Kamu kembalilah ke kamarmu untuk beristirahat agar segera sembuh lalu segera keluar dari rumah sakit ini.  Bukankah ayahmu juga sangat mewaspadaiku dan terus mengira kalau aku pembunuh berantai yang mengincar nyawa kalian?  Aku tak ingin lagi terlibat masalah yang tak perlu.”  Ujar Kaiser seraya hendak meninggalkan lobi tersebut.


“Kamu.”  Kaiser berhenti sejenak dan menoleh ke belakang menatap Silva begitu mendengar Silva mengucapkan sesuatu.


“Mengapa kamu bisa begitu baik pada Ratih, tetapi sangat kasar padaku?  Apa bedanya aku dan Ratih di matamu?”  Teriak Silva marah.


Mendengar ucapan Silva, Kaiser keheranan dengan apa yang sebenarnya diinginkan Silva.  Dia kemudian menatap wajah Silva.  Tetapi rupanya dia tetap tak mampu melupakan persitiwa pembulian Dios di ingatannya.  Serta-merta perasaan benci yang mendalam itu kembali mencuat di pikirannya.


“Kamu serius berkata seperti itu?  Apa kamu pikir aku akan memperlakukanmu sama setelah apa yang kamu perbuat pada sahabatku Dios?  Dan bahkan setelah kalian berbuat seperti itu, kalian hanya ditahan di rumah selama 2 tahun.  Apa kalian pikir aku dapat menerima semua itu?”  Ujar Kaiser lembut tampak berusaha menahan amarahnya agar tak keluar.


Setelah terdiam sejenak, Kaiser pun kembali berucap setelah sedikit lebih tenang.


“Ah, maafkan aku karena telah terbawa emosi yang tak pantas.  Jadi begitulah, sebaiknya kita tidak pernah lagi saling bertemu.  Tidak ada hal baik yang akan terjadi ketika kita bertemu.  Dan kamu jangan pernah lagi mengganggu Dios dan juga sahabat-sahabatku lainnya.  Dengan begitu, baru aku mungkin dapat memaafkanmu.”  Lirih Kaiser.


Kaiser pun sekali lagi berjalan ingin meninggalkan ruangan lobi tersebut, tetapi Silva segera berlari dan menahan belakang baju Kaiser.


“Apa itu?  Lagian aku sama sekali tidak pernah terlibat dalam pembulian itu.  Orang lain yang tidak aku kenal-lah yang membawa Dios ke Araka untuk dibully.  Lagian yang menghajarnya habis-habisan adalah Aleka, Riandra, Dirga, dan Tirta setelah termakan hasutan Rihana.  Lagipula semua ini salah Tirta yang melukainya di tempat fatal ketika tidak diawasi oleh Araka.  Jadi kenapa semua ini salahku?”  Teriak Silva balas marah kepada Kaiser.

__ADS_1


Kaiser tersentak.  Info yang sama yang dia peroleh dari Araka, sekali lagi dia dengar dari mulut Silva, tentang Tirta sebagai pelaku utama yang membuat sahabatnya Dios masih terbaring koma sampai sekarang.


__ADS_2