
Senja itu, Kaiser dengan ditemani Airi, pulang ke rumahnya. Kaiser mendapati ekspresi rumit di wajah Airi. Melihat itu, Kaiser pun menanyakannya.
“Airi-san?” Lirih Kaiser dengan warna suara yang indahnya.
Wajah Kaiser cukup dekat dengan wajah Airi berhubung tinggi mereka yang hampir sama. Oleh karena itu, ketika Airi menoleh ke samping, jarak wajah mereka menjadi sangat dekat. Dia pun tak dapat menahan diri untuk tidak terpesona oleh keindahan ciptaan Tuhan itu.
Tanpa sadar, Airi menatap bibir Kaiser. Mukanya seraya memerah. Diapun segera kembali memalingkan pandangannya ke depan. Airi kemudian menepuk-nepuk pipinya untuk menyadarkan dirinya dari hipnotis wajah tampan tuan muda itu.
“Airi-san?” Kaiser yang polos yang tidak terlalu menyadari keampuhan pesona wajahnya, lantas kebingungan melihat tingkah Airi tersebut.
“Maafkan aku, Kaiser-kun, karena sedari melamun. Ada apa?” Ujar Airi kepada Kaiser setelah berhasil menata kembali perasaannya.
“Tidak ada. Hanya saja, sedari tadi ekspresimu kelihatan rumit.”
“Oh, itu. Soalnya aku bingung harus berbuat apa. Saat ini, aku harus berjaga-jaga dari kultivator level D tipe pelacakan yang sedari tadi mengawasimu. Tetapi, aku juga tidak dapat mengabaikan para kultivator level rendah yang sedari tadi mondar-mandir di sekitar Dios. Beberapa dari mereka juga tampaknya berhasil memasuki rumah sakit.”
“Kalau begitu, kamu ke sanalah. Jika seperti apa yang tadi kamu sampaikan, kultivator itu tampak tidak akan mendekatiku untuk saat ini. Di samping, kamu juga sudah menanam kembali penanda bahaya di cakraku, kan?”
Airi tampak menimbang-nimbang sebelum akhirnya memutuskan.
“Hmmm. Baiklah, Kaiser-kun. Aku akan pergi mengawasi Dios sebentar. Perasaanku juga tidak enak dengan kabut hitam di sekeliling para kultivator level rendah itu yang membuatku tidak bisa melacak dengan akurat siapa mereka jika berbaur di kerumunan.”
Airi berbalik lantas menatap serius Kaiser.
“Ingat, pastikan untuk tinggal di rumah saja dan jangan keluar ke mana-mana.” Ujar Airi dengan tampak menegaskan setiap perkataannya.
“Baiklah, aku mengerti, Airi-san.” Jawab Kaiser seraya tersenyum canggung.
Dengan demikian, Airi pun segera terbang dengan kekuatan poltergeist-nya menuju ke rumah sakit tempat Dios dirawat.
Tiba-tiba dari dalam, terdengar langkah kaki yang menuju ke ruang tamu, tempat Kaiser berada saat ini.
“Nak Kaiser?”
Rupanya dia adalah paman Kaiser, Pak Arkias.
“Tadi aku juga mendengar suara Airi. Kamu tidak bersamanya?”
“Oh, dia pergi ke rumah sakit lagi untuk mengawasi Dios.”
“Anak itu, padahal aku meminta tolong kepada Tuan Besar Shinomiya agar Airi melindungimu. Mengapa dia malah sibuk mengurusi anak itu?”
“Apa boleh buat, Paman. Itu atas permintaan Aizen-san untuk turut menjaga Dios. Bukankah kita sudah cukup untung karena setelah kasus dengan mafia China itu, Aizen-san masih bersedia meminjamkan Airi-san pada kita sebagai bodyguardku?” Kaiser pun menjawab dengan sudut pandang yang objektif.
“Enak ya, jadi kultivator. Kita bisa melindungi diri kita dari kejahatan. Nah, Kaiser, apa paman perlu pula untuk berlatih kultivasi agar bisa menjadi kultivator juga?” Ujar Pak Arkias dengan maksud bercanda.
__ADS_1
Namun, ketika dia menatap wajah keponakannya itu, tampak amarah yang luar biasa di mata Kaiser.
“Paman jangan pernah sekali-kali berpikiran seperti itu!”
Pak Arkias tersentak kaget dengan amarah keponakannya itu.
“Memangnya kenapa, Nak Kaiser?”
“Ini sebenarnya hanya sekadar asumsiku, Paman. Tetapi kebanyakan orang-orang yang berhasil melewati pelatihan kultivasi dan menjadi seorang kultivator sejati, tanpa bakat cakra di dalam tubuh mereka layaknya para anak sindrom pelangi, tiba-tiba saja karakter mereka berubah 180 derajat.”
“Oi, oi, Nak Kaiser. Apa kamu takut pamanmu ini berubah menjadi tidak sayang kamu lagi jika Paman menjadi seorang kultivator?”
Mendengar pernyataan pamannya itu. Kaiser memijat dahinya yang seraya ikut menutup sebelah matanya. Mulutnya tampak berdecak kesal.
“Poin pentingnya bukan di situ, Paman.”
Kaiser lantas menatap tajam mata pamannya yang membuat Pak Arkias sampai merinding karena sekilas mata biru Kaiser terlihat sangat seram.
“Bagaimana jika roh yang ada di dalam tubuh orang itu, bukan lagi milik orang tersebut? Alias tubuhnya telah dirasuki dan dikendalikan oleh eksistensi yang tidak diketahui?”
“Maksud kamu?” Pak Arkias pun terkaget dengan teori konspirasi Kaiser.
“Aku sebelumnya menyelidiki kasus game populer “Devil Inside You” yang merubah karakter banyak orang di Jepang dan Korea bersama Agni. Walaupun sekarang, aku menghentikan penyelidikanku itu karena berfokus untuk melindungi Dios, aku menemukan literatur yang sangat menarik.”
“Apa itu Nak?”
“Ritual perasukan?”
“Yah, tetapi paman tidak perlu tahu detilnya karena penyelidikanku juga belum tuntas. Tetapi yang jelas, Kaiser harap, paman menjauhi sejauh-jauhnya pikiran untuk menanamkan cakra buatan atau apalah itu namanya di tubuh Paman. Metode itu sangat mencurigakan. Sangat dekat dengan ritual perasukan di mana iblis dunia lain akan merasuki tubuh kita dengan ritual tersebut. Paham, Paman?”
“Baiklah, Kaiser. Paman paham.”
***
Keesokan harinya, sepulang sekolah, Kaiser bermain di rumah sakit bersama Danial dan Amanda dengan didampingi oleh Agni, sementara Airi berkeliling rumah sakit untuk mengawasi.
“Kakak Tampan, Kakak Tampan, lihat ini, bunganya cantik.” Ujar Amanda dengan ceria.
Kaiser pun menanggapinya dengan tersenyum.
Terlihat Amanda merangkai bunga kemudian memasangkannya sebagai mahkota di kepala Danial. Danial juga tampak menikmatinya. Amanda dan Danial pun berlari-lari di sekitar taman dengan riangnya. Melihat pemandangan yang damai itu, Kaiser kembali tersenyum.
Beberapa saat kemudian, Agni menghampiri Kaiser.
“Tuan Muda, sudah saatnya Amanda dan Danial menerima perawatan rutin.”
__ADS_1
“Aku paham.”
Dengan demikian, Kaiser bersama Agni pun mengantarkan Amanda kembali ke kamarnya di lantai dua rumah sakit, lalu menaiki lift ke lantai delapan untuk mengantar Danial kembali ke kamarnya.
Namun, begitu Kaiser hendak meninggalkan ruangan untuk menjenguk Dios, Danial merengek ingin ikut.
“Aku ingin ikut! Pokoknya ingin ikut! Adek jarang-jarang datang ke rumah sakit. Makanya, selama di rumah sakit, Kakak ingin dekat Adek terus.” Rengek Danial pada Kaiser.
Kaiser pun mengembuskan nafas panjang dan menyetujui permintaan Danial tersebut.
“Baiklah Kak. Aku izinkan. Tetapi dengan satu syarat. Kakak harus menjaga sikap Kakak. Saat ini, kondisi Dios sedang tidak baik, sedikit saja Kakak berbuat salah, Dios bisa saja dipanggil sama yang di atas, Kak.”
Mata Danial lantas berkaca-kaca mendengarnya.
“Dipanggil yang di atas berarti kita tidak akan bertemu dengan Dios lagi selamanya Dek?”
“Begitulah Kak. Tetapi selama Kakak bersikap tenang, maka tidak akan ada masalah.”
“Baiklah Dek, Kakak mengerti.” Jawab Danial yang terlihat masih mewek dengan mata yang berkaca-kaca.
Dengan begitu, Kaiser, Agni, Danial, serta suster pribadi yang merawat Danial pun, memasuki kamar Dios untuk menjenguknya.
Terlihat nuansa yang penuh melankolis di antara Kaiser, Agni, dan Dios di dalam ruangan tersebut. Hal itu lantas membuat Sang Ibu Suster bertanya-tanya.
“Nak Kaiser, pasti sangat dekat ya dengan Nak Dios ini?”
“Kami sahabat baik sejak TK dulu, Bu Suster.” Jawab Kaiser dengan ekspresi sendu di matanya.
“Ibu penasaran bagaimana kalian bisa berteman sedekat itu? Karena kalau melihat dari status sosial kalian, kalian sangatlah bertolak belakang.”
“Yah, mungkin karena kami tinggal berdekatan. Kakek yang merawat Dios kebetulan adalah kepala pelayan di rumah kami. Di samping itu, mata kami sama-sama biru dan kami sama-sama kidal. Mungkin karena itu, kami mudah untuk bersimpati satu sama lain.” Jawab Kaiser seraya tersenyum sendu.
***
Di dalam ruangan itu, tampak Jey sedang memotong wortel untuk memasak. Sang Kakek, yang belakangan ini sering bekerja bersama dengan Jey, tampak keheranan dengan ketidakbiasaan cara Jey memegang pisaunya.
“Lho, kamu kidal toh, Nak Jey?”
“Begitulah Kek.” Jawab Jey ramah.
“Kakek sama sekali tidak menduganya soalnya selama ini kamu tidak tampak seperti itu.”
“Yah, aku terlahir kidal, tetapi selalu dididik untuk melakukan apapun harus dengan tangan kanan."
“Oh, karena masalah adat kesopanan ya.”
__ADS_1
Jey hanya tersenyum menanggapi pernyataan Sang Kakek.