DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
132. Seorang Pembunuh yang tak Ingin Dibunuh


__ADS_3

Sekitar setahun yang lalu di Amerika Serikat.  Waktu itu, Silva yang tak dapat menahan mabuknya, akhirnya tertidur di salah satu bar langganannya.  Tirta yang kebetulan turut berada di sana sebagai kunjungan terakhirnya sebelum bebasnya mereka dari tahanan rumah, mengantarnya pulang ke apartemennya.


Tanpa sengaja, Tirta melihat isi smarphone Silva yang terus saja diciuminya.  Rupanya, Silva sedang membuka instagram milik orang yang paling dibencinya itu sambil mencium-cium layar smarphone-nya dengan penuh nafsu.


“Silva, sudah waktunya untuk pulang.  Biar kuantar kamu.”  Ujar Tirta pada Silva yang mabuk.


“Siapa kamu?  Aku belum puas menatap pangeran aku.”  Jawab Silva yang tengah mabuk sambil mencium-cium foto Kaiser tersebut.


Silva pun mendekatkan wajahnya ke Tirta.


“Oh, Tirta, kacungku yang paling setia rupanya.”  Ujar Silva sembari terhuyung-huyung.


Beberapa saat kemudian, ekspresinya berubah.  Silva dalam sekejap menunjukkan ekspresi marah.  Dia lantas menampar Tirta.


“Ini semua salah kamu!  Jika bukan karena keberadaanmu, Kaiser pasti sudah kudapatkan.  Ini semua karenamu.  Pergi sana, dasar jelek!  Apa-apaan dengan hidung babi dan rambut kayak pengemis itu.  Oh iya, aku lupa.  Kamu memang pengemis ya, makanya kamu mau jadi kacungku.”


Silva pun berceloteh dengan setengah mabuk sembari mengeluarkan kata-kata tajam di hadapan Tirta.


Dan di sinilah pemuda yang telah lumpuh kedua kaki dan tangan kanannya berada.  Terkurung dalam suatu fasilitas tahanan khusus untuk para spiritualis, yang pendiriannya dipelopori oleh kakek Loki.


“Silva, kenapa kamu begitu tega mengabaikanku?  Apa bagusnya bajing*n psikopat itu?  Dia yang bahkan telah menghabisi nyawamu.”  Lirih Tirta dengan ekspresi putus asa tertangkap di wajahnya.


Di saat itulah Kapten Maya memasuki ruangan untuk menginterogasi pemuda yang telah rusak mental itu.


***


Kapten Maya yang letih sehabis menginterogasi Tirta yang selalu saja memberikan keterangan-keterangan aneh yang tak masuk akal, tak dapat menahan kekesalannya dan membanting map yang dibawanya dengan keras ke meja.


“Anak psikopat itu!  Mengapa dia tidak henti-hentinya mengulangi kalimat yang sama yang tak masuk akal?!  Apa mungkin ada orang gila yang mau memanipulasi orang lain untuk membunuh dirinya sendiri?!  Mana mungkin kalau identitas sebenarnya dari pembunuh berantai joker hitam itu adalah Kaiser?!  Ah, ini membuatku gila!”


Ujar Kapten Maya dengan kesal sembari menatap ke arah Tirta dari balik jendela tembus pandang searah yang mampu dengan jelas melihat maupun mendengar suara dari sisi sebelah, tetapi tidak pada sisi lainnya.


“Kaiser akan membunuhku.  Tidak, jangan bunuh aku.  Tolong selamatkan aku.  Kaiser akan membunuhku.”  Ujar Tirta secara berulang-ulang dari balik jendela itu.


Kapten Maya menatap pemuda itu dengan sangat kesal, tak tahan mendengar kalimat berulang-ulang tak masuk akal yang terus saja diucapkannya tersebut.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara berisik dari luar.  Kemudian, dua orang pria berusia sekitar 50-an datang menghampirinya.


“Maya, apa maksudmu dengan semua ini?  Mengapa kamu mengambil kasus kami secara sepihak?!”  Teriak pria tua yang lebih muda dari mereka yang tidak lain adalah Kapten Wiwik.


“Ah, ini makin membuatku gila.”  Gumam Maya, tetapi dengan suara yang cukup jelas sehingga mampu terdengar oleh mereka berdua.


Satu pria tua lainnya akhirnya ikut angkat bicara.  Dialah Kapten Danielo.


“Wajar kalau Wiwik kesal.  Tanpa didahului oleh surat resmi, kamu langsung tiba-tiba mengambil kasus ini.  Divisi kami merasa diremehkan karena sikapmu itu.”


“Maaf, Instruktur Danielo.  Aku mengambil kasus ini sudah sesuai SOP yang ada.  Lagipula, ranah kasusnya sudah berubah ke arah bencana tidak wajar.  Wajar jika tim kami yang mengambil alih.  Tetapi jika instruktur masih ragu, akan kutunjukkan berkas-berkasnya.  Setelah membacanya, Instruktur akan lebih paham.”  Kapten Maya pun menjawab.


“Tapi…”  Kapten Danielo tampak ragu.


Namun, belum sempat dia berucap lebih jauh, tiba-tiba terdengar keributan dari ruangan sebelah dari balik jendela tersebut.


Dalam sekejap, petugas yang hendak mengawal Tirta kembali ke sel menjadi seperti habis kesetrum listrik tegangan tinggi dan sekarat, begitu menyentuh tangan kiri pemuda itu.


Terlihat jelas raut kaget dan tidak percaya dari kedua pria tua itu setelah menyaksikannya secara langsung.  Tentang bagaimana listrik tegangan tinggi bisa muncul dari kehampaan begitu saja dan membuat sekarat petugas itu.


“Lihat sendiri kan?  Mustahil Instruktur dan bawahan Instruktur mampu mengatasi masalah yang seperti ini.”  Ujar Kapten Maya datar.


***


Keesokan harinya, Kapten Maya harus ke kantor pusat untuk mengurus masalah sengketa peralihan tugas dengan divisi penanganan kriminal berat.  Di saat ketiadaannya itu, Dirga datang mengunjugi Tirta.


Dari sisi sebelah, terdapat Tirta yang sekujur tubuh kecuali bagian kepalanya, dililit oleh sebuah tali yang aneh.  Adapun di sisi yang lain, terdapat Dirga dengan pakaian kasualnya seperti akan berlibur ke pantai sambil tersenyum ramah yang tidak biasanya pada dirinya itu.


“Halo, Tirta.  Kamu baik-baik saja kan?”  Dirga pun memulai obrolan.


“Dirga, tolong aku.  Jika begini terus, aku akan dibunuh oleh Kaiser.”  Obrolan itu segera disambut oleh Tirta dengan permintaan tolong.


“Yah, terima nasib sajalah.  Lagipula ini semua salahmu kan?  Kamulah dari awal yang justru menjerat yang lain mengalami semua ini.  Tidak adil kan kalau yang lain tewas, tetapi kamu masih hidup, padahal kamulah yang menjadi penyebab orang itu menaruh dendam pada kita?”


Dirga terdiam sejenak, menatap bolak-balik tubuh Tirta yang telah tampak mengenaskan itu.  Diapun melanjutkan,

__ADS_1


“Lagian mengapa kamu sampai tega membuat syaraf Dios lumpuh?!  Sekarang, kamu juga lumpuh seperti itu.  Bedanya, kamu masih bisa sadar, masih bisa bicara dengan baik.  Kasihan Dios!  Kamu pasti sudah tahu bagaimana rasanya kan?


Jawab Dirga seraya tersenyum, tetapi wajahnya datar, tidak menunjukkan ekspresi apa-apa.


“Belum lagi masalah Dios selesai, kamu di sekolah itu, berapa banyak yang kamu bunuh?  Memangnya kamu pikir nyawa mereka itu apa?  Seorang pembunuh, sudah sewajarnya dibunuh oleh pembunuh lainnya.”


Sekali lagi Dirga berucap, tetapi kali ini, ekspresinya menunjukkan keseriusan.


“Tidak!  Aku tidak mau mati!  Aku melakukannya hanya untuk selamat saja.  Ya, untuk selamat saja!  Selama Kaiser berhasil dilenyapkan, semua akan kembali baik-baik saja.”  Teriak Tirta pada Dirga, tetapi Dirga hanya terdiam dan tidak memberi tanggapan apa-apa.


“Hei, Dirga.  Aku punya banyak warisan.  Aku bisa memberi tahu kamu di mana aku menyembunyikan warisanku beserta passwordnya.  Tolong gunakan itu untuk menyewa pembunuh bayaran profesional dari organisasi-organisasi rahasia di Eropa.  Klan Kanzaki yang dikendalikan oleh Kaiser itu pasti tidak ada apa-apanya dibandingkan pembunuh profesional dari barat itu.  Kaiser pasti dapat mereka matikan.”


Tirta berujar dengan yakin seraya matanya masih mengandung harapan.  Namun, Dirga hanya menatap Tirta dengan wajah simpatinya seraya menolaknya dengan tegas.


“Sampai akhir, kamu ternyata tidak berubah ya.  Padahal lebih baik jika kamu bisa bertobat sebelum orang itu datang mengeksekusimu.  Tampaknya, tidak ada lagi yang ingin aku ucapkan.  Sampai bertemu lagi di akhirat.  Tenang saja, aku juga akan segera menyusulmu kok.”


Seraya mengatakan itu, Dirga pun beranjak pergi.


“Tidak!  Tidak!  Berhenti, Dirga!  Apa maksud ucapanmu?  Apa kamu tidak takut mati?  Tolong aku!  Aku tidak ingin mati!”


Tirta tidak henti-hentinya berucap, namun Dirga pada akhirnya menghilang dari sudut pandangannya.


Tirta pun kembali dibawa ke selnya.  Tali aneh yang menjeratnya pun dilepaskan dan digantikan oleh sebuah borgol yang tak kalah anehnya, mirip dengan borgol Wilda, tetapi lebih tampak  seram dengan gerigi-geriginya yang aneh.  Adapun kakinya dibiarkan begitu saja karena apa gunanya memborgol kaki pemuda yang telah lumpuh itu.


***


Malam hari pun tiba.


Tirta secara tiba-tiba berteriak kesakitan seraya meringkukkan badannya.  Salah seorang petugas pun memberanikan diri membuka selnya dan memeriksa ke dalam.


“Toilet!”  Lirih Tirta.


“Apaan?  Ternyata hanya sakit perut.”  Ujar petugas itu lega.


Petugas itu pun mengantar Tirta ke toilet, lalu sekitar 15 menit kemudian, dia pun kembali mengantarnya ke selnya.

__ADS_1


Semuanya tampak baik-baik saja, atau itu yang dipikirkan oleh semua orang.  Akan tetapi, ternyata di tangan kiri Tirta, kunci sel tahanannya telah digenggam eratnya.


__ADS_2