
Di dalam ruangan di mana Tirta terikat di kedua tangannya sambil meringis kesakitan itu, tiba-tiba muncul sesosok misterius. Sosok misterius itu mengenakan pakaian serba hitam ketat dengan penutup kepala berwarna hitam serta topeng pierot putih yang telah hilang bagian bawahnya sehingga menampakkan dengan jelas bentuk bibir sang sosok misterius itu. Ya, dia adalah pembunuh berantai joker hitam.
Matanya yang biru tampak menunjukkan aura kebencian yang sangat mendalam kepada Tirta.
“Paaaak!”
Seketika pembunuh berantai joker hitam itu menendang kepala Tirta dengan cukup kuat di sebelah kanannya sehingga kepalanya tertampik cukup jauh ke kiri. Tampak dua bulatan cembung ikut terjatuh dari kedua bola matanya sewaktu pembunuh berantai joker hitam itu menendang Tirta kuat-kuat.
Tirta pun menatap mata biru pembunuh berantai joker hitam itu. Tampaklah warna kuning cerah berkilau dari balik mata Tirta Wahyunusa. Rupanya, dia juga adalah seorang anak sindrom pelangi yang mencoba menyembunyikan identitasnya dengan lensa mata seperti Wilda.
“Oh, kamu rupanya sudah terbangkitkan! Level F ya?” Ujar pembunuh berantai joker hitam dengan sinis kepada Tirta.
Tirta tidak menjawab apa-apa. Dia hanya terdiam dengan suara nafas yang terengah-engah dan dengan badan yang gemetaran.
“Rupanya begitu! Kamu rupanya pelakunya! Yang membuat teman, sekaligus orang yang kuanggap adik satu-satunya, Dios, masih terbaring koma sampai sekarang. Benar kan?!”
Ucap pembunuh berantai joker hitam itu dengan sedikit berteriak seraya menjambak rambut Tirta sehingga kepalanya menengadah ke atas. Diapun lantas mengeluarkan katana pendeknya dan mengarahkan bagian tajamnya, bersentuhan dengan urat di leher Tirta.
Leher Tirta pun mulai mengeluarkan darah. Dia menangis ketakutan. Badannya yang kekar itupun gemetaran.
Di dalam suasana kalang kabut hatinya itu karena saking dia ketakutannya, Tirta pun berlirih, “Kaiser, maafkan aku, maafkan aku. Aku salah. Aku menyesal. Apapun yang kamu minta padaku, akan kulakukan. Tapi tolong, ampuni nyawaku.”
***
__ADS_1
Kita kembali ke kejadian 2 tahun lalu, di hari pembulian Dios.
Kala itu, Rihana sebagai orang terakhir di dekat mereka berdua, ikut beranjak pergi bersama rombongan Araka setelah tampak membisikkan sesuatu ke telinga Dios. Tirta sebenarnya tidak mendengar dengan jelas apa yang dibisikkan oleh Rihana tersebut, tetapi hanya samar-samar dia mendengarkan,
“…Sampah seperti kalian tidak sepantasnya bergaul dengan orang-orang berkedudukan tinggi…Kaiser levelnya terlalu tinggi untukmu…”
Tirta pun jadi mengingat kejadian setahun silam dari masa itu, di mana dia mendapati Silva memuja-muja Kaiser sampai-sampai mengoleksi foto-fotonya. Dia yang tidak ingin kalah mendapatkan rasa cinta dari Silva, terngiang kembali perkataan Rihana, “Kaiser levelnya terlalu tinggi untukmu.” Dia yang mendambakan hubungan serius dari Silva terngiang kembali oleh ujar sesat Rihana, “Sampah seperti kalian tidak sepantasnya bergaul dengan orang-orang berkedudukan tinggi.”
Begitulah sehingga amarah Tirta memuncak perihal perkataan Rihana yang sebenarnya sama sekali tak dia maksudkan untuk Tirta. Dan perasaan amarah oleh rasa iri yang kompleks kepada Kaiser itulah yang kemudian membangkitkan cakra yang tertanam dalam dirinya.
Tirta pun menjadi orang yang terbangkitkan pada saat itu. Dan di tengah-tengah meluapnya kekuatannya yang berafiliasi pada listrik itu, Tirta meraih sebuah tongkat golf yang telah setengah patah dan memegangnya erat-erat di tangannya.
Dia menatap Dios. Namun, dia tak lagi melihat Dios sebagai Dios, melainkan hanya embel-embel satu paket dengan Kaiser. Padahal sebenarnya nasib mereka hampir mirip sebagai orang yang bergaul bukan pada posisinya.
Namun, sebenarnya kehidupan Tirta sangat jauh lebih baik daripada Dios karena dia punya kedua orang tua yang memenuhi kebutuhan ekonominya dengan cukup mapan. Kehidupan Tirta sebenarnya bisa dibilang sudah sangat bagus sebagai kasta kelas menengah. Sementara Dios hanyalah yatim-piatu yang dirawat oleh seorang kakek renta yang bekerja sebagai pelayan di rumah Kaiser.
Dan yang membuat lebih naas lagi, cakra listrik Tirta rupanya mengalir melalui tongkat golf itu dan mengenai bagian syaraf vital Dios. Hal itulah yang akhirnya membuat Dios tak mampu sadarkan diri sampai sekarang.
Karena kurangnya pengetahuan medis yang berkaitan dengan kekuatan orang yang terbangkitkan serta keluarga Dewantara yang tidak menyadari kemungkinan keterlibatan kekuatan orang yang terbangkitkan perihal tidak ada info terkait mengenai hal itu dari para pembuli Dios, jadilah keadaan Dios yang masih koma menjadi misteri sampai sekarang.
***
Mendengar Tirta menyebut-nyebut namanya sebagai Kaiser, pembunuh berantai joker hitam itupun menghempaskan kepala Tirta yang digenggamnya itu sejadi-jadinya.
__ADS_1
“Hah, kenapa nama anak sok polos itu malah yang terucap di mulutmu?! Kamu sudah kehilangan akal ya?!” Teriak pembunuh berantai joker hitam.
“Aku melihat semuanya di hari itu. Aku tahu bahwa kamu juga orang yang berkemampuan khusus sama sepertiku. Kamu bisa merasuki tubuh orang lain. Itu, tubuh orang yang kamu rasuki kan?” Ucap Tirta dengan suara yang pelan, tetapi penuh dengan keyakinan.
“Oh, menarik! Entah darimana pikiranmu itu berasal, tapi itu tidak buruk juga. Aku bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk bermain-main dengan anak sok polos itu.”
Ucap sang pembunuh berantai joker hitam dengan tawa bengis di wajahnya yang tidak ikut tertutupi oleh topeng pierot putih itu. Sesaat kemudian, mata birunya bersinar terang dan Tirta pun terhipnotis.
“Mari balaskan semua perbuatan jahat yang orang-orang lakukan padamu seperti kamu melakukannya pada kedua orang tuamu yang telah merenggut kebebasanmu.” Bisik pembunuh berantai joker hitam itu kepada Tirta.
***
Malam itu, tampak Tirta berdiri di atap suatu bangunan lantai 2 sambil mengamati bar dari jauh, tempat di mana dia dan orang-orang yang dianggapnya sebagai teman-temannya itu selalu berkumpul.
Matanya terlihat kosong. Dari alam bawah sadarnya, Tirta kembali mengingat kejadian sekitar 7 bulan lalu.
Sekitar di malam hari, Silva menyuruh Tirta pergi seorang diri ke bar milik Dirga tersebut untuk mengambil barangnya yang ketinggalan. Berbeda dengan pengunjung biasa, ada pintu masuk lain yang hanya diperuntukkan bagi pengunjung VIP yang terletak di samping kanan bar.
Tirta kebetulan malam itu lewat ke jalan itu karena lebih dekat jaraknya dari tempat parkir VIP bar tersebut. Di situlah dia tanpa sengaja menguping percakapan antara Riandra dan Aleka di pintu masuk.
“Duh, aku benci banget dengan anak sok cool itu, Si Tirta. Dia berlagak seolah derajatnya sama dengan kita, padahal tanpa Silva, dia bukanlah siapa-siapa selain anak notaris biasa.” Ujar Riandra kepada Aleka.
“Apa sih yang kamu katakan, Riandra? Dia kan sudah main dengan kita selama 7 tahun lebih. Kok kamu masih begitu sih sama dia? Akur-akurlah dengan sesama teman di geng kita. Terlebih, keluargamu kan juga kalau tidak salah bukan dari keturunan ningrat?” Balas Aleka yang mencoba mengoreksi opini Riandra.
__ADS_1
“Sorry yah! Walaupun ayahku orang biasa, tetapi ibuku itu tuh orang ningrat. Jangan sama-samain aku sama anak notaris blangsa itu. Lihat saja pakaian yang dikenakannya tiap hari. Pakaian murahan! Duh, anak seperti itu tuh harusnya sadar diri kek kalau mau bergaul sama kita itu ya patutnya harus jadi pelayan kita. Jika bukan karena Silva, sudah lama kali tuh kusiram mukanya yang blagu itu dengan air comberan.”
Mendengar makian Riandra di belakangnya, Tirta tak sanggup untuk melangkahkan kakinya lagi ke depan. Diapun berbalik arah dan segera pergi tanpa melaksanakan perintah Silva itu.