
Tampak banyak yang ingin dikatakan oleh Kapten Maya kepada Kapten Wiwik, tetapi diputuskannya untuk dipendamnya saja. Menurut penilaiannya, hanya buang-buang tenaga untuk membahas masalah Tim 1 divisi mereka kepada seorang kapten yang terasa lelah itu.
Namun begitu Kapten Maya hendak meninggalkan tempat tersebut, tiba-tiba Danar datang dengan tergesa-gesa menghampiri Kapten Wiwik dengan informasi yang sangat mencengangkan.
“Kapten, seorang saksi datang dan mengaku membawa mayat pembunuh dari klan Kanzaki dan Jingmi.” Ucap Danar dengan masih setengah ngos-ngosan perihal habis berlari menuju ke tempat itu.
“Apa?” Kapten Maya pun tak dapat menahan rasa keterkejutannya.
Diapun atas izin Kapten Wiwik, bersama pria tua itu mengikuti Danar menuju ke ruang interogasi di mana saksi berada. Di luar ruang interogasi, telah berkumpul beberapa orang, dua di antara mereka adalah Dono dan Mono.
“Apa yang sebenarnya telah terjadi? Bukankah kasus yang berkaitan dengan joker hitam seharusnya telah dialihkan ke divisi kami? Tetapi mengapa justru saksi yang penting seperti ini malah ada di sini?” Tanya Kapten Maya pada salah seorang di antara kerumunan yang dia tepuk pundaknya.
Rupanya, orang yang ditepuk pundaknya oleh Kapten Maya tersebut tidak lain adalah Dono.
“Kapten Maya? Kok Anda berada di sini?” Tanya Dono keheranan.
“Memangnya salah kalau aku ada di sini? Cepat ceritakan saja apa yang telah terjadi.” Ujar Kapten Maya kepada Dono dengan jutek.
Dono diam sejenak sembari menatap dengan was-was Kapten maya sebelum akhirnya berucap, “Sebenarnya aku juga kurang tahu. Kami juga baru tiba di sini. Sebaiknya kita dengarkan saja interogasi Kapten Danielo di dalam.”
Ujar Dono sembari memalingkan wajahnya dari Kapten Maya menuju ke dua orang yang berada di dalam ruang interogasi, Kapten Danielo dan seorang saksi tersebut. Terlihat dua kotak yang turut dibawa masuk oleh saksi ke ruang interogasi, sebuah kotak kecil berukuran 50x50x50 sentimeter kubik dan sebuah kotak besar berukuran 2x1x1 meter kubik.
Di dalam ruangan, tampak saksi tersebut memulai ucapannya dengan gugup.
“Perkenalkan Pak, namaku Kidri. Aku seorang petugas kapal di Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Aku diminta oleh seseorang untuk menyerahkan barang ini begitu muncul berita di TV bahwa salah seorang anggota keluarga Dewantara ditargetkan oleh seorang pembunuh berantai.” Ujar saksi tersebut sembari menunjuk ke arah dua kotak tersebut.
__ADS_1
“Apakah kamu mengacu pada Kaiser Dewantara?” Tanya Kapten Danielo kepada seorang saksi yang mengaku bernama Kidri tersebut.
“Seperti yang kukatakan barusan, hanya sebatas itu informasi yang diberikan oleh orang itu. Namun, ketika aku menontonnya di TV, aku baru mendapati kalau yang dimaksud orang itu ternyata adalah seorang anak bernama Kaiser Dewantara.”
Kapten Danielo pun mengintip ke dalam dua kotak tersebut. Tampak ekspresi mual tiap kali dia membuka kedua kotak tersebut. Orang-orang di luar yang turut mampu mengamati kejadian di dalam melalui kaca jendela transparan searah itupun berusaha mengintip ke arah dalam kotak sebisa mereka dari balik jendela tersebut.
Rupanya isi dari kotak besar adalah mayat seorang pria paruh baya berpakaian ninja, sementara isi kotak kecil adalah sebuah tangan kiri. Kesemuanya terbungkus oleh gel biru aneh dan dikelilingi oleh es batu.
Kidri tampak diam sejenak sambil berpikir rumit. Namun, dia akhirnya memutuskan untuk mengutarakan segalanya.
“Aku sendiri tidak yakin dengan apa yang kulihat.” Seraya mengatakan itu, Kidri pun mulai menceritakan kejadian saat itu.
Saat itu, seperti malam-malam biasanya, Kidri bertugas mengatur ikan-ikan hasil tangkapan para nelayan untuk sebagiannya diekspor ke Malaysia dan sebagiannya lagi untuk dijual di dalam negeri. Tetapi pada malam itu, tiba-tiba terdengar suara gemerisik percakapan orang yang tidak seharusnya pada tempat sepi tersebut.
Sesaat kemudian, muncul sosok ketiga dengan pakaian yang hampir sama dengan yang dikenakan oleh orang berpakaian ninja itu, tetapi lebih glamour dan berkelas. Wajahnya juga ditutupi oleh kain hitam sehingga Kidri tidak dapat mengenali wajahnya.
Sosok ketiga itu tampak mengobrol sejenak dengan orang yang berpakaian hampir sama dengannya itu, tetapi tiba-tiba ada es aneh entah dari mana dan menusuk ke jantung orang yang berpakaian ninja yang lebih inferior itu lalu dia tewas dalam sekejap.
Sang wanita muda tampak turut berdebat dengan sosok ketiga tersebut setelah dia membunuh orang yang berpakaian ninja, kemudian mereka berdua akhirnya terlibat dalam suatu pertarungan.
Namun, pertarungan mereka bukan pertarungan biasa karena mereka saling bersalto dengan melompati udara kemudian muncul es aneh entah darimana dan pisau-pisau beterbangan secara tidak wajar. Sungguh bukan sesuatu yang dapat dilakukan oleh orang biasa.
Sebagai puncak pertarungannya, sang sosok ketiga menebas tangan kiri wanita tersebut sehingga puntung, lalu menusuk tepat ke jantungnya. Lalu terjadilah keanehan yang lebih aneh lagi. Tubuh sang wanita mendadak menguap dan menghilang ke udara, termasuk pakaian yang dikenakannya.
“Paaak.” Kapten Danielo pun memukul meja lantaran marah setelah mendengar cerita konyol tersebut.
__ADS_1
“Mana mungkin ada mayat yang bisa menguap dan menghilang di udara begitu saja?! Dan es serta pisau-pisau melayang? Kamu pikir ini cerita fiksi?!” Teriak Kapten Danielo marah yang tidak biasanya lepas dari ekspresi tenangnya.
Di saat itulah Kapten Maya turut masuk ke ruangan. Tampak Kapten Wiwik mengikutinya di belakang.
“Maka dari itu kubilang bahwa kasus ini lebih tepat ditangani oleh divisi kami. Bukankah instruktur sudah melihatnya langsung tentang bagaimana bocah bernama Tirta sampai membuat petugas kami sekarat karena sengatan listrik padahal seharusnya tidak ada alat penyengat listrik yang dibawanya ke dalam ruangan?” Kapten Maya pun berujar.
Dia lantas berjalan mendekat ke arah meja interogasi tersebut.
“Jika firasatku benar, kemungkinan orang yang membunuh mereka berdua juga adalah sang joker hitam.” Kapten Maya lanjut berujar.
“Aku tidak tahu siapa identitas orang itu. Kupikir kala itu, aku juga akan turut mati di tangannya. Padahal, aku mengintipnya dari jarak yang sangat jauh, tetapi setelah membunuh wanita muda itu, dia langsung mendekatiku dan menyerahkan mayat pria berpakaian ninja dan tangan kiri wanita muda itu yang tidak turut menghilang yang kesemuanya terbungkus gel biru aneh.”
Kidri lantas turut berdiri, menyamakan posisinya dengan Kapten Maya. Dia tidak mampu berdiri tegak lantaran gemetar.
“Saking menjijikkannya, aku memasukkan mayat dan potongan tubuh itu ke dalam kotak pendingin berisi es batu. Karena aku sudah mengantarkan pesanan orang itu, maka aku pamit undur dulu. Jika dari awal aku tidak diancam olehnya melakukan ini, mana mungkin aku mau terlibat dalam segala kekonyolan ini.”
Kidri lantas pamit kepada kapten Danielo seraya berjalan ke luar ruang interogasi. Namun, langkahnya tiba-tiba berhenti.
“Oh iya, aku tidak tahu ini apa, tetapi orang itu juga menyerahkan ini padaku untuk diberikan ke kantor polisi.”
Ujar Kidri seraya menyerahkan selembar kartu sembilan spade yang tercoret salah satu lambang spadenya kepada Kapten Wiwik. Tampak raut wajah mereka bertiga berubah serius.
Kapten Maya terdiam lama di ruangan itu dengan posisi berdiri. Tampak baik Kapten Danielo maupun Kapten Wiwik, agak ragu untuk menyadarkannya dari posisi diamnya.
“Dirga dan Kaiser. Kita harus berjuang sekuat tenaga untuk melindungi korban dari pembunuh berantai sadis itu.” Ujar Kapten Maya secara tiba-tiba setelah diamnya yang lama dengan ekspresi penuh tekad.
__ADS_1