
“Bagiku, kamu sudah cukup merupakan ayah yang baik, sayangku. Mengapa kamu begitu meragukan dirimu sendiri?” Ucap Bu Nana seraya menatap hangat wajah suaminya itu.
“Kamu tahu, Sayang. Ibuku meninggal karena komplikasi pasca melahirkanku. Itu sebabnya kakek dan nenek baik dari pihak ibu maupun ayahku, juga termasuk Kak Arkias selalu bersikap dingin padaku dan selalu mengatakan kalau aku ini anak pembawa sial. Seringkali di sekolah dan juga di rumah ketika ayah tidak ada, Kak Arkias memukulku tanpa sebab. Walaupun setelah dewasa, sikapnya agak melunak padaku, tetapi itu tidak dapat menghilangkan traumaku sewaktu kecil. Aku justru berpikir bahwa apakah anak yang dirongrong oleh rasa trauma akibat broken home sepertiku mampu membesarkan anak dengan baik?” Ujar Pak Lucias mengeluarkan segala penat di hatinya dengan ekspresi sedih di wajahnya.
“Wajar bila orang tua mengkhawatirkan anak mereka. Aku juga ketika pulang ke rumah dan mendapati kabar bahwa anak kita mengalami kejadian seperti itu, aku tidak dapat menahan shokku. Aku bukannya senang dengan orang tua Kak Dwinda yang meninggal, tetapi seandainya saja kedua orang tua Kak Dwinda tidak meninggal karena kecelakaan dan polisi tidak akan ke rumah sehingga tidak akan mendapati putra kita yang dikurung, mungkin saja putra kita yang akan meninggal menggantikan posisi kedua orang tua kak Dwinda tersebut. Memikirkannya saja, rasanya aku tidak sanggup...” Ucap Bu Nana dengan sentimental seraya menangis.
“Sayang.” Pak Lucias menepuk pundak istrinya berusaha menenangkannya.
Bu Nana pun menghapus air matanya dan menatap suaminya dengan berusaha tersenyum seraya berkata, “Lagipula bukankah Kaiser adalah anak yang kuat? Aku yakin dia akan tumbuh menjadi anak yang baik seperti yang kita harapkan.”
“Kuat ya? Mungkin kamu tidak menyadarinya, tetapi sebenarnya anak kita menderita klaustrofobia [9]. Kamu bisa amati kalau putra kita itu senantiasa berusaha pergi sendirian jalan-jalan dan selalu menolak Agni untuk menemaninya. Tetapi mengapa hanya ketika pergi ke rumah sakit mengunjungi Dios dan Danial, dia selalu meminta agar Agni selalu ada di dekatnya? Itu karena dia tidak bisa naik lift rumah sakit sendirian.”
Mendengar jawaban dari Pak Lucias, Bu Nana ternganga. Dia sama sekali luput dalam menyadari hal itu. Raut wajahnya pun menjadi sedih.
“Aku rasa aku juga bukanlah ibu yang baik sampai-sampai tidak menyadari hal itu.”
Namun, ekspresi Bu Nana kembali tegar. Dia tampaknya berusaha menguatkan dirinya untuk membangun tekadnya. Diapun lanjut berucap, “Tetapi Sayang, bukankah kita masih bisa berada di sisi putra kita? Selama kita masih bisa di sisinya, akan selalu ada kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri agar menjadi orang tua yang lebih layak. Bukankah begitu?”
“Kamu benar sayang. Tapi ngomong-ngomong sudah lewat jam 11, kok putra kita belum pulang juga ya?”
“Benar juga Sayang. Coba kamu hubungi.”
Pak Lucias pun segera menelepon putranya itu sesuai arahan Bu Nana.
“Tiiit…tiiiit….tiiiit….[…]…tit…tit…tit… Nomor yang Anda tuju sedang sibuk, mohon tunggu beberapa saat lagi.”
__ADS_1
Namun telepon tak diangkat. Pak Lucias mencoba menghubunginya lagi, tetapi berkali-kali dihubungi pun tetap tak diangkat juga. Pak Lucias pun tanpa pikir panjang, segera keluar rumah untuk mencari putranya. Bu Nana yang juga ingin ikut, segera dicegahnya dengan alasan kakinya yang masih lecet dan bengkak.
***
Di vila milik Araka itu, Araka duduk di salah satu kursi di teras lantai satu vilanya. Dia kemudian merogoh smartphone di sakunya dan menghubungi seseorang. Nama panggilan di smartphone itu adalah ‘Lu Shou’, tidak lain adalah salah satu dari kakak tirinya.
[Percakapan yang terjadi berikut ini semuanya dalam bahasa China]
“Araka? Ada apa, tumben kamu telepon malam-malam begini? Ini sudah lewat tengah malam kan?”
“Begitukah? Di sini masih belum jam 12 malam.”
“Jadi, ada apa kamu telepon malam-malam?”
“Lho, kamu kenapa Araka? Nada bicaramu aneh.”
“Begitukah? Mungkin karena pengaruh angin malam. Oh ya Kak, bisa minta tolong satu hal?”
“Apa itu? Tenang saja, apapun itu, kakakmu ini pasti akan membantu segala persoalanmu.”
“Jika terjadi apa-apa pada Araka dan Ayah ingin membalaskan dendam ke orang yang bernama Kaiser, tolong cegahlah Kak. Kaiser adalah anak yang baik, tetapi belakangan ini banyak media massa yang berusaha menghasut opini publik untuk menjatuhkannya. Aku khawatir jika Ayah juga akan termakan provokasi itu dan membalaskan dendam pada orang yang salah.”
“Hei, Araka. Apa yang kamu katakan barusan? Ucapanmu aneh.”
“Tolong Kak, pastikan jangan membiarkan Ayah untuk menyentuh Kaiser.”
__ADS_1
“Hei…”
Belum sempat Lu Shou melanjutkan perkataannya, Araka telah menutup teleponnya.
[Kaiser, benarkan bahwa bukan kamu pelakunya? Walaupun jika itu benar, maka aku akan ikhlas asal dengan itu kamu akan memaafkanku.] Gumam Araka dalam hati.
Araka pun segera berdiri dari kursinya dan melihat ke sekeliling. Aura membunuh yang sempat dirasakannya di sekitar rumahnya di ibukota, sekali lagi telah dirasakannya sedari tadi di sekitar vila yang ditempatinya itu tepat ketika dia pulang setelah bertemu dengan Kaiser. Sebagai orang yang belajar martial art, Araka sangat percaya diri dalam kemampuannya merasakan aura membunuh yang ditujukan kepadanya.
“Bukankah sekarang waktunya kamu keluar, wahai pembunuh keji.”
Setelah Araka mengucapkan hal tersebut, tiba-tiba dari balik semak-semak keluar sesosok misterius yang mengenakan pakaian ketat serba hitam dengan penutup kepala hitam yang menutupi seluruh kepalanya disertai topeng pierrot putih yang tertawa bengis yang hanya menampakkan kedua matanya itu. Mata itu, berwarna biru cerah.
Sang Pembunuh lantas meghunuskan pedangnya dengan tangan kirinya seraya berlari ke Araka untuk menebasnya. Sang Pembunuh itu merendahkan posisinya berniat untuk menebas Araka dari arah bawah. Araka pun segera mengambil kedua dagger yang sedari tadi dia simpan di tas kecilnya dan menangkis pedang yang tidak terlalu panjang namun juga tidak pendek milik pembunuh itu dengan posisi menyilangkan dagger dengan kedua tangannya dengan pergelangan tangannya sebagai sumbu.
Menyadari posisinya yang berdiri sementara pembunuh berada di posisi yang lebih rendah darinya dengan kedua kakinya bebas, Araka segera melompat ke belakang. Sang Pembunuh melayangkan tendangan dengan kaki kanannya bersamaan dengan Araka yang melompat ke belakang sehingga Araka pun juga berhasil menghindari serangan itu.
Kali ini Araka yang berinisiatif menyerang. Dia mengitari pembunuh dan memposisikan dirinya di titik buta Pembunuh kemudian menyerang dengan menggunakan dagger di tangan kananya. Tetapi Pembunuh seolah telah memprediksi serangan itu sehingga dengan cepat dagger itu ditangkis oleh pedangnya.
Tetapi itu hanyalah trik Araka. Araka pun tanpa basa-basi menggunakan dagger di tangan kirinya untuk menebas Sang Pembunuh sementara senjatanya ditahan oleh dagger di tangan kanannya. Namun, Sang Pembunuh dengan sigap meninju pergelangan tangan Araka sehingga dagger tidak sampai mengenainya.
Sang pembunuh bersalto dan menyerang Araka dari atas. Araka pun menahan serangan itu dengan kedua daggernya dalam posisi bersilang sembari dia mendongak ke atas menatap Sang Pembunuh. Namun, itu hanya trik Sang Pembunuh. Leher Araka terbuka lebar. Sang Pembunuh dengan sigap mendarat dan segera melayangkan kaki kirinya mengenai leher Araka. Di sepatunya ternyata ada sebilah pisau dan pisau itu berhasil menggorok leher Araka.
Araka pun tumbang bersimbah darah. Ada foto yang keluar dari tas kecilnya sewaktu dia jatuh. Itulah foto dia berenam yang salah satunya bersama Kaiser. Foto itu bersimbah darah, basah oleh darah Araka.
NB: [9] Penyakit takut berlebihan terhadap ruang sempit.
__ADS_1