
Melihat keramaian pasar malam dari atas bukit di villanya, Araka tergoda untuk berkunjung ke sana. Namun, ketimbang lewat jalan raya dengan menggunakan mobilnya, dia lebih memilih untuk menuruni bukit dengan jalan kaki lewat jalan setapak yang dikelilingi oleh pepohonan lebat. Diapun berjalan dengan tetap membawa tas kecil yang sedari tadi belum dilepaskan dari pinggangnya termasuk saat dia ke toilet maupun pada saat dia tidur sejenak untuk beristirahat.
Di tengah perjalanan, dia melewati sebuah bangunan bekas masjid tempat kenangannya yang ternyata walaupun setelah enam tahun berlalu, tetap dibiarkan seperti apa adanya di masa lalu.
“Oh, ternyata jalan setapak ini juga terhubung dengan bangunan bekas masjid ini.” Ucap Araka setengah bergumam.
Dia lantas mengeluarkan kembali handuk biru lusuh yang ada di dalam tas kecilnya. Sebuah foto ikut terjatuh sewaktu Araka mengeluarkan handuk biru lusuh itu. Dia mengambil foto yang terjatuh. Rupanya, itu adalah foto kenangan MOS di mana Araka sebagai panitia dengan kelima siswa arahannya. Salah satu siswa arahan Araka dalam MOS yang tampak dirangkulnya tidak lain adalah Kaiser.
[Kenapa foto ini bisa terselip di sini? Oh, rupanya tanpa sadar waktu itu, aku turut memasukkannya bersama dompetku.] Gumam Araka.
“Apa yang kira-kira bocah itu sedang lakukan ya?” Ucap Araka seorang diri seraya tersenyum-senyum.
Dia pun mengeluarkan smartphone dari sakunya dan menelepon seseorang. Nama di panggilan itu ‘Calon Bawahan No.1 – Kaiser Dewantara’. Dia tidak lain adalah Kaiser, anak kelas 1 yang menjadi incaran utama Araka dulu sebagai bawahannya.
“Tiiit…tiiit…tiiit…[…]…twit, twit, twit, nomor yang Anda tuju sedang sibuk, silakan hubungi beberapa saat lagi.”
“Bocah ini. Sengaja mengabaikan panggilanku.” Ucap Araka dengan berusaha menahan kekesalannya.
“Jangan pikir aku akan menyerah begitu saja bocah sialan.” Ujarnya dengan tersenyum jahat.
Dua puluh menit kemudian setelah Araka melakukan panggilan yang ke-37 kali, barulah panggilan tersambung.
“Ada apa Senior menelepon? Padahal aku sudah susah-susah keluar kota untuk menghindari masalah yang disebabkan oleh Senior dan teman-teman Senior.” Ucap seseorang di balik telepon itu.
***
Kaiser yang sedari tadi menatap smartphonenya sambil terus berjalan\, akhirnya memutuskan untuk mengangkat panggilan telepon dari kontak seseorang yang bernamakan ‘Senior SMP_001_Araka’ itu. Nama yang menyimbolkan bahwa Araka adalah senior yang pertama kali disimpan nomornya oleh Kaiser sejak masuk SMP.
“Ada apa Senior menelepon? Padahal aku sudah susah-susah keluar kota untuk menghindari masalah yang disebabkan oleh Senior dan teman-teman Senior.” Ucap Kaiser yang memegang handphone dengan tangan kirinya seraya memijat dahinya dengan tangan satunya yang juga ikut menutup mata kanannya. Gigi-gigi Kaiser yang putih bersih itu mengeletup.
“Yo, kamu sedang apa sekarang?” Ujar Araka tampak berusaha ramah.
“Senior, tampaknya Senior lupa bahwa kita ini bermusuhan. Untuk apa seseorang menelepon musuhnya dengan nada suara yang ceria seperti itu?” Ucap Kaiser berusaha menahan amarahnya.
“Sudah kuduga kamu masih sangat membenciku…”
“Tentu saja bodoh. Setelah apa yang kamu lakukan pada Dios, kamu pikir…” Kaiser tidak dapat lagi menahan amarahnya. Dia memotong perkataan Araka sebelum selesai diucapkannya sambil berteriak yang membuat suasana pasar malam di sekitarnya yang ramai, tiba-tiba menjadi diam dan sontak memperhatikannya.
Kaiser mengeletupkan gigi-giginya sampai terdengar oleh Araka dari balik panggilan.
__ADS_1
“Maaf.” Ucap Araka tulus.
“Bisakah kamu membuat Dios siuman dengan permintaan maafmu itu? Daripada untukku, seharusnya kamu meminta maaf pada Dios. Tentu Senior tidak akan melakukannya kan? Karena Senior tetap pada pendirian Senior bahwa apa yang Senior lakukan itu adalah hal yang benar!” Kaiser sekali lagi membentak Araka dari balik telepon dengan suara lantang.
Araka terdiam. Kaiser kemudian melanjutkan melepaskan penat di hatinya.
“Kenapa dalam berteman seseorang harus melihat kasta? Mengapa pula orang-orang mesti mengomentari orang lain dalam memilih teman? Dan juga mengapa kalian bukannya mengkritikku secara langsung, tetapi malah membuli Dios di belakangku. Berapapun kupikirkan, tetap aku tidak bisa mengerti orang-orang seperti kalian.”
“Maaf.” Setelah lama terdiam, hanya satu kata itu yang dapat keluar dari mulut Araka.
Kaiser kemudian kembali memperbaiki suasana hatinya. Dia pun lanjut bertanya, “Jadi, apa tujuan Senior sebenarnya meneleponku? Mengingat sifat Senior yang hanya akan menghubungi seseorang jika ada keperluan, tidak mungkin Senior meneleponku hanya untuk mengatakan hal-hal omong kosong seperti itu kan?”
“Aku rupanya orang yang sangat buruk ya di matamu. Walaupun aku memang tidak dapat menyangkal dugaanmu itu.” Ucap Araka dengan intonasi rendah. Terbersit raut sedih dari cara dia mengucapkannya.
“Ya, Senior adalah orang yang terburuk yang pernah kukenal.” Jawab Kaiser dingin.
Araka terdiam. Araka tak sanggup untuk membalas komentar Kaiser itu padanya karena itu adalah suatu kebenaran. Meminta maaf pun hanya akan memperburuk emosi Kaiser saja. Jadi, Araka memutuskan untuk tidak menanggapinya saja.
Suasana telepon diam untuk beberapa saat sampai Araka memulai pembicaraannya lagi.
‘Kaiser, bolehkah aku meminta tolong sesuatu?”
“Seandainya, seandainya saja aku terbunuh oleh pembunuh berantai itu, bisakah kamu menggantikanku merawat ibuku?”
Kaiser terdiam sejenak. Dia kembali menekan dahinya dengan telapak tangannya.
“Kaiser?” Araka mencoba untuk memastikan apakah orang yang dihubunginya masih ada di saluran telepon.
“Tidak mau.”
“Apa?”
“Tidak mau. Dia itu Ibu Senior, jadi Seniorlah yang harus bertanggung jawab padanya. Makanya, Senior harus bertahan hidup.”
“Hahahaha.” Araka tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban dingin nan jutek dari juniornya itu.
“Kamu benar Kaiser. Tentu saja aku yang harus merawatnya. Makanya, aku akan bertahan hidup dari bahaya ini.” Ucapnya dengan penuh tekad.
“Hmm.” Kaiser hanya mengiyakan tanpa kata-kata tekad seniornya itu.
__ADS_1
Setelah mendaki bukit dengan cukup lelah sambil menjawab telepon dari seniornya itu, Kaiser pun sampai di bangunan bekas masjid, tempat kenangannya bersama Dios dahulu. Betapa kagetnya dia, Kaiser bertemu dengan Senior yang meneleponnya itu di tempat tersebut. Dia sampai tidak sadar dengan suara seniornya dari atas bukit karena saking riuhnya suasana pasar malam di bawahnya.
“Geh, Senior kok ada di sini?”
“Kamu juga Kaiser. Kamu memang bilang tadi sedang di luar kota, tetapi aku sama sekali tidak menyangka bahwa kita mengunjungi tempat yang sama.”
“Hah. Kalau diingat-ingat, benar juga bahwa di kampung ini juga ada vilamu dan vila keluarga Senior Dirga.” Ucap Kaiser dengan intonasi yang sangat menunjukkan ketidaksenangannya.
“Jadi apa yang Senior lakukan di sini?” Tanya Kaiser pada seniornya itu.
“Tentu saja untuk liburan. Kamu tahu? Tekanan ayahku membuatku sedikit stres.”
“Jangan bilang Senior kemari tanpa satupun bodyguard?”
“Tentu saja. Bukan namanya liburan kalau masih dikelilingi oleh bodyguard.”
“Ya ampun Senior. Senior santai sekali ya. Padahal ada kemungkinan Senior sedang diincar oleh pembunuh berantai. Tapi kalau dipikir-pikir itu baik juga Senior datang kemari seorang diri sehingga pembunuh berantai itu juga akan sulit untuk melacak keberadaan Senior. Senior tidak bilang ke siapa-siapa kan kalau sedang liburan ke sini?”
“Tidak satupun. Aku juga ke sini secara dadakan. Hehehehe.” Jawab Sang Senior dengan tawa cerah di wajahnya.
“Entah aku harus kagum atau takut dengan kepercayaan diri Senior itu. Yang jelas, sekarang sebaiknya Senior pulang saja. Pastikan pintu rumah dikunci aman dan lain kali kalau mau ke mana-mana, bawa setidaknya satu atau dua orang bodyguard untuk menemani Senior ke mana pun itu. Apalagi vila ini bersertifikat atas nama keluarga Senior langsung. Mudah bagi pembunuh berantai itu untuk melacaknya.”
“Kalau dipikir-pikir, aku memang sudah mulai mengantuk.” Ucap Araka seraya menguap.
“Kalau begitu, aku akan segera pulang.” Ucapnya lagi seraya melap mukanya dengan handuk lusuh biru dan memasukkannya kembali ke tas kecilnya itu bersamaan dengan foto yang tadi dilihatnya yang terselip di antara handuk dan tangan yang memegang handuk itu.
Kaiser tampak memperhatikan handuk biru lusuh itu.
“Oh iya, ngomong-ngomong, mengapa kamu bisa ada di tempat ini?” Tanya Araka yang penasaran mengapa Kaiser bisa kebetulan bertemu dengannya di bangunan bekas masjid itu.
“Oh, di sini kenangan berhargaku bersama dengan Dios. Kami pernah sekali mengunjungi rumah nenekku sewaktu libur semester kelulusan kelas 3 SD di tempat ini. Kami kemudian berpetualang lewat jalan setapak dekat rumah nenek. Tahu-tahu kami tersasar. Secara kebetulan kami menemukan bangunan bekas masjid ini. Waktu itu, air di bangunan ini kebetulan masih jalan dan itu sangat membantu kami yang dehidrasi. Terus terang, itu pengalaman pertamaku minum air dari keran.” Ucap Kaiser dengan senyum di wajahnya penuh nostalgia.
“Hahahaha. Perutmu pasti sakit setelahnya.” Araka ikut tertawa melihat Kaiser menceritakan pengalamannya itu dengan senangnya.
“Geh. Kamu benar Senior. Aku tidak akan pernah mau minum air keran lagi.” Kaiser menanggapi sambil sedikit mengeluarkan lidahnya dengan enek.
“Oh iya, ngomong-ngomong di saat itu juga, dari atas bukit ini, aku melihat ada anak gendut yang dibuli di bawah. Memang orang-orang seperti Senior ada di mana-mana. Aku langsung menuruni bukit untuk menghajar pembuli-pembuli itu hingga babak-belur. Orang-orang seperti itu memang harus dikasari agar jera. Mentang-mentang fisiknya lebih sempurna, membuli orang yang fisiknya kurang sempurna. Aku paling benci dengan orang-orang seperti mereka. Oh iya, ngomong-ngomong, aku juga memberikan anak itu handuk biru mirip seperti warna handuk yang Senior pakai itu untuk membersihkan tubuhnya yang kotor akibat terguling-guling karena dibuli. Aku berharap semoga anak itu sekarang baik-baik saja dan kuat menghadapi kerasnya dunia ini.”
Mendengar cerita Kaiser itu, mata Araka terbelalak. Dia telah salah dari awal. Pahlawan yang telah menyelamatkannya saat itu bukanlah Dirga, melainkan juniornya ini, Kaiser.
__ADS_1