DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
118. Pembantaian Berdarah di Hari Pertama Ujian Kenaikan Kelas SMA Angkasa Jaya


__ADS_3

Airi dengan menggunakan kekuatan poltergeistnya, bergerak melayang dengan cepat ke arah sumber hawa membunuh yang kemungkinan ditujukan kepada Kaiser tersebut.  Tidak butuh waktu lama baginya untuk segera menemukan sosok tersebut.  Sebuah sosok dengan pakaian serba hitam ketat dengan penutup kepala hitam dan topeng pierot putih yang pecah bagian bawahnya.  Dugaannya tepat, sosok itu adalah sang pembunuh berantai joker hitam.


“Kecuali bagian topeng yang retak, deskripsimu sama seperti yang dikatakan Kaiser-kun.  Kamu rupanya ya, pembunuh berantai joker hitam itu.  Berani juga kamu secara terang-terangan kemari?  Apa tujuanmu?  Jangan bilang kalau Kaiser-kun adalah salah satu targetmu?”


Sang pembunuh berantai lantas tertawa dengan sangat merendahkan setelah mendengar ucapan Airi tersebut.  Mata birunya lantas menyala dan menatap Airi dalam-dalam.


“Kalau aku bilang ya, kamu mau apa, Nona Muda dari Jepang?”  Ujar sang pembunuh berantai dengan tersenyum seraya menunjukkan ekspresi yang sangat memprovokasi.


“Kalau begitu, aku akan menghentikanmu di sini.”  Airi pun membalas perkataan pembunuh berantai itu.  Keenam untaian semacam selendang yang tersembunyi di balik seragamnya tiba-tiba mencuat dan melayang-layang bagai ular yang tampak siap menerkam mangsanya.


“Oh, kamu mau melawanku ya, Nona Muda dari Jepang?  Kalau begitu, akan kuladeni kau.”  Seraya mengucapkannya, pembunuh berantai itu segera mengambil senjata katana pendeknya yang masih tertutup dengan sarungnya itu lalu memposisikan dirinya ke dalam posisi defensif.


Airi pun bergerak maju dengan cepat ke arah sang pembunuh berantai.  Dua buah untaian selendangnya bagaikan tinju, hendak menghantam bagian dada sang pembunuh berantai.  Tetapi dengan sigap, pembunuh berantai itu menangkisnya dengan katana-nya yang masih tertutup sarung tersebut.


Seakan tidak memberikan waktu untuk pembunuh berantai itu berpikir, dua untaian selendang yang lain menyerang dari dua arah, samping kiri dan samping kanan sang pembunuh berantai.  Serangan yang datang dari arah kanan, dia tangkis dengan tangan kanannya yang tidak memegang senjata, sementara yang satunya lagi, dia tangkis dengan ayunan kaki kanannya.


Pembunuh berantai itupun segera bersalto lalu mendarat dengan indah.  Tanpa memberi kesempatan sekali lagi Airi menyerang, dia segera berlari, semakin bergerak menjauh dari sekolah dengan melompati atap-atap rumah warga, perkantoran, dan pertokoan yang kebanyakan berlantai dua tersebut.  Airi mengejarnya.


Melihat Airi mengejarnya, sang pembunuh berantai itu pun tersenyum licik, seolah rencananya telah berhasil.


Setelah berlari cukup jauh, Airi tiba-tiba berhenti.  Dia merasakan aliran cakra lain yang berada di sekitar sekolahnya.  Airi lantas berupaya segera berbalik arah, namun sayangnya, pembunuh berantai itu mencegatnya.


“Kamu?  Jangan-jangan, kamu tidak sendirian kemari?”  Tanya Airi kepada pembunuh berantai tersebut.


“Tidak, aku datang sendiri kemari.”  Jawab sang pembunuh berantai itu dengan ekspresi datar.


“Lantas siapa kultivator level F di sekolah itu?”


Sang pembunuh berantai itu pun tersenyum licik melihat kepanikan dari wajah wanita muda Jepang di hadapannya itu.


“Pertanyaanmu nampaknya sedikit salah, Nona Muda dari Jepang.  Seharusnya kamu bertanya bahwa apakah aku yang akan mengeksekusi pemuda sok polos itu.”

__ADS_1


“Apa maksud kamu?  Siapa sebenarnya orang bercakra level F yang aku rasakan itu?”  Airi pun lanjut bertanya dengan perasaan yang was-was.


“Sama seperti Riandra kemarin.  Bukan aku kok yang mengeksekusinya.  Ada orang lain yang melakukannya.”


“Apa?”  Seketika Airi kaget dengan pernyataan tak terduga dari sang pembunuh berantai.


Pembunuh berantai itu pun melanjutkan,


“Begitu pula kali ini.  Aku hanya kemari untuk menjauhkan orang yang dapat menghalangi rencana.  Rupanya kamu mudah terjebak, Nona Muda.”


Sang pembunuh berantai lantas melangkah perlahan semakin mendekati Airi.  Begitu berjarak sekitar 9 meter, dia kemudian menatap seksama mata Airi itu sebelum melanjutkan ucapannya.


“Orang yang kali ini berperan sebagai eksekutor adalah orang yang sama dengan yang memutilasi tubuh Riandra kemarin.  Dan kali ini dia yang akan mencincang-cincang tubuh Kaiser.”  Ujarnya dengan raut wajah penuh kebengisan.


“Kamu?  Sialan!”  Ujar Airi.


Dia lantas segera mencoba untuk kabur dari jeratan sang pembunuh berantai.  Namun, bagaimana pun dia mencoba melarikan diri dari tempat itu, dia selalu dibayang-bayangi oleh pembunuh berantai itu sehingga tak dapat kabur.  Airi pun memutuskan untuk segera mengeliminasi target yang ada di depannya itu, walau itu membuatnya harus membunuh untuk yang pertama kalinya.


“Kamu juga.  Keluarkanlah senjata spiritualmu sebelum terlambat.  Kamu juga level D kan?”  Ujar Airi kepada sang pembunuh berantai joker hitam.


Sang pembunuh berantai joker hitam sekali lagi tersenyum bengis.  Dia lalu berujar, “Orang lemah sepertimu, tak pantas berhadapan dengan senjata spiritualku.”  Ujarnya seraya menjatuhkan sarung pedang katana-nya lalu mengarahkan katana pendeknya itu tepat di depan dadanya, tampak siap untuk menyerang.  Cakra biru seketika mengalir di sekitar sisi tajam katana itu.


“Baiklah kalau itu maumu.  Matilah dengan penuh penyesalan atas keputusan bodohmu itu.”


Seraya Airi mengatakan itu, belasan tentakel dari bola yang melindungi Airi menjulur ke sana ke mari hendak menjerat sang pembunuh berantai.  Tetapi dengan sigap, pembunuh berantai itu menghindarinya ataukah menebasnya dengan katana bercakranya serta dengan pisau bercakra di sepatunya.


“Ck!”  Airi pun mendecakkan lidahnya, kesal dengan kelincahan sang pembunuh berantai tersebut.  Dia kemudian meningkatkan pace serangannya.


Namun, pembunuh berantai itu tampak dapat mengikuti pace Airi, bahkan dengan semakin cepatnya serangan Airi, sang pembunuh berantai ikut semakin dapat menyesuaikan irama gerakannya tersebut.


“Kaiser-kun bertahanlah!  Jangan sampai mati atau aku tidak akan memaafkanmu.”  Lirih Airi dengan perasaan was-was di dadanya yang membuatnya tak tahan untuk dapat segera menyelesaikan pertarungan tersebut.

__ADS_1


***


“Ting tong.”  Suara bel pertama pun berbunyi.


“Anak-anak, silakan masukkan segala barang yang tidak perlu ke dalam tas dan taruh di depan kelas.  Yang ada di atas meja, hanyalah kartu pelajar dan pulpen untuk menjawab soal saja.  Hari ini, sesuai jadwal, akan kita buka dengan ujian matematika.”


“Baik Bu.”  Seisi kelas secara serentak menjawab sang Bu Guru pengawas ujian tersebut.  Tidak butuh waktu lama, ujian akhir semester mata pelajaran pertama pun dimulai.


Tampak Kaiser dan kawan-kawan yang mengetahui identitas Airi serta apa yang sedang dihadapinya di luar sekarang, menatap ke arah jendela, mengkhawatirkannya yang belum kembali juga dengan penuh kecemasan.


“Airi-san bertahanlah!  Jangan sampai mati atau aku tidak akan memaafkanmu.”  Lirih Kaiser dengan perasaan was-was di dadanya.


Sementara itu di pintu gerbang, Tirta dengan pedang mainan di tangannya tampak berjalan masuk menuju ke dalam sekolah.


“Hei Nak, siapa kamu?  Apa mungkin kamu juga pelajar di sekolah ini?  Kenapa kamu tidak memakai seragam sekolahmu?  Dan apa-apaan dengan pedang mainan yang kamu bawa itu?”  Sekuriti yang tampak paling tua di antara keempat sekuriti gerbang depan sekolah itu pun mencegat Tirta.


“Sraaaak!”


Namun seketika, sang sekuriti tak dapat lagi berkata apa-apa perihal lehernya telah tergorok oleh pedang mainan yang rupanya telah menjadi tajam akibat aliran cakra dari Tirta.  Korban pertama di sekolah itu pun tumbang.


“Hai, apa yang terjadi di sana…Pak Sumanto?”  Sekuriti termuda yang tampak berusia dua puluhan kemudian datang melihat kejadian setelah keheranan tak mendapati lagi suara sekuriti tertua yang dipanggilnya Pak Sumanto tersebut.


“Aaaaaaaakh!”  Sekuriti termuda itu seketika berteriak sejadi-jadinya begitu melihat mayat Pak Sumanto yang bersimbah darah sehingga memancing perhatian dua sekuriti lainnya yang keduanya tampak berusia paruh baya serta para bodyguard Pak Arkias yang menyamar menjadi polisi di dalam gerbang.


“Lari, cepat lari!”  Teriak sekuriti termuda kepada dua rekan sekuriti paruh baya-nya yang terdiam mematung melihatnya berlari mendekat bersama Tirta dengan pedang mainannya yang mengejar di belakang.


Dia berlari dengan kecepatan secepat yang dia bisa, namun kedua sekuriti paruh baya itu hanya terdiam di tempat dan tak ikut berlari, bahkan setelah sekuriti termuda tersebut berpapasan melewatinya. 


Dalam sekejap, sampailah Tirta di dekat mereka, kemudian


“Sraaak!  Sraaaak!”  Darah segar kembali tertumpahkan ke tanah.

__ADS_1


Bahkan belum sempat mereka menyadari apa yang sebenarnya terjadi, dua sekuriti paruh baya itu menjadi korban kedua dan ketiga dari pembantaian berdarah Tirta di SMA Angkasa Jaya.


__ADS_2