
“Kami tentu akan mendukung Kakak sebagai pewaris Dewantara Group. Tapi tentu Kakak tahu kan bahwa kami tidak mungkin melakukannya secara gratis?” Ucap Geri sembari menunjukkan senyum lembut, tetapi penuh kelicikannya kepada Thoriq.
“Tentu saja. Jika aku berhasil naik sebagai pewaris Dewantara Group menggantikan bocah sialan itu, maka aku akan mengangkatmu sebagai CEO di resort wisata alam Dewantara Group kita di Parangtritis.”
Mendengar ucapan Thoriq yang sangat menggoda itu, Geri tak dapat menyembunyikan tawa puas penuh kelicikannya.
“Hal itu tentu juga sama-sama berlaku buat kalian berdua. Kalian akan kuangkat sebagai CEO di bagian perusahaan Dewantara Group di mana kalian masing-masing saat ini menjabat sebagai Direktur Senior.”
Mendengar ucapan Thoriq selanjutnya itu, senyum semringah pun ditunjukkan oleh Lad dan Idli.
“Mari bersulang untuk kesuksesan Kak Thoriq. Bersulang!” Ujar Geri dengan penuh kemenangan.
“Bersulang!”
“Bersulang!”
Kata yang sama pun turut diulang-ulang oleh Lad dan Idli.
Namun, beberapa detik kemudian, sesuatu berguling di lantai di hadapan mereka bertiga. Betapa kagetnya mereka karena itu adalah kepala Thoriq yang baru saja terpenggal. Dan di atas meja di mana Thoriq terduduk di belakangnya yang tanpa kepala, sang pembunuh berantai joker hitam berdiri dengan ekspresi bengis di wajahnya.
Beberapa detik kemudian, pembunuh berantai joker hitam maju dan menikam Geri tepat di jantungnya. Belum sempat Lad dan Idli memberikan reaksi apa-apa,
“Sraaak! Sraaak!” Mereka juga turut ditebas oleh katana pendek nan tajam pembunuh berantai joker hitam kemudian jatuh bersimbah darah.
Tidak cukup semenit setelah itu, pembunuh berantai joker hitam telah menghilang di dalam ruangan.
Di atas atap suatu gedung tidak jauh dari sana, pembunuh berantai joker hitam pun berdiri sambil menyaksikan pemandangan di tempat yang baru saja dibantainya itu dengan tatapan marah.
“Aku tidak punya dendam pada kalian, tetapi kalian berniat mengganggu rencana balas dendamku dengan mengundang para penganggu dari ketiga klan itu. Hal itu tak dapat kumaafkan karena tidak ada yang boleh menyentuh bocah sok polos itu selain aku.” Di atas gedung yang tinggi itu, pembunuh berantai joker hitam pun berujar.
__ADS_1
Sang joker hitam kemudian terdiam sejenak dan tampak berpikir rumit.
“Oh iya, mengapa tadi aku tidak ikut menghabisi kedua orang itu? Padahal jika aku bermaksud meninggalkan saksi hidup sebagai peringatan kepada tiga klan itu, kelima orang yang melarikan diri barusan telah lebih dari cukup.”
Pembunuh berantai itu pun tiba-tiba tertawa terbahak-bahak seraya berkata,
“Hahahahaha. Mana mungkin aku yang pemilik ‘Whisper of Devil’ ini mampu dikontrol oleh orang lain.”
***
“Tuan! Tuan! Ada kejadian luar biasa yang telah terjadi.” Teriak Pak Astra sembari berlari dengan tergesa-gesa menghampiri Pak Arkias.
“Ada apa?” Pak Arkias pun bertanya tentang apa yang menyebabkan Pak Astra sampai sepanik itu.
“Tuan Muda Thoriq dan Tuan Muda Geri baru saja ditemukan meninggal, sementara Tuan Muda Lad dan Tuan Muda Idli terluka parah. Berdasarkan laporan dari lima orang lainnya yang selamat, pelakunya adalah pembunuh berantai joker hitam. Tetapi apa yang lebih mencengangkan adalah bahwa penyebab mereka berkumpul di tempat itu adalah untuk merencanakan pembunuhan Tuan Muda Kaiser.”
Pak Arkias hanya terdiam sembari terus mendengarkan lanjutan laporan Pak Astra.
Pak Astra lantas terdiam sejenak sembari memperhatikan baik-baik ekspresi tuannya itu.
“Bukankah ini aneh, Tuan, seakan pembunuh berantai itu mencoba untuk melindungi Tuan Muda Kaiser?” Ujar Pak Astra dengan penuh was-was.
“Paaaak!” Pak Arkias pun memukul meja dengan keras setelah mendengarkan ucapan dari asistennya itu.
“Bukan begitu! Pasti pembunuh berantai joker hitam itu hanya tidak ingin kesenangannya diganggu oleh orang lain. Dia ingin menjadi satu-satunya orang yang mempermainkan hidup Kaiser. Pembunuh psikopat itu! Takkan kubiarkan kau menyentuh keponakanku.”
Tampak sembari mengucapkan hal itu, wajah Pak Arkias dipenuhi oleh kegeraman.
***
__ADS_1
Sore itu, seorang nenek tampak turun dari suatu bus. Nenek itu terlihat linglung dengan sekitar seakan baru pertama kali menginjakkan kaki di kota Jakarta tersebut. Terlebih, di lokasi Pasar Midday tempatnya turun itu, penuh dengan hiruk-pikuk orang, tidak hanya yang turun dari bus sepertinya, tetapi juga yang turun dari kereta api, maupun yang sibuk berbelanja kebutuhan bahan pangan buat memasak hari itu.
Tiba-tiba, dari keramaian itu, seorang pemuda dengan keranjang belanjaan di tangannya, tampak menepuk pundak nenek itu lantas menanyakan perihal kesulitannya. Sang nenek pun menoleh ke arah pemuda itu. Rupanya sang nenek adalah Nenek Nafisah, nenek Kaiser.
Nenek Nafisah pun menjelaskan kesulitannya ke pemuda itu perihal dia yang asing dengan kota Jakarta dan ke tempat itu sendirian perihal khawatir dengan keadaan cucu satu-satunya di ibukota akibat ancaman sang pembunuh berantai joker hitam.
Pemuda itupun tersenyum ramah kepada Nenek Nafisah seraya mengatakan,
“Tenang saja Nek. Kebetulan aku mengenal Tuan Muda Kaiser dan tahu di mana dia tinggal. Biar kuantarkan Nenek ke sana.”
“Betulkah itu Nak? Alhamdulillah, rupanya masih ada pemuda yang baik di Ibukota yang kata orang-orang penuh dengan orang jahat itu. Syukurlah, aku bertemu denganmu, Nak.” Ucap Nenek Nafisah bahagia.
Sang pemuda pun hanya terus tersenyum sembari mendengarkan pujian sang nenek kepadanya. Menanggapi ucapan Nenek Nafisah itu, pemuda itupun mengatakan,
“Apa yang Nenek katakan itu tidak salah. Lain kali, jika ada orang tidak dikenal menawarkan bantuan kepada Nenek secara tiba-tiba di Ibukota ini, maka jangan diterima. Karena kemungkinan besar, orang itu adalah orang jahat yang ingin berbuat sesuatu yang jahat kepada Nenek.”
“Apakah Nak Muda juga orang jahat?” Tanya Nenek Nafisah dengan polos kepada pemuda itu sambil menunjukkan kewaspadaan.
“Hmmm. Bisa dibilang kalau aku ini juga orang jahat. Tapi tenang saja kok, Nek. Hari ini, aku tidak berniat melakukan apa-apa kepada Nenek karena memang aku kebetulan kenal dengan Tuan Muda Kaiser.” Jawab sang pemuda dengan tetap mempertahankan senyum ramahnya.
Diapun mengajak Nenek Nafisah berjalan sampai ke tempat parkir. Sesampainya di depan sebuah motor butut di tempat parkir tersebut, pemuda itupun menyerahkan sebuah helm lusuh kepada Nenek Nafisah untuk dikenakan kemudian menaruh barang belanjaannya di depan motornya lantas menaiki motor tersebut seraya menyuruh Nenek Nafisah ikut naik.
Karena merasakan hawa yang bersahabat dan baik dari pemuda itu, Nenek Nafisah pun bersedia mengikutinya. Jadilah Nenek Nafisah diantarkan oleh pemuda itu ke kediaman Dewantara.
“Ting tong.” Sekitar 1 jam 27 menit, Nenek Nafisah bersama pemuda itu pun tiba di kediaman Dewantara lantas membunyikan bel pintu rumah setelah melewati pagar yang setiap pagi sampai menjelang petang dibiarkan terbuka begitu saja tanpa penjagaan satpam.
“Traaak.” Pintu pun terbuka dan rupanya yang membuka pintu adalah Kaiser.
“Nenek Nafisah?” Ujar Kaiser kaget begitu mendapati neneknya yang tinggal di sudut perkampungan di Jawa Barat, tiba-tiba berada di kediamannya.
__ADS_1
Kaiser pun menengok ke belakang, ke arah pemuda yang turut berkunjung ke rumah bersama dengan neneknya tersebut. Betapa kagetnya dia bercampur amarah begitu mendapati bahwa sosok pemuda itu adalah sosok pemuda yang dikenalnya dengan baik.
“Marjono, apa yang kamu lakukan di sini bersama dengan nenekku?” Ujar Kaiser dengan menampakkan ketidaksukaannya kepada pemuda itu dengan jelas.