
Sang anak yang sangat naif itupun terus bertahan dalam penindasan demi mempertahankan kebahagiaan kecil di rumah barunya itu di mana pada akhirnya dia dipertemukan dengan kedua orang tua kandungnya itu.
Hingga pada suatu saat, sang anak pun bertemu dengan orang itu, orang yang akan menjadi titik puncak kehancurannya. Seseorang yang senantiasa merasa dikekang oleh ayahnya yang membuatnya stres dan pada akhirnya melampiaskannya pada anak-anak di sekelilingnya yang dinilainya pecundang dan lemah.
Ketidaksukaannya pada objek yang lemah yang tidak pernah melawan sekalipun ditindas dengan sangat di luar batas kewajaran, akhirnya membuat perhatiannya tertuju kepada anak tersebut. Dia pun mengajak kawan-kawannya yakni Araka, Dirga Isnandar, Aleka Gebriansyah Putrawardhani, serta Fahrul Prabuwija untuk bersenang-senang dengan menjadikan anak tersebut sebagai mainan karung tinju.
Akan tetapi, Fahrul Prabuwija menolak dengan tegas ajakan orang tersebut karena menilainya telah melewati batas. Namun, hal tersebut justru semakin menyulut api amarah dari orang tersebut untuk semakin melampiaskan kekesalannya kepada anak itu bersama dengan ketiga rekannya yang lain yang setuju.
Pada suatu hari, jadilah anak tersebut dihajar habis-habisan oleh keempat orang itu. Dios menyaksikan semua kejadian tersebut, tetapi hanya berlalu melewatinya begitu saja tampak tidak peduli dengan semuanya. Pengeroyokan pun terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama sampai sesosok wanita bernama Ratih Kencana yang merasa iba terhadap anak itu, datang menyelamatkannya.
Begitulah nasib naas yang harus dialami anak tersebut hari demi hari di sekolahnya. Akan tetapi, dia selalu menahan diri untuk sabar demi kebahagiaan kecilnya.
Hingga tibalah hari yang ditentukan itu. Ritual Delapan Arah Mata Angin. Ritual di mana kedelapan orang yang merupakan kunci berdiri melingkar mengitari objek besar sambil membaca mantra dari iblis sembari pemilik kunci membunuh satu-persatu orang yang ada di dalam ranah lingkaran.
Ritual yang ditujukan untuk kebangkitan jenderal iblis keempat sekaligus yang terakhir demi persiapan menyambut sang raja iblis.
Dan SMA Puncak Bakti terpilih sebagai objeknya di mana sang pemilik kunci tidak lain adalah Jingmi, sementara para kunci yang bertugas menjaga pintu gerbang selama proses ritual penghilangan nyawa oleh pemilik kunci agar tidak ada orang yang dapat kabur dari dalam ranah lingkaran selama proses ritualnya, masing-masing adalah Aleka, Rihana, Araka, Silva, Riandra, Tirta, Dirga, dan orang itu.
Akan tetapi, Dios mengetahui rencana pelaksanaan ritual tersebut tepat beberapa menit sebelum dilaksanakan dengan kemampuan Mind Control-nya. Diapun segera memberitahukan informasi ini kepada anak itu agar dia bisa segera kabur secepatnya dari sekolah tersebut sebelum ritual dijalankan.
__ADS_1
Akan tetapi, dengan bodohnya, dia justru memilih untuk mengamankan rute evakuasi orang-orang sehingga semua warga sekolah dapat selamat, namun dengan mengorbankan keselamatan dirinya itu sendiri. Dia memilih mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan nyawa lebih banyak orang, walaupun orang-orang tersebut adalah kumpulan sampah yang selama ini merundungnya.
Jadilah ritual itu hampir gagal karena jumlah korban yang diestimasi bisa sebesar 1062 orang, termasuk para pengajar di sekolah tersebut beserta para staf dan petugas kantinnya, hanya mampu mengeksekusi kurang dari 200 orang. Kemudian sebagai mastermind kegagalan tersebut, anak itupun diseret oleh sang pemilik kunci ke tengah altar peletakan jiwa-jiwa dengan disaksikan oleh para kunci.
Sang pemilik kunci pun berucap, “Siapa dari kalian yang mau menghabisi anak ini?”
“Biar saya saja yang lakukan,” dan orang itu-lah yang menyanggupinya.
Dios yang menyaksikan itu dari jauh, lantas berlari sekuat tenaga untuk menghentikannya. Akan tetapi terlambat. Pisau orang itu telah lebih dulu menikam jantung anak itu sehingga sang anak pun tewas bersimbah darah.
Sang pemilik kunci kemudian menyekap Dios sebelum bergerak lebih dekat ke arah altar. Kemudian di dekat altar itulah, wajah yang betul-betul puas ditunjukkan oleh orang itu setelah berhasil membunuh sosok yang sejak dulu sangat dibencinya itu.
Jeynal yang menyaksikan adiknya meninggal tepat di depan matanya itupun kehilangan kendalinya.
Dengan katana pendeknya, dia memenggal leher Aleka. Kemudian dengan sigap, menggunakan senjata spiritualnya, Mr Gellin, untuk menghempaskan Rihana ke langit. Alhasil, Rihana pun tewas tepat setelah kembali mendarat di tanah setelah terhempas ke ketinggian lebih dari 50 meter.
Dengan licik, Jeynal pun menggorok leher Araka hingga tewas dengan pisau tersembunyi yang terletak di sepatunya itu lalu dengan sigap menggunakan Mr Gellin kembali untuk membungkam Silva di dalamnya sehingga Silva pun tewas kehabisan nafas.
Dengan katana pendeknya itu, dia kemudian memotong-motong lengan kanan, lalu beralih kepada kedua kaki milik Riandra, sebelum pada akhirnya dia meninggal setelah ditusuk tepat di kepalanya.
__ADS_1
Dengan menggunakan Mr. Gellin, dia membentuk panah-panah tajam dari gel kemudian mengarahkan serangannya ke Tirta. Tirta yang badannya tembus tertusuk-tusuk panah gel itu pun, lantas mencoba melawan balik melalui kemampuan spiritualnya yang telah bangkit baru-baru ini.
Akan tetapi, bagai penangkap petir, panah-panah gel itu malah menarik serangan listrik milik Tirta ke dirinya sendiri sehingga Tirta pun hangus terbakar oleh serangan listrik miliknya sendiri.
Dirga yang ketakutan dengan pembantaian keenam temannya di depan matanya itu pun memilih bersembunyi di balik Jingmi. Namun, kepengecutan Dirga itu justru membuat Jingmi kesal dan akhirnya memilih untuk menghabisi nyawa rekannya tersebut dengan tangannya sendiri dengan membakarnya.
Jingmi pun maju menghadapi Jeynal. Mereka pun bertarung. Akan tetapi dalam sekejap, tampak Jeynal unggul dalam pertarungan. Namun, sebelum Jeynal menghabisi Jingmi, secara tiba-tiba aura hitam melahap mereka berdua dan,
“Sraaaak!”
Sebuah pedang menembus Jingmi lalu tepat ke jantung Jeynal. Mulut Jeynal pun mengeluarkan darah dan mulai sekarat. Aliran cakranya tampak sekilas memperlambat proses kehilangan kerja jantungnya. Akan tetapi, rupanya pedang itupun telah dialiri cakra hitam yang turut melahap aliran cakra itu.
Jingmi kemudian akhirnya tewas lalu menghilang ke udara nak asap. Dan di hadapan Jeynal yang sekarat, orang itu tertawa dengan puasnya menyaksikan pemandangan sekaratnya Jeynal tersebut. Beberapa saat kemudian, Jeynal pun tewas menyusul adiknya.
Sementara itu, tepat di belakang orang itu, Dios masih terduduk tak percaya di tanah semenjak kematian anak itu. Orang itu pun berjalan perlahan menghampiri Dios yang tampak telah kehilangan cahaya hidupnya. Orang itupun menyeringai di hadapan Dios seakan meledek kelemahan pemuda itu.
Namun, secara tiba-tiba, seluruh tubuh Dios bercahaya, dan berakhirlah pandangan prekognitif Dios tersebut.
Orang itu, orang yang telah membunuh anak itu di pandangan prekognitif Dios, dialah Andika Setiabudi, orang yang mengaku saat ini di hadapan Dios sebagai sahabat anak itu, Kaiser Dewantara.
__ADS_1