DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
130. Perpisahan dengan Wilda


__ADS_3

“Timah panas?  Ditato?  Apa yang sebenarnya telah kamu lalui di masa lalu, Wilda?  Kamu baik-baik saja kan?”  Ujar Kaiser dengan panik begitu mendengar cerita masa lalu Wilda yang suram tersebut.


Gelagat tubuhnya begitu seliweran panik sampai-sampai jika Airi atau Andika melihatnya, pasti sudah akan segera difoto dan dijadikannya koleksi langka mereka yang menunjukkan tulusnya perasaan khawatir Kaiser pada Wilda tersebut.


“Hahahahaha.”  Melihat tingkah tidak biasa dari idolanya tersebut karena mengkhawatirkannya, Wilda tak dapat menahan tawa senangnya.


“Justru itu yang Tuan Muda pertama kali katakan begitu mendengar cerita dariku.  Tidakkah Tuan Muda penasaran dengan bahasa aneh kode produksiku barusan?”  Ujar Wilda seraya menyeka air mata di ujung matanya yang turut keluar bersamaan dengan tawanya.


“Yah, aku juga sebenarnya penasaran dengan itu.  Aku hampir menguasai bahasa-bahasa penting di dunia ini dan dari yang aku tahu bahwa setiap bahasa yang ada, berasal dan berkembang dari evolusi pengembangan atau pencampuran satu sama lain yang dapat ditelusuri asal-usulnya.  Tetapi aku bisa tahu bahwa bahasa itu sama sekali berbeda.  Memangnya bahasa apa itu?  Bahasa alien-kah?”


Kaiser lantas menatap Wilda dengan intens kembali dengan ekspresi khawatirnya.


“Tapi bukan itu yang terpenting sekarang.  Kamu baik-baik saja sekarang kan, Wilda?  Oh iya, tadi kamu bilang harus lari dari sesuatu.  Jangan-jangan, mereka yang sudah memperlakukanmu seperti itulah yang lagi-lagi mengejarmu ya?”


Ujar Kaiser seraya di akhir kalimatnya, nada suaranya terlihat ditingkatkan karena marah seraya meraih dan memegang erat lengan Wilda yang tembem itu.


“Kurang lebih, seperti itu Tuan Muda.”  Ujar Wilda ragu.  Dia tampak memalingkan wajah dari idolanya yang memandangnya dengan intens itu.


“Siapa mereka?  Siapa yang berani melanggar HAM dengan melakukan eksperimen keji pada manusia itu?!  Apa mereka Trans?  Atau Levovo?  Kalau begitu, kamu tidak perlu kabur.  Justru akan lebih aman jika kamu bersamaku yang banyak menarik perhatian publik.  Mereka pastinya tidak dapat bertindak sembarangan yang menarik perhatian publik.”  Jawab Kaiser dengan tegas.


Namun, beberapa saat kemudian, mata biru berkilau pemuda itu terpelintir tampak sedikit meragukan sesuatu pada perkataannya barusan.


“Yah, walaupun Trans terkadang berbuat di luar batas, mereka ujung-ujungnya akan melakukan apapun agar identitas mereka tetap menjadi rahasia bagi publik.”


“Aku tak menduga kalau Tuan Muda sampai mengenal organisasi rahasia seperti Trans atau Levovo.”


“Aku kenal mereka dan tahu bagaimana bahayanya mereka.  Oleh karena itu, aku mana mungkin membiarkanmu berkeliaran jika salah satu dari mereka mengincarmu.  Lebih aman jika kita bersatu dan memikirkan cara bagaimana menghadapi mereka.”


Terlihat raut wajah penuh ketulusan dan keseriusan yang terukir di balik wajah nan tampan itu begitu mengucapkan kalimat tersebut.


Namun Wilda menggelengkan kepalanya.


“Apakah Tuan Muda tahu mengapa organisasi seperti Trans dan Levovo tidak berani bertindak secara terang-terangan di depan publik?  Wilda pun beralih ke mode seriusnya dan bertanya kepada idolanya itu.


“Karena jumlah mereka sedikit sehingga walaupun kekuatan mereka hebat, mereka akan tetap kalah jumlah terlebih dengan dukungan senjata modern yang dimiliki umat manusia.  Apalagi, ada beberapa organisasi supranatural yang turut mendukung umat manusia dalam melawan para supranaturalis yang di luar kendali.”  Jawab Kaiser pada pertanyaan Wilda tersebut.


Sekali lagi Wilda menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Itu karena ada eksistensi dengan kekuatan yang jauh lebih dahsyat lagi yang mengontrol mereka seperti itu.  Suatu eksistensi yang tanpa disadari oleh umat manusia, menguasai segala aspek kehidupan manusia, mengendalikan hidup umat manusia agar berjalan sebagaimana yang mereka harapkan.  Dan eksistensi seperti itulah yang mengejarku, Tuan Muda.”


Kaiser terdiam tampak belum dapat mencerna semua informasi yang dia terima secara tiba-tiba itu.


Wilda pun tersenyum.


“Tuan Muda terkadang terlalu baik.  Tetapi itu sampai di tahap berbahaya yang dapat mengancam hidup Tuan Muda sendiri.  Tidak hanya hidup Tuan Muda saja, jika Tuan Muda terlibat lebih jauh denganku, keluarga yang Anda sayangi juga akan terancam.  Mereka tidak selembut itu.  Jika ada yang mereka anggap akan mengganggu tujuan mereka sekecil apapun, mereka akan melenyapkan gangguan itu secara senyap tanpa pikir panjang.”


“Aku…Apa mereka iblis dari dunia lain?”


Wilda seketika terkesiap mendengar ucapan Kaiser tersebut.


“Apa Tuan Muda pernah bertemu dengan mereka?”  Dengan was-was, Wilda bertanya.


“Tidak.  Untuk saat ini, aku sekadar pernah membacanya di literatur kuno mengenai iblis dari dunia lain yang menginvasi dunia kita melalui penyusupan ke tubuh fisik manusia melalui ritual perasukan.  Namun, terkadang kuperoleh beberapa pesan tersembunyi yang kucurigai dari mereka yang diselipkan di banyak lagu dan drama-drama.  Gimana mengatakannya ya?  Hmmmm…”


Kaiser tampak berpikir rumit sejenak.  Diapun melanjutkan,


“Jelas tahu ada ucapannya, namun tidak dapat diidentifikasi itu bahasa apa, jadi tidak ada banyak perkembangan dalam penyelidikanku ke arah itu.”  Lanjut Kaiser seraya menunjukkan ekspresi berpikir rumit.


“Kalau tidak salah, bahasanya mirip seperti apa yang tadi Wilda ucapkan.  Jangan-jangan benar dugaanku bahwa itu ucapan iblis.  Kata yang tadi Wilda ucapkan berasal dari iblis dunia lain itu kan?  Jangan-jangan Wilda bisa bahasa iblis dunia lain itu?”  Kaiser pun melanjutkan dengan kali ini berupa pertanyaan yang bertubi-tubi kepada Wilda.


“Aku memang bisa sedikit bahasa mereka.  Tapi maaf Tuan Muda, aku tidak akan pernah berniat untuk membawa Tuan Muda ke dalam jeratan bahaya.  Bisakah Tuan Muda berjanji padaku sebelum berpisah agar Tuan Muda tidak akan lagi menyelidiki mereka?  Jika tidak, Tuan Muda bisa ikut dalam bahaya.”


Di akhir kalimatnya, Wilda tampak merendahkan intonasinya.  Dia betul-betul mengkhawatirkan pemuda naif itu.


“Jadi, ujung-ujungnya kamu akan pergi ya, Wilda?”


Tampak Wilda tidak menjawab pertanyaan Kaiser itu.  Dia hanya terus menatap serius ke arah wajah tampan itu yang dalam keadaan normal dia selalu salah tingkah jika ditatapnya.


“Aku berjanji tidak akan menarik perhatian mereka sampai aku memperoleh kekuatan yang cukup.  Pada akhirnya, harus ada orang yang melakukannya kan?  Atau umat manusia bisa musnah.”  Jawab Kaiser lembut seraya menunjukkan tekadnya.


[Tetapi tidak harus Tuan Muda kan?]  Gumam Wilda.


Kata itu betapa ingin diucapkannya, tetapi pada akhirnya ditahannya.


Wilda tak dapat menampik perkataan tersebut.  Dia sadar betul bahwa apa yang dikatakan Kaiser adalah faktanya.  Harus ada yang menghadapi mereka.  Sudah lebih dari puluhan ribu tahun, mereka memulai invasi mereka dari dimensi lain ke dimensi ini.

__ADS_1


Akan tetapi, perihal lintas dimensi yang memvirtualkan wujud mereka, mereka membutuhkan tubuh penduduk pribumi untuk mereka dapat menapakkan kaki di tanah dimensi tersebut.  Ya, mereka membutuhkan tubuh fisik umat manusia untuk mematerialisasikan wujud mereka.


Untungnya, tubuh yang mereka rasuki, entah mengapa kehilangan kesuburannya sehingga mereka tidak dapat berkembang biak dengan tubuh itu.  Karena itulah, mereka masih membutuhkan umat manusia sebagai ternak mereka sebagai sumber daya yang menyediakan wadah fisik buat mereka.  Itulah satu-satunya alasan mengapa mereka tidak dapat melenyapkan umat manusia untuk saat ini.


Tetapi itu cerita dulu.  Kini, mereka telah menemukan suatu metode untuk menembus keterbatasan tersebut.  Dengan menyatukan kedua dimensi, mereka akan dapat menapaki tanah bumi ini tanpa perlu lagi tubuh fisik manusia.  Dan sebagai awal dari semua eksperimen mereka untuk mewujudkan hal tersebut, tidak lain adalah bencana pelangi 1998.


Wilda kemudian mendekatkan dirinya ke tuan muda itu sehingga mereka berdiri berhadap-hadapan hanya sejarak kurang dari 1 cm.  Dia pun menyandarkan kepalanya ke tubuh pemuda itu.


“Kalau begitu, Tuan Muda, ingatlah…Ingatlah bahwa mereka ada di mana-mana menginfiltrasi dunia ini dalam wujud manusia.  Jangan pernah mudah percaya pada siapapun.  Termasuk diriku.  Jika aku bertemu Tuan Muda lagi di masa depan, itu bisa saja bukan diriku yang sekarang lagi.”


Mendengar ucapan Wilda tersebut, Kaiser hanya mengusap rambutnya yang lurus tapi mengembang itu seraya tersenyum lembut.


“Dan juga jumlah mereka sudah sangat-sangat banyak yang barangkali melebihi prediksi Tuan Muda.  Setidaknya mereka ada sekitar sepuluh ribuan yang menyatukan diri mereka dalam suatu negara yang mengapung di laut yang selalu berpindah-pindah lokasinya.”


“Aku paham Wilda.  Aku akan selalu mengingat nasihatmu untuk selalu berhati-hati.”  Akhirnya, Kaiser pun menjawab dengan senyum lembut di wajahnya.


“Dan jika Tuan Muda mendengar kata ****** dari mereka\, maka Tuan Muda harus segera lari karena itu adalah isyarat kedatangan salah satu jenderal mereka yang sekali saja dilihat matanya\, orang tersebut akan langsung hangus terbakar tanpa sisa.”


“Aku paham.”  Kaiser kali ini hanya menjawab singkat dengan tetap mengusap-usap rambut lurus nan mengembang wanita itu.


“Ah, Tuan Muda, lihat itu.  Di atas atap Tuan Muda ada alien.”  Ujar Wilda seraya menunjuk ke suatu arah atap bangunan rumah Kaiser di sisi 90 derajat yang terlihat jelas dari posisi mereka.


Kaiser pun menoleh ke arah itu, dan seketika,


“Cuuuup.”


Wilda mengecup pipi tuan muda naif itu.


“Sudah kubilang Tuan Muda tidak boleh percaya pada omongan siapapun dengan mudahnya.  Blwek.”  Ujar Wilda seraya menjulurkan lidahnya.


Kaiser terkesima dan begitu dia kembali pada kesadarannya, wanita itu telah berada jauh di sana di bawah halaman rumahnya sudah hendak melompati pagar.


“Jaga diri Tuan Muda baik-baik.  Sampai Jumpa, Tuan Muda.”  Teriak wanita itu sembari tersenyum semringah.


Namun beberapa saat kemudian, dia menangis setelah dia berbalik sehingga Kaiser tak dapat lagi melihat ekspresinya.  Dia tak dapat menahan aliran air mata itu, aliran air mata kesedihan karena harus berpisah dengan orang yang paling berarti bagi hidupnya tersebut.


“Semoga masih ada jodoh bagi kita bertemu lagi, Tuan Muda.”  Lirih Wilda.

__ADS_1


Seraya mengatakan hal tersebut dengan lirih, Wilda pun melompati pagar setinggi 3,5 meter di hadapannya itu dan terus menjauh meninggalkan kediaman Kaiser.  Beberapa saat kemudian, sosoknya tak lagi dapat terlihat.


__ADS_2