DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
136. Dunia Astral yang Berisikan Tumpukan Ingatan


__ADS_3

Loki pun memulai mengaktifkan kemampuannya.  Di dalam dunia astral di dalam pikiran Gatot Perjaka itu, Loki masuk melalui salah satu celah yang terbuka akibat mental Gatot yang down akibat kata-kata jahat Loki barusan.


Di dalam dunia astral itu, Loki kemudian membagi kesadarannya menjadi 4 yang mirip dengan suatu party di game-game RPG, seorang tanker, seorang magician, seorang healer, dan seorang clerk.


Mulailah party yang beranggotakan 4 orang yang merupakan pembagian kesadaran Loki itu menelisik ke dalam rekaman-rekaman ingatan Gatot Perjaka untuk mencari ingatan di mana dia bertemu dengan pembunuh berantai joker hitam.  Namun, seperti yang sudah dia duga, akan selalu ada sistem pertahanan bawah sadar yang menjaga tiap ingatan orang-orang, tidak terkecuali Gatot Perjaka ini.


Tiap orang memiliki bentuk dan ukuran sistem pertahanan bawah sadar yang berbeda-beda tergantung dari kekuatan mental dari orang yang bersangkutan.  Dan dalam kasus Gatot Perjaka, sistem pertahanan bawah sadarnya berupa golem baja raksasa berwarna hitam.  Rupanya, berbeda dari penampilan luarnya yang tampak feminim yang tidak sesuai jenis kelaminnya, kekuatan mentalnya cukup kuat dan maskulin.


Golem raksasa itu pun mulai menyerang party Loki.  Setiap kali menyerang, maka sang tanker akan selalu menahan serangan tersebut sembari memberikan serangan tumbukan dengan perisai yang dipegangnya tersebut.  Adapun sang magician berperan sebagai penyerang jarak jauh yang menembakkan berbagai jurus kepada sang golem yang dalam hal ini karena golemnya berbahan baja, maka dia senantiasa mengeluarkan jurus apinya.


Adapun sang healer memberikan penyembuhan kepada anggota party yang terluka, sementara sang clerk-lah yang bertugas menelisik ke ingatan-ingatan tersembunyi tersebut.


Tidak butuh waktu lama bagi sang clerk menemukan ingatan yang dicarinya itu, tetapi sang tanker dan magician tampaknya telah tumbang oleh serangan golem dan kini tersisa sang healer yang merupakan kekuatan penyembuh yang justru melakukan serangan.


Dan di dunia nyata, Loki yang sudah tampak sekarat, tertawa lega ketika menemukan potongan ingatan yang dicarinya itu.  Diapun segera mengambil suatu alat aneh mirip kamera dari dalam ranselnya dan menyinari lubang di alat itu dengan sinar mata hijaunya.  Dari alat itu pun keluar sebuah foto seseorang yang mengenakan topeng putih yang hanya menutupi bagian atas wajahnya.


“Ini dia foto sang joker hitam.  Sisanya, kuserahkan pada kalian.”  Lirih Loki sebelum akhirnya jatuh pingsan.


Melihat hal itu, Kapten Maya pun tak dapat menahan kepanikannya dan segera membawa Loki ke bagian perawatan di rumah tahanan tersebut.


Sementara Kapten Maya menunggu Loki tersadar di ruang perawatan rumah tahanan tersebut, Alena tidak membuang-buang waktunya dengan segera mencocokkan sketsa dekat wajah pelaku tersebut dengan beberapa tersangka yang dicurigai.


“Ah, sayangnya pelakunya mengenakan topeng.  Kalau tidak, pasti hal ini akan lebih mudah.  Untungnya, bagian bawah wajahnya tidak tertutup topeng.  Walaupun bagian bawah wajah agak sedikit sulit dijadikan alat identifikasi, tetapi semoga saja berhasil.”


Seraya mengatakan itu, Alena pun memulai melakukan pencocokannya.  Pertama-tama, dia mulai mencocokkannya dengan Marjono alias Jey dan hasilnya 41,1%.  Alhasil, negatif.  Kemudian untuk yang kedua, dia mencocokkannya dengan Kaiser dan hasilnya 21,1 %.  Lebih tidak cocok lagi alias negatif.


“Apa ini?  Ujung-ujungnya bukan di antara mereka berdua pelakunya.”  Alena pun mengeluh.


Tetapi kemudian, dia iseng mencocokkannya dengan seorang lagi dan hasil kecocokannya 99,9 % alias positif.  Dia tidak dapat menahan kepanikannya dan serta-merta berlari ke ruang perawatan untuk menemui Kapten Maya.

__ADS_1


“Kapten Maya!  Kapten Maya!”  Teriak Alena sembari memasuki ruang perawatan.


“Alena, kecilkan suaramu.  Ingat kita ada di mana.”  Kapten Maya pun segera mengingatkan Alena untuk tidak bersuara keras di ruang perawatan yang penuh dengan orang sakit itu.


Serta-merta Alena menyingkap mulutnya sendiri begitu dia tersadar telah melakukan hal yang tidak pantas.  Diapun mencoba mengatur nafasnya dan bersikap tenang.


“Kapten Maya, identitas joker hitam sudah ditemukan.”  Ujar Alena yang kali ini tampak sudah lebih tenang.


“Apa?  Siapa?”  Mendengar hal itu, Kapten Maya pun tak dapat menahan rasa penasarannya.


“Berdasarkan analisa, sketsa wajahnya sesuai 99,9 %.”


“Iya, jadi siapa?”


“Dirga.”  Jawab Alena tegas.


Kapten Maya tak dapat menahan keheranannya sendiri pada hasil tiba-tiba yang diperolehnya tersebut.


“Daripada memikirkannya begitu, sebaiknya kita segera menemui tersangka untuk menyelidikinya langsung, Kapten.”


Akhirnya, Kapten Maya beserta beberapa personil pun berangkat untuk menemui tersangka tersebut, sementara Alena menggantikan sang kapten untuk mengawasi Loki.


***


“Ting tong.”


Suara bel tiba-tiba terdengar dari pintu kediaman keluarga Dewantara tersebut.  Dan sebagai pembuka pintu adalah Kaiser.  Betapa kagetnya dia bahwa kombinasi yang mendatangi rumahnya tersebut cukup unik, Bianca dan Fero.


“Kak Bianca?  Fero?  Kok kalian datang bersama ke sini?  Ah, maaf, seharusnya aku bertanya setelah mengizinkan kalian masuk.  Yuk, masuk.”  Dengan menahan sedikit rasa penasarannya, Kaiser pun mempersilakan mereka masuk.

__ADS_1


“Oh iya, kalian berdua sudah makan siang belum?  Kalau belum, yuk ikut makan bareng.  Kebetulan kami sedang makan siang.”  Ujar Kaiser ramah.


“Ah, maaf Dek Kaiser.  Tampaknya kami datang di waktu yang tidak tepat.”  Bianca pun langusung menunjukkan ketidakenakannya.


“Tidak, tidak apa-apa kok Kak. Justru semakin banyak orang, semakin nikmat makanannya disantap.”  Ujar Kaiser seraya memandu mereka berdua ke kursi di meja makan.


Di meja makan tersebut, tengah berada Airi, Bu Nana, Pak Lucias, dan Bu Dwinda.


Mereka berdua disambut dengan senyum ramah oleh mereka semua.


Jadilah mereka makan siang bersama.  Dan akhirnya pascamakan siang tersebut, mulailah Bianca mengutarakan maksud kedatangannya ke tempat tersebut.


“Jadi, maksud kedatangan kami kemari adalah untuk melindungi Dek Kaiser dari pembunuh berantai joker hitam.”  Ujar Bianca.


“Apa?  Maksudmu, anak kami juga diincar oleh pembunuh berantai joker hitam tersebut?”  Mendengar hal itu, Bu Nana tidak dapat menyembunyikan kecemasannya.


“Belum pasti.  Tetapi untuk jaga-jaga, kami akan melindungi Kaiser.”  Kali ini pertanyaan tersebut dijawab oleh Fero.


“Fero?  Kamu sebenarnya siapa?”  Melihat Fero menjawab pertanyaan tersebut secara alamiah, Kaiser pun bertanya-bertanya.


“Oh, maaf telat memperkenalkan diri.  Aku adalah Feriandro Wijayakusuma, divisi intel kepolisian pusat.  Sebenarnya, aku ke sekolahmu untuk menyelidikimu sebagai calon tersangka pembunuh berantai joker hitam.  Tetapi setelah beberapa penyelidikan, kami menyimpulkan bahwa kamu bukanlah tersangkanya melainkan calon korban.”


“Oh, begitu rupanya.”  Ujar Kaiser dengan tercampur kesenduan dari balik ucapannya.


“Maafkan kami.  Kami seharusnya mengirim lebih banyak personil untuk mengawasimu, tetapi pihak kepolisian telah memutuskan untuk mengutamakan perlindungan Dirga yang ditetapkan sebagai korban selanjutnya.  Padahal tidak ada yang tahu apa yang dipikirkan di otak pembunuh berantai itu.”  Ujar Bianca dengan tampak sedih.


“Tidak usah merasa bersalah kok, Kak Bianca.  Justru aku ingin menolak perlindungan dari kalian.”  Kaiser pun berujar seraya tersenyum.


“Lho mengapa Dek Kaiser?”  Mendengar hal itu, Bianca mau tidak mau menjadi keheranan.

__ADS_1


__ADS_2