
“Ini sudah akhir dari quarter kedua, kok Tuan Muda Kaiser belum tampak juga ya?”
“Iya, aku dengar juga Tuan Muda memang tidak akan main di sesi tiga ini.”
“Yah, kalau begitu percuma dong kita nunggu. Pertandingannya juga agak membosankan karena kemampuan kedua pemain terlalu jauh.”
“Iya ya. Juga sudah malam. Kita pulang saja yuk.”
“Ayo.”
“Iya. Ayo deh.”
Terdengar obrolan dari penonton di podium lantai dua. Tidak lama kemudian, podium penonton pun menjadi sepi. Di jeda antara quarter kedua dan ketiga, para pemain dari SMA Merak Merah duduk beristirahat di bench pemain. Salah satu pemain itu tampak memperhatikan sekeliling bench pemain lawan.
[Kaiser, kamu ke mana?] Gumam pemain lawan itu.
***
Pukul 22.01. Gedung olahraga yang tadinya tampak hidup, kini telah gelap dan sunyi. Tiba-tiba, tampak cahaya lampu dari gedung lain. Itu tidak lain adalah gedung perpustakaan barat laut.
“Hah hah hah hah!”
Andika yang telah puas melepaskan penatnya terbangun dan mendapati Kaiser yang tampak ngos-ngosan. Tampak keringatnya bercucuran walaupun di suasana dinginnya malam.
“Kaiser, apa yang sedang kamu lakukan? Apa kamu habis lari-larian hingga berkeringat begitu?” Tanya Andika yang keheranan kepada Kaiser.
“Oh. Aku tadi habis berusaha sekuat tenaga memanjat dengan menumpuk kursi untuk menyalakan lampu dengan menggunakan alat pel melalui lubang di jendela. Sangat susah tadi untuk menjangkau saklarnya. Untunglah akhirnya berhasil.” Ucap Kaiser dengan ekspresi letih.
“Seharusnya saklar lampunya diletakkan di dalam ruangan dong. Hehehehe.” Tambah Kaiser seraya mengeluarkan tawa nakal.
“Bagaimana denganmu Andika? Sudah puas dengan tidurnya?” Tanya Kaiser balik kepada Andika.
“Iya, lumayan. Aku harap orang-orang akan segera menotice kehadiran kita di sini. Terus terang, sekarang aku kebelet pipis dan tidak ada toilet di ruangan ini.”
“Maaf ya karena aku yang mengajakmu kemari…”
“Tidak apa-apa kok Kaiser. Hal ini terjadi juga bukan karena kesalahanmu.” Andika segera memotong perkataan Kaiser seraya tersenyum untuk menenangkannya dari rasa bersalahnya yang tampak dari wajahnya yang mendadak muram.
Kaiser pun membalasnya dengan senyum seraya berkata,
“Tapi tenang saja. Kini lampu perpustakaan telah menyala dan sebentar lagi, orang-orang akan segera menyadari ketiadaan kita. Tidak akan butuh waktu terlalu lama sebelum kita dapat keluar dari ruangan ini. Mari manfaatkan waktu dengan beristirahat saja untuk menghemat energi kita.”
__ADS_1
Kaiser seraya duduk dan kembali membaca novel fantasi favoritnya itu.
***
“Tit tit tuit tit.” Tiba-tiba terdengar dering telepon di salah satu loker ruang gedung olahraga yang telah gelap dan sunyi.
“Triiiiit tuk tuk tuk Triiiiiit.” Terdengar lagi dering telepon dengan nada lain, kali ini di loker yang berbeda di ruang gedung olahraga yang gelap dan sunyi itu.
Dering telepon terdengar berkali-kali hingga akhirnya tak terdengar lagi.
“Halo, Pak Suwirno? Bagaimana? Apakah Andika sudah bisa dihubungi?”
“Belum Bu Nana. Bagaimana dengan Kaiser? Apakah sudah ada kabar?”
“Juga belum. Duh, bagaimana ini? Kok mereka belum pulang ya? Teleponnya juga tidak diangkat.”
“Tenang Bu Nana, aku akan mencoba menghubungi teman-teman kelas mereka.” Setelah mengatakan itu, Pak Suwirno pun menutup telepon dari Ibu Kaiser itu.
Dia kemudian yang melakukan panggilan telepon.
“Halo, apa benar ini dengan Loki?”
“Benar. Maaf, tapi dengan siapa saya berbicara.”
“Oh. Ada apa Pak?” Loki yang mengetahui bahwa yang menelepon adalah ayah Andika, langsung mengubah nada bicaranya menjadi lebih sopan.
“Apa Nak Loki tahu Kaiser dan Andika ada di mana sekarang?”
“Setahuku, mereka ikut membantu latih tanding tim basket hari ini, tetapi seharusnya sudah lama selesai. Maaf Om, aku tutup dulu teleponnya. Aku akan mencari tahu dari anak-anak lain. Jika ada kabar, aku akan segera menghubungi Om.”
“Baik Nak. Tolong Kabari Om secepatnya ya.”
Percakapan antara Loki dan Ayah Andika pun berakhir. Kini, giliran Loki yang menghubungi Beni.
“Halo, Beni.”
“Oh, Loki. Hoaaaam. Tumben nelpon malam-malam begini.” Jawab Beni seraya menguap karena kelelahan.
“Apa kamu tahu Kaiser dan Andika ke mana?”
“Aku tidak tahu. Ada apa ya Loki?”
__ADS_1
“Mereka belum balik juga ke rumah.”
Mendengar hal itu, Beni tersentak sadar dari kantuknya dan segera melepaskan diri dari bantalnya yang empuk.
“Apa kamu bilang? Tapi setelah dipikir-pikir memang aneh karena mereka mendadak menghilang padahal telah berjanji akan ikut membantu pertandingan di sesi ketiga di jam 7. Hei Loki. Tidak terjadi sesuatu apa-apa kan pada mereka?” Beni mendadak panik dan segera bangkit dari ranjangnya dan memakai jaketnya.
“Aku akan segera kembali ke sekolah untuk jaga-jaga.” Ujar Beni dengan nada suara yang setengah was-was.
“Kalau begitu, aku juga akan ke sana. Aku khawatir dengan mereka, terlebih sekarang Kaiser punya banyak musuh yang berkeliaran.” Dengan ucapan Loki itu, telepon pun ditutup dan mereka berdua bergerak ke lokasi yang sama, SMA Angkasa Jaya, sekolah mereka.
***
Beni dan Loki tiba hampir bersamaan di lokasi. Mereka pun segera ke ruang sekuriti di depan gerbang untuk meminta gerbangnya dibuka. Setelah gerbang dibuka, mereka pun mulai mencari ke sana ke mari dimulai dari lokasi di dekat gedung olahraga.
Tak ada satu jejak pun keberadaan Kaiser dan Andika. Loki pun dengan inisiatifnya, segera ke lapangan upacara di mana seluruh gedung di sekolah mereka dapat terlihat.
Dia segera menyadari bahwa lampu di gedung perpustakaan barat laut masih menyala. Dia segera memanggil Beni dan bersama-sama menuju ke sana.
“Dor, dor, dor, dor.” Suara pintu digedor pun terdengar berkali-kali.
“Kaiser, Andika. Apa kalian ada di dalam sana? Segera jawab jika kalian ada di dalam sana!”
Loki berteriak sekuat tenaga mereka sambil menggedor-gedor pintu perpustakaan barat laut tersebut.
Andika yang bersama Kaiser di dalam segera menyadari suara Loki lantas segera merespon.
“Loki, apa itu kamu? Kami di dalam!” Andika segera memanggil nama Loki sambil membalas menggedor-gedor pintu dari dalam ruangan.
Loki pun akhirnya mengetahui lokasi mereka dan segera menyuruh Beni untuk mengambil kunci ruangan di petugas sekuriti. Loki kemudian segera menguhubungi Pak Suwirno tentang keberadaan Kaiser dan Andika.
Tidak lama kemudian, pintu perpustakaan pun terbuka dan mendapati kedua orang tersebut terjebak di dalamnya. Kaiser segera menyambut tangan Loki dan Beni, sementara Andika memberikan isyarat minta maaf dan bergegas ke toilet.
Tidak lama setelah itu, Bu Nana, Pak Lucias, dan Pak Suwirno datang menjemput mereka. Bu Nana serta-merta memeluk putranya Kaiser dengan bahagia sementara Pak Suwirno hanya menepuk kepala putranya Andika, tetapi Pak Suwirno tidak dapat menyembunyikan ekspresi khawatirnya pada putranya itu.
Mereka pun akhirnya meninggalkan lokasi ke rumah masing-masing tepat pada pukul 23.30.
***
Masih di malam yang sama, media tiba-tiba digegerkan oleh kematian pasangan ibu dan anak, Vet Tcin dan Rihana. Apa yang paling mencegangkan media adalah ditemukannya kartu tujuh skop yang tercoret salah satu tanda skopnya di teras di mana pasangan ibu dan anak itu terjatuh dan tewas.
Akhirnya, banyak media yang mengaitkan kejadian ini dengan kasus kematian Aleka di mana ditemukan kartu delapan skop yang tercoret salah satu tanda skopnya. Ada dugaan bahwa ini adalah kasus pembunuhan berantai dan jika memang benar ini adalah kasus pembunuhan berantai, mau tidak mau media akan mengaitkannya dengan kasus pembulian Dios.
__ADS_1
Tetapi kali ini, media lebih waspada terhadap beritanya setelah mengingat kejadian yang menimpa NTV News yang asal menuduh Kaiser dan akhirnya harus menelan pahit hasil perbuatannya berupa kerugian besar dan jatuhnya harga saham perusahaan di mana mereka akhirnya mengorbankan Vet Tcin untuk menyelamatkan nyawa perusahaan tersebut.