
“Apa-apaan sih tembok transparan ini? Mengapa tak bisa kutembus?” Ujar Airi marah seraya memukul-mukul barier transparan yang ada di depannya.
“Kaiser-kun! Kamu ada di mana?! Kamu baik-baik saja kan?!” Teriak Airi seraya memukul-mukul tembok tranparan itu dari luar.
Tiba-tiba, seseorang keluar dari berier tak kasat mata itu, padahal terlihat dari dalam, tidak ada satupun makhluk yang sedang berjalan mendekat menuju ke arah pintu keluar sejak dari tadi.
“Airi-san?”
Rupanya dia Kaiser.
“Mengapa kamu ada di sini?” Kaiser pun bertanya.
“Kaiser-kun? Ujar Airi setelah melihat Kaiser untuk memastikan bahwa dia sedang tidak berhalusinasi. Airi pun mulai tampak berkaca-kaca.
Akhirnya, dia melepaskan segala emosinya begitu mengetahui Kaiser baik-baik saja.
“Kamu tahu, betapa paniknya diriku sedari tadi karena sinyal tanda bahaya yang kutanam di dalam dirimu bereaksi?!”
“Ah, maafkan aku Airi-san karena telah membuatmu panik. Aku hanya main bareng Loki sebentar. Aku seharusnya menchatmu dari tadi ya sebelum berangkat? Sekali lagi, maafkan aku karena telah membuatmu panik, Airi-san.” Ujar Kaiser seraya tersenyum canggung sambil menyatukan kedua telapak tangannya tepat di depan dadanya.
“Duh, kamu ini! Trus mengapa HP-mu kamu non-aktifkan?”
Mendengar ucapan Airi, Kaiser seraya mengambil handphonenya dari tas jinjingnya. Dia lantas memperlihatkan layar handphonenya kepada Airi.
“Nyala kok, Airi-san. Juga tidak ada satupun riwayat panggilan tidak terjawab.”
“Ah.” Airi lantas terkesiap.
Dia baru sadar bahwa penyebab semua itu tidak lain adalah barier tersebut yang mengisolasi semua materi termasuk partikel elektromagnetik di dalamnya. Oleh karena itu, teleponnya tidak bisa tersambung kepada telepon Kaiser yang ada di dalam barier.
“Mungkin penyebabnya karena barier ini.” Ujar Airi seraya menyentuh sesuatu di udara kosong tampak dari pandangan mata Kaiser. Kaiser yang melihatnya pun menjadi bingung dengan tingkah Airi tersebut.
“Lebih penting daripada itu, mengapa sinyal tanda bahaya yang kutanamkan di dirimu itu bisa aktif? Apa yang terjadi padamu di dalam? Apa Loki melakukan sesuatu padamu? Ah, Ketua Kelas itu! Dia tampak seperti anak baik di luar, tapi ternyata sifat di dalamnya berbeda.” Airi yang khawatir kepada Kaiser, lantas mengumpat Loki.
“Hahahaha.” Kaiser terawa canggung menanggapinya.
“Tadi, kita hanya main pedang-pedangan, tapi tanpa sengaja, aku terluka.”
“Luka?” Airi lantas menscreening tubuh Kaiser dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Dia lantas terfokus pada lengan kanan Kaiser yang berdarah.
__ADS_1
“Ah, kok lenganmu bisa berdarah? Apa ini perbuatan si ketua kelas itu?”
“Hehehehe. Hanya lecet saja kok, Airi-san. Jangan terlalu salahkan Loki. Aku juga salah karena kurang hati-hati. Di Jepang, tentu Airi-san kenal dengan pepatah ini, ‘Persahabatan antarlelaki terbentuk dari adu jotos.’ Bukan begitu, Airi-san?” Ujar Kaiser seraya tertawa canggung, mencoba untuk menenangkan Airi.
[Aku juga tak dapat menyalahkan hal ini sepenuhnya pada Loki, mengingat Pak Suwirno memanggil Andika pulang di saat yang tepat ketika Loki mengajakku pergi. Kemungkinan ini semua diatur oleh kakeknya Loki. Mungkin atas permintaan pemerintah yang masih mencurigaiku sebagai pembunuh berantai itu dan mencoba menguji pola bertarungku. Ah, sungguh bodoh! Memangnya apa gunanya itu?] Gumam Kaiser.
“Duh, aku memang tidak bisa mengerti bagaimana jalan pikiran seorang pria. Kalau diingat-ingat, kakakku dan Yoshino-san selalu saja berkelahi padahal mereka sahabat baik.” Ucapan sarkasme Airi seraya membuyarkan Kaiser dari lamunannya.
Airi lantas menatap Kaiser dengan serius.
“Tapi Kaiser-kun, siapa Loki-kun sebenarnya? Mengapa di rumahnya bisa ada barier seperti ini?”
“Barier?” Tanya Kaiser keheranan.
“Iya, barier ini.”
Kaiser sekali lagi keheranan setelah melihat Airi tampak memegang udara kosong.
“Maaf, Airi-san, aku tidak bisa melihat apa-apa.” Ujar Kaiser seraya ikut menyapu udara di sekitar tempat yang disentuh Airi tersebut.
Airi lantas menatap Kaiser sekali lagi.
Mendengar kesimpulan Airi tiba-tiba itu, Kaiser tak dapat menahan rasa penasarannya.
“Apakah barier itu hanya dapat dilihat oleh yang terbangkitkan?”
“Hmmm. Kalau dilihat dari pola energinya, tampaknya beberapa orang yang terbangkitkan, juga tak akan mampu untuk mendeteksinya. Polanya cukup rumit dan diatur sedemikian rupa sehingga hanya orang tertentu saja yang bisa memasukinya. Ada elemen angin dan cahaya di dalamnya.”
Airi lantas lebih mendekatkan matanya lagi ke barier itu yang tampak dalam pandangan mata Kaiser seolah-olah Airi sedang memperhatikan udara kosong.
“Ada beberapa elemen lain lagi yang tampak tercampur di dalamnya. Jika bukan karena aku seorang kultivator yang memiliki spesifikasi pelacakan, mungkin aku takkan dapat mendeteksi barier ini sehingga akan tampak seolah-olah aku dihempaskan oleh ruangan kosong ketika hendak memasukinya.”
“Begitukah? Aku memang pernah sekilas memperoleh informasi tentang keluarga Wijayakusuma. Mereka adalah dua keluarga dengan sejarah tertua di daerah Jawa bagian barat selain keluarga Isnandar. Mereka bahkan sudah ada sejak zaman keemasan kerajaan Sriwijaya. Mungkin mereka mempelajari teknik ini dari literatur yang diwariskan ke mereka secara turun-temurun.”
Kaiser lantas bertepuk tangan, memecah kediaman sejenak.
“Apa gunanya memikirkannya sekarang. Kan kamu bisa menanyakan sendiri ke orangnya besok? Untuk sekarang kita pulang saja, Airi-san.” Ujar Kaiser seraya tersenyum lembut kepada Airi.
“Benar juga. Aku juga sedari tadi merasa tidak nyaman dengan orang yang mengawasi kita. Dia juga tampaknya kultivator level D tipe pelacakan sepertiku.”
__ADS_1
Mendengar hal itu, Kaiser tampak kaget.
“Dan dia juga sudah dari tadi menyadari bahwa aku menyadari keberadaannya, tetapi dia tidak juga mundur, tetapi tidak juga melakukan sesuatu yang lain selain mengawasi kita dari jauh. Aku jadi tidak nyaman karena tidak bisa menebak apa yang hendak dilakukannya.”
“Benarkah seperti itu? Kalau begitu, keadaannya sedikit lebih merepotkan dari yang kuduga. Ngomong-ngomong, kamu tahu identitas orang tersebut?”
“Dia seorang pria muda tampak berusia kurang dari 20 tahun dengan warna mata yang sama denganku dan berambut pirang.”
“Pirang? Kalau begitu, dia dari barat?” Ujar Kaiser dengan kaget.
“Ya, Kaiser-kun.” Airi mengiyakan atas statement Kaiser tersebut.
“Tapi bukankah dunia bawah kota Jakarta sementara ini dikuasai oleh China dan Jepang? Bisnis apa yang dimiliki kultivator barat itu di Jakarta? Keberadaan kultivator asal barat pasti akan mudah dideteksi dengan terjadinya keributan dunia bawah, tetapi dunia bawah saat ini tenang-tenang saja.”
Kaiser lantas tersentak. Dia baru teringat sesuatu.
“Oh, aku baru ingat bahwa ada satu organisasi yang terbangkitkan asal barat yang bisa berkeliaran bebas dengan nyaman di Indonesia melalui perlindungan Klan Takeuchi dan Klan Minamizawa, yakni Levovo. Tetapi belakangan ini mereka kesulitan beroperasi di Jakarta karena keberadaan klanmu, bukan, Airi-san? Tetapi semisalnya iya, apa yang dilakukan penjual-penjual budak itu di kota ini sambil mengawasiku?”
Mata Kaiser tiba-tiba bergetar.
“Jangan bilang bahwa mereka hendak menculik lalu menjualku sebagai budak?!”
Airi lantas menatap Kaiser kemudian mengembuskan nafas panjang.
“Levovo kah? Tetapi, orang itu bersama dengan seorang pemuda barat lain yang merupakan seorang kultivator level C bermata jade, tepatnya bertiga dengan satu lagi yakni seorang wanita barat bermata amber, seorang kultivator level D.”
Mendengar pernyataan Airi itu, Kaiser tampak sedikit panik.
“Bukankah ini berbahaya Airi-san? Kamu hanya seorang kultivator level D, apalagi hanya tipe pelacakan. Walau kamu bisa bertarung, tidak mungkin bagimu menghadapi sendirian seorang kultivator level C, terlebih dia didampingi oleh 2 kultivator level D lainnya.”
“Aku juga setuju dengan pendapatmu itu, Kaiser-kun. Tetapi bukan itu poin penting yang ingin kusampaikan. Keberadaan kultivator level C itu sendiri sangat langka. Saat ini, hanya terdapat 7 kultivator level C dari seed[12] di seluruh dunia yang diketahui. Sangat mudah mengenali mereka, terlebih yang berambut pirang hanya 3 orang saja. Duanya bermata merah, sementara hanya seorang dari mereka yang bermata jade.”
Airi terdiam sejenak sebelum melanjutkan.
“Dia adalah Arthur Peirriera, asal organisasi Medusa di Amerika Serikat. Aku sudah memastikan wajahnya melalui intel klan-ku, dan memang benar, wajah pemuda bermata jade yang sempat bersama orang yang membuntuti kita saat ini, sesuai dengan wajah Arthur Peirriera. Namun sepengetahuanku, organisasi itu bukanlah organisasi yang bersifat hostile. Setidaknya mereka tidak akan melakukan sesuatu secara serampangan. Namun, kamu harus tetap hati-hati, Kaiser-kun, karena kita belum mengetahui tujuan mereka yang sebenarnya. Ada juga kemungkinan, organisasi lain turut terlibat setelah ini.”
“Aku mengerti. Terima kasih, Airi-san.” Ucap Kaiser seraya tersenyum dengan senyum ala pangerannya.
NB: [12] Istilah untuk anak sindrom pelangi yang terbangkitkan
__ADS_1