DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
40. Warna Mata yang Indah Tersembunyi di Balik Kacamata Itu


__ADS_3

Di ruangan itu, tampak dua orang pemuda yang sedang terangah-engah.  Nafas mereka saling bertemu satu sama lain.


“Kaiser, jangan banyak bergerak! Hah, hah.  Aku jadi tidak bisa memasukkannya.  Hah, hah.”


“Hah, hah.  Oke, oke, baiklah Andika.  Tapi punyamu juga dong jangan bengkok, dibuat lurus agar mudah masuk.  Hah, hah.”


“Hah, hah.  Ini sudah lurus.  Bagaimana?  Hah, hah.  Aku sudah siap untuk memasukkannya lagi.  Hah, hah.”


“Kalau begitu, ayo cepatlah.  Tolong lakukan dengan lembut agar mudah masuk.  Hah, hah.”


Di ruangan itu tampak pula sesosok gadis yang sedang memperhatikan mereka.  Gadis itu termenung melihat dalam ke wajah Kaiser.  Dia adalah Ratih.


“Hah, bikin lelah saja! Mengapa juga seorang pria harus belajar menjahit!  Bukannya pekerjaan desainer itu hanya untuk wanita!  Mengapa masih ada muatan lokal PKK di SMA ini?! Lagipula mengapa AC di ruangan ini harus rusak di saat matahari lagi terik-teriknya. Aaaaaakh!”


Teriakan Andika seraya membuyarkan lamunan Ratih.  Tampaknya dia masih memikirkan perkataan Araka padanya tempo hari.


Lima hari sebelumnya,


“Ratih, aku tahu aku tidak perlu memberitahumu hal ini karena kamulah yang paling bertanggungjawab lebih dari siapapun yang kukenal.  Kamu tahu posisi keluargamu yang masih sedang menjalin kerjasama kontrak dengan kami kan?  Aku harap kamu lebih menjaga jarakmu dengan Kaiser agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dengan para anggota.  Bagaimana pun, keluarganya adalah saingan bisnis dari grup kami.”


“Aku tahu lebih dari apapun tentang yang kulakukan!  Kedekatanku dengan Tuan Muda adalah masalah pribadi dan kalian tidak berhak mencampuri masalah pribadiku.  Lagipula aku tidak punya niat untuk berinteraksi dengan keluarga Tuan Muda terutama pamannya Arkias Dewantara.  Dia orang yang sangat licik dan lihai seperti rubah.  Hanya saja, untuk saat ini, aku hanya ingin di dekat Tuan Muda saja.”


Araka terdiam setelah mendengarkan pengakuan Ratih.  Dia tidak berkata sepatah kata apapun lagi sampai Ratih pun pergi meninggalkan ruangan itu.


“Hah, apa yang kamu katakan Andika?  Justru menurut survei yang ada, 70 % desainer yang sukses di dunia adalah seorang pria.  Lagipula seorang pria pun paling tidak harus memiliki keterampilan dasar menjahit.  Bagaimana nanti jika ada pakaianmu yang robek tiba-tiba di sekolah?  Apa kamu berencana untuk merepotkan pelayanmu untuk jauh-jauh datang dari rumahmu ke sekolah?  Setidaknya kamu bisa dengan simpel menyelesaikannya dengan meminjam alat jahit di ruang UKS sekolah.”  Ujar Kaiser seraya berekspresi seakan mengatakan ‘apa yang dikatakan orang ini?’.


“Kalau itu terjadi, aku bisa meminta tolong pada salah seorang anak gadis di kelas kita.”  Balas Andika yang tak berani menatap langsung ke mata Kaiser dan memalingkan wajahnya sambil merajuk.


“Termasuk jika yang robek di bagian antara dua kakimu?”


“Iya deh, maaf aku salah.  Kita lanjut lagi menjahitnya.  Tapi kita gantian. Giliran aku yang pegang jarumnya dan kamu yang masukkan benangnya. Dan Beni, tolong kipasi aku juga dong!” Ujar Andika merajuk seraya menoleh ke Beni yang ada di depan mereka yang tampak sedang mengipasi badannya dengan kipas seperti yang sering dibawa oleh Nayla.

__ADS_1


“Ya ampun anak ini.”


Kaiser tertawa cerah melihat tingkah lucu Andika.  Ratih yang memperhatikan mereka pun seraya ikut tertawa.


Tiba-tiba, Ratih dikagetkan oleh gerakan mendadak Wilda yang berdiri di belakangnya.


“Ada apa Wilda?”


Wilda tidak menjawab Ratih.  Dia hanya terus menatap tajam kepada suatu sosok yang sama sekali tidak ada yang menyadari kedatangannya di kelas kecuali Wilda dan Loki.


“Siapa kamu?  Ada urusan apa kemari?”  Ujar Wilda dengan penuh waspada.


“Ya ampun, gadis manis.  Maafkan Kakak jika membuat kalian kaget.  Aku hanya melihat pintunya terbuka dan langsung melihat Ratih.  Jadi aku langsung masuk saja untuk menyapanya.”  Ucap sosok misterius itu.


Ratih seraya berbalik untuk melihat siapa sosok misterius itu.  Kedua mata berwarna hitam mereka pun saling bertemu pandang.  Rupanya, dia adalah Jey, Pelayan VIP suatu bar, tempat Araka dan kawan-kawan sering berkumpul.


“Kamu, kalau tidak salah, pelayan yang waktu itu kan?  Apa yang kamu lakukan di sekolahku?”  Ujar Ratih keheranan.


“Aku hanya bermaksud mengantarkan barang Nona yang ketinggalan atas permintaan Tuan Araka.”  Jawab Jey dengan santai sambil tersenyum lembut.


“Bukan begitu Tuan Muda.  Aku bertemu dengan Araka terkait soal bisnis keluarga.”


Melihat Ratih yang panik, Kaiser sejenak terlihat bingung untuk bagaimana menenangkan Ratih yang salah sangka dengan perasaannya.  Dia kemudian memutuskan untuk tertawa ceria dan mengubah arus pembicaraan yang tegang ini terlebih dahulu.


“Ya ampun Ratih, kamu terlalu banyak berpikir.”  Kaiser seraya berjalan perlahan mendekati Ratih sambil tersenyum ramah kepadanya.  Lalu dia mendekap kepala wanita itu.


“Hanya karena kami bermusuhan, bukan berarti aku akan membencimu jika berteman dengannya.  Ratih akan selalu berada di tempat yang spesial di hati Kaiser.”


Mendengar ucapan Kaiser itu, pipi Ratih seraya memerah.


“Begitu pula untuk Mirna, Wilda, Andika, dan semua teman-teman Kaiser yang lain.  Hehehehe.”  Lanjut Kaiser seraya menoleh ke samping untuk bertemu wajah Ratih lantas tersenyum nakal.

__ADS_1


Ratih membalas senyuman itu.


“Maaf mengganggu obrolan kalian, tetapi ini barangnya Nona.  Tas Anda yang tertinggal beberapa hari sebelumnya.”  Ucap Jey menginterupsi di antara keduanya.


“Terima kasih.”  Ratih hanya mengambil barang itu lalu menjawab singkat.


Jey kemudian tersenyum.  Dia kemudian menatap Wilda yang ada di samping Ratih di sisi yang berlawanan dengan Kaiser.


Dia kemudian mendekatkan wajah cantiknya ke wajah Wilda.


“Ini kacamatamu Nona.  Hati-hati agar tidak terjatuh lagi.”


Wilda tersentak kaget karena baru menyadari kacamatanya rupanya tidak bersandar lagi di punggung hidungnya itu.


“Terima kasih.”  Wilda pun hanya menerima barang yang diserahkan Jey dengan jawaban singkat.


“Ngomong-ngomong, ini kontak lensa Nona yang ikut terjatuh.  Sebenarnya, aku lebih suka nona yang tanpa kontak lensa.  Mata Anda sangat cantik soalnya.”  Ujar Jey seraya tersenyum nakal.


Ratih pun menoleh ke Wilda seraya mengeluarkan pertanyaan, “Wilda, kamu juga pakai kontak lensa walaupun sudah pakai kacamata…” 


Belum sempat Ratih menyelesaikan pertanyaannya kepada Wilda, dia terhenti karena kaget.


Tidak ada yang memperhatikan sebelumnya karena perhatian anggota kelas tertuju pada sosok misterius yang tiba-tiba memasuki kelas itu.  Terlihat warna mata yang berbeda dari Wilda dari yang selama ini semua anggota kelas lihat.  Warna mata yang kuning cerah, tipikal kelainan genetik akibat sindrom pelangi.


“Ah, jangan lihat!”  Teriak Wilda seraya berjongkok dan menundukkan wajahnya mencoba untuk menyembunyikan warna mata itu.


Kaiser yang kesal karena menduga semua ini akibat ulah Sang Pelayan, Jey, segera memalingkan wajahnya ke tempat di mana semula Jey berdiri.  Rupanya, Jey sudah tidak terlihat lagi di dalam kelas itu.


Ratih dan Mirna seraya mendekap bahu Wilda masing-masing di kedua sisi.  Kaiser yang memperhatikan itu segera menyuruh Beni yang ada di sampingnya untuk menutup pintu kelas.  Dia kemudian ikut duduk menyamakan posisi badannya dengan tiga sekawan itu.


“Tidak ada yang aneh dengan warna matamu kok.  Itu sangat indah lho, Wilda.  Sama seperti warna mataku yang biru dan Loki yang hijau.  Semuanya indah.”

__ADS_1


Mendengar sumber suara itu, Wilda menegakkan kepalanya yang rupanya wajahnya telah dipenuhi oleh air mata.


“Tuan Muda.  Hiks, hiks.”  Wilda pun menangis di hadapan Tuan Mudanya untuk mengeluarkan segala penat di hatinya.


__ADS_2