DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
124. Kekalahan Tirta


__ADS_3

Situasinya terjadi begitu cepat sehingga tanpa disadari, belati Tirta sebentar lagi akan menancap tepat di bagian bawah kanan pinggang Kaiser di mana organ hati manusia berada.


Naasnya dalam situasi kritis itu, hampir tak ada satupun dari mereka yang menyadari pergerakan diam-diam Tirta yang cepat itu.


Wilda-lah dengan posisi arah jam sepuluh ke Tirta yang pertama kali melihat ada sesuatu yang berlari sambil merangkak dengan cepat ke arah Kaiser.  Namun, sudah sangat terlambat.  Bahkan untuk berteriak pun, memperingatkan tuan mudanya itu, sudah tak sempat lagi.


Dan dari jauh, pembunuh berantai joker hitam menyaksikan semua kejadian itu sambil tersenyum puas.


Namun tiba-tiba,


“Sraaaak!”


Pembunuh berantai itu memutuskan link-nya dengan Tirta.  Seketika, doping yang selama ini meningkatkan ketuatan Tirta berkali-kali lipat tertarik keluar dari tubuhnya.  Efek shok yang diterimanya akibat mengeluarkan jumlah cakra di luar batas wajar bagi seorang kultivator level F akhirnya dirasakan oleh tubuhnya itu.


Tubuhnya memanas dengan cepat dan beberapa syaraf pergerakannya terutama di bagian tangan kanan dan kedua kakinya lumpuh dalam sekejap.


Wilda pun segera berlari ke arah Tirta sambil mengeluarkan alat sejenis borgol lalu membelenggu kedua tangan dan kaki Tirta dengan itu.


Kaiser dan yang lain yang baru menyaksikan dan menyadari kejadian itu, tak dapat menahan rasa shok mereka.


Anehnya, sang pembunuh berantai membatalkan niatnya untuk mengeksekusi Kaiser melalui tangan Tirta di detik-detik terakhir itu.  Ataukah sejak awal, mungkin dia memang sama sekali tidak pernah berniat melakukannya.


***


Di suatu atap rata dari bangunan berlantai tiga di mana dia baru saja menyelesaikan pertarungannya dengan Airi, pembunuh berantai joker hitam tampak menunjukkan ekspresi murka.  Dia menggigiti bibirnya dengan geram.


“Ah, cakra kultivator itu menghilang.  Rupanya rencanamu gagal ya.”  Ujar Airi dengan nafas yang terengah-engah yang sampai-sampai mengeluarkan bahasa Jepang, bahasa ibunya, karena betapa lemahnya kondisinya saat ini sehingga tak mampu berpikir banyak lagi.


“Heh.”  Pembunuh berantai itu tersenyum kecut.


Dia lantas menatap Airi seraya berkata,


“Aku dapat dengan mudah ke sana untuk mengeksekusinya sendiri.”  Ujarnya seraya tersenyum sinis kepada Airi.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Airi yang sudah dalam kondisi tak berdaya, hanya dapat menatap wajah pembunuh berantai itu dengan resah sembari berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan kesadarannya.


Melihat Airi seperti itu, sekali lagi dia tersenyum kecut.


“Tenang saja, kuputuskan untuk kutunda dulu hari ini.”


Ujarnya dengan nada santai seolah-olah membunuh adalah hal yang sepele bagi pembunuh berantai itu. Dia kemudian terdiam sejenak sebelum melanjutkan,


“Semula, aku ingin merusak citranya dulu dengan mengendalikan opini, melimpahkan segala kejahatanku padanya sebelum akhirnya kubunuh dia dengan tanganku sendiri dalam keputusasaannya, merasakan hinaan publik itu.”


Ujarnya kembali seraya menggenggam tangan kirinya kuat-kuat tampak penuh amarah.


“Kupikir, dia orang yang seperti itu.  Wajar kalau seorang anak konglomerat yang tampak baik di publik, merasa sangat menghargai citranya di depan umum.  Hahahahaha.”


Dia kemudian tiba-tiba tertawa, tetapi sama sekali tak ada raut senang di balik topengnya.


“Tapi tampaknya, dia sama sekali tidak peduli dengan hal semacam itu.  Rupanya dia hanyalah seorang bocah yang sok polos.  Karena kesal dengan sikap sok polosnya, aku pun sebenarnya tidak peduli lagi siapa yang akan membunuhnya.  Yang jelas cepat mati saja, bawa dosa-dosamu ke alam sana, pikirku.  Terus terang, aku sudah kehilangan ketertarikan lagi untuk mengotori tanganku dengan darah orang yang seperti itu.”


Dia kemudian berbalik badan tampak siap meninggalkan tempat itu.  Tetapi kepalanya kembali  dia tolehkan ke belakang seolah dengan sengaja agar Airi dapat dengan jelas melihat pergerakan mulutnya yang tak tertutup topeng itu.


Sebelum kehilangan kesadarannya, Airi dapat dengan jelas mendengar pembunuh berantai joker hitam mengungkapkan kalimat terakhirnya itu seraya melihat seringai bengisnya dari balik topeng tersebut.


***


Bianca disusul oleh Dono akhirnya sampai di gedung pusat yang terletak di sebelah selatan sekolah itu.  Namun, kejadian di sana telah berakhir yang ditutup dengan dibatalkannya niat pembunuh berantai joker hitam itu untuk menghilangkan nyawa Kaiser melalui Tirta.


Akan tetapi, satu hal yang pembunuh berantai itu tidak ketahui adalah bahwa tanpa dia melakukan hal tersebut pun, Kaiser tetap akan selamat.  Perbedaannya, justru Tirta-lah yang akan meregang nyawa di tempat itu.


Karena jauh di atas Tirta berdiri saat itu, keempat senjata spiritual berupa senapan berpeluru angin spiritual yang dinamakan pemiliknya sebagai Ramboo 1, 2, 3, dan 4 telah diposisikan oleh pemiliknya tersebut dan siap menyerang Tirta kapan saja, melubanginya dengan ratusan lubang-lubang, sedikit saja belatinya itu lebih dekat ke Kaiser.


Dia-lah Beni, alias Arthur Peirriera, satu di antara delapan kultivator level C, kultivator dengan level tertinggi di dunia yang terekam saat ini, yang secara resmi tercatat namanya di dunia.  Dari atap gedung pusat berlantai empat itu, dia dengan jelas menyaksikan pertarungan yang terjadi di bawah.


“Dek Kaiser, kamu baik-baik saja?”  Bianca yang segera berlari menghampiri Kaiser, menyapanya setibanya di sana.

__ADS_1


“Ah, Kak Bianca.  Semuanya sekarang sudah baik-baik saja Kak.”  Jawab Kaiser seraya tersenyum ramah.


Dari arah belakang, Dono ikut mendekat.


“Kakak apanya?  Salah bukan?  Seharusnya kamu memanggilnya dengan sebutan Tante atau minimal Bu.”  Dono pun dengan segera meledek Bianca sesampainya di sana.


“Apa?  Kamu mau bilang kalau aku sudah tua?  Aku ini masih di usia dua puluh-an, ya!”  Bianca pun terprovokasi dengan perkataan Dono tersebut.


“Jadi, apa yang akan kita lakukan dengan pembunuh berantai itu?”


“Hei!  Kamu mengabaikanku ya?!”  Bianca dengan cepat mengantarai Dono dan Kaiser begitu mendapati Dono tak menggubris kata-katanya barusan.


Sayangnya, Kaiser juga tidak ikut menggubrisnya dan melanjutkan topik yang baru saja dibawa oleh Dono tersebut.


“Kurasa bukan dia pembunuh berantai joker hitam itu, Pak Polisi. Setidaknya, sensasinya berbeda dari apa yang kurasakan sewaktu bertarung dengannya di dekat vila Senior Araka.  Lagipula, Senior Tirta itu bola matanya berwarna kuning dan dia juga tidak kidal.”


“Begitukah?”  Dono pun merespon singkat atas komentar Kaiser tersebut.


Namun, sebelum mereka dapat mengobrol lebih jauh, satu rombongan lagi datang menghampiri Kaiser dan kawan-kawan.


Dengan high heels berwarna merah dan dengan seragam ala pegawai negeri, seorang wanita cantik paruh baya yang tampak merupakan pimpinan dari rombongan itu, berjalan lebih depan setengah langkah dari yang lain dengan cara jalan yang begitu anggun.


Sesampainya wanita itu bersama rombongannya di hadapan Kaiser dan kawan-kawan, diapun mengulurkan tangannya kepada Kaiser untuk berjabat tangan.


Dia memilih mengulurkan tangannya kepada Kaiser, seorang anak SMA yang sedang terduduk, ketimbang empat orang dewasa yang berdiri di sana, apalagi dua di antara mereka adalah polisi.  Belum jelas motif dari sikapnya yang terlalu ramah kepada Kaiser tersebut.  Ataukah itu sebagai bentuk sarkasmenya saja yang tidak ingin terlihat akrab dengan tim kepolisian penanganan kriminal berat di hadapannya itu.


Kaiser pun meraih dan menjabat tangan tersebut.


“Hai, perkenalkan, saya adalah pemimpin tim divisi penanganan bencana tidak wajar dari kepolisian pusat, Mayangsari Wijayakusuma.”


“Salam kenal, Kak.  Saya Kaiser, Kaiser Dewantara.”  Ujar Kaiser dengan senyum canggung di wajahnya.


“Maaf Dik Kaiser, aku sebenarnya ingin lebih lama mengobrol dengan Adik untuk menggali informasi yang lebih dalam terhadap kasus yang baru saja kami terima ini.  Tetapi kami harus segera buru-buru mengamankan tersangka sebelum mengamuk lagi.  Tidak ada yang orang biasa dapat lakukan jika makhluk seperti mereka kehilangan kendali.”

__ADS_1


Mendengar ucapan itu, Kaiser mengerutkan keningnya.  Tampak bahwa ada perkataan dari wanita cantik tersebut yang menyinggung hati naifnya.


“Bukankah perkataan Kakak barusan terlalu kasar?  Kakak berbicara seolah-olah para kultivator seperti mereka, bukan manusia lagi.  Kaiser harap Kakak tidak akan memperlakukan mereka berbeda hanya karena memiliki sedikit keunikan dibandingkan yang lain.”  Ujar Kaiser tegas.


__ADS_2