
Mengapa kenangan itu sampai kulupakan? Kenangan tak berdaya sebagai salah satu anak panti. Kenangan di mana Ibu Panti kami harus berkeliling jalan di tengah teriknya matahari demi sesuap nasi kami perihal ketidakpedulian pemerintah dan orang-orang pada nasib kami anak panti.
Mengapa kenangan itu sampai kulupakan? Sosok kakak yang senantiasa menemaniku dalam kesendirian ketika orang-orang mengabaikan kami, menghujat kami, dan bahkan menghina kami. Sosok kakak yang begitu penting keberadaannya bagiku. Yang karena melindungiku, dia pun turut menderita terculik bersamaku.
Mengapa kenangan itu sampai kulupakan? Penderitaan sebagai anak-anak yang diperlakukan layaknya barang dagangan. Kami dilatih dan dipersiapkan dengan tanpa memperdulikan keinginan kami. Kami dibiarkan kelaparan, kesakitan, tersiksa, dan ketika kami kena wabah sedikit saja, maka kami akan segera dibuang sebagai produk rusak.
Sebelas tahun yang lalu, mengapa aku sampai melupakan identitasku tanpa mengetahui ada anak yang begitu merasa bersalah karena identitas kebahagiaan hidupku harus ditukar dengan penderitaan yang seharusnya dia rasakan? Aku sama sekali tidak pernah membenci anak itu. lagipula bukan keinginannya-lah bahwa orang tuanya menukar kami.
Aku sama sekali tak paham apa yang dirasakan anak itu setelah mengalami langsung pandangan prekognitif itu. Aku hanya dapat melihatnya melalui layar ingatannya tentang penderitaanku itu karenanya. Namun, aku yang dalam pandangan prekognitif itu, jelas berbeda dengan diriku yang sekarang. Itu pun semua berkat anak itu.
Aku pun tanpa mengetahui itu terus berjalan mewarisi tekad yang entah berasal dari mana bersemayam di hatiku, menghapus perundungan dan pengabaian terhadap kaum-kaum lemah. Setelah melihat pandangan prekognitifnya, aku kurang lebih paham. Itu sebagai upayaku atau bisa dibilang sebagai rasa bersalahku pada sosok diriku yang lain di pandangan prekognitif itu.
Namun, aku yang di sini berbeda dengan aku yang di sana. Aku bisa beladiri untuk mempertahankan diri. Aku punya banyak uang dan kekuasaan sehingga tiada seorang pun yang berani menindasku. Aku punya banyak kawan-kawan yang tulus sehingga aku tidak pernah merasa kesepian. Dan aku juga punya keluarga, tempat aku berbagi kehangatan.
Tetapi apa ini? Bahkan dengan segala yang kumiliki saat ini, aku lagi-lagi gagal melindungi apa yang penting untukku. Karena pengabaianku, aku membiarkan Dios dirongrong rasa bersalah yang tak seharusnya dia rasakan. Dia sampai-sampai berbuat nekat seperti ini demi menyelamatkanku karena aku tak dapat melihat sendiri bahaya yang ada di depan mata tersebut.
Bahkan karena hal tersebut, aku sampai merusak kakak yang sangat kusayangi itu untuk yang kedua kalinya. Terbalut dendam dalam kepedihan hati yang tak tertahankan. Aku sungguh begitu bodoh.
Aku bahkan menyebabkan kematian orang-orang yang seharusnya tak terlibat dalam masalahku. Itu semua, karena sikap pengabaianku.
Tidak, aku tidak mau seperti itu selamanya. Aku tak ingin lagi berbalik dan meninggalkan masalah. Satu yang kusadari, semakin masalah ditinggalkan, semakin dia menumpuk dan akan semakin menjadi besar. Aku putuskan untuk tak menoleh lagi. Akan kuhadapi masalahku tanpa berpaling lagi. Aku tak bisa menjadi anak kecil yang manja selamanya.
***
“Itu mungkin benar bahwa kematian Araka dan Paman Lu Tianfeng ada kaitannya denganku karena ketidakmampuanku untuk melihat masalah dalam perspektif yang lebih luas. Lantas mengapa? Aku pun harus terus berjuang untuk bertahan hidup.” Jawab Kaiser tegas terhadap perkataan Lu Shou tersebut.
“Dasar anak kurang ajar!” Teriak Lu Shou sembari mengeluarkan hampir ribuan pedang dari artifak segel air di tangannya.
__ADS_1
Berjibun pedang itu pun menerjang ke arah Kaiser. Dengan sigap Andika maju ke depan Kaiser, hendak untuk menelannya dengan aura hitamnya. Akan tetapi, Kaiser segera menarik kembali Andika ke belakang.
***
Jika aku tidak bertindak sekarang, maka aku dan Andika dipastikan akan tewas oleh hujaman pedang-pedang itu. Tidak hanya kami, tetapi juga Kak Danial, Kak Bianca, Loki, dan Fero yang juga turut berada di tempat ini akan tewas seketika. Aku harus berbuat sesuatu.
Kekuatan itu. Kekuatan yang selama ini kuabaikan. Bahkan kusegel dalam-dalam di ingatan terdalamku. Setelah kejadian mengerikan yang kusaksikan di tempat perbudakan Levovo. Aku yang menolak kekerasan, memutuskan untuk mengabaikannya.
Jika bukan karena benturan efek Mind Control Dios, mungkin sampai akhir, aku akan melupakannya, menyia-nyiakannya, padahal dengan kekuatan tersebut, aku mampu menyelamatkan orang-orang yang aku sayangi.
***
“Kaiser, apa yang…” Ujar Andika yang heran tentang mengapa Kaiser justru menariknya ke belakang.
Namun, Andika seketika terkesiap melihat bentuk segidelapan aneh di kedua bola mata biru milik Kaiser itu.
Seketika berkas-berkas cahaya putih menyebar di sekitar Kaiser, menggerogoti setiap pedang air milik Lu Shou yang pada akhirnya ikut menjadi serpihan cahaya putih. Berkas-berkas cahaya putih itu pun merasuk ke dalam artifak segel air. Lambat-laun, artifak itu pun mulai retak.
“Bocah sialan! Apa yang kamu lakukan?!” Lu Shou pun marah lantas mengeluarkan senjata spiritualnya berupa pedang air yang memiliki ukuran yang lebih besar yang tak dapat dibandingkan dengan pedang air yang tercipta atau tersimpan di segel air.
Senjata itupun dilemparkan Lu Shou ke arah Kaiser. Kaiser berusaha membentuk tameng dari kumpulan cahaya tersebut. Namun, karena dia jarang berlatih menggunakannya, dia pun jadi tidak terbiasa, dan,
“Slash!”
Pedang itu berhasil menggores mata Kaiser. Namun, senjata itupun ikut berubah menjadi berkas sinar-sinar putih, tampak menyatu dengan yang lainnya. Tapi itu telah cukup. Kekuatan berkas cahaya-cahaya putih milik Kaiser tampaknya tak lagi meliar.
“Kaiser!” Melihat Kaiser terluka, Bianca pun berteriak panik sembari berlari ke arah Kaiser sambil menyerang Lu Shou dengan menggunakan pistolnya. Namun Lu Shou berhasil menangkisnya menggunakan pedang air yang tersimpan di dalam kubus segel air itu.
__ADS_1
Lu Shou lantas balik menyerang begitu Bianca tak lagi menghujaminya dengan peluru, tetapi rupanya Kaiser kali ini berhasil membentuk tameng cahaya untuk melindungi Bianca. Dengan serangan terakhir ke Bianca itu, artifak segel air yang telah retak itu, akhirnya pecah berkeping-keping.
Anehnya, segel air raksasa yang mengitari seisi lantai menara tidak kunjung hilang. Tampaknya, segala jurus yang tersimpan di artifak segel air yang berhasil dilepaskan, tidak akan hilang, meskipun segel airnya telah hancur.
Mungkin sewaktu Bianca menembak artifak segel air dan pedang air kehilangan bentuknya, itu karena jurus air terbentuk secara eksternal oleh artifak, dan bukan yang disimpan oleh artifak itu sendiri.
“Kini, kita sama-sama kehilangan kartu untuk menyerang, Kak Lu Shou.” Kaiser pun berujar.
Berkas cahaya putih yang mengelilingi mata Kaiser pun tampak membuatnya sembuh secara bertahap. Namun, Kaiser tak mampu lagi melakukan serangan saat ini. Di lain pihak, baik artifak segel air maupun senjata spiritual milik Lu Shou telah lenyap. Sekilas tampak mereka berada di titik buntu yang mana kedua kartu mereka telah habis digunakan semuanya.
Akan tetapi dalam situasi itu, Lu Shou tersenyum bengis. Melihat itu, Andika dan Bianca pun berdiri di depan Kaiser untuk bersiap melindunginya.
Dari belakang Lu Shou kemudian muncul sebuah roda dengan tujuh pedang melingkar di atasnya. Tampak posisi ketujuh pedang tidak simetris. Namun, jika ditelisik, roda itu seharusnya berisi delapan pedang, yang karena itu sekarang kelihatan tidak simetris.
Kemungkinan pedang yang terakhir di lempar Lu Shou itu adalah bagian dari itu dilihat dari ukuran dan bentuknya yang sama persis dengan ketujuh pedang lainnya.
“Kamu kira senjata spiritualku hanya satu, Bocah! Sayangnya, aku punya delapan.”
Seraya mengucapkan itu, dengan senyum bengisnya, Lu Shou pun melepaskan ketujuh pedang lainnya. Kaiser pun kembali membentuk tameng-tameng dari kumpulan berkas cahayanya yang masing-masing melindungi dirinya, Andika, Bianca, termasuk Loki, Fero, serta Danial yang turut pingsan di tempat tersebut.
“Matilah, Bocah sialan!” Teriak Lu Shou marah sambil semakin terus menyerang sekeliling dengan intens.
Akan tetapi Lu Shou lupa. Kaiser memiliki kekuatan mengerikan lain yang dia pun sama sekali tidak menyadari cara pengaktifannya yang secara pasif melindungi dirinya, Chain of Command.
Tetesan-tetesan air yang membasahi lantai yang semula berasal dari kumpulan uap air yang dia bentuk menjadi pedang menggunakan kemampuan segel airnya, mempelesetkan kakinya dan entah karena kesialan apa, momentum serangan pedangnya sendiri membuatnya terpental hingga mengenai segel air raksasa yang dia bentuk sendiri mengelilingi seisi lantai menara.
Lu Shou pun tertarik dan hampir tenggelam dalam jurusnya sendiri. Akan tetapi, Kaiser segera berlari dan menarik tangan Lu Shou lantas mengeluarkannya dari tarikan segel air tersebut.
__ADS_1
Namun, hal yang tak disangka-sangka pun terjadi. Lu Shou menikam Kaiser tepat di jantungnya. Dari mulut Kaiser pun keluar darah berhamburan, diikuti hidung, mata, dan telinganya.