
“Kamu dipekerjakan untuk mengurus segala keperluan ibuku. Sudah sewajarnya kamu membereskan semua kekacauan yang diperbuatnya. Tapi apa ini? Inikah perlakuan seorang pengasuh profesional kepada asuhannya? Kira-kira, apa yang akan dilakukan oleh keluarga Lu jika mengetahui tindakan anak buahnya seperti ini?” Ucap Araka kepada Sang Pengasuh seraya berekspresi jahat. Mata hitamnya betul-betul memandang Sang Pengasuh bagaikan memandang seekor ulat, penuh penghinaan dan kejijikan.
“Tuan Araka. Maafkan saya. Maafkan Saya! Saya berjanji tidak akan mengulangi semua ini. Tolong jangan laporkan ini kepada Tuan Besar.” Ucap Sang Pengasuh seraya memeluk kaki Araka untuk meminta pengampunan.
Araka seketika mengayunkan tendangannya kepada Sang Pengasuh. Sang Pengasuh lantas jatuh berguling-guling hingga menabrak dinding. Araka kemudian menggapainya dengan menarik kerah bajunya. Tanpa simpati Araka langsung menghempaskannya keluar dari pintu rumah.
“Jangan sekali-kali kau menampakkan wajahmu di sini lagi. Pengawal, pukul dia hingga cacat!” Araka lantas memanggil para pengawal yang sedari tadi mengawalnya untuk memberikan pelajaran kepada Sang Pengasuh yang tidak tahu diri itu.
“Tuan Araka! Tolong ampuni saya. Aaaakkh!”
Para pengawal pun mulai menghajar Sang Pengasuh tanpa berbelas kasihan. Ibu Araka yang mengintip dari dalam sampai berkeringat ketakutan. Araka yang melihat ibunya seperti itu segera menutup pintu dan mendekap ibunya dengan pelukan hangat.
“TIdak apa-apa Bu. Lain kali jika ada yang berbuat jahat pada Ibu, segera laporkan pada Araka. Araka pasti akan melindungi Ibu.” Ucap Araka seraya membelai lembut punggung ibunya.”
“Anakku, tolong ampuni pengasuhnya. Kasihan dia. Kumohon, jangan bersikap seperti ayahmu. Kembalilah menjadi anak yang baik.” Ucap Ibu Araka seraya menitikkan air mata di dalam pelukan Araka.
[Ibu, orang rendahan jika tidak diberi peringatan, maka mereka tidak akan sadar pada tempatnya dan akan melunjak. Cara ini memang kasar, tetapi cara inilah yang paling ampuh untuk mengatasi orang-orang rendahan seperti mereka. Jika kita tidak melakukannya, ketika ada kesempatan, merekalah yang akan menyeret kita untuk ikut terjatuh bersama mereka. Tapi tenang saja Bu karena ada Araka di sini. Aku takkan membiarkan siapapun menyakiti Ibu.] Araka hanya mengucapkan dalam hati perkataannya tanpa mengungkapkannya langsung kepada ibunya. Dia hanya terus mengusap punggung ibunya yang rapuh itu.
***
Malam itu, kejadian yang tidak terduga terjadi. Siapa yang akan mengira bahwa siswa akademi kepolisian yang ikut bersama Petugas Dono ke kelas Araka akan merekam perdebatan antara Ratih dan Alicia dan menyebarkannya di internet.
Arus pembicaraan di internet rupanya cenderung mendukung Alicia walaupun jelas-jelas tindakannyalah yang salah karena ingin menjebak Kaiser. Namun, netizen cenderung menyalahkan tindakan Ratih dan kawan-kawan yang terlihat membuli dan menyudutkan Alicia di depan banyak orang. Bahkan ada opini di internet bahwa Kaiser telah menyusun kekuatan di sekolah untuk menguasainya dan barang siapa yang tidak mengikutinya akan dirundung seperti halnya apa yang terjadi pada Alicia sekarang.
Ada juga desas-desus lama yang kembali merebak bahwa Kaiserlah yang telah membunuh Aleka dan Rihana dengan menyewa seorang pembunuh bayaran dengan menggunakan kekuasaan keluarganya dan keluarga orang-orang yang telah di bawah kekuasaannya di sekolah. Namun, motif yang merebak kali ini sangat berbeda di mana diisukan bahwa Kaiser sangat haus akan kekuasaan. Karena kegagalan Kaiser menguasai sekolahnya yang dulu karena Araka dan kawan-kawan, Kaiser diisukan ingin membunuh orang-orang yang telah membuatnya gagal waktu itu.
__ADS_1
Kaiser bahkan diisukan tidak melanjutkan jenjang SMAnya di SMA Puncak Bakti dan malah pindah ke sekolah baru, SMA Angkasa Jaya, untuk menyusun kekuatan ulang di mana dia membawa pengikut-pengikut yang telah di bawah pengaruhnya ke sekolah yang baru itu bersamanya. Hal ini dapat terlihat dari ikut pindahnya Andika, Ratih, Mirna, dan beberapa orang lain bersamanya dari SMP Puncak Bakti ke SMA Angkasa Jaya.
Sungguh cerita yang tidak masuk akal layaknya gosip, semakin digosok semakin sip.
Triiiing.” Suara dering telepon berbunyi.
Ratih yang saat itu masih di meja belajarnya membaca-baca berita heboh itu melalui laptopnya, kemudian mengangkat teleponnya.
“Halo, Ratih. Kamu sudah mengetahui desas-desus di internet itu kan?”
“Iya, Mirna. Ini sekarang aku lagi baca.”
“Lantas apa yang harus kita lakukan?”
“Tenang saja. Beri aku waktu untuk mengurusnya sendiri saat ini. Saat aku membutuhkan bantuanmu dan teman-teman lain, aku akan segera mengabarkannya lewat forum komunitas kita.”
“Iya Cin, tenang saja.” Ucap Ratih seraya tersenyum lalu dengan segera menutup telepon dan melanjutkan membaca berita-berita heboh itu.
[Kuharap Tuan Muda tidak terlalu terbebani dengan berita-berita sampah ini. Aku harus segera mengatasinya.] Gumam Ratih dalam hati.
***
Keesokan harinya di siang hari sepulang sekolah, dengan sigap Kaiser lepas dari pandangan Andika dan meninggalkan sekolah melalui gerbang samping di belakang gedung Kelas anak IPA.
Kaiser mengenakan topi hitam untuk menutupi wajahnya. Dia kemudian memesan ojek online untuk ke pusat perbelanjaan umum di dekat rumah Zion. Sesampainya di sana, Kaiser mengeluarkan sebuah novel di dalam tasnya yang berjudul “Pembunuh Berantai Volume 14”. Dia membuka-buka tiap lembar isi novel itu seraya membacanya sambil berjalan di tengah keramaian suasana pusat perbelanjaan umum.
__ADS_1
Tanpa diduga, sesosok misterius yang mengenakan jaket kulit hitam, celana jeans krem, dan topi putih mendekatinya seraya menyentuh pundaknya.
“Hai, apa yang kamu lakukan di sini? Sedang jalan-jalan?”
Kaiser berbalik ke arah suara itu. Ekspresinya seketika berubah memperjelas rasa tidak sukanya kepada orang itu. Dialah Petugas Dono.
Dono seketika mengamati novel yang sedang dipegang oleh Kaiser itu.
“Wah, judulnya sungguh menarik. Apa kamu suka hal-hal yang seperti itu?” Ujar Dono seraya tersenyum sinis.
“Tentu saja. Aku tidak akan membacanya jika tidak suka.” Jawab Kaiser singkat dengan tetap menunjukkan ekspresi ketidaksukaannya pada orang yang sedang mengajak mengobrol dengannya.
“Kamu juga tertarik mempraktikkannya?” Sekali lagi Dono mengutarakan pertanyaannya.
Kaiser segera menutup novel itu sampai-sampai memperdengarkan dengan keras suara kertas yang bertabrakan dengan kertas lainnya. Dia seraya menghembuskan nafas panjang.
“Haaaaah. Pak Polisi, jangan-jangan Anda mengira kalau aku membaca novel ini karena aku mengagumi seorang pembunuh berantai?” Ucap Kaiser seraya menatap langsung di kedua mata Dono.
Dono terdiam. Kaiser kemudian melanjutkan ucapannya.
“Dengar ya. Apa yang aku suka dari novel ini ialah pada akhirnya kejahatan akan dikalahkan oleh kebaikan. Seberapa lihai pun penjahatnya, tokoh utama pada akhirnya akan mengungkap kejahatannya dan memberikan balasan yang setimpal pada penjahatnya, si pembunuh berantai itu. Tidak seperti zaman sekarang, kekuatan hukum terlalu lemah. Bapak tentu masih ingat dengan kasus pembunuh berantai berkedok dukun berinisial A.N. Lantas, apa hukuman yang pengadilan jatuhkan padanya? Dia divonis menderita gangguan mental dan dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Bukankah itu tidak adil bagi 49 korban yang telah dibunuhnya? Bukankah menurut Bapak dia hanya berpura-pura gila untuk menghindari hukuman? Bukankah sebaiknya dia divonis mati saja?”
Dono terdiam sejenak sebelum berkomentar, “Jadi menurutmu, tokoh utama yang membunuh pelakunya jauh lebih baik daripada keputusan pengadilan?”
Kaiser menatap wajah Dono dengan ekspresi seakan mengatakan ‘apa yang dikatakan orang ini?’. Diapun menjawab, “Ke arah mana pembicaraan Bapak? Tampaknya Bapak belum membaca novel ini.
__ADS_1
Kaiser pun berpaling dan meninggalkan Dono.
“Saya rekomendasikan agar polisi seperti Bapak sebaiknya membaca novel ini agar pikiran Bapak dapat sedikit terbuka.” Ujarnya seraya melayang-layangkan novel itu ke atas melalui tangan kirinya seraya berjalan masuk ke sebuah toko buku.