
“Tuan Ye Lifei, apa maksudnya semua ini? Bukankah Anda berjanji untuk mengambil alih segala bisnis Tuan Lu Tianfeng? Tetapi mengapa Anda mengecualikan saya?” Ujar Pak Sudarmin tampak frustasi.
“Ya, tentu saja karena aku menilainya tidak menguntungkan. Kamu tentu tahu bahwa kita ini pengusaha. Segala hal yang tidak menguntungkan harus segera kita pangkas sampai ke akar-akarnya.” Ujar Ye Lifei dengan senyum ramah nan tegasnya.
“Anda menilai bahwa bisnis perusahaanku tidak menguntungkan?!” Ujar Pak Sudarmin sedikit membentak.
Melihat hal itu, kedua bodyguard Ye Lifei segera mengambil ancang-ancang, tetapi segera ditahan oleh Ye Lifei agar menghentikan kewaspadaan mereka.
“Memang seperti itu, Mr. Sudarmin. Ada masalah?” Ujar Ye Lifei dengan mulut sedikit tersungging seraya tertawa kecil nampak mengejek.
Pak Sudarmin tampak sangat kesal, tetapi berusaha menahan kekesalannya akibat dipermainkan oleh pemuda asing yang menurutnya masih bau kencur itu.
“Anda akan menyesalinya.” Pak Sudarmin pun berucap seraya menatap langsung ke arah mata Ye Lifei.
“Begitukah?” Sekali lagi Ye Lifei berucap dengan mulut sedikit tersungging sambil tertawa kecil.
Pak Sudarmin hanya terdiam.
“Kalau tidak ada urusan lagi, pintu keluar ada di sebelah sana.” Melihat bahwa tak ada lagi yang perlu diobrolkan, Ye Lifei pun segera mengusir Pak Sudarmin secara halus.
Mendengar perkataan Ye Lifei, Pak Sudarmin tetap mematung. Akhirnya, salah seorang pengawal pun terpaksa harus memandunya langsung untuk ke pintu keluar. Pak Sudarmin tampak sangat kesal. Dia mengepalkan erat-erat kedua tangannya. Namun sesaat kemudian, dia hanya menurut patuh dan bergegas keluar dari ruangan tersebut.
Akan tetapi, sebelum Pak Sudarmin melangkah keluar ruangan, Ye Lifei meneriakkan sesuatu.
“Untouchable Poisonous Prince. Gelar itu muncul pasti ada sebabnya. Dan kini kamu berani main-main sama orang itu di kala kita semua menghindarinya. Anda pasti orang yang sangat berani, Mr. Sudarmin.”
Mendengar ucapan Ye Lifei, muka Pak Sudarmin menjadi merah padam. Dia sangat murka.
[Kurang ajar kamu bocah sialan! Rupanya para investor perusahaanku menghilang satu-persatu juga karena ulahmu!]
__ADS_1
Pak Sudarmin pun mengumpat Kaiser di dalam hatinya.
Setelah gagal memperoleh bantuan Ye Lifei, Pak Sudarmin menuju ke relasi bisnisnya yang lain. Kali ini dia menuju ke kantor milik Perusahaan Keluarga Prabuwija, mantan relasi bisnisnya yang merupakan salah satu yang paling kuat dulu yang memisahkan diri darinya setelah kasus pembulian yang dilakukan oleh anaknya beserta teman-temannya pada seorang bocah yatim piatu dua setengah tahun lalu.
“Oh, Pak Sudarmin, lama tidak bertemu. Bagaimana kabar Anda?” Ujar Pak Restu Prabuwija, direktur kepala perusahaan yang dikunjungi oleh Pak Sudarmin tersebut, dengan senyum ramahnya, tampak menyambut hangat Pak Sudarmin.
“Oh, Pak Restu, kabar saya baik-baik saja Pak. Wah, Bapak makin sukses saja ya. Kini perusahaan Pak Restu bisa disejajarkan dengan perusahaan-perusahaan kelas atas itu.” Balas Pak Sudarmin tampak mencoba ramah pula pada Pak Restu.
Mereka seraya berpelukan. Bibir Pak Restu pun tersungging. Dengan santai, diapun membisikkan sesuatu ke telinga Pak Sudarmin.
“Mana mungkin kamu baik-baik saja kan?! Padahal aku berharap kamu bisa sedikit menunjukkan ekspresi meranamu itu padaku. Tapi ya sudahlah. Bagaimana rasanya terjatuh karena keangkuhanmu sendiri?!”
Mendengar bisikan Pak Restu itu, Pak Sudarmin terdiam mematung. Dia lantas menatap baik-baik wajah Pak Restu dan didapatinya wajah yang puas melihatnya terjatuh ke dalam lubang kenistaan.
“Kamu?!” Pak Sudarmin hanya mengerang marah, namun dia tak dapat berbuat apa-apa lebih dari itu. Dia pun merasa sangat terhina.
“Aku bisa menduga kedatanganmu kemari untuk meminta bantuan dana untuk perusahaanmu yang terancam bangkrut kan? Tapi bagaimana ini? Aku tak mungkin membantu musuh teman anakku.” Ujar Pak Restu dengan senyum ramah, tetapi dengan kata-kata yang menusuk.
Pak Restu tertawa mengejek. Diapun berjalan perlahan mengitari belakang Pak Sudarmin.
“Yah, namanya anak baru menginjak remaja pasti dipenuhi dengan semangat menggebu-gebu. Saling adu pukul satu sama lain sesekali dua kali, bukan hal yang langka. Tetapi apa ini? Fahrul setidaknya lebih pintar dari anakmu, Silva. Dia paling tidak segera berpihak kepadanya begitu tahu dia adalah eksistensi yang tak dapat dilawannya.”
Pak Restu terdiam sesaat. Ketika Pak Sudarmin berbalik ke belakang untuk menatapnya, diapun tersenyum sinis.
“Oh, aku lupa. Bukankah keluarga Dewantara dan keluarga Filantropi dari dulu saling bermusuhan ya? Dan melihat dari keangkuhanmu, mana mungkin kamu tiba-tiba akan berlutut di hadapan musuh bebuyutanmu itu.”
“Kamu?!” Pak Sudarmin berteriak marah. Pak Restu pun hanya dapat menengadahkan tangannya pertanda tak tertarik.
Akibat kesal dengan ejekan Pak Restu setelah dia diperlakukan kurang ajar oleh bocah bau kencur Ye Lifei itu, dia pun akhirnya melupakan tujuan awalnya datang ke tempat itu dan segera bergegas meninggalkan kantor perusahaan tersebut dengan penuh amarah di hatinya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Pak Sudarmin disambut oleh istrinya, Bu Desi, dengan wajah tampak mengkhawatirkan sesuatu.
“Bagaimana ini, Sayang? Polisi tak henti-hentinya menanyakan keberadaan Jingmi pada kita. Dengan semua bukti-bukti itu, kita tak dapat lagi mengelak.”
“Diam!” Teriak Pak Sudarmin kesal.
“Semua berkas diurus oleh Pak Raymond atas nama orang lain. Selama mereka tidak menemukan dokumen-dokumen rahasia gelap perusahaan kita yang disembunyikan oleh Pak Raymond tersebut, mereka tidak akan dapat menemukan bukti kejahatan kita.”
“Tapi, Sayang, Pak Raymond kan sudah meninggal? Bagaimana kita akan menemukan bukti-bukti itu sebelum polisi menemukannya duluan?” Ujar Bu Desi panik.
“Kamu tenang saja. Kita sudah mengeliminasi secara diam-diam semua pegawai di firma f&y tersebut. Polisi tidak akan punya celah untuk menemukannya.”
Bu Desi terdiam mendengar ucapan sadis suaminya itu yang dia ucapkan secara biasa saja. Dia baru ingat kembali siapa suaminya itu. Orang kejam yang tak pernah berbelaskasihan pada siapapun untuk menggapai tujuannya.
[Namun Tirta masih hidup. Aku tidak boleh lengah. Mustahil kalau aku belum menemukan berkas-berkas itu berapa kalipun aku mengacak-acak isi kantor tersebut. Bisa jadi Tirta yang membawa semua berkasnya untuk mengancamku di masa mendatang.]
Pikir Pak Sudarmin dalam hati yang membuatnya tak dapat hidup tenang.
“Ah, bagaimana ini?! Padahal tidak hanya berkas penyelundupan Jingmi saja, semua rahasia gelap perusahaanku ada di berkas itu.” Ucap Pak Sudarmin setengah berteriak dengan frustasi.
“Sayang?” Bu Desi mencoba menenangkan suaminya dengan memegang pundaknya, namun segera ditepis oleh Pak Sudarmin.
“Ngomong-ngomong, apakah sudah ada berita mengenai keberadaan Jingmi dari orang yang kita tugaskan untuk mencarinya.”
“Belum ada Sayang.” Ujar Bu Desi dengan mata yang berkaca-kaca.
“Hah, betul-betul tidak ada yang becus kerjaannya.” Desah Pak Sudarmin.
Entah karena tidak sadar atau memang karena sama sekali tidak tertarik, Pak Sudarmin mengabaikan istrinya yang hampir mengeluarkan air mata itu.
__ADS_1
Tampaknya, Bu Desi masih sakit hati atas perlakuan kasar suaminya barusan yang serta-merta menepis tangannya ketika dia hendak menyentuhnya. Sampai kapan pun cinta suaminya itu takkan pernah ada untuknya karena di hati suaminya hanyalah ada Vet Tcin seorang, walaupun setelah orang itu tak ada lagi di dunia ini.