
Foto kenangan yang dipegang oleh Araka di saat terakhirnya. Foto yang berisikan 6 orang, 5 orang peserta MOS beserta Araka sebagai panitia pengarahnya. Di tengah-tengah foto itu terlihat Araka muda yang dengan bahagianya merangkul salah seorang siswa botak dengan tangan kanannya sambil berpose V dengan tangan kirinya. Dia tidak lain adalah Kaiser yang lebih muda dari sekarang.
Di samping kiri Araka, terdapat 2 orang siswa lainnya. Di sudut paling kiri foto terdapat siswa bernama Taufik, satu-satunya siswa yang gendut di antara mereka, yang tampak membawa barang kerajinan yang bertuliskan ‘kelompok harimau’ di depannya yang dia genggam dengan kedua tangannya.
Satunya lagi, yang terletak di antara Taufik dan Araka, adalah siswa yang bernama Adnan. Dia terlihat berpose duduk dengan melipat kaki kanannya secara horisontal di tanah seraya melipat kaki kirinya secara vertikal di mana tangan kanannya ditaruhnya di paha kanannya sementara tangan kirinya berpose V sama persis seperti Araka.
Adapun di samping kanan Kaiser, juga terdapat 2 orang siswa. Yang paling sudut bernama Kazuto, siswa keturunan Jepang murni, tidak seperti Kaiser yang hanya seperempat. Dia terlihat tersenyum dengan ramah di balik kacamatanya sambil menyembunyikan kedua tangannya di belakang.
Yang terakhir, yang terletak di antara Kaiser dan Kazuto, adalah Fahrul, seorang yang juga merupakan anak sindrom pelangi, tetapi dengan warna mata yang merah cerah. Terlihat dia berpose membelakangi Kaiser seraya melipat kedua tangannya di depan, tetapi arah pandangan matanya tampak menatap Kaiser dengan sinis.
Setelah diperlihatkan salinan foto yang diambil tim forensik itu, tampak ekspresi kaget di wajah Kaiser. Dia tahu betul foto itu, tetapi dia sama sekali tidak menduga bahwa seniornya itu masih menjaganya sampai sekarang.
[Dasar Senior bodoh. Jika kamu sebegitunya menjaga persahabatan kita, mengapa kamu harus mempedulikan pandangan orang-orang dari kerabat-kerabatmu itu?! Kita kan tetap bisa berteman seperti biasa. Namun apa jadinya sekarang?] Gumam Kaiser dalam hati dengan mata yang berkaca-kaca sambil menampakkan ekspresi marah.
“Kamu tahu tentang foto terakhir yang dipegang oleh Araka itu, Dek Kaiser?” Bianca pun membuyarkan Kaiser dari lamunannya lewat pertanyaan itu.
“Ya. Aku tahu betul foto itu. Itu adalah foto kenangan kami berenam sewaktu masa orientasi siswa angkatanku di mana Senior Araka adalah panitia pengarahku waktu itu.” Ujar Kaiser dengan ekpresi sendu di wajahnya.
“Bisa Dek Kaiser ceritakan tentang keempat orang lain yang ada di foto itu?” Ujar Bianca sekali lagi.
Kaiser lantas terdiam sejenak seraya menatap lurus ke arah Petugas Bianca. Dia pun berucap,
“Jika Kakak curiga salah satu di antara mereka adalah pelakunya, maka sebaiknya hentikan pikiran itu karena jika firasatku benar bahwa sosok misterius yang aku lihat kemarin adalah pembunuh berantai itu, maka tidak ada satupun di antara mereka berempat yang sesuai deskripsi. Aku masih sering sesekali bertemu dengan mereka berempat di tahun ini, jadi aku tahu betul bentuk tubuh mereka.
__ADS_1
Taufik yang ada di sudut paling kiri foto itu gemuk dan bahkan lebih pendek dariku. Sementara Adnan dan Kazuto yang kedua dari kiri serta yang paling kanan, mereka hanya sedikit lebih tinggi dariku, berkisar 170 – 175 cm. Adapun Fahrul yang di sebelah kananku, seperti yang Kakak lihat, walaupun proporsi tubuhnya mirip dengan yang kudeskripsikan, tetapi anak itu adalah anak sindrom pelangi dengan warna mata merah cerah, bukan biru.”
“Dek Kaiser, ada kemungkinan pelaku memalsukan warna matanya.” Bianca mencoba untuk menyanggah Kaiser.
“Sebagai sesama anak sindrom pelangi, aku tahu betul bahwa mata bersinar cerah seperti yang kulihat kemarin adalah asli, bukannya kontak lensa…”
“Bukan itu Dek Kaiser. Maksud saya bisa saja warna mata merah yang biasa Adek lihat itulah yang dipalsukan.” Sebelum Kaiser menyelesaikan kalimat sanggahannya Bianca segera memotongnya kembali.
“Untuk saat ini, akan masuk list kami dalam penyelidikan untuk mengetahui apakah warna mata merah Dek Fahrul ini memang asli atau bukan.” Bianca menambahkan.
“Bagaimana caranya?”
Mendengar pertanyaan polos Kaiser, Bianca lantas tersenyum nakal seraya mengatakan, “Polisi punya caranya sendiri Dek. Kami lebih andal dari yang Adek kira.”
“Berdasarkan pengakuan Senior kemarin, Senior ke sini tanpa memberi tahu siapapun.”
Polisi tua itu terdiam sejenak setelah mendengarkan jawaban dari Kaiser sebelum dia lanjut bertanya lagi.
“Adakah orang di sekitar korban yang kamu kenal sesuai dengan deskripsi fisik tersangka yang kamu jelaskan barusan?”
“Setidaknya ada 2…Ah, tidak, maksudku 1. Dia adalah teman dekat Senior Araka, namanya adalah Dirga, Dirga Isnandar.”
“Mengapa jawabanmu tidak konsisten? Atau apakah ada penyebab bahwa kamu tidak bisa menyebutkan nama yang satunya?” Melihat keraguan di balik ucapan Kaiser, polisi tua itu mencoba untuk memastikan.
__ADS_1
“Tidak, bukan itu Pak. Hanya saja, seorang lagi adalah sepupuku. Dia adalah Danial. Tapi saat ini dia mengidap penyakit mental sehingga diawasi 24 jam di rumah sakit.”
Mendengar jawaban putranya itu, Bu Nana dan Pak Lucias lantas menatap putra mereka dengan hangat. Sang Polisi Tua lantas mengangguk-angguk dan tidak bertanya lebih lanjut lagi.
“Baiklah, terakhir Nak Kaiser. Apakah ada tindakan tidak lazim yang Nak Kaiser amati dari Araka menjelang kematiannya?” Orang yang terakhir bertanya itu adalah Kapten Danielo.
“Oh iya, kebetulan Bapak menyinggung hal itu. Memang kemarin Senior agak aneh karena meneleponku untuk memintaku menjaga ibunya jika terjadi apa-apa pada dirinya. Mungkin kala itu Senior sudah merasakan ada niat membunuh yang mengikutinya. Sebagai seseorang yang juga belajar martial art sepertiku, adalah hal yang lazim bahwa Senior dapat mendeteksi hal seperti itu. Bodohnya aku kenapa aku tidak menyadarinya kemarin.”
Seraya menjawab, Kaiser tampak menunjukkan ekspresi rasa bersalah di wajahnya. Para polisi kemudian saling melihat satu sama lain sebagai isyarat bahwa masih adakah yang ingin bertanya, tetapi tampaknya sudah tidak ada sehingga mereka memutuskan untuk menutup saja forum sampai di situ.
Sebelum Kapten Danielo hendak menutupnya, Kaiser segera menginterupsi untuk menambahkan beberapa informasi.
“Dibandingkan Dirga, ada 2 orang lagi yang menurutku mencurigakan walaupun kedua-duanya bukanlah anak sindrom pelangi.
Pertama adalah Senior Tirta Wahyunusa. Dia juga sering main dengan Senior Araka dan juga turut membuli Dios waktu itu. Sebelum kematiannya, Senior Araka memintaku untuk hati-hati dengannya. Aku takut kalau itu didasari kecurigaan Senior bahwa dialah pelaku pembunuhan berantai itu.
Yang kedua, aku juga tidak tahu namanya. Dia hanya sekali pernah datang ke sekolahku mengantarkan barang milik temanku yang ketinggalan waktu bertemu dengan Senior Araka. Kemungkinan dia adalah salah satu pekerja di Bar milik keluarga Senior Dirga karena di situlah biasanya Senior Araka mengadakan pertemuan penting dengan klien-kliennya. Ciri-ciri fisiknya persis sama seperti yang aku deskripsikan kecuali warna matanya yang adalah warna mata biasa. Tetapi begitu aku melihatnya kala itu di sekolah, entah mengapa firasatku mengatakan bahwa dia adalah orang yang sama dengan sosok misterius yang kulihat kemarin.
Yah, tentu saja firasatku itu bisa saja salah, tetapi tidak ada ruginya untuk dipastikan. Oleh karena itu, aku berharap agar polisi juga bersedia menyelidiki kedua orang ini. Oh iya, untuk orang yang kedua, aku akan mengabari kembali setelah aku dapat mengetahui dengan pasti nama orang itu.”
Dengan informasi terakhir dari Kaiser itu, forum pun ditutup. Mereka bersebelas pun keluar dari ruang kedap suara itu. Tetapi, terlihat suatu kejanggalan yang tidak diduga.
Mata Kapten Danielo dan tiga di antara empat polisi lainnya yang juga baru berjumpa dengan Kaiser hari itu mendadak mengeluarkan cahaya biru padahal bola mata mereka sendiri tetaplah pada warna normalnya. Kejadian itu sendiri, tidak terjadi pada Mono dan Bianca yang telah berjumpa dengan Kaiser sebelumnya, serta pada seorang polisi yang sedari tadi bertindak sebagai notulen untuk mencatat hasil diskusi sehingga tidak memiliki banyak kesempatan untuk bersuara dan berjumpa pandang dengan wajah Kaiser.
__ADS_1
Namun di luar itu, mereka semua keluar dari ruangan dengan tampak normal-normal saja. Di akhir pun mereka menyambut Kaiser dan rombongan yang pamit undur diri dengan senyuman yang hangat.