DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
26. Novel Fantasi di Perpustakaan Terpencil


__ADS_3

“Tit tit tuit tit.”  Nada dering panggilan telepon tiba-tiba terdengar menginterupsi Kaiser yang tengah asyik mengobrol dengan para rival lamanya dan Andika. 


“Ah, dari Ibu.  Aku angkat dulu ya.”  Seraya mengatakan itu, Kaiser segera berbalik dan mengangkat teleponnya. 


“Ah, iya Bu.  Kaiser baik-baik saja.”



“Mungkin Kaiser akan pulang agak malam hari ini soalnya Kaiser berencana bareng Andika menonton pertandingan basket teman.”



“Acaranya selesai jam 9.  Mungkin sekitar jam 10 tiba di rumah.”



“Ah, iya.  Baik Bu.” 


Seraya mengatakan itu, Kaiser langsung menutup teleponnya.  Dia lantas mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya dengan model peace kepada kawan-kawan yang sedari tadi memperhatikannya. 


“Sukses.  Aku dapat izin dari Ibu.”  Ucap Kaiser seraya tersenyum bahagia sambil menampakkan gigi-giginya yang putih bersih.  Dari balik mata birunya, terpancar rasa senang seakan-akan baru memperoleh jackpot keberuntungan.


“Ah, aku juga harus meminta izin Ayah.”  Ucap Andika khawatir. 


“Sini ponselmu.”  Ujar Kaiser seraya mengulurkan tangannya meminta barang yang dimaksudkannya kepada Andika. 


“Ini.”  Andika pun menyerahkan ponselnya dengan penuh harap-harap cemas. 


“Halo Om, ini Kaiser.” 



“Andika ingin meminta izin pulang agak malam karena ingin menonton pertandingan basket sama-sama.” 


… 


“Iya Om.  Ada Kaiser juga kok.”



“Sip Om.  Nanti akan Kaiser langsung sampaikan kepada Andika.” 


__ADS_1


“Terima kasih Om.” 


Kaiser setelah mengatakan itu, lantas berbalik.  Dia kemudian kembali mengacungkan tanda peace kepada teman-temannya yang telah menunggu dengan harap-harap cemas. 


“Yeah.”  Teman-temannya termasuk Andika lantas bersorak dengan penuh kebahagiaan. 


Mereka sangat senang karena Kaiser dan Andika dapat menonton mereka sampai pertandingan ketiga.


Hari itu, pertandingan dijadwalkan menjadi 3 sesi. 


Sesi 1 yang telah diikuti Kaiser sebelumnya, tuan rumah SMA Angkasa Jaya melawan SMA Merak Merah di lapangan A dan SMA Unggul Jaya melawan SMA Bukit Tinggi di lapangan B dilaksanakan pukul 12 siang. 


Sesi 2 yang berlangsung sekarang, tuan rumah SMA Angkasa Jaya melawan SMA Bukit Tinggi di lapangan A dan SMA Merak Merah melawan SMA Unggul Jaya di lapangan B di mana baik tim inti SMA Merak Merah maupun Kaiser dan Andika tidak bermain dijadwalkan pukul 4 sore. 


Adapun sesi 3-nya di mana SMA Merak Merah yang harusnya dijadwalkan melawan SMA Bukit Tinggi di lapangan B yang dijadwalkan pukul 7 malam, terpaksa harus dicancel karena SMA Bukit Tinggi meminta untuk pulang lebih awal sehingga sebagai tuan rumah, SMA Angkasa Jaya akan menggunakan tim cadangannya untuk melawan mereka menyesuaikan jadwal. 


Di pertandingan itu, Kaiser dan Andika akhirnya menyetujui untuk ikut bergabung di bench pemain akibat kekurangan pemain, tetapi hanya sebagai cadangan mati yang mungkin tak akan bermain sampai akhir.  Tetapi, itu sudah cukup untuk membuat senang anggota-anggota tim SMA Merak Merah yang mengagumi Kaiser.


“Tetapi ayahmu berpesan untuk menunggu bersamaku sampai kita berdua dijemput oleh supir pribadi masing-masing dan dilarang berkeliaran di tempat lain.”  Ucap Kaiser seraya mengeluarkan senyum nakalnya yang menampakkan gigi-gigi putih bersihnya.


***


“Ah aku lupa.  Hari ini tanggal 5 Maret kan?”  Kaiser seraya berdiri dari bench podium dengan ekspresi kaget.  Andika lantas mengamatinya dengan penasaran. 


“Ah.”  Ucap Kaiser seraya menepuk dahinya. 


“Hari ini adalah hari buku fantasi favoritku masuk perpustakaan.  Sekarang jam berapa?”  Kaiser yang panik lantas melihat ke arah jam besar di lantai 2 yang masih nampak jelas jarum jamnya dari lantai satu. 


“Syukurlah baru setengah lima.  Masih ada setengah jam sebelum perpustakaan tutup.”  Kaiser lantas mengusap dadanya yang deg-degan karena takut perpustakaan tutup. 


“Apa yang kamu bicarakan?  Kan kamu bisa membacanya lewat perpustakaan online sekolah?”  Andika yang melihat tingkah Kaiser yang tidak biasa panik itu mau tidak mau bertanya karena penasaran.


“Apa yang kamu katakan Andika!  Perpustakaan online tidak melayani untuk novel.”  Ujar Kaiser seraya menunjukkan ekspresi merajuk. 


“Kalau begitu, kamu kan bisa pinjam senin lusa?” 


“Apa?  Menunggu 2 hari lagi baru bisa membacanya?  Aku pasti tidak bisa tidur memikirkannya.”  Kaiser meghembuskan napas seraya menatap Andika dengan menunjukkan ekspresi mata seolah mengatakan 'apa yang dikatakan orang ini?'. 


“Kalau begitu, kamu kan bisa suruh orang-orang ayahmu untuk mencarinya lebih awal?  Bukankah itu lebih mudah?”  Tanya Andika penasaran dengan tingkah yang semakin tidak biasanya dari sahabat baiknya itu. 


“Itu tidak boleh.  Itu namanya melanggar beban kerja.  Mereka dibayar sebagai pekerja bukan pesuruh.”  Ujar Kaiser dengan tegas sambil berdiri dan menyilangkan tangannya. 


“Ya ampun, kamu ini kompleks sekali ya.  Hahahaha!”  Andika yang kebingungan harus berkomentar apa lagi hanya bisa menertawakan Kaiser yang bertingkah seperti itu. 

__ADS_1


[Ternyata Kaiser juga manusia biasa.  Dia juga bisa merajuk dan panik seperti ini.  Tampaknya, Kaiser akhirnya juga menganggapku sebagai sahabatnya dengan tidak jaim lagi di depanku]  Gumam Andika dalam hati.  Dia tampak sangat bahagia. 


“Juga, tidak mungkin kan aku menyuruh mereka mencari buku itu.  Soalnya nanti image-ku di depan keluarga…” 


“Hahahaha.  Seratus persen aku yakin pasti alasan utamanya seperti yang terakhir kamu katakan.  Andika mengatakan hal itu seraya terkikik menyembunyikan mulutnya di balik tangannya. 


“Tapi asal kamu tahu.  Aku tidak malu sebagai penggemar novel fantasi.  Aku hanya, itu…” 


Kaiser terdiam sejenak.  Dia menggaruk-garuk pelipisnya dengan kuku di telunjuk kanannya.  Mukanya memerah dan tampak sinar kepolosan di balik mata birunya yang indah. 


"Tidak sesuai dengan imageku?”  Kaiser lantas melirik Andika seraya tersenyum canggung. 


“Iya.  Iya, aku paham.  Aku tidak akan berkomentar lagi.  Cepat pergi sana.”  Andika lantas melambaikan tangannya kepada Kaiser sebagai isyarat menyuruhnya cepat pergi.


“Iya benar.  Aku harus bergegas ke sana.  Ah!”  Untuk yang kedua kalinya, Kaiser menepuk dahinya lagi. 


Dia lantas berbalik 180 derajat dan meraih tangan Andika. 


“Andika kumohon.  Pinjami aku kartumu!”  Ujar Kaiser dengan tiba-tiba. 


Dia lantas melepaskan genggaman tangannya di Andika seraya menggaruk pelipisnya lagi dengan kuku telunjuk kanannya dan melirik ke tempat lain menghindari tatapan Andika. 


“Aku baru ingat bahwa aku belum mengembalikan novel yang aku baca di tempat Kak Zion.  Dan kartu pelajarku kujadikan jaminan peminjaman buku itu.  Hehehehe!”  Kaiser lantas tertawa kecil sambil tetap menghindari tatapan Andika.


“Baik, akan kupinjami kartuku.”  Andika mendesah panjang lalu berdiri dengan menggunakan pundak Kaiser sebagai topangan. 


“Kamu mau ke mana?” 


“Ya ikut kamulah.  Penjaga perpustakaan sekolah ini tidak akan meminjamkan buku jika bukan menggunakan kartu milik sendiri.  Jadi biarkan aku ikut untuk meminjamkan buku itu padamu.” 


Andika mendesah sebal mengatakan itu, tetapi tersenyum setelahnya.  Kaiser membalasnya dengan senyuman yang lebih megah.


***


“Bagian novel fantasi di mana?”  Ucap Andika seraya memasuki pintu perpustakaan yang biasa dia gunakan. 


“Andika, bukan di situ, tetapi di lantai atas di gedung sebelah.” 


“Ah, tempat terpencil itu?  Aku tak paham mengapa masih ada orang yang betah membaca di tempat terpencil itu?”  Ucap Andika dengan sedikit kesal. 


“Hehehe, dari luar memang tampak kumal, tetapi bagian dalamnya terawat kok.  Seperti yang diharapkan dari sekolah elit.”  Ujar Kaiser yang bangga dengan perpustakaan sekolahnya. 


“Ayo segera kita ambil bukunya saja lalu kembali ke bagian tempat peminjaman.”  Andika mengatakan itu seraya menguap. 

__ADS_1


Dia tampaknya kelelahan bermain basket cukup lama setelah sekian lama tidak bermain.


__ADS_2