
Bel pulang sekolah pun berdering. Kaiser, Andika, Loki, dan Beni berjalan bersama keluar dari gedung siswa kelas satu itu. Tepat sebelum mereka akan menuruni anak tangga, Andika membuka pembicaraan.
“Hei, Kaiser, bagaimana menurutmu tadi tentang Wilda?”
“Lebih dari siapapun, aku sebagai sesama penderita sindrom pelangi pasti lebih memahami kesulitannya. Namun, aku sedikit beruntung daripadanya karena punya latar belakang keluarga yang kuat dan lingkungan belajar yang terjamin. Tetapi, mungkin tidak dengannya. Kurang lebih aku pernah mendengar desas-desus kalau di sekolah kalangan bawah, anak-anak sindrom pelangi sering dijauhi dan dibuli karena dianggap aneh.” Jawab Kaiser seraya menuruni anak tangga.
Loki yang sedari tadi memperhatikan pembicaraan mereka, menundukkan kepala dan tiba-tiba murung.
“Dijauhi dan dibuli kah? Hahahaha. Jika hanya seperti itu mungkin lebih baik.” Loki kemudian tertawa, tetapi seakan dalam tawanya hanya ada kepahitan.
“Oh iya, Loki, kamu dulu TK, SD, dan SMPnya apa di sekolah negeri [5] ya?” Andika yang penasaran melihat ekpresi anehnya mau tidak mau bertanya.
“Kurang lebih.” Jawab Loki singkat.
“Andika, sebaiknya jangan tanya lagi. Ada beberapa hal yang tidak perlu diungkapkan.” Kaiser menepuk pundak Andika seraya tersenyum dengan penuh kelembutan ke arah Loki.
Loki pun menatap Kaiser. Dia bertanya, “Kaiser, apakah kamu pernah menerima… Tidak lupakan saja.” Loki tiba-tiba menghentikan pertanyaannya di tengah-tengah seraya tersenyum sendu kepada Kaiser dan beranjak dari tangga.
Kaiser terdiam sejenak sembari tetap berjalan di belakang Loki seraya memperhatikannya. Beberapa saat kemudian, Kaiser pun berucap, “Entah Wilda, entah kamu, pasti sangat menderita ya akibat mata ini.” Kaiser berucap dengan penuh ekspresi kesedihan yang mendalam.
“Apa yang kamu khawatirkan Kaiser? Bukankah teman-teman kelas kita sudah berjanji akan merahasiakan soal Wilda? Dia bisa tetap bersikap seperti biasa. Kamu bisa mempercayai teman-teman kelasmu. Kita kan satu kesatuan yang solid. Hehehehe.” Beni yang sedari tadi hanya mendengar percakapan mereka menepuk pundak Kaiser seraya tertawa nakal.
Kaiser lantas memegang dahinya. Tampak ekspresinya terlihat agak kesal.
“Beni, kalau kamu tahu itu rahasia, tolong kecilkan suaramu. Di sekeliling kita, masih banyak siswa-siswa kelas lain yang juga sementara beranjak pulang.” Ucap Kaiser pada Beni.
“Apa yang mesti dikhawatirkan dari teman-teman di sekolah kita? Di sini tidak ada satupun yang rasis. Bahkan, selama hampir setahun aku di sini, sama sekali tidak ada yang mempersoalkan warna mata kita. Bukan begitu Kaiser?” Ucap Loki seraya berbalik dan tersenyum ceria.
__ADS_1
“Benar juga. Kita beruntung bisa sekolah di lingkungan yang baik dengan teman-teman yang baik pula.” Ucap Kaiser seraya tersenyum simpul.
“Apa yang kamu katakan? Karismamulah yang membuat itu mungkin. Kamulah yang membuat anak-anak merasa nyaman dan akhirnya bisa mewujudkan lingkungan yang seperti ini. Bukan begitu Tuan Muda? Hehehehe.” Ucap Loki yang seraya tertawa nakal berusaha menggoda Kaiser.
Mendengar kata Tuan Muda yang biasanya hanya didengar dari teman-teman perempuannya, kini diucapkan oleh Loki, membuat bulu kuduk Kaiser merinding. Kaiser hanya tersenyum canggung untuk menanggapi ucapan Loki itu.
Mereka pun akhirnya keluar dari gedung dan berjalan menuju pintu gerbang depan sekolah.
“Tampaknya, ini bukan saatnya kamu mengkhawatirkan orang lain, Kaiser. Lihat di depan sana. Kembali banyak wartawan yang berkumpul.” Ucap Andika seraya menunjuk ke pintu gerbang.
[Ini pasti ulah Alicia lagi. Fero, sekarang bagaimana pandanganmu tentang keluarga pembuli-pembuli itu?] Loki hanya terdiam. Ucapannya hanya dipendam dalam hati.
Loki lantas berbalik dan menepuk pundak Kaiser. Dia seraya berkata, “Jangan sedih, Bro. Kami yang paling tahu kamu dan tidak mungkin termakan oleh berita yang ada di internet. Begitu pula orang-orang di angkatan kita di jurusan umum. Jangan khawatirkan hal tidak perlu.”
“Terima kasih, Loki. Aku sangat bersyukur punya teman-teman yang baik seperti kalian.” Ucap Kaiser seraya tersenyum. Bibirnya tersenyum, tetapi yang nampak di mata birunya yang indah hanyalah nuansa kesedihan.
“Kamu benar Andika. Akan kulakukan. Aku akan segera menghubungi Agni dan Pak Salman kemari. Kalian duluan saja. Hehehehe.” Ucap Kaiser seraya berusaha tertawa tampak seolah-oleh itu bukan apa-apa.
Seketika itu, seorang gadis kecil lewat bersama ibunya yang dari pakaiannya kemungkinan adalah tukang kebun sekolah.
“Ibu, Ibu, lihat itu. Itu Kakak pembunuh berantai yang ramai dibicarakan teman-temanku di sekolah.”
“Huss. Jangan lihat matanya. Ayo kita segera pergi.”
“….”
Andika, Beni, dan Loki seketika itu terdiam.
__ADS_1
“Loki, siapa ibu-ibu itu?”
“Kayaknya tukang kebun sekolah kita Dika, tetapi tampaknya aku baru pertama kali lihat. Mungkin orang baru.”
“Huh, pantas saja dia bisa bicara seperti itu. Andaikan dia tahu orang seperti apa Kaiser itu, dia pasti sangat menyesal. Huuuuh! Apa dia tidak tahu seberapa baiknya perilaku sahabat kita yang satu ini?” Ucap Andika yang marah seraya menyandarkan badan besarnya ke punggung Kaiser dari arah depannya dengan tingkah lucunya pada penekanan aksen khas di tiap ucapannya.
Kaiser tertunduk. Bola matanya yang biru menjadi sedikit lebih terang. Dia merasakan kompleksitas pada ucapan Andika padanya itu. Dia sedih.
Kaiser pun berkata, “Bicara apa kamu ini Andika? Aku tidak sebaik itu.” Ucap Kaiser setengah bergumam. Tampaknya hanya Loki yang tepat di hadapannya yang mendengar ucapannya, sementara Andika dan Beni yang ada di belakang Kaiser, tidak bisa mendengar ucapan itu.
“Apa kamu mengatakan sesuatu, Kaiser?”
“Bukan apa-apa kok, Andika.” Kaiser seraya berbalik ke arah Andika lalu tersenyum ramah padanya.
“Kalau begitu, mari kita tunggu bersama sampai jemputanmu datang, Kaiser. Hehehehe.” Ucap Loki yang telah berada di sisi kiri Kaiser seraya merangkul pundak sahabatnya itu dengan lengan kanannya sambil tertawa cerah.
“Terima kasih Loki, Andika, dan juga Beni. Aku akan segera menghubungi mereka.” Kaiser membalas tawa dan senyum ceria sahabat-sahabatnya itu pula dengan tawa cerianya yang khas ala pangerannya.
***
Di suatu ruangan kerja, Pak Arkias Dewantara tampak sedang melamun. Dia teringat laporan mata-mata yang sempat dia tempatkan untuk mengawasi pembuli-pembuli yang terlibat konflik dengan Kaiser itu. Tepatnya, pembicaraan antara Araka dan Ratih yang terjadi lima hari yang lalu.
[Apakah benar bahwa pembunuh berantai itu juga mengincar Kaiser? Aku tidak bisa membiarkan ini. Satu-satunya harapan Perusahan Dewantara Group setelah kondisi Danial menjadi seperti ini hanyalah tinggal Kaiser seorang saja. Aku tidak boleh sampai kehilangannya juga. Tidak, apa yang aku pikirkan? Tentu saja lebih dari seorang pewaris, Kaiser adalah keponakanku yang berharga. Aku takkan pernah membiarkan siapapun menyakitinya.] Gumam Pak Arkias dalam hati membulatkan tekadnya untuk melindungi Kaiser apapun yang terjadi.
Pak Arkias pun menyuruh asistennya untuk masuk ke ruangan. Sang Asisten dengan sigap memenuhi panggilan majikannya.
“Astra, segera selidiki Tirta Wahyunusa beserta keluarganya serta segala yang terkait dengan firma F&Y milik mereka, baik usaha legal maupun tidak legal mereka.” Pak Arkias pun tanpa basa-basi memberi perintah kepada asisten kepercayaannya itu.
__ADS_1
NB: [5] Sekolah umum yang biasanya sebagian besar diisi oleh anak-anak kalangan kelas bawah