
“Tidak. Tidak! Itu fitnah. Pria itu hanya menanyakan alamat saja. Kalau dipikir-pikir itu memang aneh mengapa pria itu mendekatiku. Dia pasti adalah suruhanmu untuk menjebakku kan?” Alicia membentak marah atas tuduhan Ratih.
Ratih menghembuskan nafas dengan enggan seperti melihat pencuri yang mengatakan tidak mencuri ketika barang curiannya ada di tangannya. Dia lantas mengeluarkan rekaman suara.
“Anda detektifnya?”
“Benar Mbak.”
“Tolong curi kunci pintu perpustakaan barat laut di SMA Angkasa Jaya. Ruang guru biasanya dipel tiap pukul 7 – 8 malam kemudian ditinggalkan sekitar setengah jam sebelum dikunci. Manfaatkan kesempatan itu untuk mencuri kunci. Dan ingat, jangan tinggalkan jejak. Ini uang mukanya. Jika pekerjaanmu berhasil, saya akan beri 3 kali lipat lebih banyak lagi dari itu.”
“Wah, Mbak benar-benar murah hati. Baik Mbak pasti akan saya laksanakan dengan baik. Tapi bagaimana ciri-ciri kunci itu? Ataukah saya ambil saja semua kunci yang ada di situ?”
“Tiap kunci di sekolah ini biasanya dilabel dan ada keterangannya. Namun, jika tidak ada, ambil saja semuanya.”
“Baik Mbak.”
Rekaman pun terputus. Ratih berjalan mendekat ke arah Alicia sambil memberikan tekanan aura superior.
“Masih ingin mengelak? Diana, Mutia, perlihatkan foto-foto itu!”
Diana dan Mutia, siswa kelas 1A, yang juga teman sekelas Kaiser lantas menunjukkan foto-foto Alicia yang sedang mengacak-acak loker Kaiser.
“Wah, kamu pasti seorang stalker ya. Tidak ada label apapun di loker, tetapi kamu bisa langsung tahu yang mana loker Tuan Muda.”
“Kamu!” Alicia berteriak marah atas provokasi Ratih.
“Alicia, hentikan!” Tiba-tiba Bu Indri, guru BP sekolah membentak Alicia.
“Tapi, Bu!”
__ADS_1
“Semua sudah jelas. Kamu jangan lagi beralasan! Kamu hanya akan mempermalukan dirimu saja. Ikut Ibu ke ruang BP.”
Alicia tak mampu lagi berkata apa-apa. Dia mengeletupkan giginya dan meremas kedua tangannya. Dia seraya menatap Ratih dengan tatapan yang sangat marah.
“Kalau begitu, saya permisi dulu Bu untuk memonitor siswa-siswa akademi kami.” Ucap Dono seraya membungkukkan kepalanya sedikit lebih rendah kepada Bu Indri. Dono pun segera meninggalkan tempat itu seraya menunjukkan ekspresi kesal dan tidak mau tahu lagi apa yang terjadi kepada mereka.
Tidak berapa lama kemudian, Bu Indri dan rombongan bersama Alicia juga ikut meninggalkan kelas. Terlihat ekspresi penuh dengan kemarahan bercampur kekecewaan pada wajah Alicia.
***
“Wah, Ratih, dari dulu kamu benar-benar luar biasa dalam mencari informasi. Aku tidak menyangka kamu bisa mengumpulkan semua bukti-bukti itu!” Ucap Andika seraya berjalan ke dekat Ratih.
“Tentu saja. Bukankah informasi adalah senjata bagi kita kaum pebisnis? Bukan begitu calon pewaris Setiabudi Corp.?”
Andika sedikit tidak nyaman mendengar Ratih yang menyebutkan status sosialnya. Tetapi dia memilih untuk mengabaikan itu. Dia seraya menggaruk pelan kepalanya untuk menutupi kecanggungannya terhadap ucapan Ratih itu.
“Apakah kamu sudah tahu lebih dulu rencana wanita itu?” Andika seraya melanjutkan pertanyaannya.
“Wah, siapa yang stalker di sini?” Ucap Andika seraya tertawa kecil seolah itu lucu.
“Yah, senior itu tampaknya hanya secara kebetulan mendapati mobil Alicia terparkir di tempat yang mencurigakan. Dan berdasarkan gerak-geriknya belakangan ini yang selalu hendak mengganggu Tuan Muda, mau tidak mau kami jadi khawatir.”
“Kami?”
“Jangan remehkan persatuan anggota fan club Tuan Muda.” Ucap Ratih seraya menatap lurus ke mata Andika seraya tersenyum nakal sambil terlihat bangga terhadap apa yang dikatakannya.
“Ehem, ehem.” Ratih tiba-tiba berdehem tampak sadar telah mengucapkan hal yang tidak seharusnya.
“Ada apa?” Andika yang tampak penasaran pun bertanya.
__ADS_1
“Bukan apa-apa.” Jawab Ratih singkat sambil memalingkan kepalanya.
“Kembali ke persoalan. Setelah kami mengetahui ada gerak-gerik mencurigakan dari Alicia, Wilda pun segera ke sana untuk memastikannya dan di situlah kami memperoleh bukti itu. Lalu Wilda sekali lagi ke sekolah untuk merekam rencana jahat mereka. Aku dan Mirna turut membantu dengan merekam dari luar gerbang sekolah. Karena jarak rumahku, Mirna, dan Wilda cukup jauh dari sekolah, maka aku meminta Diana dan Mutia untuk datang lebih awal untuk mengawasinya.”
“Itu pengalaman yang menyenangkan ya Mutia?”
“Iya, kami baru pertama kali ini berangkat sekolah pukul 4.30. Bahkan masih gelap waktu kami keluar rumah.”
“Tapi melihat matahari terbit di lingkungan sekolah yang asri adalah pengalaman yang betul-betul tidak terlupakan.”
Diana dan Mutia menginterupsi percakapan antara Ratih dan Andika dengan ekspresi yang tampak bahagia.
“Tapi jika aku boleh memberikan gelar MVP pada misi kali ini, aku akan serahkan kepada Wilda. Dia benar-benar seorang ahli stalker. Dia membuntuti seorang detektif swasta veteran dari rumahnya sampai sekolah tanpa ketahuan sedikitpun. Dia benar-benar ahli dalam menghilangkan hawa keberadaannya.” Ucap Ratih dengan kagum.
Wilda yang mendengar dirinya dipuji oleh Ratih, hanya tersenyum dengan menampakkan sedikit ekspresi malu-malu di balik wajahnya.
“Oh ya, mengenai detektif swasta itu. Itu adalah detektif swasta yang sama yang pernah bersama Rihana membuntuti Tuan Muda. Awalnya aku sempat melupakannya setelah kematian Rihana yang mendadak. Tapi tampaknya aku harus membuat detektif itu jera agar tidak berani lagi mengganggu Tuan Muda.” Ratih mengucapkan hal itu seraya tersenyum sangat jahat yang sampai-sampai membuat Andika yang melihatnya langsung menjadi menggigil.
***
Siang hari mendekati sore, terlihat Kaiser bermain begitu ceria bersama dengan 2 orang anak di sampingnya. Hmm, rasanya kurang tepat, jika yang satunya disebut anak karena usianya yang telah remaja, bahkan lebih tua dan lebih tinggi pula dari Kaiser.
Dialah Danial yang dengan ekspresi polos dan sikapnya yang tampak masih anak-anak tanpa memperhatikan usianya, bermain begitu ceria bersama dengan Kaiser dan juga Amanda, seorang anak perempuan berusia 11 tahun yang baru saja ditinggal pergi oleh keluarga satu-satunya akibat serangan penjahat.
Amanda yang sebatang kara kini pun dirawat oleh Kaiser sepenuhnya. Dia adalah anak yang polos dan baik. Dia sadar betul akan kasih sayang tulus Kaiser kepadanya. Oleh karena itu, dia tidak ingin membuat Kakak Tampannya itu bersedih dengan melihatnya bersedih.
Dia pun seringkali memaksakan diri untuk tersenyum dan tampak ceria di hadapan Kakak Tampannya itu. Walaupun, dia terkadang masih tidak dapat membendung kesedihannya ketika mengingat kematian mendadak kakak satu-satunya, Syarif Saleh.
Kaiser juga bukan orang yang tidak sensitif. Dia segera mengetahui kesedihan di hati Amanda itu. Namun, bukan berarti dia dapat bertindak ceroboh dalam menanganinya. Salah bertindak, bisa jadi hati Amanda yang kini sedang rapuh itu, hancur.
__ADS_1
Diapun memutuskan untuk sementara tidak membahas kakak kandung Amanda itu dan tetap bersikap seperti biasa di depan Amanda dengan menunjukkan senyum ceria sambil menunggu anak itu bisa sedikit lebih pulih dengan obat waktu.
Di tengah keasyikan mereka bertiga bermain, datanglah sesosok wanita mendekati mereka dan memberi salam. Dia adalah Aliska.