
Malam itu, Riandra sambil berkedut kesal, memasuki bar dengan dikawal oleh 4 pria berbadan besar dan kekar yang merupakan murid padepokan Isnandar yang dipinjamkan gratis oleh Dirga kepada Riandra sebagai bodyguardnya.
Di bar itu, di ruangan VIP tempat mereka biasa berkumpul, Dirga telah menunggunya dengan duduk santai di kursi pada meja bundar itu sambil menikmati hidangan. Di samping Dirga, tampak Jey dengan busana seksinya yang seperti biasa, melayani Dirga.
Riandra pun memasuki ruangan VIP itu dan Dirga menyambutnya dengan senyum hangat di wajahnya. Riandra kemudian ikut duduk pada kursi yang telah disiapkan untuknya sambil tidak menyembunyikan ekspresi kesal di wajahnya.
“Duh, Dirga! Apa sih yang kamu pikirkan? Kamu sudah kehilangan akal sampai memanggil aku malam-malam begini? Kamu tidak takut apa kalau pembunuh berantai joker hitam itu mengincar kita? Padahal baru beberapa hari yang lalu Silva meninggal.” Ucap Riandra dengan tampak kesal.
“Oi, oi, bagaimana kamu masih bisa takut dengan pembunuh berantai itu? Aku kan sudah meminjamkanmu bodyguard-bodyguard padepokanku. Ditambah, mereka bukan bodyguard sembarangan. Mereka adalah bodyguard khusus yang dilatih oleh tetua.” Ucap Dirga dengan tampak begitu yakin terhadap keahlian para bodyguard itu.
Diapun mendekatkan bibirnya ke telinga Riandra.
“Kamu tahu? Mereka itu bukan orang sembarangan. Mereka adalah kultivator-kultivator level F yang terlatih.” Ucap Dirga sambil menyengir sadis.
“Kamu yakin bahwa keahlian mereka lebih baik dari puluhan bodyguard terlatih milik keluarga Aleka kan?” Melihat kepercayaan diri Dirga terhadap anak buahnya itu, Riandra pun tidak dapat menahan rasa penasarannya untuk bertanya.
“Tentu saja.” Jawab Dirga singkat, tetap dengan senyumannya yang tampak menyeramkan itu.
“Okelah, aku mengerti. Tetapi tidak bisakah kamu melakukan sesuatu pada pelayanmu itu? Kenapa dia masih berpakaian seperti itu padahal tidak ada lagi Silva di sini yang akan tertarik melihatnya?” Ucap Riandra seraya melirik Jey yang setengah telanjang.
Sang pelayan hanya menanggapi dengan senyum atas komentar Riandra tersebut.
“Oh, padahal kukira kamu suka yang begituan.”
“Jangan bercanda!” Riandra segera menanggapi perkataan tidak senonoh Dirga itu sambil menunjukkan ekspresi pahit di wajahnya.
Dirga lantas menunjukkan ekspresi kecewanya.
“Ah, baiklah. Jey, tolong siapkan hidangan juga buat Riandra.” Dirga kemudian mengalihkan pembicaraan dengan memberikan perintah kepada Jey.
“Baik, Tuan.” Dan Jey pun segera menyanggupi perintah tersebut.
__ADS_1
“Hei, tunggu, Dirga! Aku tidak nafsu untuk makan sekarang.” Riandra langsung serta-merta menolak dengan tegas keramah-tamahan Dirga tersebut.
“Hei, ayolah! Masak aku makan sendiri seperti ini. Nggak enak tahu! Ayo ikut makan sebentar saja.”
Tetapi Dirga ngotot memaksa Riandra sehingga akhirnya Riandra pun menerima keramah-tamahan tersebut dan mencicipi beberapa hidangan yang disajikan.
Beberapa menit berlalu dan akhirnya Dirga tampak telah selesai menyantap hidangannya. Melihat itu, Riandra pun turut menyelesaikan santapannya.
Di saat Jey membereskan meja tersebut, Riandra pun mulai bertanya,
“Jadi, urusan mendesak seperti apa yang membuatmu memanggilku malam-malam begini?”
“Oh, itu? Jey, tolong ambilkan bungkusan hitam yang ada di tasku!” Dirga pun berteriak memanggil Jey yang ada di dapur belakang untuk mengambilkannya suatu barang.
Sekembalinya Jey ke meja tersebut yang belum sepenuhnya selesai dibersihkan, Jey seraya membawa bungkusan hitam yang diminta tadi oleh Dirga untuk dibawakan.
“Dan apa ini?” Tanya Riandra penasaran.
“Oh, ini kumpulan video-video porno dari Arab. Aku sudah janji kepadamu kan sebelumnya untuk mencarikanmu ini?” Jawab Dirga atas pertanyaan Riandra tersebut.
Riandra yang tak dapat menahan amarahnya, lantas memukul meja.
“Kamu! Apa yang kamu pikirkan di saat-saat situasi bahaya seperti ini?! Tidakkah kamu punya otak sedikit?! Bagaimana kamu bisa memanggilku karena hal yang tak penting seperti ini?! Tidak tahukah kamu bahaya seperti apa yang sedang mengancam kita di luar?!” Bentak Riandra yang naik pitam kepada Dirga.
“Ah, aku sedih nih. Padahal aku sudah susah payah mendapatkan ini untuk kamu. Tidak mudah lho untuk memperoleh video porno dari negara tersebut karena hampir semua penduduknya orang-orang kaya yang saleh serta pemerintahannya sangat bersih dan sangat membenci hal-hal vulgar seperti itu.
Dirga pun menghela nafas sebelum melanjutkan perkataannya.
“Aku bahkan sampai-sampai harus membelinya dengan harga 50 kali lipat dari harga video porno biasa. Juga tidak mudah lho menyelundupkannya bersamaan dengan paket gelap selundupan keluargaku dari Arab untuk dikirim ke China itu. Kalau aku ketahuan Ayah menyelipkan ini di antara barang-barang dagangan selundupan kami, aku pasti dihabisi oleh Ayah.”
“Dirga lantas menyandarkan dirinya ke kursi. Dia lanjut berkata,
__ADS_1
“Bukankah kamu juga setelah kematian Rihana masih sempat santai menonton film porno di kafe?”
Mendengar ucapan Dirga itu, Riandra jadi sangat kesal. Namun, dia masih dapat menahan kekesalannya itu.
“Ya sudah, terima kasih atas videonya.” Ujar Riandra seraya ujung-ujungnya tetap mengambil video porno tersebut.
“Jika tidak ada keperluan lagi, aku pulang dulu. Maaf aku buru-buru, Dirga, soalnya sudah lewat jam delapan. Aku takut kemalaman.”
“Ya sudah, hati-hati di jalan ya.” Ujar Dirga, mengantar kepergian Riandra sembari melambaikan tangannya.
Mata biru Dirga tiba-tiba menyala cerah.
“Kasihan anak itu. Dia terlalu stres belakangan ini sehingga jadi kurus seperti itu. Tapi hari ini kamu sudah banyak makan kan? Aku berharap dengan perutmu terisi cukup, kamu tidak akan terlalu kesakitan melintasi alam sana.” Ujar Dirga dengan ekspresi sendu di wajahnya.
***
Mobil rombongan Riandra pun melaju dengan cukup cepat, tetapi masih dalam kecepatan yang diizinkan, untuk segera kembali ke rumahnya. Namun, tiba-tiba, begitu melintasi jalan yang sepi, sang bodyguard yang bertindak sebagai supir, dengan sengaja menghentikan mobilnya.
“Hei, ada apa? Kenapa tiba-tiba berhenti?” Riandra yang sudah ketakutan duluan karena jalanan yang sepi dan pikirannya yang terhantui oleh pembunuh berantai joker hitam, tak dapat menahan emosinya hingga diapun berbicara dengan mengeraskan suaranya.
Tetapi keempat bodyguardnya itu sama sekali tidak merespon. Mereka justru mengeluarkan secara tiba-tiba dagger yang tersembunyi di balik pakaian mereka dan berbaris rapi membentuk satu shaf di sebelah kanan mobil sambil membelakangi mobil.
Riandra yang merasa itu aneh, akhirnya mencoba untuk menanyai mereka.
“Hei, ada apa? Apa ada musuh yang bersembunyi di sekitar?” Ujar Riandra seraya menepuk bahu dari arah belakang seorang bodyguard yang ada di barisan paling kiri.
Namun, lagi-lagi sama sekali tidak ada respon dari mereka. Riandra pun maju selangkah untuk mengamati mereka dari depan. Dan betapa kagetnya dia ketika mendapati kilauan cahaya biru aneh terpancar dari mata mereka yang seolah menghipnotis mereka sehingga berperilaku aneh seperti saat ini.
Riandra pun melangkah mundur beberapa langkah dengan kaget dan panik. Dan ketakutan di dirinya itupun akhirnya memuncak ketika para bodyguard secara bersamaan mengangkat dagger di tangan mereka kemudian menggorok leher mereka sendiri.
“Aaaakh!” Melihat pemandangan horor itu, Riandra pun menjerit sejadi-jadinya.
__ADS_1
Tetapi, tidak hanya sampai di situ keanehan yang terjadi. Keempat bodyguard itu seketika berubah menjadi asap dan menghilang ke udara dalam sekejap tanpa meninggalkan sisa apapun. Bahkan pakaian yang mereka kenakan serta dagger di tangan mereka ikut berubah menjadi asap.
Dan di dalam suasana horor di tempat senyap tersebut, suara langkah sepatu pun terdengar. Sesosok berpakaian serba hitam dengan penutup kepala hitam serta topeng pierot putih yang pecah bagian bawahnya, menghampiri Riandra.