
Setelah rombongan keluarga Kaiser pulang dari menjenguk Kaiser, Agni dan Airi tetap berada di samping Kaiser untuk menjaganya. Danial dan ibu susternya setuju untuk bertukar kamar di sebelah di kamar 806 sementara, selama adik sepupunya Kaiser masih terbaring lemah di kamarnya itu.
Dalam keadaannya yang lemah itu, di tengah malam, Kaiser berjalan ditemani Agni dan Airi ke kamar Dios. Kaiser meminta Airi agar tetap di luar untuk meminimalisir pengunjung Dios yang dapat mempengaruhi penyembuhannya, menyisakan Kaiser dan Agni di dalam Kamar Dios.
Kaiser menatap sedih wajah sahabatnya itu.
“Hei, Dios! Kapan kamu akan sadarkan diri?” Ujar Kaiser dengan sentimental.
“Tuan Muda, mengapa Anda malah merawat Ibu Araka di saat Lu Tianfeng justru membuangnya? Bukankah Tuan Muda membenci Araka? Walaupun tidak secara langsung, ibunya juga turut bersalah dalam membuat karakter Araka jadi seperti itu. Ini semua adalah akibat perbuatannya yang tak mampu mendidik anaknya dengan baik.” Dari belakang, Agni mengemukakan pendapatnya kepada Kaiser.
“Apa yang kamu katakan Agni? Mau aku membenci Araka ataupun tidak, itu tidak ada hubungannya. Bukankah hal yang wajar untuk menolong seseorang yang membutuhkan pertolongan?”
“Tapi dialah salah satu penyebab kondisi Dios jadi seperti sekarang! Orang-orangnya pulalah yang menyerang rumah sakit sehingga menyebabkan Kak Syarif meninggal!” Agni tanpa sadar meninggikan suaranya di hadapan tuan mudanya itu dengan nada marah.
“Maaf Tuan…Aku tidak bermaksud…”
Agni pun tersadar atas kekhilafannya dan segera meminta maaf kepada tuan mudanya itu.
Kaiser tersenyum lembut ke arah Agni.
“Begitukah? Tapi sekalipun aku diberikan kesempatan untuk memilih sekali lagi, maka aku mungkin akan mengulangi pilihan yang sama. Sudah kuduga, aku tidak akan sanggup meninggalkan orang yang membutuhkan pertolonganku, sedangkan aku bisa menolongnya.” Ujar Kaiser dengan sendu.
“Tuan muda, rupanya Anda orang yang naif. Tampaknya aku harus selalu berada di sisimu untuk mendampingimu.” Ujar Agni dengan mata yang berkaca-kaca sembari tersenyum sedih menatap Kaiser.
***
Tujuh hari berlalu sejak Kapten Danielo berangkat ke Hongkong dalam rangka menyelidiki dengan intens keberadaan Jingmi secara langsung di penjara Hongkong tersebut. Akhirnya, diapun balik ke Jakarta dengan memperoleh suatu informasi yang mengejutkan.
Diapun memasuki ruangan timnya dengan setumpuk kertas di tangannya.
“Oh Kapten?”
“Kapten!”
“Kapten sudah tiba? Bagaimana penyelidikannya?”
Begitu memasuki ruangan, dia langsung disapa kemudian disambut oleh pertanyaan bertubi-tubi oleh ketiga anak buahnya itu.
__ADS_1
“Praaaak!”
Kapten Danielo lantas melempar tumpukan kertas di tangannya dengan kasar ke atas mejanya.
“Sial! Kita dibodohi! Benar-benar dibodohi!” Teriak Kapten Danielo marah.
“Ada apa Kap?” Mono tidak dapat menahan rasa penasarannya kemudian bertanya.
“Selama ini Jingmi sama sekali tidak pernah dideportasi kembali ke negara asalnya. Dia yang seharusnya dideportasi, malah diselundupkan oleh Sudarmin di kediamannya. Dasar rubah licik itu!” Ujar Kapten Danielo dengan marah.
“Mono, segeralah berkoordinasi dengan tim dari bagian divisi umum untuk menelusuri jejak Jingmi di kediaman Sudarmin.”
“Baik Kap.” Jawab Mono dengan cepat atas perintah kaptennya.
***
“Agni, seragamku mana?” Tanya Kaiser pada asistennya itu.
“Tuan Muda, apakah Anda yakin akan bersekolah hari ini?” Tanya Agni seraya menyerahkan seragam tuan mudanya itu.
“Tentu saja. Sekarang sudah hampir ujian akhir semester. Aku tidak boleh ketinggalan banyak pelajaran. Ngomong-ngomong, akankah kamu akan tetap berdiri di situ? Aku mau ganti baju soalnya.” Ucap Kaiser dengan muka memerah seraya menatap Agni dengan ekspresi malu.
“Kamu juga segeralah ganti seragam di ruangan lain, atau kita akan terlambat.”
“Baik Tuan Muda.”
Setelah mengatakan itu, Agni pun meninggalkan ruangan.
Dua puluh menit kemudian, Kaiser pun telah berpakaian lengkap bersiap untuk berangkat ke sekolah. Tidak butuh waktu lama bagi Agni untuk menyusul. Namun, hal yang di luar dugaan mereka adalah Airi yang seharusnya menjadi bodyguard Kaiser juga turut mengenakan seragam sekolah mereka.
“Airi-san, mengapa kamu memakai seragam sekolah kami?” Tanya Kaiser dalam bahasa Jepang penasaran.
Namun, Airi justru menjawabnya dalam bahasa Indonesia yang fasih.
“Mulai hari ini, aku juga akan bersekolah di tempat yang sama denganmu.” Jawab Airi dengan senyum di wajahnya.
“Bahasa itu? Rupanya kamu sangat fasih bahasa Indonesia-nya! Lantas mengapa selama ini kamu tidak memakainya?” Tanya Kaiser sekali lagi karena penasaran, kali ini dalam bahasa tercintanya itu.
__ADS_1
“Hehehehe!” Airi hanya membalasnya dengan tawa cerah nan licik di wajahnya.
***
“Hei, Ratih! Bukankah berita Kaiser semakin menjadi-jadi di TV? Tidak adakah yang bisa kita lakukan sebagai sahabatnya?” Tanya Andika dengan polos sembari menyandarkan dengan malas kepalanya di atas meja, padahal seorang wanita yang cantik sedang duduk di depannya itu.
“Padahal baru saja aku membuat seleb sok tampan itu tidak berkutik, kini muncul lagi sekutu baru Alicia yang lebih kuat. Aku juga tidak bisa sembarangan menyentuhnya, Andika.” Jawab wanita cantik yang duduk di hadapan Andika itu, Ratih.
“Yah, Pak Sudarmin memang bukan orang sembarangan sih. Lagian kasihan banget sih Kaiser, punya banyak musuh. Kalau dipikir-pikir, ini semua karena Dios kan? Kira-kira, bagaimana tanggapan Dios ya ketika dia sadar dari koma dan mendapati posisi Kaiser yang jadi sulit karena dirinya?” Ujar Andika dengan santainya.
“Andika!” Sahut Ratih dengan menunjukkan sedikit emosi di perkataannya sembari menatap ke arah pintu belakang kelasnya.
Andika pun menoleh ke arah itu. Didapatinya Kaiser telah berdiri di sana dengan ekspresi sendu di wajahnya.
Tidak butuh waktu lama bagi Andika untuk tersadar bahwa apa yang dikatakannya barusan mungkin menyakiti sahabatnya itu. Diapun dengan sigap berdiri dan berlari menuju ke depan pintu belakang di mana Kaiser berada.
“Anu, Kaiser, itu.” Celoteh Andika panik.
Kaiser pun tanpa berkomentar apa-apa seraya menunjukkan senyum ceria di wajahnya.
“Wa, wa, wa, ekspresi itu! Ekspresi yang ditunjukkan olehmu di saat kamu benar-benar berusaha menyembunyikan kemarahanmu. Maaf! Aku benar-benar keceplosan. Maafkan aku, Kaiser.” Ucap Andika yang panik seraya meraba-raba punggung sahabatnya itu.
Kaiser segera melepaskan jeratan Andika dari tubuhnya itu seraya mengembuskan nafas panjang. Diapun menatap Andika.
“Dios hanyalah korban. Merekalah yang lebih dulu mendatangi dan membuli Dios tanpa pernah Dios berbuat salah pada mereka. Kalau ada yang perlu disalahkan, yah, mungkin orang yang mengadukan Dios kepada mereka. Lagipula, pada dasarnya mereka telah membenciku sedari awal. Mereka hanya mengambil peluang di saat ada kesempatan untuk merundungku melalui Dios.” Sanggah Kaiser atas pernyataan Andika itu.
“Jadi, siapa sebenarnya orang yang mengadukan Dios kepada pembuli-pembuli itu? Atas dasar masalah apa?” Tanya Andika keheranan seraya merangkul bahu sahabatnya itu.
Sekali lagi Kaiser melepaskan diri dari jeratan Andika dengan ekspresi kesal yang tak dapat lagi disembunyikan di wajahnya.
“Siapa ya kira-kira?” Tampak Kaiser tak mau mengungkapkannya.
“Ayo beritahu aku. Biarkan aku meghajar orang itu.” Ujar Andika seraya tersenyum cerah.
“Kalau kamu melakukan itu, aku takkan lagi menganggapmu sebagai teman.” Kaiser pun menjawab dengan senyum di wajahnya, tetapi pilihan kata dan intonasinya jelas-jelas adalah sebuah ancaman bagi Andika.
Andika benar-benar lupa bahwa sahabatnya itu sangat benci dengan premanisme, walaupun dia sendiri tidak akan segan-segan menghajar habis-habisan jika ada orang yang duluan mencari gara-gara dengannya.
__ADS_1
Kaiser lantas menyeret Andika kembali ke tempat duduk mereka. Namun, di kursi Andika, Airi telah duduk dengan santainya.
“Mulai sekarang, aku yang akan duduk di samping Kaiser. Bisakah kamu mencari tempat duduk lain?” Ujar Shinomiya Airi seraya menatap Andika dengan senyum di wajahnya.