
Pagi itu, keluarga Lu akan bersiap-siap untuk menghadiri prosesi pertunangan Lu Xinting dan Ye Lifei. Namun, karena kebencian Lu Meilan kepada Ibu Lu Shou, Lu Suyun, diapun berusaha mencari gara-gara dengannya. Di tengah kesibukan mereka sekeluarga yang sedang bersiap-siap menghadiri acara tersebut, Lu Meilan sengaja menabrak Lu Suyun dan hendak menyiram minuman berwarna merah pada gaun Lu Suyun yang berwarna keperak-perakan itu.
Tetapi di luar dugaan, seorang pelayan yang lewat di samping mereka, tanpa sengaja menabrak siku Lu Meilan sehingga minuman itu justru tumpah di gaunnya yang berwarna kuning tersebut. Namun, ketimbang menyalahkan si pelayan, Lu Meilan kembali ke rencananya semula untuk mempermalukan Lu Suyun.
“Argggh! Kamu kurang ajar Suyun. Karena kamu, gaunku jadi kotor!” Teriak Lu Meilan.
Lu Suyun hanya bisa terdiam dan bingung untuk berbuat apa-apa. Matanya pun berkaca-kaca. Tetapi berbeda, dengan Melisa, Lu Suyun punya backingan kuat di keluarga mereka. Dia tidak lain adalah Nyonya Besar Liu Peipei, istri pertama Lu Tianfeng sekaligus pemilik saham terbesar di perusahaan Lu Tianfeng.
“Ada apa ini? Kamu bukannya bersiap-siap di acara pertunangan anakmu, malah cari gara-gara di sini!” Bentak Liu Peipei yang datang menghampiri mereka kepada Lu Meilan.
“Kakak! Apa Kakak tidak bisa melihat gaunku yang kotor ini? Ini semua karena perbuatan si sialan itu!”
Mendengar pembelaan Lu Meilan, Liu Peipei pun menoleh ke arah pelayan yang di dekat mereka itu yang adalah pelaku sebenarnya penyebab tumpahnya jus merah di gaun Lu Meilan tersebut.
“Pelayan, apa benar yang dikatakan oleh Meilan?”
“Ampun Nyonya Besar! Diriku tidak sengaja menabrak Nyonya Meilan sehingga jusnya tumpah di gaun Beliau. Silakan hukumlah diriku ini!” Ujar Sang Pelayan ketakutan.
“Sudahlah. Kamu pergilah ke belakang.”
“Terima kasih Nyonya Besar.”
Liu Peipei pun menolehkan pandangannya ke arah Lu Meilan. Keluar keringat dingin di balik wajahnya itu.
“Maafkan saya Kak. Saya rupanya keliru untuk melihat siapa yang menabrak saya sehingga jusnya tumpah.”
Lu Meilan pun menunduk meminta maaf kepada Liu Peipei kemudian segera berlari meninggalkan lokasi itu tanpa niat meminta maaf sedikitpun apalagi memiliki perasaan bersalah terhadap Lu Suyun.
Setelah Lu Meilan pergi, Lu Tianfeng datang menghampiri mereka berdua.
“Ck ck ck. Tidak anak, tidak ibu, semuanya sumber masalah.”
“Sayang, apa yang kamu katakan? Jelas-jelas Suyun-lah yang jadi korban di sini.” Liu Peipei mencoba untuk membela Lu Suyun.
__ADS_1
“Jika dari awal dia tidak lemah, maka Meilan mana akan berani mengganggunya? Ini semua karena dia lemah. Melahirkan anak juga, dapatnya anak sampah. Ck ck ck ck.”
“Sayang, perkataanmu itu tidak patut.” Sekali lagi Liu peipei membentak suaminya itu.
Lu Tianfeng menatap mata Liu Peipei. Tampak sorot mata yang marah di wajah istri pertamanya itu. Lu Tianfeng selalu ingin menghindari konflik dengan istri pertamanya itu karena walaupun dia tidak bisa memberikan keturunan padanya, dia adalah sumber uangnya yang berharga.
“Cih, kamu juga jangan terlalu membelanya. Karena itu dia jadi lemah begini dan tak dapat melindungi dirinya sendiri. Kamu, sebaiknya tidak usah datang saja ke acara pertunangan Xinting.” Ujar Lu Tianfeng seraya menatap Lu Suyun.
“Baiklah. Sesuai perintahmu, Sayang.” Jawab Lu Suyun patuh.
“Sayang, kenapa kamu malah mengusir Suyun di acara penting keluarga kita? Kalau kamu seperti ini, aku juga takkan ikut.” Liu Peipei tidak sanggup melihat ketidakadilan itu dan membentak suaminya sekali lagi.
“Terserah kamu.” Jawab Lu Tianfeng singkat seraya meninggalkan mereka.
Setelah Lu Tianfeng pergi, Lu Suyun menangis tersedu-sedu. Liu Peipei yang ada di sampingnya pun berusaha menenangkan istri kedua suaminya itu.
“Tidak apa-apa Suyun, kita berdua tinggal di rumah saja sambil main mahjong yuk.” Bujuk Liu Peipei kepada Lu Suyun.
Rombongan Lu Tianfeng yang terdiri dari Lu Tianfeng, Lu Meilan, Lu Xinting sebagai tokoh utama acara ini, Lu Xinyi, Fei Sangchen, dan beberapa pengawal kemudian berangkat menuju lokasi.
Setelah acara pertunangan tersebut selesai, Lu Tianfeng pun mengundang Ye Lifei untuk membuat kesepakatan terkait bisnis mereka di Indonesia. Mereka mengadakan pertemuan tersebut di salah satu gedung pertemuan milik Lu Tianfeng yang didesain kokoh anti penyusup dan dikelilingi oleh bodyguard-bodyguard yang andal.
“Selamat datang Tuan Lifei di tempat kami.” Sambut Lu Tianfeng.
“Tidak usah bahasa formal kok, Paman, karena kita sudah menjadi keluarga.” Jawab Ye Lifei ramah.
Mereka pun membahas kesepakatan bisnis antara dua keluarga agar tidak saling bentrok kepentingan satu sama lainnya. Salah satu hal yang penting mereka bahas adalah bahwa segala lokasi bisnis di Indonesia yang semula dikuasai oleh Lu Tiafeng akan diserahkan kepada keluarga Ye untuk dikelola mulai saat itu dengan imbalan beberapa pabrik milik keluarga Ye akan diserahkan kepada keluarga Lu.
Sementara, obrolan ibu dan kedua anaknya di tempat lain.
“Kematian Araka benar-benar berkat dari surga buat Kakak. Sebentar lagi, Kakak pasti akan dinobatkan sebagai kepala keluarga.” Sanjung Lu Xinyi kepada kakaknya itu.
“Hahahaha. Kita bahkan tidak perlu mengotori tangan kita sendiri untuk melakukannya. Anak itu memang kuakui cerdas, tetapi sifat arogannya membuatnya memiliki banyak musuh. Sekarang dia merasakan sendiri akibatnya.” Ujar Lu Xinting dengan penuh kemenangan.
__ADS_1
“Jika kita berhasil menguasai harta warisan Nyonya Mandul itu kemudian melenyapkannya bersama pasangan ibu-anak tidak berguna itu, semuanya akan menjadi milik kita. Hahahaha! Surga bersama kita!” Timpal Lu Meilan seraya melayangkan gelas di tangannya. Kedua anaknya pun turut mendecakkan gelas itu. Mereka pun bersulang.
Tiba-tiba, lampu ruangan mati. Terdengar suara teriakan sadis satu-persatu dari para pengawal. Lampu darurat pun menyala. Betapa kagetnya mereka karena ruangan pertemuan itu telah menjadi tumpukan mayat.
“Aaaaakh!” Lu Xinting berteriak kaget. Ye Lifei segera menenangkan tunangannya itu.
Lu Tianfeng, Lu Meilan, Lu Xinting, Ye Lifei, dan Lu Xinyi, beserta beberapa pengawal Lu Tianfeng dan Ye Lifei akhirnya berhasil meninggalkan ruangan itu dan bergegas keluar gedung untuk segera menuju ke gedung kembar di sebelahnya.
Namun sayangnya, Fei Sangchen tak sanggup melarikan diri. Ketika dia hampir sampai di depan pintu, kepalanya terpotong rapi oleh semacam gerigi yang dibalut oleh angin aneh. Lu Meilan yang tepat di depannya dan menyaksikan kejadian itu, serta-merta berteriak shok.
Lu Tianfeng berupaya menyeret istrinya itu. Namun, karena saking shoknya, kakinya begitu gemetaran hingga tak bisa berdiri. Diapun bersama rombongan yang ketakutan memutuskan untuk meninggalkan Lu Meilan di belakang.
Tidak butuh waktu lama, sesosok pria keluar dari ruangan itu dengan cakarnya yang terbuat dari logam. Diapun melayangkan cakar itu ke wajah Lu Meilan. Seketika kepala Lu Meilan hancur berantakan dan diapun tewas.
Pria yang menghabisi nyawa Lu Meilan tidak lain adalah si mata sipit, salah satu kultivator anggota organisasi terlarang Trans yang sebelumnya disewa oleh Lu Tianfeng untuk membunuh Kaiser. Beberapa saat kemudian, temannya si rambut jabrik yang juga merupakan seorang kultivator rekan seorganisasi yang bersamaan disewa oleh Lu Tianfeng untuk membunuh Kaiser, keluar dari ruangan setelah membantai semua orang yang ada di dalam.
Betapa kagetnya Lu Tianfeng setelah menyaksikan siapa pelaku yang telah membantai rombongannya itu.
“Orang-orang sialan itu!” Teriaknya marah.
Lu Tianfeng, Lu Xinting, Ye Lifei, dan Lu Xinyi, beserta dua orang pengawal Lu Tianfeng dan dua orang pengawal Ye Lifei berlari sekencang-kencangnya untuk keluar dari gedung tersebut sementara beberapa pengawal yang tersisa mengorbankan nyawanya untuk menghambat pergerakan kedua kultivator tersebut.
Mereka pun berhasil ke luar gedung. Lu Tianfeng segera memberi isyarat kepada administrator gedung kembar di sebelahnya dari bawah untuk menekan switch penjebakan darurat pada gedung sebelah yang disusupi oleh kedua kultivator tersebut.
Alhasil, terjebaklah kedua kultivator di dalam gedung yang sekelilingnya tertutupi oleh lapisan logam keras. Nampaknya, lapisan logam itu saking kerasnya sehingga tak tergores sekalipun, walaupun telah ditebas berkali-kali oleh cakar si mata sipit dan dagger yang dilapisi angin tajam si rambut jabrik.
“Hahahaha. Rasakan itu! Kalian bukannya membunuh Kaiser, malah hendak membunuhku. Logam di dinding itu adalah logam campuran khusus dari bahan yang aku peroleh dari dunia lain. Hahahaha! Kini rasakan kematian kalian di dalam sana.” Ujar Lu Tianfeng dengan penuh kemenangan.
Rombongan Lu Tianfeng pun segera menuju ke gedung kembar sebelah tersebut. Begitu mereka sampai di lantai atas, tempat panel kontrol gedung sebelahnya berada, Lu Tianfeng pun menyuruh administrator untuk mengaktifkan bom khusus untuk membunuh kultivator level D ke bawah yang terdapat di dalam gedung tempat kedua kultivator terjebak.
Merekapun mengintip dari atas melalui kaca gedung transparan yang anti peluru tersebut untuk menyaksikan secara langsung dentuman bom yang akan membunuh kedua kultivator itu. Namun sayangnya, bom tidak meledak.
“Apa? Kenapa bomnya tidak meledak?! Hei, apa kalian sudah menekan tombol switchnya dengan baik?!” Bentak Lu Tianfeng kepada tiga orang administrator gedung itu.
__ADS_1
Tidak lama setelah dia mengatakan hal itu, dia pun terkaget. Dinding yang kokoh itu mulai menampakkan benjolan-benjolan. Walaupun dinding kokoh itu semula tahan dengan goresan setajam apapun, ternyata tidak tahan terhadap dentuman pukulan bersamaan kedua kultivator level E tersebut.