DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
140. Kebimbangan Airi, Rasa Bersalah Danial


__ADS_3

“Nak?”  Ujar Bu Nana begitu mendapati ekspresi putranya yang terlihat aneh.


Kaiser yang tersadar, segera memberikan senyum ramahnya kepada ibunya untuk menghilangkan kekhawatirannya tersebut.


Di kala itu pula, Pak Lucias dan Bu Dwinda akhirnya sampai di ruangan tersebut dengan melewatkan segala peristiwa yang telah terjadi.


“Kaiser?”


“Nana, apa yang sebenarnya terjadi?”


Begitu memasuki ruangan, Pak Lucias serta-merta menghampiri istri serta anak semata wayangnya itu, sementara Bu Dwinda tampak tetap berdiri di depan jalan masuk ruangan sambil menatap Bu Nana was-was.


Setelah mengetahui apa yang telah terjadi, baik Pak Lucias maupun Bu Dwinda sama-sama tak dapat menyembunyikan rasa frustasi mereka terhadap hal apa lagi yang akan menimpa keluarga mereka di masa depan.


Mengambil kesempatan itu, Bianca dan Fero pun menjelaskan inisiatif mereka kepada keluarga Dewantara yang lain untuk memberikan support penuh mereka untuk perlindungan Kaiser seberapa insignifikannya pun support mereka tersebut.  Baik Bu Nana, Pak Lucias, maupun Bu Dwinda menyambut baik tawaran tersebut.


Jadilah Fero dan Bianca akan ikut bergabung menjadi bodyguard Kaiser untuk sementara waktu.  Dengan ekspresi yang rumit, Kaiser memutuskan untuk meninggalkan masalah tersebut terlebih dahulu karena ada suatu hal yang lebih mengganggu pikirannya saat ini.


[Setelah melihat wajah sang joker hitam dari dekat yang tertutup topeng itu, mengapa perasaanku jadi tidak enak?  Rasa nostalgia apa yang kurasakan ini seolah aku pernah mengenalnya di masa lalu?  Apa sang joker hitam adalah juga orang yang kukenal di masa lalu?]


Kaiser tak mampu melepaskan pikirannya dari sang joker hitam begitu kali ini dia dapat melihatnya dengan jarak yang sangat dekat bahkan sempat mengobrol dengannya.  Namun seketika, pikiran itu terbuyarkan ketika Kaiser mendengarkan obrolan Andika dan Airi.


“Hei, Perempuan Rubah, kamu baik-baik saja?  Dari tadi kok wajahmu tidak seperti biasa?  Apa ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu?”  Tanya Andika kepada Airi.


“Ara, ara, ada apa ini?  Sang buldoser manja dari tadi memperhatikan wajahku yang ayu rupanya.  Tapi mohon maaf, kamu bukan tipeku.  Sebaiknya kamu menyerah dari awal daripada nanti tersakiti.”


Mendengar jawaban ngaco Airi yang diucapkan disertai dengan candaan itu, wajah Andika tampak sedikit berkedut.  Namun kali ini, dia tak membalas candaan itu seperti biasa.  Nampaknya Andika yang dulu semasa SMP-nya dikenal sebagai Cold Prince, telah tumbuh menjadi sedikit peka.  Dia mampu menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan Airi saat ini.


Melihat Andika dalam diam menanggapi candaannya dengan ekspresi khawatir di wajahnya, Airi pun tersenyum simpul.


“Tenang saja, Buldoser Manja.  Aku baik-baik saja.  Ini bukan sesuatu yang harus kamu khawatirkan.”  Ujar Airi sembari menyentuh pundak Andika yang sangat jauh lebih tinggi darinya itu.


Andika pun menerawang ke wajah Airi, mengamati ekspresi yang ditunjukkan wanita itu baik-baik.  Setidaknya dia dapat menangkap ekspresi sedih yang tersembunyi di baliknya, namun bukan berarti dia dapat berbuat apa-apa.  Terlebih, Airi tampak berusaha menyembunyikan hal tersebut.

__ADS_1


Itulah sebabnya, akhirnya dia hanya dengan lirih berkata, “Semangatlah!  Jika ada yang bisa kubantu untukmu, katakanlah!”  Ujar Andika dengan sedikit malu-malu.


[Yah, lagipula ada Kaiser di dekatnya.  Daripada aku, Kaiser lebih mampu untuk mengatasi perasaan wanita.  Kuserahkan saja persoalan Airi padanya.]  Pikir Andika dalam hati.


Tak lama kemudian, Andika memutuskan untuk pulang lebih awal dari rumah Kaiser siang itu.  Penyebab utamanya adalah lantaran masih shok dan ketakutan setelah melihat sosok sang joker hitam tersebut dari dekat.


Dia pergi dengan diantar oleh Airi dan Kaiser.  Namun, begitu Andika menggenggam pintu yang menghubungkan ruang bawah tanah dengan tangga menuju lantai satu kediaman Dewantara tersebut, dia meminta agar Airi dan Kaiser cukup mengantarnya sampai di situ.


Melihat Andika yang ngotot, mereka pun mengiyakan.  Terlihat tangan Andika begitu gemetaran sewaktu menggenggam pintu keluar tersebut.  Sebagian penyebabnya adalah shok dan takut.  Namun, kali ini sebagian besar didominasi akan rasa khawatirnya terhadap apa yang akan terjadi pada sahabatnya setelah ini.


Dia terlalu takut untuk mengatakan sesuatu seperti, “Tenang saja, Sobat.  Semuanya pasti akan baik-baik saja.”  Andika sangat takut kalau itu akan menjadi jinx yang pada akhirnya akan merenggut sahabatnya yang paling berarti itu dari dunia.


Oleh karena itulah, dia hanya dapat meninggalkan kediaman Dewantara tersebut tanpa berkata apa-apa sembari mengelola perasaan kalut di hatinya tersebut.


[Kaiser, mengapa kamu selalu terlibat dalam situasi yang berbahaya?  Entah dengan geng Araka, dan sekarang malah dengan seorang pembunuh berantai.  Adakah yang bisa kulakukan untukmu, Sobat?]  Gumam Andika dalam hati sembari melangkah meninggalkan kediaman Dewantara tersebut.


***


...Lantas, kukatakan padanya bahwa dia akan segera menjadi salah satu korban balas dendamku.  Kamu penasaran bagaimana ekspresi yang ditunjukkannya?  Bagaimana dia kesal karena perbuatan kakak sepupunya, dia harus menjalani semua ini?...


...Ya, apapun yang nantinya terjadi pada adik sepupumu itu, itu semua karena salahmu....


...Tertanda...


...Kakak Dios...


Seperti yang sudah-sudah, sehabis membaca surat ancaman yang ditujukan padanya, surat itu dengan otomatis menghilang karena terbakar.


Setelah surat itu menghilang, Danial hanya tampak diam.  Dia meringkuk ketakutan menyembunyikan wajahnya dari balik lututnya sambil menangis sampai susternya datang dan lagi-lagi memarahinya.


“Duh, Nak Danial.  Mengapa belakangan ini, tanganmu selalu lecet terbakar seperti ini?  Belum lagi luka lama sembuh, muncul lagi luka yang baru.  Sebenarnya darimana kamu bisa dapat luka seperti ini tiap malam?”  Kata suster itu memarahi Danial dengan khawatir.


***

__ADS_1


Di kamar yang disediakan untuknya selama berada di Indonesia di kediaman Dewantara itu, Airi nampak seorang diri.  Sedari tadi teleponnya berdering dan baru saja diputuskan untuk diangkatnya.


“Moshi-moshi, Yoshino-san?”


“Airi.  Akhirnya tersambung juga.  Sebenarnya kamu ngapain saja sehingga teleponmu baru bisa tersambung sekarang?”


“Maafkan aku, Yoshino-san.  Teleponku rusak sewaktu bertarung melawan pembunuh berantai yang menargetkan Kaiser-kun.  Dia sangat kuat, bahkan aku bukan tandingannya sehingga aku harus dirawat di rumah sakit selama tiga hari setelah menghadapinya.”


“Sekuat itukah lawanmu di sana?  Namun, kamu paling tidak berhasil kan memberi cedera yang berarti untuknya?”


“Sayangnya, dia sangat lincah sehingga tidak ada seranganku yang mengenainya.  Makanya, Yoshino-san, aku harus tetap di sini, di sisi Kaiser-kun untuk melindunginya dari pembunuh berantai sadis itu.”


“Aku mengerti perasaanmu, Airi.  Tetapi kita di sini juga kewalahan dengan pemberontakan Mahiro dan ibunya, Tomoko.  Apalagi dia menggaet klan Kanzaki bersama mereka.  Kyoya dan aku kekurangan tenaga memimpin anak buah untuk menghadapinya di samping kami juga khawatir dengan ancaman assasinasi yang selalu ditujukan kepada ibumu.  Airi, pulanglah.  Kami sangat butuh bantuanmu di sini.”


“Tapi, Yoshino-san.”


“Sepenting-pentingnya masalah orang lain, tentu lebih penting masalah keluarga sendiri.”


“Tapi Kaiser-kun telah kuanggap bagaikan adikku sendiri.  Aku tidak bisa pulang ke rumah sekarang dan mengabaikannya di sini menjadi korban pembunuh berantai sadis itu.”


“Jangan naif dan lihat kenyataannya.  Ataukah kamu baru akan tersadar ketika melihat jasad ibumu terbujur kaku.”


“Bukan begitu, Yoshino-san.  Masalah keselamatan Ibu juga tentu sangat penting, tetapi bukan berarti aku dapat membiarkan...”


“Pokoknya, kamu segera pulanglah.  Walaupun ayahmu tidak mengatakannya secara langsung, dia juga pasti ingin berkata seperti itu padamu.”


“Tiiit…tiiiit…tiiiit.”


“Moshi-moshi, Yoshino-san?”


Seketika telepon terputus atau nampak pihak di sebelah-lah yang dengan sengaja memutuskannya secara sepihak.


Dan dari balik sudut pintu, Kaiser menguping pembicaraan Airi tersebut.

__ADS_1


__ADS_2