DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
110. Analisis Dirga


__ADS_3

Bianca, salah satu polisi yang ikut berkunjung ke pemakaman Riandra tersebut, tak dapat menahan rasa kesalnya ketika menyaksikan pertunjukan drama opera sabun yang dipertontonkan oleh pasangan suami-istri, kedua orang tua Riandra tersebut.


“Ah, ini benar-benar membuatku kesal.  Semula aku lega ketika Pak Sudarmin meninggal dunia sehingga tidak ada lagi orang yang suka jahil membocorkan hasil TKP secara ilegal ke wartawan.  Tetapi kini, aku benar-benar merindukannya untuk membocorkan hasil TKP tersebut ke semua orang.”  Ujar Bianca dengan kerutan di pelipisnya.


“Semua bukti pembunuhan Riandra jelas-jelas mengarah kepada Tirta, namun masyarakat yang tak tahu apa-apa karena segala hasil olah TKP bersifat rahasia untuk publik, akan segera menuduh Kaiser sebagai pelakunya berdasarkan banyaknya rumor yang beredar di internet.”  Dono kemudian ikut menyambung tanggapan Bianca.


“Tapi guys, bukankah ini terlalu aneh jika Tirta tiba-tiba melakukannya?  Bukankah sewaktu pembunuhan Aleka dan keluarganya, dia memiliki alibi bersama Silva?  Pak Sudarmin, Bu Desi, dan para pembantu mereka bahkan memberikan kesaksian waktu itu.  Lebih mungkin kan jika orang itu diancam?”  Hera, yang juga seorang anggota kepolisian gabungan dalam penyelidikan pembunuh berantai joker hitam yang berasal dari tim 8, ikut memberikan tanggapannya.


“Maksud kamu?”  Mendengar ucapan Hera tersebut, Dono pun menjadi penasaran.


“Bisa saja dia diancam oleh Kaiser…”  Jawab Hera.


“Itu tidak mungkin.  Tirta punya cukup motif dendam untuk melakukan perbuatan tersebut.”  Belum selesai Hera menyelesaikan kalimatnya, Bianca segera memotongnya.


“Kalau kamu, bagaimana menurutmu Dono?”  Kali ini Toksan yang berujar.


“Hahahahaha.  Dia pasti juga berpikiran sama dengan Hera.  Bukan begitu, Mas Kaiser’s Hater?”  Sebelum Dono menjawabnya, Danar terlebih dulu menggoda polisi pemarah tersebut.


“Tidak.  Aku tidak bisa setuju dengan pendapat Hera.  Belum ada bukti apapun yang mengarah ke sana.  Segala asumsi harus berdasarkan bukti penyelidikan.”  Jawab Dono dengan tegas.


Mendengar jawaban Dono yang tidak biasanya tidak menyudutkan Kaiser itu dan malah berkata bijak, Toksan dan Danar lantas terbelalak kemudian secara serempak bersiul.  Mereka terkaget dengan perubahan Dono yang tiba-tiba itu.


“Jika bukan Tirta pelaku pembunuhan Aleka beserta keluarga dan para karyawan mereka di perusahaan, kuat dugaan bahwa ada rekan yang membantu Tirta dalam menjalankan aksinya tersebut.”  Bianca kemudian melanjutkan analisisnya.


“Tapi yang aku herankan, jika Tirta yang bekerjasama dengan seorang rekan sebagai pelakunya, maka akan ada dua tempat kosong sebagai target pelaku pembunuhan berantai tersebut.  Selain Dirga, kira-kira siapa ya?”  Kali ini Mono yang sedari tadi diam, maju dengan analisisnya.


“Bukankah salah satunya Jingmi kan?”  Danar pun segera mengemukakan komentarnya.


“Itu tidak mungkinlah.  Lihat bagaimana dia dekat dengan Tirta sampai-sampai ikut bersamanya mencari pembunuh profesional ke Jepang.”  Tetapi Mono segera menyanggah komentar Danar tersebut.

__ADS_1


“Jadi bisa saja bahwa asumsi Fero salah dan pembunuh profesional dari klan Kanzaki itu bersama Jingmi masih hidup dan kemungkinan mereka-lah yang bekerjasama dengan Tirta melakukan pembunuhan berantai tersebut?”  Tanya Bianca yang jadi kebingungan sendiri.


“Itu bisa saja.”  Mono pun menyetujui hal yang diutarakan oleh Bianca tersebut mungkin terjadi.


“Lantas siapa yang sangat dibenci oleh Tirta selain para royal di grupnya sampai-sampai ingin dibunuhnya?  Yang tersisa kan sisa Dirga, sementara kalau dilihat dari polanya, masih akan ada 3 korban.  Dan bukankah aneh kalau Jingmi ikut berkomplot dalam pembunuhan Silva padahal dia telah menjadi bodyguardnya sejak bayi?”  Bianca sekali lagi menyatakan keheranannya tersebut.


“Lagipula ya guys, kematian Pak Sudarmin itu misteri banget ya.  Lha kok bisa pas betul suasananya ketika dia mau buat perhitungan ke Kaiser, tiba-tiba saja tebing ambruk karena longsor dan menimpa kemudian menyeret mobilnya ke jurang.”  Hera kemudian ikut kembali bergabung dalam pembahasan dengan komentar negatifnya.


Namun, sebelum yang lain sempat membalas tanggapan tersebut, seseorang yang tidak asing lagi bagi mereka tiba-tiba menghampiri mereka tanpa mereka sadari sebelum orang itu mengeluarkan suaranya.


“Jahatnya menyumpahi aku akan mati di tangan pembunuh berantai joker hitam.”


Dirga-lah orang yang ikut masuk di antara obrolan mereka berenam.


“Kamu?”


Hera dan Bianca berujar kaget secara serentak begitu mendapati salah seorang calon korban pembunuh berantai joker hitam ternyata ada di dekat mereka.


Ya, selama ini, Dirga ada di sudut belakang, ikut serta mengantar kepergian Riandra untuk selamanya tersebut dan itu adalah bukan hal yang aneh karena dirinya sendiri mendapatkan undangan dari Bu Rosita.  Hanya saja selama ini dia diam dengan pakaian hitam dan kacamata hitam yang tak biasanya dikenakannya sehingga tak ada seorang pun yang mengenalinya.


“Jahatnya kalian menuduhku seperti itu.  Padahal aku sama sekali tidak pernah membuli Tirta di grup.  Hanya Riandra, Rihana, dan Silva saja yang suka menyuruhnya ke sana kemari, apalagi Riandra.  Oh, Araka juga tampak selalu menegurnya dengan keras untuk menjaga sikap.  Mungkin juga dia tersinggung karena itu.  Tetapi aku dan Aleka sama sekali tidak pernah membulinya kok.”


Ujar Dirga dengan pengucapan yang tampak imut.  Sangat berbeda dengan karakternya dulu yang pemarah dan suka mengumpat.


“Tapi Dik Dirga diam saja kan sewaktu melihat Tirta diperlakukan semena-mena?  Terkadang orang juga bisa dendam dengan seseorang yang hanya diam saja ketika menyaksikan orang tersebut ditindas lho.”  Mendengar argumen Dirga, Bianca pun mengemukakan pendapatnya dengan tegas bahwa Dirga pun tak bisa luput dari dendam Tirta.


“Hmm, itu bisa juga sih.  Tapi daripada denganku, bukankah kalian seharusnya lebih mengkhawatirkan Kaiser?  Tidak ada orang lain yang sangat dibenci oleh Tirta melebihi Kaiser lho.”  Sekali lagi Dirga mengutarakan pendapatnya yang kontroversial.


Namun, Bianca juga sudah bisa memprediksikan hal itu.  Ekspresi wajahnya pun seketika menjadi rumit sewaktu mendengar ucapan Dirga tersebut.

__ADS_1


“Jika yang satunya adalah Kaiser, lantas siapa calon korban terakhir?  Masih ada 3 kartu yang tersisa, satu untukmu, dan satu untuk Kaiser.  Lantas siapa pemilik kartu terakhir?”  Mono tidak segan-segan menanyakan kepada Dirga yang juga adalah incaran potensial sang pembunuh berantai tentang calon korban potensial yang terakhir tersebut.


“Hmm, ngomong-ngomong Riandra dulu sempat heboh menyinggung Tirta bahwa akan ada seseorang yang disiapkan oleh Araka untuk menggantikan posisinya sebagai ‘Seven Heavenly Royal’.  Oh, ‘Seven Heavenly Royal’ itu sebutan untuk kami yang memimpin dunia bawah SMP Puncak Bakti kala itu.  Yah, itupun sebelum sistem itu sendiri dihancurkan mentah-mentah oleh Kaiser sih.  Jadi mungkin, tidak banyak lagi siswa di sekolah itu yang familiar dengan nama tersebut, terlebih kami dikeluarkan dari sekolah dengan cara yang tidak hormat.”


Dirga lantas menatap Mono.  Dia kemudian tersenyum nakal kepada polisi tersebut sebelum melanjutkan ucapannya.


“Oh, ngomong-ngomong gelar itu melambangkan masing-masing kelebihan kami, Araka sang dewa pemimpin, Rihana sang dewi informasi, Silva sang dewi kecantikan, Riandra sang dewa cyber, Aleka sang dewa atletik, kemudian Tirta sang dewa ketampanan.”


“Hahahahahaha.”  Begitu menyebut Tirta sebagai dewa ketampanan, Dirga serta-merta tertawa terbahak-bahak.


“Menyebutnya sebagai dewa ketampanan lucu banget karena dia tidak setampan itu.  Hahahahaha.  Oh iya, ngomong-ngomong, aku mewakili dewa basket, yeey.”  Ujar Dirga sekali lagi seraya menunjukkan tanda peace di tangan kanannya.


“Singkat cerita, sewaktu kami menginjak kelas 2, banyak murid baru yang lebih tampan darinya terutama Kaiser si anak dari kelas 1A itu.  Oh, ngomong-ngomong, ada juga anak dari kelas 1H, kalau tidak salah, namanya Andika yang juga dirumorkan ketampanannya jauh di atas Tirta.”


Dirga menghela nafas sebelum melanjutkan.


“Dengan memanfaatkan alasan yang tidak masuk akal itulah, Riandra membenarkan opininya di grup untuk mendesak Araka mengeluarkan Tirta.  Namun, kita semua tentunya tahu bahwa apa alasan sebenarnya dari Riandra yang tergila-gila dengan kasta itu…”


“Cukup!”  Bianca pun segera menyetop mulut Dirga yang ember itu dengan penjelasan yang bertele-telenya.


[Menyebut diri kalian sendiri sebagai dewa, aku telah paham betapa angkuhnya kalian dan mengapa Kaiser sangat membenci kalian.]  Bianca tampak menggumamkan sesuatu.


“Hmm?”  Dirga pun menatap Bianca dengan heran seolah bertanya-tanya mengapa dia menyetop pembicaraannya tiba-tiba


“Itu memang informasi yang sangat berguna, tetapi bukan itu yang sekarang ingin kami dengar.  Siapa calon korban potensial terakhir, Dik Dirga?”  Bianca lantas meminta Dirga untuk to the point.


“Ada anak kelas 2 yang tidak kalah tampan, jauh lebih kaya, dan berasal dari the true royal family, alias keturunan ningrat asli, yang lebih cocok mengisi posisi itu ketimbang Tirta.  Dia dirumorkan akan menggantikan posisi Tirta sebagai ‘Seven Heavenly Royal’, pemimpin dunia bawah SMP Puncak Bakti.  Tirta mungkin dendam padanya karena merasa posisinya tergeser?”  Dirga melanjutkan penjelasannya.


“Siapa?”  Tanya Bianca yang semakin tak dapat menahan rasa penasarannya.

__ADS_1


__ADS_2