
Pagi itu, Kaiser akan berangkat ke sekolah dengan diantar oleh Pak Salman seperti biasa bersama dengan Agni dan Airi. Namun, tiba-tiba, Kaiser menghadapkan badannya ke arah Agni, tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia hanya tertunduk.
Melihat gelagat tuan mudanya yang seperti itu, Agni lantas tersenyum ramah padanya. Kaiser pun mendongak dan akhirnya bertemu pandang dengan Agni yang tersenyum. Kaiser pun membalasnya dengan senyum canggung di wajahnya, tetapi ekspresinya dengan segera berubah kembali menjadi tampak rumit.
Kaiser lama terdiam, tampak takut menuturkan perkataannya. Pada akhirnya, sepatah kata yang ditunggu itu pun terucap di bibirnya.
“Agni, maafkan aku karena telah memperlihatkan sisi jelekku padamu kemarin.” Lirih Kaiser.
Agni lantas berjalan mendekat ke arah Kaiser seraya meraih tangan kanan tuan mudanya itu seraya menjepitnya di antara sela-sela jari yang mempertemukan sela-sela jari tangannya pula.
Kaiser pun tersipu malu. Sentuhan lembut dari tangan seorang wanita yang menggelitik sela-sela jarinya, mendatangkan sensasi unik yang begitu asing baginya. Dia tak paham benar tentang apa sensasi itu, tetapi yang jelas dia merasa moralnya akan merosot jika mengikutinya lebih jauh. Kaiser pun segera melepaskan tangannya dari Agni dengan muka yang memerah.
Agni lantas tersenyum lembut melihat tingkah polos tuan mudanya itu. Agni pun berujar,
“Itulah peran Agni sebagai asisten Tuan Muda. Tuan Muda jangan sungkan untuk menumpahkan segala keluh-kesah Tuan Muda jika ada yang dirasa mengganjal di hati Tuan Muda.”
Kaiser terdiam sejenak. Memang benar ada perasaan yang mengganjal di hatinya. Tetapi dia mempertimbangkan bahwa tepatkah dia untuk mengungkapkannya. Namun, akhirnya dengan suasana yang mendukung itupun, Kaiser mengeluarkan isi hatinya tersebut.
“Aku pernah menonton beberapa drama di TV tentang seseorang dengan kepribadian ganda. Semula aku berpikir bahwa itu adalah hal yang absurd. Tetapi, kemarin malam aku jelas merasakan sesuatu yang lain menguasai hatiku.”
“Tuan Muda?” Lirih Agni lembut seraya meraih pundak tuan mudanya.
“Bagaimana jika selama ini memang akulah pelaku pembunuhan berantai itu di mana kepribadian gandaku yang terkubur dalam-dalam di diriku inilah yang melakukannya?” Ujar Kaiser dengan sedikit berteriak.
Nampak raut sendu di balik wajah tampan nan mempesona itu.
“Itu tidak mungkin Tuan Muda!” Agni seraya berteriak seraya mengguncangkan tubuh Kaiser.
“Mengapa itu tidak mungkin?!” Kaiser balas berteriak dengan mata yang berkaca-kaca.
“Itu karena aku selalu mengawasi Tuan Muda 24 jam sehari sehingga aku bisa tahu bahwa Tuan Muda bukanlah pelakunya!”
“Agni, bagaimana mungkin itu dikatakan 24 jam sehari? Bukankah ada celah di mana kamu dan pengawal-pengawal meninggalkanku sendirian?”
__ADS_1
“Itu…” Agni tampak ragu berujar hingga akhirnya dia memutuskan untuk diam.
Di saat itulah, Airi masuk di antara percakapan mereka.
“Moooo, Kaiser-kun! Kamu tampaknya terlalu banyak menonton film sci-fi sehingga kamu tidak bisa membedakan lagi mana yang nyata dan mana yang tidak.”
“Airi-san?” Lirih Kaiser lembut.
“Pembunuh berantai apanya? Dengan badan yang lemah begitu?”
“Lemah, lemah, lemah, aku bosan dengan kalian semua yang menilai aku lemah! Lihat otot-otot perutku ini!” Kaiser yang mulai kehilangan rasionalitasnya karena dipengaruhi amarah tersebut, lantas melepaskan kancing baju seragamnya dan menarik ke atas kaos putih yang berada di balik seragamnya sehingga nampaklah otot-otot perut Kaiser yang seksi yang entah sejak kapan menjadi six pack.
Airi ternganga dengan muka yang memerah, tetapi sama sekali tidak berpaling dari pandangan itu. Kaiser tampak tak peduli pada ekspresi Airi dan hanya melanjutkan perkataannya.
“Aku bahkan hampir mengimbangi Airi-san, kan, sewaktu Airi-san menyerangku tiba-tiba di rumah sakit kala itu? Aku juga menguasai martial art dan bahkan pernah mengalahkan sekaligus Araka, Aleka, dan Fahrul yang sangat jago pula martial art sewaktu mereka mencoba mengeroyokku. Aku ini juga petarung yang andal.”
“Lantas?” Mendengar penjelasan Kaiser, Airi hanya menanggapinya datar seolah mengatakan apa gunanya semua itu.
“Bisa saja aku tanpa sadar membangunkan semua potensi kemampuan bertarungku dan membentuknya menjadi kepribadian sampingku yang tidak lain adalah pembunuh berantai itu demi mewujudkan keinginan terdalam di hatiku.” Ujar Kaiser dengan ekpresi sendu di wajahnya.
“Bukan begitu!!!” Tampik Kaiser dengan cepat, menolak mentah-mentah pernyataan Airi.
“Aku tak dapat memungkiri jika ada perasaan di hatiku yang mengharapkan demikian, tetapi aku sama sekali tak pernah benar-benar mengharapkan itu terjadi.” Ujar Kaiser dengan lembut dan penuh arti.
“Haaah!” Airi menghela nafas.
“Jadi dengan kata lain, kamu khawatir kalau hasrat tersembunyi di hatimu itu lepas kendali dan menguasai dirimu?”
Mendengar hal itu, Kaiser hanya tertunduk diam. Dia tak dapat memungkiri perkataan Airi tersebut.
“Tetapi, Kaiser-kun, walaupun jika kamu kehilangan kontrol atas tubuhmu, tubuh lemahmu itu takkan mungkin sanggup mengeksekusi seperti apa yang dilakukan oleh pembunuh berantai itu…”
“Sudah kubilang bahwa aku tidak lemah!” Teriak Kaiser tiba-tiba, bahkan sebelum Airi menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1
“Nah, dengar dulu, Kaiser-kun. Apa yang ingin aku sampaikan, pembunuh berantai itu mampu menghabisi 59 nyawa dalam satu malam. Bisakah kamu melakukannya?”
“Itu tidak mungkin.” Jawab Kaiser cepat atas pertanyaan Airi tersebut.
“Rihana dan ibunya tewas dengan jebakan yang sangat canggih. Pernahkah kamu belajar ilmu tentang membuat jebakan?”
“Itu, aku pernah diajari oleh kakekku untuk membuat jebakan sederhana, tetapi tak sedalam itu karena pada prinsipnya seorang samurai menanamkan prinsip berjiwa lurus.”
“Nah, kamu sudah memperoleh jawabannya, kan?” Ujar Airi cepat tanpa memberikan kesempatan kepada Kaiser untuk termenung.
“Dengan seseorang berkepribadian ganda, bukan berarti tenaganya bisa bertambah atau apa yang tidak pernah dipelajarinya, tiba-tiba dikuasainya. Itulah mengapa aku mengatakan, kamu terlalu banyak menonton film sci-fi, Kaiser-kun!”
Kaiser tampak ragu. Airi rupanya telah berhasil menggoyahkan pemikiran tuan muda lembut itu. Rasa bersalah di dalam hatinya pun sedikit memudar. Kaiser pun segera mengeluarkan senyum ala pangerannya kepada Airi.
“Terima kasih, Airi-san, karena telah menyemangatiku.”
Muka Airi sedikit memerah, tetapi dia segera membalas senyuman itu dengan senyuman yang lembut pula.
Agni yang akhirnya lega setelah melihat tuan mudanya mampu tersenyum tulus lagi, seraya ikut tersenyum bersama mereka.
“Ya sudah, tidak usah berlama-lama lagi membahas hal yang tak perlu ini. Ayo kita segera naik ke mobil. Pak Salman sudah lama menunggu kita. Jika kita lebih lama lagi, kita bisa telat.” Ujar Airi dengan sedikit jutek, tetapi terlihat kepedulian tulus dari balik wajahnya.
Airi pun naik mobil. Kaiser dan Agni mengikuti dari belakang.
***
Siang itu, di jam istirahat makan, tidak seperti biasanya, Ratih, Mirna, dan Wilda menuju ke gedung IPS tempat anak kelas 2 dan 3 jurusan IPS menempuh pelajarannya. Tampak mereka ingin bertemu dengan seseorang. Rupanya, orang yang ingin mereka temui itu tidak lain adalah Agni.
“Maaf, Senior, bisa minta waktunya sebentar?” Sahut Ratih dari belakang ketika mendapati Agni yang lewat.
“Iya, Ratih? Ada keperluan apa Dek?”
Ratih tampak ragu-ragu, tetapi akhirnya dia pun berujar.
__ADS_1
“Bisa Kakak jelaskan sebenarnya apa yang terjadi dengan Tuan Muda Kaiser?” Ratih pun bertanya seraya mereka bertiga menatap dalam-dalam ke mata Agni.