
Araka akhirnya memutuskan untuk meninggalkan rumah sementara di saat dia masih merasa diincar oleh pembunuh berantai itu. Firasatnya bisa jadi salah, tetapi dia tidak ingin meninggalkan peluang sekecil pun ketika nyawa ibunya menjadi taruhan.
Araka mengambil kesimpulan bahwa dengan dirinya berpisah untuk sementara waktu dengan ibunya, maka jika kemungkinan buruk sampai terjadi dan dia dibunuh oleh pembunuh berantai itu, ibunya tidak akan ikut menjadi korban. Kesimpulan itu berasal dari tindakan si pembunuh berantai yang membiarkan Alicia, Kakek Alicia, serta kakek Rihana hidup karena tidak berada di tempat kejadian selama kasus pembunuhan Aleka dan Rihana terjadi, sementara ayah Aleka, ibu Aleka, dan ibu Rihana harus meregang nyawa karena kebetulan berada di lokasi sewaktu eksekusi kedua target tersebut.
Dengan senyum polos, Araka berpamitan kepada ibunya dengan menyembunyikan niat sebenarnya tentang kepergiannya.
“Ibu, Araka pamit pergi dulu ya. Mungkin harus menginap beberapa hari untuk mengurusi beberapa masalah pekerjaan.” Ucap Araka sembari mencium punggung tangan kanan ibunya.
Sang Ibu pun mengantar kepergian anaknya dengan pelukan hangat dan lambaian tangan. “Hati-hati di jalan Nak. Cepat pulang begitu urusannya selesai.” Ujar Sang Ibu dengan polos tanpa mengetahui kebenarannya.
Araka pun tersenyum hangat pada ibunya dan beranjak pergi.
***
Siang itu, Kaiser duduk sendirian di taman. Dia berlindung di balik sebuah pohon rindang dari teriknya panas matahari kala itu. Tampak Kaiser sedang melamun. Musibah yang menimpa perusahaan keluarga Riandra menjadi salah satu koleksi dari banyak rentetan kejadian yang menurut Kaiser sangat aneh telah terjadi yang mungkin saja terkait dengan dirinya.
Kaiser kembali mengenang kisah yang dulu dialaminya sewaktu baru menginjak kelas 1 SD.
__ADS_1
Dia mendapati seorang anak SMA yang menyiksa seekor kucing dengan mengikatnya dengan tali dan menggantungnya di sebuah pohon kemudian menyiksanya dengan melayangkan tinjunya berkali-kali bak kucing itu adalah sarung tinjunya.
Kaiser kemudian menegur pemuda itu, tetapi pemuda itu malah menghajar Kaiser sampai babak belur. Kaiser kala itu masih terlalu lemah untuk menghadapi orang dewasa sehingga dia sama sekali tak mampu melawan.
Tidak sampai setengah jam setelah pemuda itu menghajar Kaiser kecil, tiba-tiba segerombolan preman menghampiri pemuda itu. Kaiser kemudian menyaksikan sendiri bagaimana Sang Pemuda ditelanjangi dan diikat di pohon yang bersebelahan dengan pohon di mana kucing itu digantung setelah pemuda itu dihajar habis-habisan oleh segerombolan preman tersebut.
Tentu saja karena kebaikan Kaiser, Kaiser segera membantu melepaskan ikatan pemuda itu bersamaan dengan kucing yang barusan disiksanya ketika preman-preman itu telah beranjak pergi. Kaiser tidak tahu detil masalah pemuda itu dengan preman-preman, tetapi tampak wajah yang sangat ketakutan dari ekspresi wajahnya sampai-sampai pemuda itu segera meninggalkan lokasi kejadian tanpa kembali mengenakan busananya yang telah dilempar oleh para preman ke danau.
Kaiser kembali mengenang kejadian sewaktu dia menginjak kelas 2 SD.
Kala itu cuaca sangat terik sementara Kaiser harus mengikuti jam olahraga. Hal itu membuatnya memiliki sedikit pikiran terbersit bahwa seandainya saja guru olahraganya sakit hari ini dan berhalangan hadir sehingga dia tidak perlu mengikuti kelas olahraga hari ini.
Akhirnya, kaki sang guru terluka cukup parah sehingga benar-benar tidak dapat mengajar kelas olahraga Kaiser pagi itu.
Kaiser kembali mengenang masa-masanya di kelas 3 SD. Salah satu masa terpahit dalam hidupnya.
Kala itu, kakek, ayah, ibu, paman, serta bibi Kaiser terpaksa harus sama-sama ke luar negeri mengurus urusan pekerjaan masing-masing di tempat yang berbeda-beda sehingga meninggalkan Kaiser dan Danial sendirian di rumah bersama dengan para pembantu. Karena khawatir dengan keadaan Danial, Bibi Kaiser, Ibu Danial pun menghubungi ayah dan ibunya untuk merawat cucu mereka sementara selama mereka ada di luar negeri sekalian juga merawat Kaiser, sepupu Danial itu. Satu yang Sang Bibi tidak ketahui, telah lama ayah dan ibunya menaruh kebencian kepada Kaiser karena dinilai akan mengancam posisi cucunya sebagai pewaris utama Dewantara Group.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama bagi pasangan iblis tua itu dalam mencari-cari kesalahan Kaiser. Danial kecil yang iri melihat Kaiser lebih senang bermain dengan Dios daripada dengan dirinya berbohong kepada neneknya yang selama ini sangat menyayanginya bahwa mereka memukul Danial karena tidak ingin bermain bersamanya.
Tentu saja harapan Danial kecil adalah agar Kaiser berhenti bermain dengan Dios lalu bermain bersamanya. Namun, hal yang tak terduga-duga terjadi. Sang Nenek yang telah lama memendam kebenciannya pada Kaiser hingga menumpuk akhirnya melepaskan semuanya. Kaiser dan Dios dikurung oleh Nenek Danial di dalam suatu ruang sempit yang biasa digunakan sebagai gudang tanpa diberi makan maupun minum sedikitpun. Semetara itu, Kakek Danial hanya mengamati saja tanpa sekalipun hendak mencegahnya.
Lewat dari sehari, Kaiser dan Dios masih terkurung di ruangan sempit itu tanpa makan maupun minum. Kaiser menatap Dios dan dirinya sudah tampak sangat lemah. Di situlah dia sangat marah kepada Kakek dan Nenek Danial sampai berharap mereka mati saja.
Setelah 30 jam mereka terkurung di ruangan sempit itu, Kaiser dan Dios akhirnya dibebaskan. Namun, betapa kagetnya Kaiser saat itu karena yang membebaskan mereka ternyata bukanlah Kakek maupun Nenek Danial, melainkan anggota polisi dengan cara membobol pintu itu.
Beberapa saat setelahnya, Kaiser akhirnya tersadar bahwa Kakek dan Nenek Danial telah tiada karena kecelakaan mobil di mana polisi yang membobol pintu itu sebenarnya datang untuk menginformasikan peristiwa naas itu kepada orang rumah, tetapi segera ditarik oleh Agni untuk menyelamatkan mereka berdua. Permohonan jahat Kaiser sekali lagi terkabulkan.
Dia belakangan mengetahui bahwa Kakek dan Nenek Danial berencana pergi ke salah satu salon langganan Nenek Danial karena Nenek Danial pusing dengan Danial yang menangis seharian yang mengkhawatirkan kondisi sepupunya yang terkurung itu sehingga bebencana untuk merilekskan pikirannya dengan spa di salon. Namun, di saat mereka menuju ke salon langganannya itulah, mereka mengalami kecelakaan tragis tersebut.
Kaiser kembali mengenang masa-masanya ketika dia menginjak kelas 5 SD.
Waktu itu kelasnya kedatangan seorang murid pindahan. Murid pindahan itu angkuh dan sering membanggakan harta kekayaannya. Begitu murid pindahan itu mengetahui bahwa Dios adalah anak yatim piatu, dia pun membulinya.
Kaiser marah dengan itu, tetapi anak itu malah kian membuli Dios. Tanpa sadar Kaiser dengan lantang berucap kepada anak itu. “Bagaimana jika kamu yang di posisi Dios? Apakah kamu sanggup bertahan sepertinya? Anak sepertimu hanya berani berucap karena keberadaan kedua orang tuamu dan kekayaan mereka. Namun, bagaimana sampai jika hal itu menghilang?”
__ADS_1
Sang Anak yang mendengar ucapan Kaiser yang disertai dengan ekspresi mata Kaiser yang menyeramkan, segera menangis ketakutan. Minggu berikutnya, perusahaan ayah dari anak itu tiba-tiba bangkrut dan ayahnya memutuskan untuk bunuh diri, sementara ibunya melarikan diri karena tidak mau terjerat hutang suaminya. Jadilah benaran Sang Anak berada pada posisi yang sama dengan Dios, bahkan lebih buruk karena dia harus mewarisi utang-utang orang tuanya.
Dari berbagai kejadian aneh itu, terbersitlah suatu kecurigaan di dalam hati Kaiser bahwa ada yang salah pada dirinya. Diapun akhirnya lebih waspada dengan menjaga lisannya dan senantiasa berusaha tersenyum dan tampak ramah di hadapan semua orang dan menjaga hatinya agar tidak lagi membenci atau menaruh dendam pada siapapun.