DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
92. Rahasia Fetish Silva


__ADS_3

Suatu hari tanpa sengaja, Pak Sudarmin lewat di depan kamar Silva sewaktu pintu kamarnya tidak tertutup rapat.  Dari luar, Pak Sudarmin pun melihat suatu tirai putih besar yang menutupi dinding, sedikit tersingkap.  Dari balik celah itu, didapatinya objek berupa beberapa foto yang terpampang di suatu bingkai.


Pak Sudarmin pun jadi penasaran tentang foto-foto apa yang sebenarnya disembunyikan oleh putrinya itu dari balik tirai putih tersebut.  Sedari dulu, Pak Sudarmin memang sudah tahu sifat putrinya yang unik yang suka mempermainkan hati para lelaki kemudian mencampakkannya.


Kemungkinan, foto-foto di balik tirai itu, tidak jauh dari hobi uniknya.  Bisa saja berupa foto para mantan yang telah berhasil dia permainkan hatinya, atau bisa saja calon korban yang dia rencana untuk taklukkan berikutnya.


Tapi walaupun demikian, Pak Sudarmin tetap tak dapat menahan rasa penasarannya ingin mengetahui hal tersebut.  Diapun menyingkap tirai putih itu.  Dan betapa kagetnya dia.  Dinding tersebut dipenuhi oleh foto-foto pemuda yang paling dia benci.  Ya, foto-foto keseharian Kaiser.


Pak Sudarmin pun menggertakkan giginya dengan marah.  Dia kemudian memeriksa semua isi kamar Silva.  Betapa murkanya dia setelah menemukan album pink yang semua isinya ternyata adalah foto-foto Kaiser yang dia benci tersebut.


“Silvaaaaaa!”  Teriak Pak Sudarmin marah.


Silva yang rupanya sedang keluar menikmati udara pagi di teras belakang lantai dua rumahnya yang tidak jauh dari kamarnya tersebut, lantas terkejut dengan panggilan tiba-tiba ayahnya dan bergegas masuk untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Mata Silva seketika terbelalak setelah mengetahui tirai putih yang menutupi koleksi fotonya di dinding tersingkap di depan ayahnya.  Tidak hanya itu, foto-foto koleksi berharganya di album pink itu pun sedang berada di tangan ayahnya saat ini.


“Ayah?”  Lirih Silva.


“Kamu?  Apa arti semua ini?  Apa kamu juga menyukai bocah sialan itu seperti orang-orang tidak waras di sosial media tersebut?!”  Sekali lagi, Pak Sudarmin berteriak marah.


“Apa yang Ayah katakan?!  Mana mungkin aku menyukainya?!  Tipe pria idamanku adalah seseorang yang tinggi, kekar, dan nakal!  Mana mungkin aku menyukai pria pendek, kemayu, dan tampak seperti pria baik-baik itu!”  Balas Silva membentak ayahnya.


“Lantas, ada apa dengan semua koleksi foto ini?!”

__ADS_1


“Itu karena aku hanya suka membayangkan dengan melihat foto-fotonya bagaimana dia kupermainkan sampai dia memohon-mohon untuk meminta jatah lagi, tetapi aku malah menginjak-injak mukanya yang imut itu!”


“Apa yang kamu ucapkan Silva?”  Tanya Pak Sudarmin keheranan atas perkataan absurd putrinya yang tidak semua orang bisa mengerti bagaimana fetish S&M itu.


“Lagipula ini semua salah Ayah!  Jika saja Ayah tidak mengurungku di rumah berhari-hari seperti ini, aku tidak akan stres seperti ini!  Hiks…Hiks…Kenapa aku harus menderita dikurung di rumah seperti ini.  Dasar Ayah bodoh!”  Silva pun menangis lantas berlari meninggalkan Pak Sudarmin.


Malam harinya, ketika Pak Sudarmin sibuk mengurus perusahaannya yang terancam bangkrut itu, Silva memanfaatkan kesempatan tersebut untuk kabur dari rumah.


***


Dasar Ayah bodoh!  Mana mungkin aku menyukai Kaiser, pria yang lebih pendek dariku, bahkan terlihat jelas dia tidak bisa beladiri sama sekali perihal badannya yang kemayu itu.  Ah, entah sejak kapan aku jadi memperhatikan bocah yang sama sekali bukan tipeku itu.


Apa itu bermula dari ketertarikan Ratih, junior satu tingkat dariku kali ya, terhadap bocah lembek itu?


Aku yang merupakan primadona sekolah, sangat bangga akan kecantikan wajahku dan bodyku yang seksi.  Hobiku mempermainkan hati para lelaki yang terpikat oleh kecantikanku yang tiada tara ini.


Segala jenis pria telah aku jamahi luar dan dalamnya.  Terkadang ada yang kekar di luar, tetapi mengecewakan dalamnya.  Ada yang bahkan mempunyai penampilan yang sangat macho dengan otot yang kekar, tapi kurang dari 2 menit, punyanya sudah loyo duluan.


Tetapi sayangnya dari ke semua pria yang telah aku kencani, tidak ada satupun dari mereka yang berhasil menjalin hubungan intim itu denganku perihal semuanya mengecewakan.  Cukup banyak dari mereka sebenarnya yang kekar luar dan dalamnya, tetapi tetap saja akan ada kekurangan.  Entah itu, nafasnya yang bau atau bau badannya yang mengganggu.


Oleh karena itu, mereka semua hanya kuanggap boneka untuk kupermain-mainkan mental dan tubuh mereka untuk memuaskan hasrat birahiku.  Umurku masih muda.  Aku berharap suatu saat, aku bisa menemukan pria ideal itu dan menjalin hubungan intim dengannya.


Dengan kemunculan Ratih di sekitarku, pesonaku sebagai primadona kampus pun semakin meningkat.  Ratih kerap kali iri dengan kecantikanku dan tentang bagaimana aku sangat mahir menggaet para pria.  Dia senantiasa ingin mengikuti jejakku itu untuk mengalahkanku menjadi primadona kampus yang menggaet banyak pria.  Namun, dia tak pernah menang melawanku, malahan beberapa kali, orang yang ditargetkannya, justru menyatakan cintanya padaku.

__ADS_1


Oleh karena itu, Ratih adalah pemeran pembantu yang sangat sempurna.  Seorang rival yang berusaha mati-matian mengalahkanku, tetapi tak satu kalipun pernah menang melawanku. Pemeran pendukung yang sangat kubutuhkan untuk meningkatkan karisma beauty-ku tersebut.  Seorang rival abadi yang selamanya akan menjadi nomor dua.


Tetapi semuanya berantakan setelah kemunculan Kaiser.  Berawal dari Ratih yang menotice-nya, aku juga tanpa sadar pun ikut memperhatikannya.


Setelah mengenal Kaiser, Ratih langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya.  Entah apa yang dilihat dari orang yang lebih pendek dariku dan dengan tubuh kemayu itu.  Aku akui sih dia memang tampan, tetapi apa gunanya tampan kalau badannya lemah.


Seperti yang sudah-sudah, begitu tahu ada orang yang disukainya, aku pun langsung menjalankan rencanaku untuk pura-pura tanpa sadar merebutnya darinya dengan menggunakan taktik polosku.


Akupun mulai mengamati pola keseharian Kaiser untuk mengetahui tempat-tempat yang sering dikunjunginya seorang diri.  Tetapi tak satu kali pun aku mendapatinya seorang diri.  Dia selalu saja dibuntuti oleh sidekicknya si Dios itu.


Aku mulai kesal.  Tapi tak mengapa, bukannya rencana tidak bisa dijalankan dengan kehadiran satu bocah lagi.  Apalagi si Dios itu terkenal dengan sikap cueknya pada masalah orang lain.  Yah, aku bisa memahami sikapnya itu.  Kurasa dia tahu diri dengan statusnya sebagai domba di tengah kawanan serigala sehingga tak berani untuk berbuat macam-macam.  Lagipula, satu-satunya alasan bahwa si miskin yatim piatu itu bisa diterima bersekolah di tempat elit ini, adalah karena kebaikan hati Kaiser.


Setelah memastikan tempat strategis untuk menjalankan aksiku, yakni di suatu tempat game center yang terletak di pusat perbelanjaan tradisional yang hampir setiap hari mereka kunjungi itu, aku kemudian menyewa beberapa preman untuk terlibat dalam sandiwara romantisku.


Begitu Kaiser lewat, kuminta mereka untuk pura-pura menganiayaku.  Hal itu pastinya akan membangkitkan roman setiap lelaki sejati, bukan?  Taktik ini tak pernah sekalipun membuatku gagal untuk menggaet para lelaki.


[Ayo Kaiser, tunjukkan kejantananmu!  Kamu pasti tidak tega, bukan, melihat wanita yang cantik aduhai ini dibully preman-preman busuk itu?]  Pikirku dalam hati.


Dan sesuai dugaan, Kaiser datang menyelamatkanku.  Awalnya, kupikir dia akan memohon dengan sopan layaknya pria baik-baik kebanyakan kepada para preman untuk berbelas kasih melepaskanku.  Tetapi di luar dugaan, dia cukup berani juga berargumen lantang di hadapan preman-preman yang terlihat menakutkan itu.


Ah, aku salah memprediksikannya.  Seandainya aku tahu Kaiser akan beraksi seperti itu dengan ekspresi yang imut seperti itu pula, maka aku tidak akan meminta preman-preman itu sebelumnya untuk segera menyerah ketika Kaiser mulai bertindak.  Aku pastinya telah akan menyuruh mereka untuk bermain lebih lama lagi dengan bocah imut itu.


Aku ingin melihat lebih lama lagi ekspresi wajah tampannya itu ketika saling adu kata-kata dengan para preman itu.  Aku sangat ingin melihat apa yang akan dilakukannya ketika para preman itu hendak menghajarnya.  Akankah dia ketakutan, ataukah dia akan menangis, atau mungkin dia akan mematung saking ketakutannya?  Ah, aku benar-benar penasaran.

__ADS_1


Tahu begini, aku akan menyuruh para preman itu sebelumnya untuk menghajarnya sedikit.  Aku sangat penasaran bagaimana kira-kira ekspresi wajah tampannya yang sedang putus asa ketakutan ketika dihadapkan dalam bahaya.


Namun, karena sesuai kesepakatan awal, para preman itu langsung saja pergi, dan akupun memiliki kesempatan untuk berkenalan dengan Kaiser.


__ADS_2