DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
138. Hukuman yang Tidak Pantas


__ADS_3

“Oho!  Pangeran Sok Polos kita belum tahu rupanya.  Aku sudah mengeksekusi orang itu lho dan dengan cara yang paling megah pula di antara yang lain.  Orang yang tidak henti-hentinya memiliki hasrat terhadap milik orang lain, orang yang selalu terbakar oleh rasa iri, cara yang paling pantas menghukumnya tentu saja dengan menghanguskan seluruh tubuhnya.”


Di akhir kalimatnya itu, pembunuh berantai joker hitam menekankan intonasinya dengan nada rendah sambil meringis yang menampakkan penghinaan.


“Lagipula dialah pelaku yang membuat otak dios lumpuh dengan sengatan listrik.  Tentu hukuman itu pantas untuknya, hukuman yang sama seperti apa yang dia lakukan pada Dios dulu.  Tetapi tentu saja harus berjuta-juta kali lipat lebih besar.  Kalau tidak seperti itu, ya bukan hukuman namanya.”


Kali ini pembunuh berantai joker hitam tampak mengucapkan kalimatnya dengan nada yang lebih santai yang tidak sesuai dengan kesuraman isinya.


“Apa?  Jadi kamu tahu penyebab Dios belum bangun selama ini?  Lantas, apakah kamu juga tahu cara menyembuhkannya?”  Dengan sentimental, Kaiser berucap.


“Ada satu orang yang mampu menyembuhkannya.  Dia adalah seorang profesor tua dari Italia.  Tetapi keberadaannya telah tidak diketahui sejak 10 tahun yang lalu.”  Sang joker hitam pun menjawab pertanyaan Kaiser itu kali ini dengan nada sendu.


“Lantas, daripada kamu melakukan segala hal yang tidak berarti ini, mari kita sama-sama mencari profesor itu ataukah kita cari cara lain untuk menyembuhkannya.  Pastinya akan lebih mudah setelah kita tahu penyebabnya.  Terus terang, aku sangat butuh bantuanmu karena seberapa canggihnya pun alat modern yang dimiliki rumah sakit keluarga kami, kami sama sekali tidak dapat mendeteksi penyebab penyakitnya.  Kini, ketika ada secercah harapan…”


Dengan menggebu-gebu, Kaiser bertutur kepada sang joker hitam.  Tanpa sadar, air mata mengalir dari balik wajah lembut Kaiser itu.


Dengan secepat kilat, pembunuh berantai joker hitam menghampiri Kaiser sehingga tanpa disadari oleh semuanya, pembunuh berantai joker hitam itu telah tengah dalam posisi mencekik leher Kaiser.


Airi pun dengan sigap berdiri di hadapan Bu Nana dan seorang pembantu yang ikut bersamanya tersebut, sementara Bianca, Fero, dan Andika yang tak mampu bergerak lebih cepat dari Airi, hanya mampu memposisikan badannya siaga di hadapan sang pembunuh berantai joker hitam tersebut.


“Tidak ada yang bisa menjamin kalau profesor itu masih hidup!  Kalaupun dia masih hidup sekarang, usinya sudah mencapai 83 tahun.  Kamu pikir, berapa persen kemungkinan orang biasa tanpa kekuatan spiritual dapat hidup selama itu?!  Walaupun dia masih hidup, berapa persen kemungkinan dia tidak menderita demensia!  Lagipula, jika seandainya Dios berhasil tersadar…”

__ADS_1


Dengan amarah yang menggebu-gebu, sang joker hitam menjawab pertanyaan Kaiser tersebut.  Tanpa sadar, air mata turut jatuh dari bola mata biru indah milik pembunuh berantai joker hitam tersebut.


“Lagipula jika Dios tersadar, 99 % dia tak akan seperti dulu lagi.  Dia hanya akan menghabiskan sisa hidupnya dengan menjadi orang idiot.  Apakah jika Dios bisa memilih, dia akan mengharapkan hal ini?”  Lirih pembunuh berantai joker hitam sembari terisak.


“Mengapa kamu pesimis begitu?!  Aku tidak tahu kamu siapanya Dios, tetapi satu hal yang aku tahu, dia orang yang berarti untukmu kan?  Makanya kamu sampai gelap mata melakukan semua ini.  Jadi mengapa kamu menyerah begitu cepat di kala perkembangan ilmu pengetahuan dunia yang makin pesat ini.  Belum saatnya untuk menyerah!”


Kaiser pun berujar dan tampaknya hal itu berhasil masuk tertancap di sanubari sang joker hitam.  Sang joker hitam pun menatap pemuda itu dengan seksama.  Dia pun merasakan kejanggalan.  Tampak ingatannya tumpang tindih antara pemuda yang berdiri di hadapannya itu dengan sosok adik kecil dalam ingatannya.


Sang joker hitam sejenak ternganga setelah mengamati baik-baik dari dekat baik wajah maupun pembawaan sang bocah bernama Kaiser tersebut.


“Tapi tentu saja, setelah ini, kamu harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang telah kamu lakukan.”  Lirih Kaiser melanjutkan.


“Paaak!”


“Aku sama sekali tidak mengerti.  Jika kamu kerabat Dios, mengapa kamu sampai ingin membunuh putraku?  Padahal putraku-lah yang selama ini menemani Dios bahkan setelah komanya.  Apakah kamu pikir teman biasa akan sampai mau melakukan hal demikian untuk temannya?  Di mana sanubarimu?  Di mana rasa bersalahmu?”


Bu Nana pun terdiam sejenak, sambil berusaha memperbaiki ritme isak-tangisnya.


“Jika kamu memang sebegitu mempedulikan anak itu, di mana kamu selama ini sehingga dia bisa terlantar di panti asuhan selama 5 tahun sampai almarhum mantan kepala asisten rumah tangga kami menemukannya?  Dan apa kamu pikir, ini semua yang diharapkan oleh Dios, hah?!  Di mana salahnya putraku sehingga kamu mau membunuhnya?!” [19]


Mendengar hal itu, mata pembunuh berantai joker hitam berubah bengis, namun Bu Nana tak gentar dan semakin memeluk erat putranya.  Akan tetapi, Kaiser yang mampu merasakan aura berbahaya itu, segera melepaskan pelukan ibunya dan balik melindungi ibunya.  Dalam sekejap, pembunuh berantai joker hitam dikelilingi oleh kelima orang tersebut.

__ADS_1


“Anda bilang apa salahnya bocah sok polos ini?  Sangat banyak!  Dia menarik banyak musuh, tetapi membangun benteng pertahanan yang sangat kuat dengan karismanya.  Seolah tidak sadar hal itu, dia mengabaikan orang-orang di sekitarnya yang lemah dan bisa saja tersakiti oleh musuh-musuh yang menargetkannya.  Oleh karena itulah, dia hanya bocah yang sok polos.”


Pembunuh berantai joker hitam lantas terdiam sejenak sebelum melanjutkan.


“Sejak awal semuanya takkan pernah terjadi jika dia lebih menyadari orang-orang di sekelilingnya.  Jika dia memang memutuskan untuk terlibat dengan seseorang, maka sampai akhir, dia tentu harus bertanggung jawab padanya.  Makanya ini semua salahnya, salah si bocah sok polos itu!  Yah, lagipula, aku ke sini hari ini hanya sekadar untuk menyapa.  Sampai berjumpa di lain waktu, bocah sok polos.   Dan di saat itulah aku akan mengeksekusimu.”


Sembari mengucapkan hal itu, sang joker hitam menghilang begitu saja bagai asap yang tertiup angin.


***


“Apa?  Kenapa kami tidak boleh masuk?  Bukankah masalah penyelidikan pembunuh berantai joker hitam telah diserahkan kepada divisi kami?!  Mengapa divisi penanganan kriminal berat masih saja keras kepala dan mengganggu kami dalam penyelidikan?!”


Teriak Kapten Maya yang gusar oleh tingkah beberapa orang berseragam kepolisian pusat yang mengaku dari divisi penanganan kriminal berat yang mencegahnya masuk ke kediaman Isnandar untuk menginterogasi Dirga.


Seberapa pun Kapten Maya menunjukkan amarahnya, para perwira polisi itu hanya tertawa cengingisan seakan meledek.


“Kapten Danielo dan Kapten Wiwik!  Aku akan menghubungi atasan kalian jika kalian memperlambat penyelidikan kami lebih lama lagi!”


Namun, bahkan setelah Kapten Maya mengucapkan hal tersebut, para perwira polisi itu tetaplah cengingisan tanpa menunjukkan tanda-tanda akan menyingkir dari situ.


Akhirnya, salah seorang dari mereka pun angkat bicara.

__ADS_1


“Harap Anda tidak menyamakan kami dengan kumpulan orang payah itu.  Karena kamilah tim elit, tim yang sesungguhnya dari divisi penanganan kriminal berat.  Kamilah Tim 1 Divisi Penanganan Kriminal Berat.”  Ujar pria tersebut seraya tertawa penuh kebanggaan diri.


NB:  [19] Memang berbeda alasan yang diberikan Pak Saikoji waktu itu kepada keluarga Dewantara dengan yang sebenarnya terjadi


__ADS_2