DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
121. Pertarungan 5 vs 1


__ADS_3

“Wilda!!!”  Teriak Kaiser yang terkesiap melihat wanita pendek itu tiba-tiba menerjang di depannya menangkis serangan pedang listrik Tirta.


Tanpa berpikir panjang, Kaiser ikut menerjang ke depan, menyerang Tirta yang telah terkunci gerakannya oleh Wilda.  Sembilan gerakan menusuk dengan pedang kayu dia arahkan ke bagian depan serta tiga gerakan menusuk pula dia arahkan ke bagian belakang Tirta, tepat di titik akupuntur vitalnya yang mampu mengunci pergerakannya.


Walaupun serangan itu datang dari seseorang yang tanpa cakra, tetapi kekuatan Kaiser cukup kuat yang berbanding terbalik dengan perawakannya yang tampak lemah sehingga membuat Tirta yang padahal sudah dilapisi oleh cakra, merasa tersengat oleh serangan itu.  Dia tak dapat mengabaikannya.


“Sialan kau, Kaiser!”  Teriak Tirta.  Dia lantas mengayunkan pedang mainannya itu kepada Kaiser.  Naas, Wilda terlambat meresponnya.


“Tuan Muda!”  Dia hanya sanggup berteriak.


Kaiser sangat paham bahwa pedang kayunya hanya akan segera patah, tidak, akan segera terpotong bagaikan terkena laser jika menyentuh pedang mainan itu sehingga dirinya pasti akan segera menuju alam lain sedikit saja salah gerakan.  Diapun menghindari serangan itu, alih-alih menangkisnya.


Kaiser segera mengambil ancang-ancang, berkayang dengan cepat begitu serangan itu datang.  Dia kemudian segera dengan sigap berpindah tempat dengan tetap merendahkan posisi tubuhnya di bawah pedang mainan Tirta untuk menghindari terkena tebasannya, segera beralih ke posisi titik buta pembunuh sadis itu.


Diapun kembali menyerangnya, kali ini dengan 12 gerakan menusuk di mana tusukan terkahir tepat diarahkannya ke belakang kepala Tirta.


“Sialan, sialan, sialan!”  Tirta tampak semakin murka oleh gerakan memukul lalu lari dari Kaiser yang terlihat sangat pengecut itu.  Tetapi apa boleh buat, itulah yang maksimal dapat Kaiser lakukan saat ini di kala dirinya bukanlah seorang kultivator.


“Tuan Kaiser!”  Para polisi gadungan yang sebenarnya adalah bodyguard sewaan Pak Arkias yang masih baik-baik saja lantas maju untuk membantu Kaiser.  Tetapi dengan tegas dan suara lantang, Kaiser memberikan perintahnya,


“Jangan ada yang maju!  Kalian hanya akan jadi beban!”


Kaiser menghentikan langkah para bodyguard tersebut.


“Tetapi…”  Namun, salah satu dari para bodyguard itu tampaknya masih ngotot.


Kaiser pun menatap mereka dengan tajam.  Tanpa disadari oleh Kaiser, mata birunya menyala terang.


“Kalian hanya akan mati jika maju.  Jika kalian benar-benar ingin membantuku, maka bertahan hiduplah dengan lari dari tempat ini.”


Serentak seakan terhipnotis oleh tatapan Kaiser, para bodyguard itu memilih untuk mundur, menuruti perintah itu yang padahal mereka disewa oleh Pak Arkias untuk melindungi pemuda naif tersebut.


Tetapi tidak semuanya.  Ada 3 orang bodyguard yang tetap bertahan di tempat itu.


“Maaf Tuan Kaiser.  Kami sebenarnya adalah bodyguard sewaan Paman Tuan untuk melindungi Tuan Kaiser.  Walau nyawa taruhannya, kami takkan mundur demi keselamatan Tuan.”  Ujar seorang pria paruh baya tertua di antara mereka sambil mempersiapkan ancang-ancangnya untuk menyerang.


“Sreeet!”

__ADS_1


Memanfaatkan Kaiser yang lengah sesaat, Tirta berlari dengan kecepatan tinggi, hendak menebaskan pedang mainannya itu ke arah Kaiser, tetapi serangan itu segera berhasil ditangkis oleh Wilda.  Cakra kuning mereka yang menyala-nyala bagai kilat, sekali lagi berbenturan dan memancarkan percikan-percikan api kuning.


***


Sementara itu di tempat lain,


“Cakra ini?  Wilda?”  Ujar Airi yang tampak kaget karena tiba-tiba merasakan cakra Wilda yang seharusnya sedang mengikuti ujian akhir semester di kelas mereka.


“Apa ini?  Kenapa cakra penanda yang kutanamkan pada Kaiser tiba-tiba aktif?”  Airi pun bertambah panik begitu merasakan ketidakteraturan aliran energi di tubuh Kaiser yang menandakannya sedang berada dalam situasi bahaya.


“Aku harus segera menyelesaikan pertarungan ini!”  Teriak Airi.


Dia semakin berusaha untuk menambah kecepatan tentakelnya agar mampu menjerat pembunuh berantai joker hitam tersebut, tetapi malah pembunuh berantai itu semakin dapat menyesuaikan irama pertarungan.


Di sela-sela sedikit kelengahan Airi itu, pembunuh berantai joker hitam tersebut lantas maju, dan,


“Sraaak!  Sraaak!  Sraaak!”  Pembunuh berantai itu menebas-nebas jeli cakra ungu lengket yang mengitari seluruh area di sekitar Airi yang melindunginya.


Airi bertambah panik karena seiring dengan tebasan sang pembunuh berantai joker hitam, ketebalan bola jeli ungu pelindungnya semakin berkurang karena terserap oleh semacam jeli biru yang ikut bercampur pada cakra di sekitar katana pendek milik sang pembunuh berantai itu.


***


“Kalian hindari serangan pedang itu.  Pedang itu akan mampu memotong apa saja.”  Teriak Kaiser begitu melihat ketiga bodyguard itu bergerak maju untuk menghadapi Tirta.


“Baik Tuan Muda!”  Ucap mereka secara serentak.


Mereka pun menyerang di mana Wilda berperan sebagai penangkis senjata milik Tirta yang mampu memotong apa saja itu.


Kaiser kemudian maju sebagai tenaga support dan memberikan serangan tusukannya sekuat tenaga pada mata kanan Tirta ketika Tirta sedang sibuk menghadapi yang lain.


“Aaaaaakh!”  Mata Tirta berdarah.


“Kurang ajar kau, Kaiser!”  Tirta pun semakin gusar terhadap pemuda naif itu.


“Wilda, kamu tidak apa-apa?”  Tanya Kaiser kepada Wilda.


“Tenang saja Tuan Muda.  Dia dan aku sama-sama kultivator level F.  Seharusnya kekuatan kami sebanding, hanya saja dia lebih mahir bertarung dariku.  Tapi itu bukan masalah.”  Jawab Wilda.

__ADS_1


“Tapi yang kulihat, ada yang tidak beres darinya.  Dia semacam menggunakan doping.  Gerakannya tampak jauh lebih lincah dan kuat darimu.  Berhati-hatilah.”


“Baik Tuan Muda.”


“Maaf karena telah melibatkanmu dalam masalahku ini.”


“Apa yang Tuan Muda lakukan untuk saya jauh lebih besar dari itu.”


Kaiser tak mampu menjawab.  Dia merasa bersalah karena sadar bahwa kenaifannya-lah yang telah menjerat wanita lugu ini.  Tetapi bukan saatnya untuk memikirkannya sekarang.  Dia harus segera mengalahkan pembunuh sadis di hadapannya itu untuk mencegah jatuhnya korban lebih banyak lagi perihal dirinya.


Dengan cepat, Tirta datang untuk menebas Kaiser, tetapi dengan sigap Wilda kembali menangkisnya.  Seketika, pukulan bertubi-tubi diarahkan oleh para bodyguard itu kepada Tirta di kala pergerakannya terkunci oleh Wilda, sementara Kaiser segera bersalto untuk kali ini menyerang menusuk bagian tubuh Tirta yang luput dari pengawasannya, pelipis kirinya, yang merupakan begian terlunak dari kepala.


Serangan itu seketika menggoyahkan keseimbangan Tirta.  Kaiser segera memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang bagian kakinya sehingga Tirta pun terjerembab jatuh dan pedang listriknya itupun terlepas dari tangannya.


Seketika terlepas dari tangannya, pedang listrik itu kembali berubah layaknya pedang mainan biasa.  Seorang bodyguard yang satu-satunya wanita di antara mereka pun segera menendang jauh-jauh pedang mainan itu agar di luar jangkauan Tirta.


Tetapi yang dia tak pahami adalah bahwa kekuatan itu bukan berasal dari pedangnya, melainkan dari diri Tirta sendiri, tidak, tepatnya dari doping cakra yang terhubung ke sang pembunuh berantai joker hitam.


***


“Sabrina!”


“Sela!”


Tampak dari lantai 3, kelas 1H dan 1I, dua wanita dari masing-masing kelas itu berpapasan, kemudian saling memanggil nama satu sama lain lalu berlari bergegas untuk turun.  Rupanya, mereka justru hendak menuju ke lokasi pembantaian Tirta.


“Number 8, Number 9, apa yang hendak kalian lakukan?  Apa kalian ingin kekuatan kalian diketahui oleh publik?!”  Ujar suatu bisikan telepati yang diarahkan kepada mereka.


“Apa itu penting sekarang?  Tuan Muda sedang dalam bahaya!”  Jawab Number 8 alias Sabrina.


“Kalian juga tidak akan bisa membantu banyak dalam pertarungan itu.”  Bisikan telepati itu sekali lagi terdengar oleh mereka.


“Apa yang kamu katakan, Number 1?!  Kami ini kultivator level E tipe petarung.  Mana mungkin kami kalah bertarung dengan seorang kultivator level F sehebat apapun dia!”  Number 9 alias Sela pun membantah suara telepati yang dipanggilnya sebagai Number 1 itu.


“Itu tidak semudah yang kalian pikirkan.  Efisiensi penggunaan cakranya ditingkatkan secara tidak wajar, bahkan mampu menyaingi 4 sampai 5 kultivator level E untuk sesaat.  Ini pasti ada kaitannya dengan makhluk bertopeng yang sedang bertarung dengan Airi di luar itu.”


Rupanya, sosok yang sedang berbicara secara telepati kepada orang yang disebutnya dengan Number 8 dan Number 9 itu, sang Number 1, tidak lain adalah sosok misterius berambut panjang yang seluruh tubuhnya dikelilingi oleh bayangan hitam, sang sosok misterius kedua.

__ADS_1


__ADS_2