DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
9. Di Balik Topeng Kesucian


__ADS_3

Ruangan sejenak senyap.  Kelima petugas polisi itu saling bertatapan.


“Jadi kalian ingin bilang bahwa tersangka dalam kasus pembunuhan sadis ini adalah seorang anak SMA?”  Pria tua itu menampakkan urat matanya isyarat ketidakpercayaan atau keraguan atas hal yang baru saja didengar.


“Kalau itu, kami sudah menyelidiki jejak masa lalu Kaiser Dewantara, orang yang disebutkan di dalam rekaman itu.  Namun, kami tidak menemukan data kalau Kaiser pernah menjalani pelatihan yang berkaitan dengan penggunaan pedang.  Jadi, kecil kemungkinan kalau dia adalah pelakunya.”  Kata petugas wanita itu menanggapi pertanyaan seniornya.


“Dengan kekayaan keluarga Dewantara, apa yang tidak mungkin?  Keluarganya bisa saja menyiapkan pelatihan khusus untuknya secara rahasia.  Lalu bukankah ibunya keturunan keluarga seni beladiri?  Bisa saja dia belajar dari ibunya.”  Kata Petugas Dono menanggapi perkataan juniornya.


“Kalau itu, tidak ada fakta saat ini yang membuktikan ucapan Senior.  Di samping itu, Bu Nana, ibu Kaiser, tidak pernah belajar ilmu beladiri walaupun dia berasal dari keluarga seni beladiri.” Ucap wanita itu membantah seniornya.


“Sejak pertama kali melihat anak itu, saya dari awal sudah menduga ada yang tidak beres.  Tidak mungkin ada orang yang baik dan sempurna seperti itu.  Orang-orang yang terlihat sempurna, biasanya punya sisi menakutkan yang tersembunyi di baliknya.”  Ucap petugas Dono seraya membalik-balikkan lembar demi lembar di bagian profil Kaiser Dewantara pada lembar fotokopian yang dipegangnya.


“Senior, tolong jangan berspekulasi tanpa bukti.”  Bentak wanita itu marah.


“Yah, kita lihat saja nanti.  Toh kita juga akan menyelidikinya.  Semuanya akan segera ketahuan.”  Kata Petugas Dono seraya menyengir.


“Apa yang disampaikan Petugas Dono belum terbukti benar, namun juga tidak terbukti salah.  Itulah gunanya penyelidikan.  Kita harus mengusut sampai sedetil-detilnya untuk mengetahui jawabannya.  Ada juga kemungkinan penyewaan pembunuh bayaran profesional di sini sehingga kita tidak bisa melepaskan tersangka dengan alasan kurangnya kemampuan fisik…”


“Tunggu, tunggu, tunggu!”  Belum selesai Sang Kapten berbicara, Petugas Dono langsung memotongnya.


“Kita belum memperlihatkan kalian rekaman CCTV yang baru saja saya dan Saudara Mono dapatkan di mall.”  Kata Petugas Dono terlihat siap memperlihatkan kartu As di mana sumber kepercayaannya berasal.


“Perlihatkan!”  Kata polisi tua itu tegas.


Rekaman CCTV mall yang merekam Aleka dan Kaiser lantas dipertontonkan di hadapan mereka berlima.


“Ini, dindingnya pecah?”  Kata petugas wanita itu kaget.


“Sudah kubilangkan, dia bukan anak biasa!  Lalu kalian tentu masih ingat dengan kejadian 10 tahun lalu di mana penculik yang menculiknya mati terkena tembakan di dadanya.”  Ucap petugas Dono disertai seringaian yang semakin lebar.


“Oh iya, itu aku juga baca di koran online N-NEC, katanya Kaiser merebut pistol di tangan penculiknya dan langsung menembakkannya di dada pelaku.”  Sanggah seorang petugas pria dan yang termuda di antara mereka yang sedari tadi diam.

__ADS_1


“Tidak ada sidik jari apa-apa di pistol.  Lagipula hal itu sudah dikonfirmasi oleh pihak Dewantara bahwa berita itu tidak benar.”  Kata polisi yang paling tua meluruskan.


“Yah tetap saja anak itu mencurigakan.”  Ucap Petugas Dono yang masih kekeh dan merasa pendapatnya-lah yang paling benar.


“Walaupun seandainya Kaiser menyembunyikan keahliannya.  Tetap saja tidak mungkin anak sebaik itu bisa melakukan perbuatan itu.  Dan lagi mustahil seorang anak SMA seberapa terlatihnya pun dia bisa membunuh 59 korban tanpa terluka sedikitpun.”  Kata petugas wanita itu yang juga tetap dengan keyakinannya.


“Bagaimana kamu bisa seyakin itu?  Apa kamu yakin mengenalnya dengan baik?”  Ucap Petugas Dono seraya menatap juniornya itu dengan sinis.


“Itu…”  Tampaknya Sang Petugas Wanita tak dapat mengeluarkan kata apapun untuk membalas ucapan Petugas Dono.


“Kembali ke topik.”  Yang mengeluarkan diri lebih dulu dari perdebatan panjang itu adalah Petugas Dono.


“Oleh karena itu, kita akan menyelundupkan junior kita ini, Fero, ke sekolah dan kelas yang sama dengan Kaiser untuk menginvestigasi Kaiser secara mendalam.  Sementara aku akan selalu mengawasinya di luar.  Bagaimana dengan itu Pak?”  Tanya Petugas Dono kepada Sang Polisi Tua yang adalah pimpinan tim itu.


“Bagaimana caranya?”  Tanya Sang Polisi Tua tampak penasaran.


“Fero akan didaftarkan sebagai siswa baru dengan bantuan Pak Sudarmono Putrawardhani.  Kami juga sudah menemukan orang dalam yang tepat untuk mendampingi Fero dalam menjalani misinya.  Dia tidak lain adalah Alicia Putrawardhani, satu-satunya keluarga yang selamat karena tidak berada di tempat kejadian.”


“Kalau begitu, laksanakan seperti itu.”


“Aku pasti akan menangkapmu Bocah!”  Suara pekikan sinis dapat terdengar semakin besar dan jelas di balik tawa petugas pria paruh baya kurus itu.


“Senior, harap ingat prinsip praduga tak bersalah dalam penyelidikan, dan ingat status Kaiser masih saksi dan bukan tersangka.  Harap perlakukan dia sebagaimana mestinya.”


Ucapan petugas wanita itu membuyarkan Petugas Dono dari lamunannya.  Dia kemudian menatap dengan jijik junior wanitanya itu.


“Kapten, sementara Petugas Dono dan Fero menyelidiki calon tersangka, biarkan saya dan Petugas Mono untuk sekali lagi menyelidiki para saksi di dekat tempat kejadian.”


“Ok.  Aku izinkan.”  Kata pria tua itu menyetujui permintaan Sang Petugas Wanita.


Dengan demikian, pembagian tugas di antara mereka berlima pun selesai.

__ADS_1


***


Kaiser berjalan dengan wajah yang nampak cerah dari kejauhan di salah satu koridor menuju ruang kelasnya.  Namun, Andika yang menghampirinya akhirnya mendapati bahwa ekspresi Kaiser nampak tidak biasa.  Walaupun bibirnya tersenyum, mata birunya tidak berkilau cerah seperti biasa.


[Yah, siapa juga yang tidak akan terpukul dengan gencarnya tuduhan tak berdasar media belakangan ini padanya.]  Gumam Andika dalam hati.


Pagi itu, tanpa didahului pernyataan resmi dari polisi, 3 di antara 5 statiun penyiaran televisi publik di Indonesia, mengumumkan Kaiser sebagai calon tersangka utama dalam kasus pembunuhan 59 orang di Kantor Sungsin Security termasuk Pak Widarno Putrawardhani selaku Direktur Kepala Pelaksana, istri, beserta anaknya Aleka Gebriansyah Putrawardhani.


[Apa mereka tidak punya akal?  Bagaimana bisa menuduh seorang anak SMA biasa melakukan pembunuhan sadis seperti itu?  Jelas-jelas tidak masuk akal!  Yah, walaupun sahabatku ini jika digolongkan antara normal dan tak normal memang tergolong yang tak normal, tapi sampai dituduh sebagai pembunuh.  Mereka sudah terlalu berlebihan.  Dan apa pula berbagai rekaman suara dan video itu?  Sampai-sampai membawa-bawa  kejadian trauma masa kecil sahabatku ini.  Orang-orang itu memang kejam. Ah, politik sangat menakutkan!]  Andika bergumam dalam hati dengan tetap berjalan di samping Kaiser seraya memperhatikannya.


Andika pun menatap Kaiser dari samping, seraya mengatakan, “Hei, mau bolos sekolah bersama?”


Kaiser balik menatap tatapan Andika.  Diapun menjawab, “Kalau aku melakukan hal seperti itu.  Kira-kira apa yang media akan lakukan?  ‘Setelah menjadi tersangka utama kasus pembunuhan calon pewaris generasi ketiga Dewantara Group lagi-lagi mempertontonkan tindakan bejatnya dengan bolos sekolah’, seperti itu?”


“Yah, benar-benar merepotkan ya!  Maaf, aku telah mengatakan hal yang tidak pantas.”  Andika mengatakannya seraya menundukkan kepala dan menghembuskan nafas pelan menyadari ketidakpatutan ucapannya itu.


Kaiser kemudian menatap Andika.  Perlahan rona matanya kembali sejuk dan bersinar bagai kilau air laut di musim panas.


“Terima kasih telah mengkhawatirkan aku dan tetap mengajak aku ngobrol seperti biasa.”


“Apa yang kamu katakan?  Tidak ada satupun di kelas kita yang percaya dengan berita sampah dari media milik si Vetsin itu.”  Ucap Andika tegas.


Sekedar selingan,  yang dimaksud Vetsin oleh Andika adalah Vet Tcin, ibu Rihana yang merupakan keturunan Thailand.  Setelah bercerai dengan suaminya yang merupakan orang Indonesia dengan alasan karena tidak tahan dengan suaminya yang sakit-sakitan karena penyakit leukemia, Vet Tcin tetap memutuskan untuk tinggal di Indonesia.  Kini dia telah menjabat sebagai kepala reporter di stasiun penyiaran TV milik N News and Entertainment, N-TV.  Adapun suaminya sudah meninggal 5 tahun lalu.


“Bukan begitu, Ratih and the gang?”  Ucap Andika meminta persetujuan atas perkataannya pada 3 orang gadis yang baru saja berpapasan dengannya yang mana mungkin mendengar pembicaraan mereka tadi.


Ketiga gadis itupun berbalik mendengar sapaan yang ditujukan kepada mereka.


“Ah, Kaiser”


“Oh my god!”

__ADS_1


“…”


Ketiga gadis itu menunjukkan ekspresi yang berbeda-beda.  Namun satu yang pasti, tak ada satupun dari mereka yang memperhatikan Andika.  Tatapan mereka semua tertuju pada Kaiser seraya muka mereka memerah.


__ADS_2