
Jam istirahat pertama kala itu di sekolahnya, Kaiser tak dapat melepaskan pikirannya dari Lu Shou. Dia mengingat kembali kejadian tadi pagi.
“Jadi, kamu akan balik ke China pagi ini?”
“Iya, aku sangat khawatir dengan kondisi ibuku dan Nyonya Besar pascakejadian itu. Aku titip Tante Melisa padamu, Kaiser.”
“Serahkan padaku. Hati-hatilah di jalan Kak Shou.”
“Kamu juga, jaga dirimu baik-baik, Kaiser.”
“Ada apa, Kaiser-kun? Wajahmu tampak rumit sekali.” Melihat Kaiser yang melamun cukup dalam, Airi yang duduk di sebelahnya pun menegurnya.
“Ah, Airi-san, maafkan aku karena melamun. Ada apa? Apa ada tempat yang mau kamu kunjungi di jam istirahat ini?
Mendengar jawaban Kaiser yang tampak setengah-setengah itu, mulut Airi berkedut tampak kesal. Dia pun membuang badannya di sandaran kursi.
“Sebenarnya banyak sekali tempat yang ingin aku kunjungi di sekolah ini bersamamu. Yakni setiap sudut di sekolah ini yang menjadi tempat favoritmu. Tapi, ya sudahlah. Itu bisa kapan-kapan. Yang lebih penting sekarang, kamu tampaknya tidak mood hari ini ya, Kaiser-kun? Ada masalah apa?” Tanya Airi seraya memperhatikan baik-baik ekspresi Kaiser.
“Ah, maafkan aku Airi-san. Aku terlalu menampakkannya ya? Hehehehe.” Kaiser pun tersenyum canggung atas komentar Airi.
“Ya, sangat tampak.” Jawab Airi seraya mengangguk-angguk.
Andika yang sedari tadi ada di depan mereka, mencuri dengar obrolan mereka. Andika pun turut nimbrung dalam obrolan tersebut.
“Itu karena Kaiser merasa canggung ke mana-mana sebab ada kamu yang selalu membuntutinya Perempuan Rubah. Coba jika pergi denganku, Kaiser pasti akan sangat senang.”
Mendengar ucapan Andika. Airi menggembungkan pipinya pertanda kesal. Andika pun menatapnya dengan ekspresi tertawa mengejek. Melihat tingkah tak sopan Andika itu, Kaiser lantas menghantam Andika dengan tepi telapak tangan kanannya lalu menatapnya dengan ekspresi marah. Andika pun menciut karenanya.
“Namanya Airi, panggil dia dengan benar.”
“Hehehehe.” Andika tertawa canggung mendengar Kaiser memarahinya.
__ADS_1
“Juga hal yang wajar bahwa Airi mengikutiku ke mana-mana soalnya dia adalah bodyguardku. Kenapa kamu sangat tidak suka padanya, Andika? Padahal jika bukan karena Airi, sahabatmu ini pasti sudah berada di dunia lain sekarang. Atau apakah kamu tidak suka karena aku baik-baik saja?” Kaiser mendesah pelan seraya mengatakannya.
“Maafkan aku, Kaiser. Aku tidak bermaksud seperti itu. Tentu aku senang kamu baik-baik saja.” Andika terlihat panik mengatakannya seraya menggeleng-gelengkan kedua tangannya di depan dadanya sebagai isyarat tidak.
Kaiser pun melipat tangannya di depan dadanya seraya menunjukkan ekspresi serius. Dia pun berkata, “Kalau begitu, berterima kasihlah dengan benar kepada Airi-san yang sudah menyelamatkan hidup sahabat berhargamu ini.”
“Aaaah.” Andika mendesah dengan ciri khasnya yang lucu.
“Baiklah, sesuai keinginanmu, Kaiser. Airi-san terima kasih telah menjaga sahabatku ini.” Andika pun menundukkan kepalanya kepada Airi seraya mengucapkannya.
Andika pun bertemu tatap dengan Airi. Airi tersenyum nakal pertanda kemenangannya. Melihat itu, Andika berkedut kesal.
“Hehehehe.” Namun, dengan tawa ceria Kaiser, Andika langsung melupakan kekesalannya itu dan hanya mendesah seraya tersenyum.
“Oh iya, Airi-san, apa kamu tahu alasan mengapa ayahmu juga menyuruhmu untuk melindungi Dios?”
“Sayangnya, aku tidak tahu. Aku juga penasaran dengan hal itu. Kaiser-kun, apa kamu tahu tentang identitas Dios?”
Kaiser menyatukan kedua telapak tangannya seraya menggesek-gesekkannya dengan pelan dan halus satu sama lain sambil menyandarkan kedua sikutnya di atas meja. Matanya nampak tenggelam dalam-dalam.
“Itu aku juga kurang ingat. Yang jelas, kami dari TK sudah sama-sama. Mungkin karena kami sama-sama kidal dan bermata biru, kami cepat saling tertarik satu sama lain. Oh iya, mungkin kamu sudah pernah mendengar berita tentang diriku itu sewaktu berusia 5 tahun kan, Andika?”
“Soal kasus penculikan itu di mana kamu dan dua orang temanmu juga turut diculik? Aku sempat nonton ulasan beritanya di NTV sekitar dua bulan lalu. Aku dengar penculiknya mati tertembak. Ah, tentu saja aku tidak mempercayai konten yang mengatakan bahwa kamu yang membunuh penculiknya, Kaiser.”
“Tentu saja bukan aku, Andika. Ingatanku juga samar waktu itu. Yang aku ingat, aku diseret oleh penculiknya yang sambil menodongkan pistolnya ke kepalaku. Aku bisa mengingat samar-samar wajah panik Dios dan Agni saat itu. Aku tidak tahu bagaimana lanjutannya. Aku menutup mataku karena ketakutan. Namun, ketika suara letusan peluru terdengar dan aku membuka mata kembali, penculik itu sudah bersimbah darah sambil terkapar di tanah di mana pistolnya masih ada di tangannya sendiri.”
“Ah, jadi dua orang yang bersamamu itu adalah Dios dan Senior Agni rupanya.” Komentar Andika.
“Ya, mungkin kejadian itulah yang menyatukan kami jadi dekat seperti sekarang ini.”
“Kamu masih ingat kronologis penculikanmu itu, Kaiser-kun? Misalnya terkait bagaimana penculik itu bisa menculik kalian atau di mana kalian diculik.” Kali ini giliran Agni yang berkomentar dengan pertanyaan.
__ADS_1
“Itulah yang aku tidak ingat. Tiap kali aku mencoba mengingat detilnya, kepalaku selalu pusing dan hidungku mengeluarkan darah.”
“Kamu tidak perlu lagi mengingatnya kalau begitu, Kaiser. Bukankah ada kejadian-kejadian masa lalu yang sebaiknya kita kubur dalam-dalam saja?” Andika mencoba memberikan nasihatnya kepada Kaiser.
“Bukankah itu sama saja lari dari kenyataan?” Jawab Kaiser dingin.
“Ugh, kamu benar juga, Kaiser. Tetapi selalu utamakan kesehatanmu ya, kawan.”
“Terima kasih, Andika.” Jawab Kaiser seraya melayangkan senyum ramahnya.
[Bagaimanapun, aku harus mengingatnya karena tampaknya kejadian ini menjadi kunci perubahan drastis hidupku.] Gumam Kaiser dalam hati.
“Oh iya, Kaiser. Bagaimana kalau sepulang sekolah nanti, kita kunjungi Dios bareng? Aku sudah lama tidak mengunjunginya. Terakhir kali aku mengunjunginya setahun lalu bersama Ratih sewaktu kamu masih menghilang dari ibukota.”
“Ide yang bagus, Andika. Ayo kita berempat ke sana.” Kaiser pun tersenyum menanggapi setuju ide Andika tersebut.
“Berempat? Aku, kamu, Si Rub…Airi-san, satunya lagi siapa?”
“Tentu saja dengan Agni seperti biasa. Ngomong-ngomong, Andika, minta maaf lagi gih sama Airi-san karena keceplosanmu barusan.” Ujar Kaiser seraya berdesah pelan.
“Ugh, maafkan aku, Kaiser.”
“Bukan ke aku…” Kaiser tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Kaiser akhirnya membiarkannya berlalu melihat Airi yang tersenyum nakal kepada Andika seraya Andika yang berkedut kesal menatap senyum itu.
[Mereka berdua selevel.] Gumam Kaiser dalam hati.
Sekolah pun berakhir. Mereka bertiga lantas menuju ke tempat parkir. Di sana, telah stand by Agni dan Pak Salman yang menunggu mereka.
“Tumben Tuan Muda tidak main dulu sebelum ke sana.”
“Hari ini spesial karena ada Andika yang juga akan menjenguk Dios. Lagipula jam 6 sore sebentar, dia ada les privat sehingga kami harus berangkat lebih awal.” Jawab Kaiser dengan santai sambil membaringkan dirinya di sandaran mobil bagian belakang tengah.
__ADS_1
Terdapat Agni di kursi samping sopir. Andika duduk di samping kanan Kaiser, sementara Airi ada di samping kirinya. Dengan demikian, mobil pun melaju menuju ke rumah sakit.