
“Yo! Kamu sudah siap kan?” Dengan seringai jahat di wajahnya sesosok pria berpakaian serbahitam dengan topeng pierot putih yang pecah bagian bawahnya masuk lewat jendela kamar Danial tersebut sembari memandang Danial yang terduduk di kasurnya dengan pandangan yang mengintimidasi.
“Aku bisa memegang janjimu kan? Jika aku melakukannya, kamu tidak akan pernah lagi menyentuh adik sepupuku.” Ucap Danial kepada sosok mencurigakan tersebut.
“Tentu saja.” Jawab sosok mencurigakan tersebut yang tidak lain adalah sang joker hitam sembari melebarkan senyumnya dengan intimidasi jahat.
Danial pun bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju ke arah sang joker hitam. Namun, sebelum sang joker hitam sempat membawa Danial pergi, sang suster yang selama ini merawat Danial tiba-tiba memasuki ruangan.
Sang suster seketika terkesiap begitu melihat sosok sang joker hitam yang sedang marak dibicarakan di televisi tersebut. Namun, dengan Whisper of Devil-nya, sang joker hitam segera melakukan mind control kepada sang suster dan membuat sang suster tertidur.
Akan tetapi, muncul keraguan di sanubari sang joker hitam. Dia kembali mengingat Kaiser yang sangat mirip dengan sosok adiknya sewaktu kecil. Terbersit kesedihan di hati yang penuh kegelapannya itu. Muncullah harapan di hati kecilnya itu agar Kaiser dapat membebaskannya dari siksaan dendamnya.
Entah dengan sadar atau tidak sadar, dia pun melemahkan intensitas Whisper of Devil-nya yang membuat sang suster tak sepenuhnya terkontrol. Dalam keadaan setengah sadar, sang suster pun menyaksikan Danial dibawa pergi oleh sang joker hitam.
***
“Apa semua ini karena ulah joker hitam?” Lirih Andika dengan penuh amarah yang terpendam, bertanya kepada Loki.
“Aku juga kurang tahu. Namun, aku melihat sosok kakak sepupu Kaiser di tempat kejadian dan juga jeli berbentuk Gellin. Kalian tahu kan? Anime jadul tahun 2000-an.” Jawab Loki terhadap pertanyaan Andika.
“Kalau begitu, aku juga harus ikut bersama kalian.” Dengan tatapan tegasnya kepada Loki, Andika membulatkan tekadnya.
“Tidak bisa. Orang biasa tidak boleh terlibat lebih jauh dengan masalah ini. Jika ini benar berkaitan dengan joker hitam, nyawa kamu juga akan dalam bahaya.” Namun, Fero segera berniat menghentikan tekad Andika tersebut.
“Lalu kamu sendiri dan Loki bagaimana? Kalian juga adalah siswa SMA biasa.” Kali ini, Andika megarahkan tatapan tegasnya kepada Fero.
“Oh, kamu belum tahu ya? Aku adalah intel yang menyamar ke sekolah kalian untuk menyelidiki kasus pembunuhan berantai joker hitam. Identitasku yang sebenarnya adalah seorang agen khusus kepolisan. Loki pun juga telah seringkali membantu pihak kepolisian dalam menyelidiki kasus baik yang biasa maupun yang tak wajar.”
__ADS_1
“Apa?” Andika tak dapat menahan keheranannya begitu mendengar jawaban tak terduga dari Fero tersebut.
“Walaupun demikian…”
“Tidak. Andika harus ikut. Dalam situasi terburuk, dia akan menjadi kuda hitam yang akan membalikkan keadaan.”
Belum sempat Andika menyelesaikan ucapannya, Loki segera memotongnya. Tetapi tanpa diduga Andika, itu justru adalah jawaban positif yang justru diharapkannya sehingga membuat matanya pun berbinar-binar senang.
Sesaat kemudian, panggilan telepon yang dibicarakan Loki pun benar-benar muncul. Kaiser segera mengangkat telepon itu. Baik Loki, Andika, maupun Fero, sama sekali tak dapat menangkap perubahan ekspresi apa-apa di wajah Kaiser tersebut.
“Anu, Kaiser…”
Andika pun mencoba untuk bertanya kepada Kaiser, namun Kaiser segera melakukan panggilan sekali lagi.
“Maaf, Senior. Bisa ke depan gerbang kelas 1 sekarang?” Hanya kata itulah yang sempat mereka dengarkan dari Kaiser.
Sampai ketika motor matic lusuh datang ke hadapan Kaiser, Kaiser segera mendorong pengemudi tersebut dan merebut motornya dengan paksa dan seketika menghilang ke jalan raya.
Zion yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menganga terheran di tempat itu.
“Maaf, Senior. Setelah ini, aku pasti akan mengganti rugi Senior.” Hanya kata itulah yang didengarkannya dari mulut Kaiser.
Dengan kepergian Kaiser itu, baik Andika, Loki, maupun Fero pun tak dapat menyembunyikan kepanikannya.
“Ah, sial! Apa yang sebenarnya dipikirkan olehnya?” Teriak Loki kesal.
“Tenang, Loki. Tidak biasanya kamu mengumpat seperti itu. Lebih baik kita segera ke RS Dewantara. Bukankah tadi kamu bilang kamu melihat kakak sepupu Kaiser yang menderita penyakit mental itu di penerawanganmu? Besar kemungkinan kalau Kaiser menuju ke RS Dewantara Group.”
__ADS_1
Setelah mendengarkan saran dari Fero tersebut, Andika, Loki, dan juga Fero pun segera menuju ke RS Dewantara Group, sementara Zion diminta oleh Loki untuk mengabarkan kepada asisten Kaiser, Agni, bahwa nyawa Kaiser sedang terancam sehingga bisa dengan segera menggunakan fasilitas keluarga Dewantara untuk melacak keberadaan Kaiser.
***
Dengan tangan yang masih gemetar akibat claustrophobia-nya, Kaiser keluar sendirian dari pintu lift di lantai delapan RS Dewantara Group itu. Secara kebetulan, dia berpapasan dengan Ratih di depan pintu yang sementara mendorong kursi roda Bu Melisa.
Melihat tingkah Kaiser yang sedikit tidak biasa, Ratih menghampirinya dengan khawatir, tetapi Kaiser segera tersenyum ramah dan mengatakan semuanya baik-baik saja. Kaiser pun melanjutkan perjalanannya menuju ke kamar Danial. Karena khawatir, Ratih sembari membawa Bu Melisa bersamanya, mengikuti Kaiser dari belakang.
Begitu pintu kamar nomor 808 itu dibuka, betapa kagetnya Ratih dan Bu Melisa ketika menemukan Bu Suster yang selama ini merawat Danial terbaring di lantai dengan keadaan lemah, sementara Danial sendiri tidak dapat ditemukan di manapun di dalam kamarnya. Adapun Kaiser sendiri, ekspresinya berubah menajam.
Diapun segera menghampiri sang bu suster sembari bertanya,
“Bu Suster, apakah ketika Kak Danial diculik, alat pelacak yang dipasangkan padanya masih ada?”
“Ya, Den Kaiser.” Jawab sang bu suster dengan nada lemah.
“Kalau begitu, di mana alat pendeteksi pelacaknya sekarang?”
“Ini, Aden.” Dengan tangan yang masih gemetar, sang bu suster mengambil sesuatu dari saku celananya kemudian menyerahkannya kepada Kaiser.
Kaiser lantas segera memapah sang bu suster ke tempat tidur di kamar Danial tersebut lalu meminta tolong kepada Ratih dan Bu Melisa untuk merawat sang bu suster sementara. Setelah itu, Kaiser pun meninggalkan tempat itu dengan ekspresi marah di wajahnya.
***
Hanya berselang 20 menit kemudian, rombongan Andika, Loki, dan Fero, tiba di tempat itu pula. Namun, batang hidung Kaiser sudah tak terlihat lagi di mana-mana. Di kamar Danial, mereka bertiga hanya menyaksikan sosok sang bu suster yang terbaring lemah bersama dengan Ratih dan Bu Melisa yang menjaganya.
Tanpa berpanjang lebar, Loki segera bertanya kepada Ratih tentang perihal keberadaan Kaiser. Namun, mereka harus segera menelan kekecewaan begitu mendapati bahwa Kaiser baru saja pergi dari tempat tersebut dan mereka sama sekali tidak pernah berpapasan dengannya di jalan.
__ADS_1
“Apa yang sebenarnya terjadi dengan Tuan Muda dan mengapa Senior Danial tidak berada di kamarnya?” Dengan ekspresi khawatir, Ratih pun bertanya dengan penuh kecemasan kepada mereka bertiga.