DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
83. Ada Apa dengan Novel-Novel Itu?


__ADS_3

Hari itu menjelang subuh.  Dono tampak terkulai lemas karena begadang.  Di mejanya penuh berserakan dengan novel-novel.  Dono terlihat membaca salah satu dari novel yang berserakan itu.  ‘Aku Terdampar di Dunia Paralel dan Tidak Bisa Pulang, Lalu Aku Membangun Kerajaanku Sendiri di Sini dari Nol’ Volume 4, judul novel tersebut.


Dono terlihat bagaikan ayam ketika malam hari.  Kepalanya mengangguk-angguk hampir jatuh ke lantai.  Matanya kadang-kadang tertutup dan kehilangan kesadarannya sejenak.  Dia benar-benar mengantuk.  Melihat hal itu, Mono mencoba menepuk pundaknya untuk menyadarkannya.


Dono tersentak.


“Hmmm?”  Dono pun menoleh ke belakang.


“Ada apa Mono?  Kamu ada perlu denganku?”  Tanya Dono seraya menguap.


“Tidak ada.  Hanya saja, kamu terlihat sangat letih.  Tidakkah sebaiknya kamu beristirahat sekarang?  Sebenarnya apa sih yang sedari tadi kamu lakukan?”  Ujar Mono seraya memperhatikan meja Dono yang penuh dengan novel-novel.


Tampak di mejanya berserakan banyak novel, tetapi sebenarnya hanya ada 2 judul novel di mejanya tersebut.  ‘Aku Terdampar di Dunia Paralel dan Tidak Bisa Pulang, Lalu Aku Membangun Kerajaanku Sendiri di Sini dari Nol’ Volume 1 – 16 dan Pembunuh Berantai Volume 1 – 14.  Ya, novel-novel kegemaran Kaiser.


“Untuk apa kamu membaca semua novel ini, Dono?”


“Oh, ini adalah novel-novel favorit bocah itu.  Siapa tahu saja ada petunjuk yang dapat kita peroleh dari novel-novel ini.”


“Kok kamu melakukannya sampai sejauh itu?  Apa itu memang perlu?”


“Bukankah di Jepang, banyak terjadi kasus-kasus kejahatan yang diilhami oleh light novel, manga, dan anime?  Terlihat sebagai hiburan, tetapi sebenarnya light novel, manga, dan anime sendiri adalah salah satu media hipnotisasi terampuh untuk mengubah pola pikir masyarakat.”


Dono terdiam sejenak sambil tersenyum sinis.  Dia pun melanjutkan,


“Dan!”


“Paaaak!”  Dono pun menepukkan kedua tangannya.


“Bagaimana jika isi light novel, manga, dan anime tersebut adalah sesuatu yang ekstrim seperti pembunuhan?”  Ujar Dono disertai dengan senyum jahat.


“Maksudmu Kaiser terpengaruh dengan isi novel-novel tersebut dan mencoba untuk mempraktikkannya dengan menjadi pembunuh berantai?”


“Tepat.”  Jawab Dono dengan senyum puas di wajahnya karena Mono memahami isi ucapannya.


“Kamu tahu, aku sudah membaca novel ‘Pembunuh Berantai’ ini sampai volume 5, dan kamu tahu apa isinya?”


“Apa itu?”  Tanya Mono penasaran.

__ADS_1


“Isinya tentang balas dendam seseorang dengan membunuh para pembuli-pembuli yang membuli sahabatnya dengan kejam sehingga tewas mengenaskan.  Tidakkah ini sangat sesuai dengan kondisi Kaiser dan sahabatnya Dios itu?”


“Dios belum meninggal…”


Belum sempat Mono menyelesaikan ucapannya, Dono lanjut menjelaskan,


“Kemudian ada novel yang berjudul ‘Aku Terdampar di Dunia Paralel dan Tidak Bisa Pulang, Lalu Aku Membangun Kerajaanku Sendiri di Sini dari Nol’ yang berisi tentang bagaimana seorang pemuda yang tidak senang dengan kondisi tempat dia tinggal, kemudian menggoda sang putri dan melakukan perbuatan heroik sehingga dia bisa menikahi sang putri dan naik tahta sebagai raja.  Dan kamu tahu apa yang dilakukannya setelah menjadi raja?”  Tanya Dono dengan senyum sinis di wajahnya.


“Apa itu?”


“Dia merekrut pengikut-pengikut berbakat dari rakyat jelata dan mendidiknya dengan pengetahuan yang dia bawa dari bumi untuk menjadi kaki tangannya yang andal.  Sampai sini tidak ada masalah, tetapi dia menjebak seluruh bangsawan yang menentangnya ke dalam suatu pertemuan, lantas mengeksekusi mereka di tempat tanpa ada satu pun yang tersisa.”


“Apa yang ingin kamu katakan, Dono?”


“Bisa saja Kaiser terpengaruh ide novel tersebut dan melakukan hal yang sama pada Aleka, Rihana, Araka, beserta keluarga mereka.  Dia mengeksekusi mereka karena dinilai tidak sesuai dengan tatanan dunia yang ingin dibentuknya?”


“Imajinasimu terlalu jauh Petugas Dono.  Kembali saja fokus pada pekerjaan yang diamanahkan Kapten padamu.”  Jawab Mono dengan ekspresi letih di wajahnya seakan kelimpungan dengan temannya yang berkhayal terlalu jauh itu.


“Lagipula kamu melupakan konteks bahwa Kaiser tidak punya kemampuan fisik untuk melakukannya serta tidak ada bukti transaksi apapun baik dirinya maupun keluarganya kepada agensi pembunuh profesional manapun.”  Tambah Mono.


“Ya, bisa saja desas-desus mengenai orang yang terbangkitkan itu benar adanya dan bocah itu adalah salah satunya?”


“Kamu sendiri bagaimana?  Sudah punya kabar mengenai keberadaan Jingmi?”  Kali ini, Dono yang bertanya kepada Mono.


“Sayangnya tidak ada petunjuk.  Kamu sendiri bagaimana?  Apakah selama mengawasi Silva, kamu sempat melihat keberadaannya?”


“Kalau aku melihatnya, tentu sudah kulaporkan pada Kapten Danielo.”  Jawab Dono dengan ekspresi seakan mengatakan ‘untuk apa kamu menanyakan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya’.


“Sebenarnya di mana Pak Sudarmin menyembunyikannya?  Satu-satunya tempat yang terpikirkan olehku saat ini hanyalah di kediamannya, tetapi kita sama sekali tidak ada cara untuk menemukan alasan masuk ke sana.”


“Haruskah aku membuat sensasi di depan rumahnya dan berpura-pura masuk dengan alasan mengejar pencuri atau semacamnya?”  Ujar Dono dengan ekspresi serius di wajahnya.


“Lakukanlah jika kamu ingin kehilangan pekerjaanmu.”  Jawab Mono datar.


“Ck!”  Mendengar ucapan Mono, Dono mendecakkan lidahnya seraya menyandarkan badannya yang letih di sandaran kursi.


“Kita dituntut untuk segera menyelesaikan kasus ini, tetapi kita bahkan tak dapat diberi kebebasan investigasi terhadap orang-orang yang mencurigakan.  Indonesia sungguh terlalu dalam memperlakukan pegawainya!”  Keluh Dono.

__ADS_1


***


Jumat itu, Kaiser yang ingin pulang berdua dengan Andika, perihal Beni dan Loki ada ekskul seperti biasanya di akhir jumat dan sabtu, tiba-tiba dicegat oleh Loki.


“Kaiser!”  Teriak Loki dari jauh seraya memanggil nama Kaiser.


“Loki?  Kamu bukannya ekskul karate hari ini?”  Tanya Kaiser dengan heran.


“Iya, itu sih iya, tetapi hari ini aku memutuskan untuk izin dulu dari ekskulku.  Yang lebih penting dari itu, yuk ikut bareng denganku hari ini ke sanggarku.”


“Kok tumben?”  Tanya Kaiser tampak heran.  Dia lantas melirik seseorang yang berada di samping Loki.  Dialah yang Kaiser dan Andika kenal sebagai Feriandro Putrawardhani.


“Geh, orang ini kenapa ada di sini?  Bukankah dia kerabat orang yang menghina Kaiser di TV publik itu sehingga sampai ditahan di kantor polisi?”  Andika yang sedari tadi ada di belakang Kaiser, turut menyuarakan pendapatnya.


“Hahahaha!  Kebetulan dia memohon agar juga bisa ikut bersamaku.”  Jawab Loki dengan tawa canggung.


“Baiklah Loki.  Aku sih tidak masalah.”  Jawab Kaiser dengan senyum ramahnya.


“Apanya yang tidak masalah Kaiser?  Dia itu orang yang dekat dengan orang yang hampir menjebakmu itu, si Alicia Putrawardhani.  Jelas-jelas ini mencurigakan.”  Ujar Andika tampak marah dengan keputusan ceroboh Kaiser.


“Kamu curiga pada Loki akan berbuat jahat padaku?  Dia itu teman kita, tidak mungkinlah ada hal-hal yang seperti itu.”


“Yah, kamu benar juga, Kaiser.  Tapi tetap saja mencurigakan.  Yosh!  Aku juga akan ikut bersama dengan kalian untuk menjagamu, Kaiser.”


“Triiiiit tuk tuk tuk Triiiiiit.”


Tiba-tiba nada dering telepon genggam Andika berbunyi dan Andika mengangkatnya.


“Tapi Ayah, apa harus hari ini?  Aku baru saja ingin pergi ke suatu tempat dengan Kaiser … Iya, baik Ayah.  Aku mengerti.  Aku akan segera ke sana.”


Andika lantas menatap Kaiser.


“Maafkan aku Bro.  Aku harus pergi karena ada urusan mendadak.  Bagaimana kalau kamu menghubungi Senior Agni sekarang untuk menemanimu ke sana?”


“Tidak perlu.  Aku yang akan menjamin keselamatan Kaiser.”  Jawab Loki dengan tegas.


“Hah.”  Kaiser pun mendesah.

__ADS_1


“Aku bukan anak kecil lagi, Andika.  Lagipula aku percaya pada Loki.  Tetapi, terima kasih telah mengkhawatirkanku, Sobat.”  Ujar Kaiser seraya melepaskan senyum cerahnya kepada Andika yang memperlihatkan gigi putih bersihnya yang sangat tertata rapi itu.


__ADS_2