
Malam itu, akhirnya Pak Arkias pulang ke kediaman Dewantara. Telah menunggu Bu Nana, Bu Dwinda, Kakek Ducias, dan Nenek Nafisah di dalam rumah tersebut dengan harap-harap cemas perihal perkembangan pencarian Kaiser dan Danial.
“Kak Arkias, bagaimana dengan pencarian Kaiser?”
“Sayang, apakah anak kita sudah ditemukan?”
“Cucuku, cukuku bagaimana?”
Begitu memasuki pintu rumah, Pak Arkias segera disambut oleh bertubi-tubi pertanyaan yang dilontarkan oleh Bu Nana, Bu Dwinda, dan Nenek Nafisah yang tampak begitu sangat khawatir.
“Tenanglah, orang-orang kita telah dikerahkan ke seluruh pelosok kota untuk mencari keberadaan mereka. Ngomong-ngomong, Lucias ke mana?” Pak Arkias pun berujar. Dia sembari melirik ke arah Kakek Ducias.
“Dia saat ini pergi bersama Agni untuk turut mencari keberadaan Kaiser dan Danial.” Jawab Kakek Ducias.
“Adik bodoh itu. Seharusnya di saat seperti ini, dia harus tetap tenang.” Mendengar hal itu, Pak Arkias pun mengumpat.
“Tidak bisa begini. Aku juga harus ikut mencari putraku.” Ujar Bu Nana dengan panik.
“Tidak bisa begitu, Nana. Kamu hanya akan membuatnya lebih kacau. Percayakan saja semuanya pada suami kita. Tugas kita adalah berdoa sembari menunggu di rumah untuk menjadi tempat pangkuan ketika putra-putra kita kembali.”
Bu Dwinda pun segera mencegat Bu Nana yang tampak akan melakukan sesuatu yang nekat. Namun, tampaknya Bu Dwinda pun tidak bisa lagi menahan air matanya. Mereka berdua pun berpelukan dalam tangis kecemasan terhadap putra-putra mereka.
***
Kita kembali ke kejadian minggu lalu. Tepatnya, setelah selesainya kunjungan kedua Jey ke kediaman Kaiser.
__ADS_1
Waktu itu, Kaiser segera menghubungi Aya, salah seorang seniornya yang berada di kelas yang sama dengan Agni. Bisa dibilang, bahwa Aya-lah orang pertama yang diketahui oleh Kaiser sebagai orang yang terbangkitkan sewaktu pertemuan mereka di masa-masa orientasi siswa Kaiser di SMA-nya sekaligus orang yang pertama kali memperkenalkan Kaiser terhadap dunia spiritual melalui kemampuan spesialnya, telepati.
Aya memiliki kekuatan yang memungkinkannya untuk dapat mengirimkan pesan kepada seseorang langsung melalui pikiran mereka, sekaligus membaca pikiran mereka. Mengetahui kekuatan spesial seniornya itu, Kaiser pun meminta tolong kepada Aya untuk membantunya dalam menyelidiki Jey.
Namun, hal itu tidaklah mudah, justru sebaliknya, sangatlah sulit, mengingat bahwa jika Jey benar adalah sang joker hitam, maka berdasarkan informasi dari Airi, dia kemungkinan adalah seorang spiritualis berlevel D, sementara Aya hanyalah spiritualis level E. Hampir tidak mungkin untuk menembus pertahanan spiritual seorang spiritualis level D hanya dengan level Aya saat itu.
Namun, ceritanya berbeda dengan keberadaan Andika. Kaiser sebelumnya telah mengonfirmasi melalui Loki tentang apa yang sebenarnya terjadi pada saat penyerangan Tirta di sekolah mereka ketika Tirta tiba-tiba tumbang begitu berada di dekat Andika. Menurut Loki, itu semua karena kekuatan penetralan milik Andika yang seketika menetralkan cakra milik Tirta.
Walaupun sebelumnya tidak yakin karena Andika bukanlah anak sindrom pelangi, setelah mendengarkan penjelasan Loki, Kaiser akhirnya mengetahui bahwa Andika juga telah terbangkitkan.
Selanjutnya, Kaiser pun berkonsultasi kepada Fero tentang keberadaan suatu alat yang sempat didengarnya dari desas-desus dunia bawah yang kemungkinan dimiliki oleh Divisi Kapten Maya, yakni suatu alat yang dapat mengaktifkan otomatis kekuatan spiritual tipe pendukung secara terus-menerus bagaikan sinyal antena dalam ranah tertentu.
Singkat cerita, Fero berhasil meminjam alat yang dimaksud oleh Kaiser dari divisi penanganan bencana tidak wajar tersebut. Semua potongan yang diperlukan pun terkumpul. Kaiser kemudian akhirnya memulai rencananya tepat di kunjungan keempat Jey ke kediamannya tersebut, tepatnya di hari Selasa, tanggal 24 Mei 2022 itu.
Tanpa tahu maksud dan tujuannya, Andika dengan patuh menuruti perkataan Kaiser untuk diam di suatu tempat tertentu sembari memegang suatu alat aneh dari Fero. Selebihnya, Fero-lah yang mengatur penggunaan alatnya.
Aya pun berhasil memperoleh potongan informasi tentang hubungan Jey dan Dios serta apa yang menjadi motif pembunuh sadis itu melakukan aksinya yang tidak lain adalah karena rasa amarah bercampur penyesalannya pada ketidakmampuannya melindungi adiknya tersebut.
Sayangnya, waktu itu Aya tidak mampu menemukan potongan pikiran Jey yang sedang merencanakan kejadian penculikan Danial yang terjadi di hari tersebut sehingga Kaiser pun tidak mampu menduga perkembangan yang seperti sekarang itu. Ataukah mungkin, penculikan Danial yang terjadi di hari tersebut memang merupakan rencana dadakan yang baru terpikirkan oleh Jey.
“Ayo, kita hentikan saja semua ini Kak Jey. Yang lebih penting sekarang adalah kesembuhan Dios. Selama ini Dios telah bertahan dari komanya selama lebih dari 2 tahun. Dios telah berusaha bertahan demi kita, maka kita juga harus merespon tekad tersebut dengan berupaya maksimal demi kesembuhannya.” Ucap Kaiser kepada Jey dengan intonasi suara yang agak ditinggikan.
Jey tampak diam dan tertunduk setelah mendengarkan ucapan Kaiser tersebut. Tak lama berselang, dia pun mengarahkan tatapan tajamnya kepada Kaiser.
“Memangnya siapa kamu, memangnya siapa kamu sampai bisa mengatakan sesuatu mewakili keinginan Dios!”
__ADS_1
Sambil berujar, Jey pun mencabut katana pendeknya dan mengarahkan serangannya kepada Kaiser. Namun, Loki dan Fero segera bekerjasama menangkis serangan tersebut.
“Andika! Sekarang waktunya! Aktifkan kekuatanmu!” Teriak Loki kepada Andika.
“Baik.” Sembari menjawab, Andika yang sementara memapah Danial yang pingsan pun mulai mengeluarkan aura hitam dari dalam tubuhnya. Seketika semua energi spiritual di dalam ranah aura hitam tersebut menghilang.
“Kamu tanpa kekuatan spiritualmu, hanyalah ahli pedang biasa. Kami bertiga cukup untuk mengalahkanmu.” Fero pun berujar mencoba memprovokasi Jey.
“Hahahahahaha.” Mendengar provokasi Fero itu, Jey pun tertawa keras.
“Lihatlah, bocah sok polos. Beginilah sifatmu yang sebenarnya. Kamu hanya selalu bersembunyi di belakang teman-temanmu dan berusaha mempertahankan pemikiranmu yang ideal itu. Memang begitulah ciri orang yang hipokrit sepertimu.” Ujar Jey sembari menatap tajam Kaiser.
“Ucapanmu untuk menyembuhkan Dios palingan hanya untuk menutupi rasa bersalahmu saja. Pada akhirnya, kamu tidak benar-benar peduli padanya.
Jey pun mengayunkan katananya kepada Loki, namun Loki mampu menangkisnya dengan pedangnya. Tetapi semua itu hanya untuk pengalihan. Apa yang sebenarnya diincarnya adalah Fero. Dia pun memberikan tendangan keras tepat ke perut Fero yang lengah karena terlalu memperhatikan pertahanan bagian atas tubuhnya.
“Aaakhhh!” Air liur Fero pun tumpah dan dia terpental ke dinding.
Jey lantas memberikan serangan bertubi-tubinya kepada Loki sehingga Loki terpukul mundur. Melihat itu, Kaiser tidak tinggal diam. Dia segera memberikan dukungannya kepada Loki. Dia mencabut dagger-nya kemudian ikut menyerang Jey.
Untuk sesaat, serangan kombinasi Kaiser dan Loki mampu menyeimbangi pergerakan serangan Jey. Namun kemudian, Jey meningkatkan kecepatan serangannya yang membuat Kaiser dan Loki takluk dan terhempas ke lantai.
“Mengapa, mengapa kamu begitu cepat menyerah? Padahal masih ada peluang kalau Dios masih bisa terselamatkan.” Dengan darah mengalir lewat mulut dan hidungnya, Kaiser menguatkan dirinya untuk mengucapkan kalimat tersebut.
“Bukankah sudah kubilang! Tidak ada satu pun kasus sampai saat ini bahwa orang yang cedera otak akibat kekuatan spiritual, mampu sembuh dengan normal. Jika mereka berhasil sembuh, jika tidak lumpuh, mereka hanya akan menjadi orang idiot. Apakah kamu berpikir Dios akan sanggup melewati hidup dengan memalukan seperti itu?!” Teriak Jey marah kepada Kaiser.
__ADS_1
“Maka mari kita buat keajaiban yang pertama tersebut. Mari kita sembuhkan Dios kembali normal seperti sedia kala.” Ujar Kaiser yang walaupun terlihat sekarat, tatapan matanya tampak sama sekali tidak menyerah.