DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
128. Arti Sosok Airi Bagi Kaiser


__ADS_3

“Ah, Ibu, Ayah.”  Kaiser yang baru saja kedapatan melompat dari atas pagar setinggi 4 meter oleh kedua orang tuanya, tak dapat menyembunyikan kepanikannya.


Bu Nana pun segera turun dari mobil lantas memeluk Kaiser dengan erat.


“Kaiser!  Kamu baik-baik saja, Nak?  Kenapa kamu bisa berada di tempat berbahaya seperti itu?”  Ujar Bu Nana khawatir seraya memeluk dan membelai pundak putranya itu.


Kaiser yang merasa canggung kemudian memalingkan wajahnya dengan perasaan bersalah pada tatapan khawatir ibunya tersebut.


“Maafkan aku Bu.  Kaiser tidak bisa berpikir jernih.  Melihat banyak wartawan di gerbang, Kaiser tanpa pikir panjang melompati pagar demi menghindari mereka.”  Jawab Kaiser canggung.


“Tapi itu pagar dinding setinggi 4 meter lho Nak!”  Pak Lucias pun ikut berkomentar pada tindakan berbahaya putranya itu.


“Gini, Ayah.  Itu bukan sesuatu yang sulit kok soalnya Kaiser sudah terbiasa berlatih sama Kakek Jun sewaktu Kaiser tinggal sementara di Jepang.”


“Duh, Ayah, padahal bilangnya hanya mengajari cucunya teknik-teknik samurai pemula saja untuk sekadar melindungi diri.”  Ujar Bu Nana kesal pada ayahnya itu karena telah mengajarkan putranya hal yang terlalu berbahaya.


“Ibu, ini memang hanyalah teknik pemula di dojo Kakek kok Bu.”


“Tuan Muda!”  Belum sempat Bu Nana mengomentari perkataan putranya lagi, Agni tiba dari belakang sambil menyapa Kaiser.


Diapun memberi hormat kepada Pak Lucias dan Bu Nana dengan membungkukkan badannya, tetapi Bu Nana segera menghentikan sikap terlalu formal Agni itu dengan senyum ramah di wajahnya yang awet muda itu.


“Maaf Bu, Yah, Kaiser buru-buru harus menjenguk Airi di rumah sakit.  Kita ke sana saja sekarang sambil mengobrolkan sisanya di perjalanan.”


Seraya Kaiser mengatakan hal tersebut, mereka berlima pun, termasuk supir mereka Pak Salman, segera menuju ke RS Dewantara Group.


***


Sesampainya di rumah sakit di kamar VIP nomor 815 lantai delapan tersebut, tanpa membuang-buang waktu, Kaiser segera berlari menghampiri Airi yang sedang terbaring.  Airi pun menyambut pemuda naif itu dengan senyum syahdu di wajahnya.


Kaiser tampak meneteskan air mata, sementara Airi mengusap kepala pemuda itu dengan lembut.  Terlihat mood Airi seketika berubah menjadi cerah, begitu Kaiser beserta rombongan menjenguknya.


“Maafkan aku Airi-san.  Karenaku, kondisimu jadi seperti ini.”  Ujar Kaiser dengan isak tangis.


“Apa yang kamu katakan Kaiser-kun?  Kondisiku begini karena aku lemah sehingga kalah dalam pertarungan.”  Jawab Airi seraya tetap mengusap rambut halus pemuda itu sambil tersenyum lembut.

__ADS_1


“Aku berjanji akan membuat si joker hitam itu merasakan akibatnya karena telah mengganggu kakak yang baik hati seperti Airi-san.”  Ujar Kaiser dengan penuh tekad.


“Memangnya apa yang bisa pemuda lemah seperti kamu perbuat?”  Airi pun segera menyanggah ucapan Kaiser dengan sedikit menunjukkan kedutan di sudut mulutnya sambil tetap mengusap-usap rambut pemuda itu kali ini dengan lebih cepat dan keras.


“Airi-san terlalu meremehkanku ya!  Lihat saja, Airi-san, aku akan berlatih dan menjadi lebih kuat.”


Airi pun kembali tersenyum lembut begitu mendengar Kaiser mengucapkan hal itu.


“Terkadang, aku sedikit kesal karena terlahir sebagai anak bungsu.  Mungkin, beginilah rasanya jika punya Adik.”  Lirih Airi seraya menatap Kaiser dengan tatapan yang penuh arti.


Kaiser sejenak terkesiap dengan tatapan penuh arti dari Airi tersebut.


“Kaiser sebagai anak tunggal, terkadang juga merindukan figur seorang kakak seperti Airi-san.  Yah, aku punya kakak sepupu sih.  Tapi ketimbang menjadi kakak, dia lebih seperti adik besarku.”


“Kak Jeynal, Kak Jeynal.”


[Ukh, ingatan apa barusan?]  Gumam Kaiser yang seketika terjatuh tampak lunglai padahal baru saja dia tampak vit mengobrol dengan Airi.


“Nak?  Kamu kenapa Nak?”  Bu Nana pun segera menggapai putranya itu.  Betapa kagetnya dia begitu mendapati untuk ke sekian kalinya belakangan ini, putranya secara tiba-tiba mimisan dan menjadi lemas.


“Kaiser?”


“Tuan Muda.”


“Ah, Kaiser-kun!”


Sontak, ruangan itu menjadi riuh karena kepanikan mereka dengan kondisi Kaiser yang selalu saja tiba-tiba memburuk itu sejak munculnya pembunuh berantai joker hitam.


***


Tampak pada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi, namun masih dalam kecepatan yang wajar, Pak Arkias duduk di belakang dengan tetap mengenakan sabuk pengaman, di mana di depannya ada supirnya serta asisten setianya, Pak Astra.


“Bodyguard-bodyguard nggak guna itu!  Mengapa mereka malah mundur ketika anak sialan itu hampir saja membunuh keponakanku?  Walaupun itu perintah Kaiser, seharusnya mereka tetap ngotot melindunginya karena itulah pekerjaan mereka.  Mereka kan dibayar untuk melindungi keponakanku!  Huh, kenyataannya hanya tiga saja dari mereka yang benar-benar berguna.”


Ujar Pak Arkias kesal dengan ketidakprofesionalan para bodyguard yang disewanya untuk melindungi Kaiser.

__ADS_1


“Namun, berkat itu, Tuan, jumlah korban dapat diminimalkan sehingga biaya kompensasi yang harus kita keluarkan buat keluarga korban tidak terlalu besar.”  Pak Astra pun mencoba memberikan pendapatnya dari sudut pandang lain untuk menenangkan hati majikannya itu.


“Puk!”  Pak Arkias lantas memukul sandaran kursi yang empuk itu.


“Memang siapa yang peduli dengan uang di situasi seperti sekarang ini!  Apa gunanya semua uang-uang itu jika Kaiser sampai kenapa-kenapa?!  Juga orang-orang yang tidak tahu terima kasih itu.  Setelah apa yang ayahku lakukan untuk menampung mereka setelah perusahaan mereka bangkrut akibat bencana krisis moneter 1998.  Keluarga apanya?!  Bagiku mereka tidak ubahnya seperti lintah.”


Pak Arkias lantas merebahkan kepalanya ke sandaran kursi.  Tampak dia stres dengan masalah yang menerjang perusahaannya, baik dari luar maupun dari dalam internal Dewantara Group itu sendiri.


“Andai kondisi Danial tidak seperti itu, dia pasti yang menggantikan posisiku menjadi pewaris.  Sayang mental anak itu terlalu lemah sehingga adik sepupunya-lah yang harus menanggung semua ini seorang diri.”


“Di situasi ini, kita harus tetap tenang, Tuan.  Apapun yang mereka lakukan, dengan karisma Tuan Muda Kaiser, mereka mustahil mampu menyingkirkan Tuan Muda Kaiser sebagai pewaris sah Dewantara Group.”  Sekali lagi Pak Astra berujar untuk menenangkan hati majikannya tersebut.


‘Oh iya, ngomong-ngomong, bagaimana dengan anak yang menyelamatkan Kaiser itu?”


“Oh, Wilda.  Sayangnya, anak buah yang kita kirimkan untuk mengecek kediamannya, pulang dengan tangan hampa.  Entah dia tidak ada di rumah ataukah tidak mendengarkan suara pintu yang berkali-kali diketuk-ketuk.”


Pak Arkias nampak khawatir sejenak.


“Terus, mereka pulang begitu saja?!  Bagaimana jika sampai ada apa-apa dengannya?  Bagaimana jika dia menyembunyikan lukanya pasca menyelamatkan Kaiser dan sekarang dalam kondisi kritis sendirian di rumahnya?  Bukankah kamu bilang jika dia tinggal sendirian?!”


Ujar Pak Arkias sambil membentak.  Tampaknya dia mulai menaruh simpatinya pada Wilda setelah menyelamatkan keponakan tersayangnya itu.


“Kalau Tuan khawatir, aku akan segera memerintahkan para anak buah Tuan untuk mengecek keadaannya di dalam.”


“Lakukan seperti itu.”


“Baik, Tuan.”


Dengan perintah Pak Arkias, Pak Astra pun segera memberi instruksi baru kepada para anak buah tersebut.


“Kita sudah sampai, Tuan.”


Tidak lama waktu berselang, Pak Arkias dan rombongannya akhirnya tiba di tempat tujuan mereka, rumah sakit Dewantara Group.


***

__ADS_1


Pintu kamar di mana Airi dirawat sekali lagi terbuka.  Kali ini pengunjungnya tidak lain adalah Pak Arkias bersama dengan asisten setianya, Pak Astra.  Namun, pemandangan pertama yang justru didapatinya di ruangan itu adalah Kaiser yang terkulai lemas.


“Kaiser?  Apa yang sebenarnya terjadi?”  Pak Arkias yang keheranan dengan perkembangan situasi tersebut segera turut menghampiri Kaiser.


__ADS_2