
Kenangan berharga milik Araka 6 tahun yang lalu. Pahlawan yang menyelamatkannya dari pembulian. Seandainya pahlawannya itu tidak datang menyelamatkannya, dia pasti sudah ditelanjangi dan diikat di bawah pohon dan hidup trauma menanggung malu akibatnya.
Pada tahun 2013, tayang suatu anime Jepang yang berjudul ‘The Crow Gangster’. Anime yang banyak digemari oleh anak-anak termasuk di Indonesia, sekaligus anime yang banyak merusak mental anak dengan berbagai tontonan pembulian. Tahun 2013 itu juga adalah era di mana smartphone sudah umum dimiliki oleh masyarakat sehingga tiap individu termasuk anak di bawah umur sudah bisa mengakses internet dengan mudah.
Ada suatu adegan di anime berjudul ‘The Crow Gangster’ itu yang paling sering dicontoh oleh anak-anak dari SD, SMP, maupun SMA dalam membuli kala itu yakni adegan di mana para gangster akan menelanjangi target buliannya dan mengikatnya di bawah pohon. Hal itu banyak dipraktikan dalam pembulian di sekolah kala itu yang telah menyebabkan rusaknya mental banyak korban bulian karena merasa malu telah dipertontonkan auratnya di muka umum. Hal ini terus berlanjut dan butuh waktu sampai 5 tahun yakni tahun 2018 untuk pemerintah dapat mengeluarkan undang-undang untuk menanggapi serius akan hal ini.
“Kenapa kamu menyelamatkan anak yang dibuli itu? Kamu kan bisa saja mengabaikannya.” Tanya Araka pada Kaiser.
“Karena aku kuat tentu saja.” Jawab Kaiser seraya mengacungkan tinju di tangan kirinya sambil menatap Araka dengan senyum jahat di wajahnya.
“Hanya karena hal itu?”
“Yah, karena aku punya kekuatan, makanya aku bisa membantu anak itu sehingga tentunya aku lakukan karena aku tidak suka dunia di mana orang yang kuat menindas yang lemah, yang kaya menindas yang miskin. Aku ingin mewujudkan dunia di mana setiap orang dapat tersenyum bersama-sama tanpa mempersoalkan perbedaan.” Kaiser lanjut menjelaskan lantas menatap sekali lagi Araka.
Araka yang tanpa ekspresi setelah mendengar ucapannya, membuat Kaiser jadi salah tingkah.
“Ehem.” Kaiser lantas berdehem dengan tangan kanan dengan posisi tinju didekatkan ke mulutnya.
“Aku juga tahu itu kekanak-kanakkan. Aku juga merasa mustahil untuk mengubah seluruh dunia menjadi ideal seperti itu. Tapi setidaknya aku yakin bahwa aku bisa mengubah dunia di sekitarku dengan dukungan teman-temanku.” Lanjut Kaiser menjelaskan dengan muka memerah.
“Kamu memang anak baik ya, Kaiser. Semoga kamu bisa mewujudkan impianmu itu. Aku juga sangat menantikan untuk melihatnya.” Ucap Araka dengan senyum cerah di wajahnya. Ini pertama kalinya Kaiser melihat seniornya yang jahat itu tersenyum secerah itu.
__ADS_1
Araka kagum pada pahlawan yang telah menyelamatkannya dulu itu. Dibanding Dirga yang tengil, Kaiser memang lebih cocok dengan image pahlawan itu. Araka menjadi malu sendiri bagaimana bisa dia salah menduga bahwa pahlawan yang telah menyelamatkannya itu adalah Dirga, temannya yang egois yang sudah pasti langsung lari ketika menemukan lawan yang lebih kuat hanya karena warna mata mereka sama-sama biru. Dia sebenarnya sangat ingin mengungkapkan bahwa sebenarnya dialah anak gendut yang dia selamatkan waktu itu, tetapi akhirnya dia putuskan untuk tetap disimpannya sebagai rahasia. Tanpa terasa mata Araka berkaca-kaca dan meneteskan air mata.
“Geh, Senior kenapa?” Kaiser pun bertanya melihat Araka yang tiba-tiba menangis.
Araka segera melap air matanya dengan bagian belakang lengan kanannya.
“Aku hanya kagum padamu Kaiser. Kini aku bisa mengerti mengapa Ratih mengikutimu.”
“Apa maksudmu?”
“Bukan apa-apa. Kalau begitu aku balik dulu ya Kaiser. Tampaknya aku tidak bisa menahan lagi kantukku. Hoaaaam.” Ujar Araka yang menguap seraya berjalan kembali ke jalan setapak yang dia lalui tadi. Dia memutuskan untuk membatalkan niatnya ke pasar malam karena suasana hatinya kini telah membaik berkat bertemu dengan Kaiser.
“Oh iya, Kaiser. Kamu harus lebih berhati-hati pada Tirta. Ada kemungkinan dia yang menyebabkan Dios menjadi koma sampai sekarang. Dan dia juga sangat membencimu karena suatu hal. Waspadalah jika kamu berada di dekatnya.”
“Senior Tirta Wahyunusa? Sungguh aneh dia membenciku padahal akupun sama sekali belum pernah mengobrol dengannya. Apakah lagi-lagi karena aku berteman dengan Dios?” Tanya Kaiser dengan sentuhan sentimen di tiap kata-katanya.
“Tidak. Bukan itu. Aku juga tidak terlalu mendapatkan banyak info dari penyelidikanku. Tetapi sepertinya dia menaruh kompleksitas keirian padamu karena dia memandangmu sebagai sosok yang sempurna yang dia tidak ingin eksis di dunia ini. Jadi dia berniat menghancurkanmu.”
Kaiser tidak berkata apa-apa untuk menanggapi ucapan seniornya itu. Dia hanya diam. Ekspresi Kaiser berubah rumit.
“Itu saja yang ingin aku sampaikan. Aku pamit dulu Kaiser.” Setelah selesai dengan ucapannya itu, Araka pun pergi meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Kaiser yang sendirian di sana pun, duduk di teras bangunan itu di mana kedua kakinya dijulurkan ke bawah di tempat sandal. Dia meremas tangannya seraya mengucapkan dengan pelan namun dapat tertangkap kemarahan di balik tiap kata-katanya itu, “Aku sangat membencimu Senior. Oleh karena itu, jangan sampai mati.”
***
“Tampaknya, kamu ikut bersenang-senang di tempat ini ya, Sayang.” Goda Bu Nana pada suami tersayangnya itu yang datang menghampiri suaminya yang sedang duduk sendiri sambil tersenyum-senyum sendiri menikmati malam berbintang dengan ditemani segelas cangkir kopi susu di teras lantai 1 di rumah ibunya itu.
“Yah, soalnya ada Bu Nafisah di sini. Dia sangat baik padaku. Aku yang telah kehilangan ibuku sejak dilahirkan mendapatkan oasisku lewat sosok ibumu itu.” Jawab Pak Lucias dengan sentimental atas pernyataan istrinya itu.
“Sama dong denganku sayang. Aku juga dari kecil tidak dapat memperoleh figur ayah dari ayah kandungku karena hidup terpisah setelah cerai dengan ibuku dan memutuskan untuk kembali menjadi ateis. Aku beberapa kali pernah mengunjungi Beliau, tetapi dibandingkan sosok ayah, dia hampir bagaikan hanya orang lain bagiku. Tapi kehadiran ayahmu yang pertama kali kutemui sebagai bosku di tempat kerja telah menggantikannya mengisi peran itu.” Ujar Bu Nana seraya memeluk suaminya itu dari belakang dengan hangat.
“Apakah kita sudah menjadi orang tua yang baik bagi putra kita, Kaiser?” Tanya Pak Lucias pada istrinya dengan sekali lagi sentimental.
“Entahlah Sayang. Namun bukan berarti kita dapat mengabaikan pekerjaan kita. Karena hal itu juga demi masa depan putra kita. Dengan kekayaan dan kekuasaan yang kita pupuk, jalan putra kita ketika terjun di dunia dewasa dapat berjalan lebih mulus tanpa hambatan. Daripada mengkhawatirkan itu, bukankah sebaiknya kita berikan putra kita perhatian selama waktu yang kita bisa ini?” Jawab Bu Nana pada pertanyaan suaminya dengan bijak.
“Kamu benar juga ya, Sayang. Omong-omong, bukankah waktu kejadian Kaiser terkunci di gudang, dia juga sempat kemari bersama Dios untuk menenangkan suasana hatinya?”
“Kamu benar. Ada kejadian seperti itu. Aku sama sekali tidak menduga kalau orang tua Kak Dwinda, istri kakakmu itu bisa memperlakukan putra kita sekejam itu. Dan yang lebih buruk lagi bahwa para pembantu tidak dapat melaporkan hal itu kepada kita karena tidak tahu nomor yang kita pakai di luar negeri saat itu. Bahkan, justru orang yang kita titipkan nomor kita untuk menghubungi kita ketika ada masalah di rumah, justru merekalah yang membuat masalah. Kaiser juga tidak dapat menghubungi kita untuk meminta pertolongan lantaran HPnya ada di kamarnya kala itu ketika dia dikunci di gudang.” Ujar Bu Nana dengan kesal.
“Setelah kejadian itu, kita jadi lebih memperhatikan putra kita. Kita juga mulai mempekerjakan Agni, anak salah satu asisten rumah tangga kita yang umurnya dekat dengan putra kita, sebagai asisten putra kita itu. Kita bahkan melatihnya pada master beladiri untuk bisa ilmu beladiri agar dapat sekaligus menjadi bodyguard putra kita sewaktu-waktu jika diperlukan.” Ujar Pak Lucias dengan nostalgia disertai sedikit raut sendu di wajahnya.
“Sebagai orang tua, apakah kita sudah melakukan peran kita dengan baik untuknya?” Tutur Pak Lucias sekali lagi seraya tertunduk dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1