
Pagi itu, Araka sedang jogging seperti biasanya. Tiba-tiba di depannya, dia disambut oleh Dirga dari persimpangan jalan.
“Wah, santai sekali kamu ya padahal dua orang teman kita baru saja meninggal. Apalagi mereka adalah orang-orang yang sangat dekat denganmu, terutama Rihana. Bukankah kalian pernah berkencan?” Ucap Dirga seraya tersenyum sinis kepada Araka.
“Yah, kamu memang benar. Aleka adalah relasi pertama yang kudapatkan sejak aku membangun kekuatanku untuk menjadi pewaris ayahku. Walaupun sedikit bodoh, dia adalah anak buahku yang paling dapat aku andalkan. Tentu saja aku sangat sedih kehilangannya.” Ucap Araka dengan ekspresi sedih.
Dia lantas tersenyum kecut seraya mengatakan, “Tapi untuk Rihana, memang benar kami beberapa kali sempat berkencan karena kebetulan bodynya saja yang sesuai tipeku. Kamu tahu, aku suka perempuan dengan tulang selangka yang kurus. Namun, sebenarnya tidak ada respek sama sekali aku padanya. Aku mendekatinya semata-mata untuk memanfaatkan keahliannya dalam memanipulasi berita untuk mendukung kekuatanku menjadi pewaris ayahku saja. Bahkan jika dipilih antara suka atau tidak suka, aku cenderung ke arah lebih tidak suka padanya. Siapa yang tahu kapan perempuan ular seperti itu akan menusukku dari belakang. Yah, namun sekarang itu tidak penting lagi karena dia sudah meninggal.”
Mendengar jawaban Araka, Dirga lantas ikut tersenyum kecut. “Memang seperti itulah kamu. Sama sekali tidak ada yang berubah.” Ucap Dirga.
Dirga lantas berbalik dan berjalan ke arah jalan sebelah kanan tempat dia datang, berlawanan arah dengan arah di mana Araka berada. Sebelum Dirga menghilang dari pandangan Araka, Dirga sekali berucap, kali ini dengan suara yang lantang, “Sebaiknya kamu hati-hati Araka! Bisa saja berikutnya kamu yang diincar oleh Si Pembunuh Berantai. Oh iya, apa-apaan dengan handuk lusuh di lengan kirimu itu? Bukankah kamu sudah memakainya sejak SD? Tidakkah sebaiknya kamu buang saja handuk lusuh itu ke tempat sampah?” Di perkataannya setengah terakhir, Dirga mengucapkannya sambil nyengir, meledek Araka.
Araka marah pada perkataan Dirga. Bukan di bagian di mana Araka diincar oleh pembunuh berantai, melainkan di bagian Dirga menghina handuk lusuhnya. Araka marah karena hanya dia seorang yang mengingat kenangan berharga semasa kecil itu dulu. Sementara Dirga bahkan sama sekali tak mengingatnya.
Kenangan itu terjadi beberapa hari sebelum ibunya mengalami peristiwa tragis itu. Waktu itu adalah libur akhir semester genap di mana Araka baru saja lulus dari kelas 4 SD dan akan segera naik ke kelas 5 SD. Dia dan Dirga berlibur di salah satu penginapan semimewah milik keluarga Dirga di salah satu perkampungan yang berlokasi di daerah Jawa Barat.
Mereka berpetualang mengelilingi lokasi yang asri itu yang dipenuhi oleh keindahan alam berupa pohon-pohon rindang dan danau yang biru. Tanpa sengaja, Araka terpisah dengan Dirga.
Karena badan Araka yang kala itu masih gendut, tidak butuh waktu lama bagi anak yang sedang tersasar itu didatangi oleh sekelompok anak-anak SMP yang jahat untuk membulinya.
__ADS_1
“Lihat siapa ini?” Ujar pembuli 1.
“Wah ada babi. Hahahaha.” Tambah pembuli 2.
Sekelompok anak-anak SMP itupun yang berjumlah 9 orang mengejek-ejek Araka seraya melayangkan tangan dan kaki mereka satu-persatu kepada Araka. Salah satu anak kemudian menarik celana Araka ingin menelanjanginya. Tetapi Araka mempertahankan kuat-kuat celananya itu agar tidak dilepaskan. Si pembuli pun marah, kemudian sekali lagi menghajar Araka dengan keras.
Araka tersungkur di tanah dengan posisi belakang kepalanya yang mengenai tanah. Mendadak pandangan Araka memburam pertanda dia akan segera kehilangan kesadaran.
Sebelum kesadarannya menghilang, dia sempat melihat seorang anak tiba-tiba berlari di depannya dan menghajar kesembilan anak SMP itu. Anak itu berbalik padanya. Warna mata yang biru cerah secerah langit bersinar di mata anak itu. Dengan ciri yang menonjol itu, dia langsung bisa menduga bahwa dia adalah Dirga.
Anak itu kemudian berucap, “Jangan tampakkan kelemahan di hadapan mereka yang membuat mereka bisa leluasa membulimu. Jadilah anak yang kuat.”
Kata-kata itulah yang sampai kini membekas di dalam sanubari Araka. Hanya saja interpretasi Araka berbeda dengan maksud ucapan anak itu. Anak itu berharap bahwa Araka harus memperbaiki kelemahan dirinya dan menjadi kuat agar dapat membela dirinya sendiri sekaligus juga dapat membela anak-anak lain yang terbuli seperti dirinya dulu.
Namun, Araka menginterpretasikannya sebagai kaum kelas tinggi seperti kita tidak boleh menaruh simpati pada kaum kelas rendah karena ketika mereka melihat kelemahan kita, mereka tidak akan segan-segan membuli kita. Oleh karena itu, kita harus senantiasa dapat menunjukkan kekuasaan kita pada mereka dengan senantiasa membuat mereka sadar di mana tempat mereka.
Araka yang tersadar kemudian, telah mendapati dirinya terbaring di salah satu bangunan bekas masjid di atas bukit yang kini tidak terpakai lagi. Di atas wajahnya, didapatinya sebuah handuk biru muda seperti warna mata anak itu dengan sulaman benang merah di atasnya yang bertuliskan kata ‘tekad’.
Peristiwa itulah yang pada akhirnya mengilhami Araka untuk dapat melangkah maju melawan ketidakberdayaannya. Dia bertekad untuk mengubah dirinya menjadi lebih kuat.
__ADS_1
Dengan peristiwa tragis yang dialami oleh ibunya, tekadnya itu pun menjadi semakin tajam. Araka menjadi rajin olahraga. Diapun mulai berdiet untuk menurunkan berat badannya hingga sampailah pada postur tubuhnya yang ideal seperti sekarang. Dia juga mulai belajar ilmu beladiri termasuk martial art dari keluarga ayahnya. Itu tidak lain adalah untuk membuatnya kuat. Tidak lupa, dia juga belajar berbagai ilmu pengetahuan dan berbagai keterampilan bahasa agar sama sekali tidak ada celah untuk menjadi individu yang sempurna impiannya itu.
Araka kembali melanjutkan joggingnya setelah berpapasan dengan Dirga.
Tiba-tiba, insting Araka mendeteksi hawa membunuh yang sangat kuat di dekatnya. Dia kemudian melihat ke sekeliling untuk mengamati hal-hal yang tidak beres, tetapi tidak ada satupun kejanggalan yang ditemuinya. Dia pun akhirnya menyudahi joggingnya dan bergegas pulang ke rumah.
Begitu akan memasuki pintu rumah, sekali lagi dia merasakan hawa membunuh itu. Dia kembali melihat sekeliling, tetapi kali inipun dia tetap tak dapat menemukan satupun kejanggalan. Diapun membuka pintu dan masuk ke rumahnya.
Di dalam rumah, Araka telah disambut oleh ibunya dengan hangat dari atas kursi rodanya. Ibunya tersenyum kepadanya. Araka membalasnya dengan ikut tersenyum pula.
Sang Ibu kemudian mendorong kursi rodanya untuk mendekati Araka dan berusaha menggapai wajah Araka, tetapi tak sampai. Mengetahui hal itu, Araka lantas berlutut untuk merendahkan posisinya agar sejajar dengan ibunya sambil tersenyum manja. Melihat tingkah manja putranya itu, Bu Melisa pun membelai rambut putranya dengan lembut.
Araka tersenyum bahagia. Namun, tiba-tiba wajahnya berubah suram. Dia menunduk untuk mencegah ibunya melihat wajah suramnya itu. Namun, Bu Melisa terlanjur melihatnya.
“Ada apa Nak?” Tanya Ibu Araka dengan khawatir.
“Bukan apa-apa kok Bu. Perut Araka tiba-tiba sakit. Araka ke toilet dulu ya.” Ucap Araka sembari berdiri dan berjalan meninggalkan ibunya.
[Aku tidak boleh tinggal di rumah ini demi keselamatan Ibu.] Gumam Araka dalam hati.
__ADS_1