DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
12. Masa yang Indah Itu


__ADS_3

Hatiku kalut.  Dan tampaknya Kaiser menyadari hal itu.  Dia seraya berkata, “Kemenangan bukan tujuan.  Tetapi kebahagiaanlah tujuannya.  Kita berusaha menang untuk memperoleh kebahagian dan bukannya mengorbankan kebahagiaan untuk menang.”  Itulah ucapannya padaku sebelum dia dan Dios secara resmi mengundurkan diri dari tim.


Setelah keluarnya mereka berdua dari tim, aku masih sempat bertahan beberapa saat.  Namun, rundungan senior-senior kala itu kian menjadi-jadi.  Satu persatu anggota anak kelas 1 mengundurkan diri.  Aku sedih melihat kenyataan ini.  Terus terang waktu itu di rumah, aku sering dimarahi oleh ayahku karena aku selalu tidak sesuai dengan harapannya.  Aku selalu melawan perkataannya dan tidak menuruti nasihatnya karena waktu itu aku sangat tidak suka untuk diatur-atur.  Jadilah basket menjadi pelarianku di mana dengan bermain basket dan menang, aku bisa melepaskan stresku.


Tetapi satu-satunya pelarianku itupun telah direbut.


Basket tidak lagi menyenangkan.  Rasanya penuh sesak harus berhadapan dengan senior-senior bejat seperti itu di bawah kepemimpinan Dirga.  Di saat itulah aku teringat perkataan Kaiser,


“Kemenangan bukan tujuan.  Tetapi kebahagiaanlah tujuannya.  Kita berusaha menang untuk memperoleh kebahagian dan bukannya mengorbankan kebahagiaan untuk menang.”


Aku akhirnya paham arti di balik ucapannya.  Akhirnya, aku membulatkan tekad untuk keluar dari tim basket karena basket tak memberiku lagi kebahagiaan.


Aku tidak ingat dengan pasti kapan itu, tetapi yang jelas sekitar beberapa minggu aku keluar dari tim basket dan mendekati masa-masa UAS.  Aku melihat Kaiser diantar ke sekolah dengan menggunakan mobil mewah.  Aku keheranan karena kupikir dia adalah orang miskin karena sering bergaul dengan anak yatim piatu seperti Dios.


Setelah kucari tahu, aku baru mengetahui bahwa Kaiser juga sama sepertiku, calon pewaris perusahaan keluarga yang skalanya malah jauh lebih besar dariku.  Awalnya aku kesal karena walaupun dia juga calon pewaris perusahaan, dia bisa tetap hidup dengan bebas tanpa dikekang oleh keluarganya.  Dia seringkali kudapati jalan-jalan dan main bareng dengan teman-temannya.  Betul-betul membuatku iri.


Suatu ketika aku iseng memintanya untuk bermain bersama.  Dengan senang hati dia menerimaku untuk bergabung dengan kelompoknya yang terdiri dari 3 orang yaitu Kaiser, Dios, dan seorang senior lagi bernama Zion.  Yah, walau pasti ujung-ujungnya aku tetap tidak akan bisa bermain dengan mereka karena tidak diizinkan oleh Ayah.  Aku kemudian menelepon ayahku untuk meminta izin, dan ketika aku menyebutkan nama Kaiser Dewantara ketika Ayah menanyakan dengan siapa aku bermain, tanpa pikir panjang, Ayah langsung menyetujuinya.  Aku gembira karena akhirnya bisa bermain di luar, tetapi juga kesal melihat bagaimana aku bisa melakukannya dengan mudah melalui pengaruh seseorang yang bernama Kaiser Dewantara itu.


Sejak saat itu, kami jadi sering main bareng berempat di area perbelanjaan tradisional dekat rumah Senior Zion.  Aku menemukan kesenangan baruku.  Dari situ barangkali awalnya, aku mulai terpengaruh sedikit demi sedikit dengan pola pikir Kaiser.

__ADS_1


Daripada merengek pada dunia tentang kasih sayang yang tidak bisa kita dapatkan perihal orang tua yang sibuk bekerja, mengapa kita tidak bersyukur pada apa yang dihasilkannya berupa kekayaan dan prestige di masyarakat.


Daripada merengek pada dunia tentang tuntutan keluarga yang terlalu berlebihan tentang menjaga sikap kita sebagai kalangan terhormat, mengapa kita tidak melaksanakannya saja, itu toh juga sangat bermanfaat bagi diri kita ketika terjun di dunia masyarakat kelak.


Dan daripada mengeluh soal tidak diberi kebebasan karena setumpuk tugas dari keluarga, mengapa tidak menjalani keduanya saja, tugas-tugas yang menjadi tuntutan keluarga sekaligus hobi kita di mana semuanya pasti bisa dibicarakan baik-baik oleh keluarga.


Satu-persatu, aku mengubah pola pikirku.


Aku mulai berusaha mengerti ayah dan ibu yang pulang terlambat dengan tidak lagi merengek, tetapi justru memberikan ucapan selamat datang ketika kebetulan aku belum tidur ketika mereka datang.  Aku mulai menjaga sikapku di luar dengan tidak lagi berpakaian seperti preman dan menjauhi rokok.


Aku mulai melaksanakan tugas-tugasku sebagai calon pewaris keluarga termasuk tugas-tugas sekolah dengan baik sehingga ayahku puas akannya.


Usai UAS semester genap, kami masih sering ketemuan untuk jalan-jalan.  Dan tanpa terasa hari di mana kami naik kelas 2 SMP pun tiba.  Kami melanjutkan menikmati masa muda kami bersama.  Kupikir, kebahagiaan ini akan terus berlanjut.  Namun, tepat awal semester genap, peristiwa tragis itu pun terjadi.


Dirga dan teman-temannya menganiaya Dios sehingga masih koma sampai sekarang.  Kaiser pada akhirnya berhasil menjerat pelaku ke persidangan dan dihukum.  Namun, hukum yang diberikan tidak sesuai dengan perbuatan mereka.  Keluarga Dewantara kuat, tetapi belum cukup kuat untuk melawan serikat keluarga-keluarga berpengaruh lainnya.  Alhasil, mereka hanya dihukum tahanan rumah selama 2 tahun dan dicabut haknya untuk bersekolah di sekolah publik.  Yah, namun hukuman sosial berupa pengucilan masyarakat pasti lebih berpengaruh pada mereka.


Setelah kejadian itu,  Kaiser memutuskan untuk pindah sekolah.  Selama 2 tahun, aku pun kehilangan kontak dengannya.


Alangkah bersyukurnya aku, ketika aku mendengar kabar bahwa Kaiser mengikuti pendaftaran ujian masuk di SMA ini.  Aku tanpa pikir panjang segera ikut mendaftar ke sekolah ini.  Dan lebih bersyukurnya lagi, tidak seperti dulu, kini kami satu kelas.

__ADS_1


***


“Andika, kenapa kamu cengingisan begitu melihat Kaiser.  Aku jadi jijik melihatmu.”  Ucap Beni membuyarkan lamunan Andika.


“Tidak.  Hanya teringat kisah masa lalu.”  Ujar Andika yang menanggapi ejekan Beni justru dengan tawa yang ceria.


“Benar juga ya, dulu kita sering ke tempat Senior Zion untuk bermain.”  Ucap Kaiser seraya menampakkan senyumnya yang menawan tetapi tak dapat menutupi kekalutan hatinya yang terpancar di ekspresi matanya.


“Tempat kenangan kalian berdua ya, aku jadi ingin ke sana.  Bagaimana kalau kita ke sana sepulang sekolah.”  Ucap Beni berusaha memohon kepada mereka karena penasaran.


“Itu.  Kita tidak bisa gegabah dengan banyaknya wartawan yang menunggu Kaiser di depan gerbang.  Lebih aman jika Kaiser segera pulang rumah seusai sekolah.”  Jawab Andika berusaha menolak ajakan Beni.


Sebenarnya, bukan itu saja alasan Andika menolak ajakan Beni.  Yang paling ditakutkan oleh Andika adalah pandangan menghakimi yang mungkin saja Kaiser akan peroleh dari orang-orang yang terpengaruh oleh provokasi media.  Tidak ada yang lebih menakutkan dari hal itu.


Kaiser mungkin bisa tenang berinteraksi di sekolah karena tidak satu orang pun yang menghakiminya di sekolah.  Bagi angkatan kelas 1 jurusan umum, Kaiser bagaikan idola yang menyatukan mereka.  Mereka adalah angkatan yang solid sehingga provokasi dari media pun, tak akan membuyarkan rasa solidaritas di antara mereka.  Terlebih Kaiser, adalah maskot angkatan yang dikagumi oleh semua orang di angkatan.  Itu tentu saja berkat usaha Kaiser yang tak henti-hentinya menebarkan rasa pertemanan dengan senyumnya yang hangat dan hatinya yang tulus.  Hal itu membuat dinding ego yang setebal apapun meleleh di hadapan uluran tangan Kaiser.


Tetapi berbeda halnya dengan di luar sekolah.  Mereka tidak mengenal pribadi Kaiser.  Sangat mudah bagi orang-orang yang tidak pernah berinteraksi dengan Kaiser untuk bersikap menghakiminya karena provokasi media.  Ambil contoh dengan siswa-siswa kelas seni yang tidak pernah mengenal Kaiser dengan baik.  Mereka langsung segera terprovokasi oleh berita palsu itu.


Tiba-tiba, sebuah berita yang tidak asing terdengarkan di televisi besar yang terdapat di kantin itu.  Reporter yang tidak asing dengan logo TV yang tidak asing.  Dialah Vet Tcin dari NTV News yang terkenal dengan julukannya Sang Penyedap Rumor.

__ADS_1


__ADS_2