
Jumat itu, sepulang sekolah, Kaiser hanya pulang ditemani oleh Beni. Andika dan Loki kala itu absen dari kelas sepanjang hari tepat ketika Kaiser untuk pertama kalinya menghadiri kembali sekolah setelah mengalami peristiwa naas itu.
Tampak Kaiser dan Beni berjalan melewati pintu keluar gedung kelas 1 yang juga merupakan gedung tempat ruang guru dan staf akademik berada.
“Hahahaha. Memang yang paling membuatku nyaman berjalan di sampingnya hanyalah kamu, Beni.” Ujar Kaiser dengan santai sambil tertawa ringan.
“Ada apa tiba-tiba?” Ujar Beni seraya menatap Kaiser dengan kebingungan.
Ekspresi Beni kemudian berubah menjadi kesombongan seraya berkata, “Mungkinkah kamu baru menyadari karisma Beni yang hebat ini?”. Ujarnya seraya tersenyum nakal sambil mendekatkan wajah blagunya itu ke muka Kaiser.
Kaiser dengan segera menjauhkan wajahnya itu dari muka Beni yang terlalu dekat jaraknya yang membuatnya tidak nyaman sampai-sampai dia dapat merasakan bau nafas temannya itu.
“Hehehehe.” Kaiser lantas tertawa cekikikan melihat kekonyolan tingkah Beni yang khas yang walaupun sama konyolnya, nuansanya agak sedikit berbeda dengan Andika.
“Karisma kah? Hahahaha. Mungkin ada benarnya juga. Sebagai sesama orang yang pendek di kelas kita, aku yang paling bisa memahami karismamu, Beni. Hehehehe.” Kaiser melanjutkan dengan ejekan ringan seraya tertawa nakal.
Wajah Beni pun langsung berubah kecewa dengan ekspresi yang justru membuat orang-orang akan semakin tergoda untuk mengganggunya.
“Apanya yang pendek? Tinggiku 172 cm. Justru kelas kitalah yang tidak wajar karena memiliki kumpulan siswa tiang listrik.” Ujarnya secara merajuk.
“Tapi aku masih dalam masa pertumbuhan. Sebentar lagi aku pasti bisa melampaui tinggi Loki, lalu Andika.” Ujar Beni dengan penuh tekad seraya mengepalkan tangan kanannya seraya kuat-kuat di depan dadanya.
“Di saat itu, Loki dan Andika juga pasti akan bertambah tinggi lagi. Kamu tidak akan pernah melampaui mereka. Hehehehe.” Ujar Kaiser dengan tertawa ceria melihat tingkah Beni yang unik itu.
“Aku paling tidak mau mendengar hal itu dari orang yang lebih pendek dariku.” Ujar Beni marah dengan tingkahnya yang unik hingga justru malah terkesan lucu.
“Ngomong-ngomong sudah hampir UAS semester genap ya. Aku berharap masa-masa ini dapat bertahan lebih lama lagi.” Ujar Beni sekali lagi. Ekspresinya seketika berubah menjadi kesenduan.
“Ada apa Beni? Jangan-jangan kamu tidak ingin kehilangan sahabat baik sepertiku? Itu bisa dimaklumi karena teman limited edition sepertiku sangat langka untuk didapatkan. Hehehehe.” Goda Kaiser seraya tersenyum nakal.
Kaiser tidak mendengarkan balasan Beni yang unik seperti biasanya. Dia pun menoleh ke teman kelasnya itu. Terlihat kejanggalan di balik ekspresi Beni. Entah mengapa hari itu, Beni tidak bersikap rusuh seperti biasanya. Ada kesenduan di balik kedua matanya.
__ADS_1
“Tenang saja Bro. Kelas 2 nanti, kita juga akan tetap sama-sama. Semester depan kan sekolah kita sudah akan menerapkan kurikulum baru. Tidak ada lagi istilah pembagian kelas IPA dan kelas IPS. Setidaknya, untuk pelajaran umum, kita akan masih sekelas bareng.” Ujar Kaiser seraya menepuk bahu Beni sambil memperhatikan baik-baik ekspresi temannya itu.
“Hmm.” Jawab Beni singkat.
“Yosh. Hari ini mari kita main game online bersama di warnet dekat sekolah!” Beni pun segera mengganti gearnya dan menunjukkan ekspresi semangat lagi.
“Lho kok tiba-tiba? Apa tidak apa-apa? Bukankah hari ini juga jadwal latihan reguler bagi ekskul basket?” Kaiser mau tidak mau bertanya karena penasaran.
“Sekali-kali bolos tidak apa-apa kan?” Ujar Beni dengan senyum nakal seraya melirik ke samping ke arah Kaiser sambil mengedipkan salah satu matanya.
Kaiser diam sejenak menatap Beni untuk membaca situasi. Dia bisa merasakan ada yang salah dengan temannya hari itu. Tetapi daripada memaksanya mengatakan hal yang tidak diinginkannya, Kaiser lebih memilih untuk menghibur temannya itu dengan mengajaknya bermain dengan bersikap seperti biasanya.
“Yuk. Kali ini pun aku takkan memberimu ampun.” Ujar Kaiser seraya tersenyum ceria pada temannya itu.
“Berani kamu mengatakannya ya? Kali ini aku pasti akan membuatmu babak belur.” Beni pun membalas Kaiser dengan ucapan optimisnya seraya turut tersenyum ceria.
Tak lama kemudian, mereka berdua pun telah sampai di pintu gerbang depan sekolah mereka. Terlihat kerumunan orang di depan gerbang itu tak seperti biasanya. Rupanya, penyebab kerumunan tidak lain adalah Alicia bersama dengan Gegi dan para fans fanatik Gegi.
“Iya, semangat Gegi! Orang itu pasti akan segera ditangkap.”
Suara teriakan terdengar di antara kerumunan.
“Premanisme di sekolah memang sangat menakutkan. Tetapi demi menimba ilmu pengetahuan, aku tidak akan membiarkan rasa takutku menghalangiku. Aku yakin bahwa polisi juga pasti akan segera menemukan bukti dan menangkapnya.” Ujar sang aktor muda dengan penuh retorika.
“Gegi. I love you”
“Gegi, saranghae.”
Teriak kerumunan sekali lagi.
Kaiser pun tiba di jarak jangkauan pandangan mereka.
__ADS_1
“Lihat di sana!” Salah seorang di kerumunan pun berteriak sambil menunjuk Kaiser.
“Pergi kamu dari sini, dasar iblis! Jangan ganggu Gegi kami.” Umpat seorang gadis kecil yang mungkin masih SMP secara tiba-tiba seraya hendak melempari Kaiser dengan telur. Tetapi dengan sigap, Beni menggunakan jaketnya untuk melindungi temannya itu. Beni menatap anak itu dengan ekspresi marah sehingga membuat anak itu menjadi sangat ketakutan.
Melihat itu, Kaiser langsung maju menghampiri anak itu.
Kaiser bukannya memarahi anak itu, tetapi lantas tersenyum ramah ala pangerannya. Diapun menepuk kepala anak perempuan itu dengan tetap mempertahankan senyum ala pangerannya, seraya mengatakan, “Anak gadis yang baik tidak boleh melakukan hal seperti itu. Kamu harus lebih menjaga dirimu karena kamu adalah orang yang berharga.”
Anak perempuan itu beserta anak-anak perempuan lainnya yang dapat melihat ketampanan wajah Kaiser dengan warna mata birunya yang bak berlian mendadak terpesona oleh ketampanan yang tiada taranya itu. Muka mereka memerah dan jantung mereka berdetak kencang. Gumaman di hati mereka seakan satu frekuensi memuja ketampanan sosok bagai malaikat itu.
Kaiser pun tetap tersenyum ala pangerannya sembari meninggalkan tempat itu bersama Beni. Para fans Gegi itu hanya dapat berdiri mematung seraya terpesona walaupun dengan teriakan-teriakan dari Gegi yang mencoba menyadarkan mereka dari hipnotis ketampanan wajah Kaiser.
Hari itu, fans Gegi pun mengalami penurunan drastis, yang disertai dengan lonjakan tajam kenaikan pendukung fanatik Tuan Muda Kaiser itu.
***
“Maaf ya Beni. Karenaku, jaketmu jadi kotor.”
“Tidak kok. Bukan apa-apa.” Ucap Beni yang mencoba menenangkan Kaiser dari rasa bersalahnya.
Mereka pun memilih untuk duduk di kursi warnet paling pojok untuk bermain. Tampak mereka begitu menikmati permainan game online itu. Tanpa terasa, dua setengah jam telah berlalu dan senja pun memaksa mereka untuk menyudahi kesenangan mereka.
Kaiser pun naik trans Jakarta duluan meninggalkan Beni yang sedang menunggu supir pribadinya. Di luar dugaan, bukan supir pribadinya yang datang, melainkan Nayla yang menurut pengakuan Beni adalah teman masa kecilnya.
“Kamu tampaknya cukup bersenang-senang bermain bersama Tuan Muda ya, Beni?” Ucap Nayla.
“Begitulah.” Jawab Beni dengan senyum ceria di wajahnya yang menampilkan kepuasan batinnya setelah menikmati waktu bermainnya berdua bersama temannya Kaiser.
“You couldn’t have forgotten the main task the organization gave you, could you, Arthur?”
Ucapan Nayla yang tiba-tiba itu lantas membuat ekspresi Beni berubah serius.
__ADS_1
“Of course, Sandra.” Jawab Beni serius.