
Bu Desi yang melihat suaminya dengan ekspresi kesusahan kemudian mendekati dan berniat menghiburnya.
“Mas, hari ini nggak pergi ke kantor lagi? Mau aku buatin cemilan Mas?” Ujar Bu Desi dengan ramah.
“Bagaimana aku bisa ke kantor sedangkan job menurun belakangan ini? Tidak bisakah ayahmu mempromosikan aku ke lebih banyak klien-kliennya lagi?” Tetapi daripada menyambut Bu Desi dengan senyum ramah pula, Pak Sudarmin justru menanggapinya dengan permintaan secara dingin.
“Ah, maafkan aku, Mas. Ayah juga tampaknya masih sedang berusaha, tetapi itu…”
Bu Desi tampak ragu-ragu sebelum mengatakan. Tetapi apa yang ditahannya akhirnya diucapkannya.
“Apa jangan-jangan Mas sedang konflik dengan pengusaha bernama Ducias?”
“Kenapa nama kakek peot itu muncul lagi?!” Pak Sudarmin pun berteriak tak dapat menahan amarahnya.
“Maafkan aku Mas. Banyak rekan bisnis yang menolak untuk membantu perihal diboikot oleh orang itu. Ayah juga tak dapat berbuat banyak.”
“Ck.” Mendengar itu, Pak Sudarmin hanya mendecakkan lidahnya dengan dingin. Dia terlihat sangat frustasi.
Dalam situasi panas itu, seorang pembantu tiba-tiba mendatangi mereka. Pembantu itu melaporkan bahwa sejak tadi, Silva belum juga keluar dari kamar dan masih mengunci pintunya. Termasuk di saat para pelayan membawakannya sarapannya, tetap tidak ada jawaban dari dalam kamarnya.
“Dia pasti masih marah soal kemarin. Ck, semua keluarga Dewantara memang menjengkelkan. Kata-kata provokasi seperti apa sebenarnya yang sudah dilontarkan bocah sialan itu sampai membuat Silva semurung ini?” Ujar Pak Sudarmin kesal.
“Tapi Sayang, jika dibiarkan, Silva bisa saja jatuh sakit karena tidak makan.” Bu Desi pun mencoba membujuk suaminya.
“Hah.” Pak Sudarmin pun mengembuskan nafas panjang.
“Baiklah, ayo ke kamarnya.” Dengan ajakan Pak Sudarmin, mereka pun menuju ke kamar putrinya tersebut.
***
“Tok, tok, tok. Silva….Silva…Silva…”
__ADS_1
Bahkan setelah berkali-kali Pak Sudarmin mengetuk-ngetuk pintu dan bahkan memanggil-manggil namanya berulang kali, Silva tetap saja belum menyahut.
Tiba-tiba Pak Sudarmin pun tersadar bahwa Silva baru saja bertemu dengan orang yang dia anggap sebagai pembunuh berantai kemarin. Keringat dingin pun mengalir keluar di pelipis Pak Sudarmin, jangan-jangan putrinya telah dihabisi olehnya.
Pak Sudarmin telah mengetahui bahwa seseorang dengan kekuatan supranatural dapat membunuh seseorang dengan cara yang di luar nalar manusia seperti apa yang dulu dilakukan oleh Jingmi kepada adik Pak Sudarmin, Sudrajat. Jangan-jangan, Kaiser pun sewaktu bertemu dengan Silva kemarin telah menanamkan sesuatu kepada putrinya dan sesuatu itu telah bereaksi sekarang dan merenggut nyawa putrinya itu.
Pak Sudarmin pun tak dapat menahan rasa khawatirnya.
“Kapak! Ambil segera kapak di gudang dan segera panggil tukang kebun kemari! Suruh mereka untuk segera membongkar pintu ini! Cepat!” Teriak Pak Sudarmin tampak tidak tenang, menyuruh pembantunya itu.
“Baik, Tuan.”
Pembantu itupun segera berlari, mengeksekusi perintah majikannya.
“Sayang?” Bu Desi tampak kebingungan dengan sikap suaminya yang tiba-tiba panik itu, tetapi Pak Sudarmin sama sekali tak punya kesempatan, saking resahnya dia pada keadaan putrinya, untuk menanggapi kekhawatiran istrinya padanya.
Beberapa menit kemudian, para tukang kebun di rumah Pak Sudarmin pun memasuki ruangan sambil membawa kapak dan segera membongkar pintu yang terkunci itu sesuai perintah Pak Sudarmin.
Dia pun menuju ke kamar ganti putrinya yang terletak di belakang, berharap jika Silva berada di sana. Namun, sekali lagi, tak ada siapa-siapa yang ditemuinya di sana.
Satu lagi tempat yang tersisa yang belum diperiksanya. Pak Sudarmin pun menatap pintu kamar mandi. Dia kemudian akhirnya membuka pintu tersebut.
Betapa kagetnya dia, begitu pintu dibuka, gumpalan asap putih memenuhi ruangan itu. Dan yang lebih membuatnya shok yakni ketika asap putih itu perlahan menipis, didapatinya putrinya dalam kondisi terlentang di kamar mandi itu.
Dia segera memeriksa denyut nadi putrinya itu. Tetapi sayang, tidak ada lagi denyut nadi yang terasa di tangan putrinya itu. Putrinya telah meninggal.
“Silvaaaaaa!” Melihat jasad putrinya yang terbujur kaku di hadapannya itu, Pak Sudarmin pun berteriak sejadi-jadinya.
Sementara itu, Bu Desi yang turut menyaksikan kejadian dari luar, tak dapat menahan tekanan batinnya dan terkulai lemas. Untungnya seorang pembantu yang bersamanya secara sigap menggapainya sebelum terjatuh ke lantai.
“Kenapa? Kenapa bisa jadi seperti ini? Padahal aku telah menyewa begitu banyak penjaga walaupun kondisi ekonomi perusahaan sedang tidak baik. Bahkan, pintu-pintu telah diamankan oleh logam khusus yang kupesan dari Lu Tianfeng. CCTV pun juga di mana-mana dan bahkan ada petugas yang mengawasi CCTV selama 24 jam. Tapi mengapa?”
__ADS_1
Pak Sudarmin menitihkan air matanya.
“Tetapi mengapa putriku bisa dibunuh seperti ini tanpa diketahui siapapun?!” Pak Sudarmin pun berteriak. Dia tampak merasa sangat kehilangan putrinya
“Seandainya ada Jingmi di sini!” Ujar Pak Sudarmin dengan lirih.
“Kaiser! Bocah sialan itu! Dia pasti yang telah melakukan semua ini. Dia telah merenggut semua orang yang kucintai. Tidak hanya Vet Tcin, kali ini, putri satu-satuku pun telah direnggutnya!”
Pak Sudarmin pun membelalakkan matanya. Tampaknya dia telah membulatkan tekadnya untuk membalas dendam.
“Aku tidak peduli lagi jika aku juga harus mati di tanganmu, bocah sialan! Setidaknya akan kuseret kau bersama-sama ke neraka.”
Pak Sudarmin pun keluar dari kamar itu dan segera menyiapkan segala persenjataan yang ada di gudangnya. Dia turut pula memanggil semua bodyguardnya untuk mengikutinya membasmi makhluk terkutuk yang dia yakini telah merenggut nyawa putrinya itu, Kaiser.
Namun, Pak Sudarmin yang hendak berangkat, tiba-tiba dicegat oleh Bu Desi. Bu Desi mencengkeram celana suaminya itu kuat-kuat untuk menghalanginya pergi.
“Sayang, kamu mau ke mana dengan semua senjata-senjata itu? Tenanglah Sayang! Bagaimana jika sesuatu juga terjadi padamu? Apa yang bisa kulakukan seorang diri?”
“Minggir!”
“Aaakh!”
Tetapi dengan dingin Pak Sudarmin menampik istrinya itu sehingga terjatuh ke lantai.
“Aku sama sekali tidak pernah menganggapmu selain hanya dompet berjalan saja. Orang yang penting bagiku hanyalah belahan hatiku Vet Tcin dan putriku semata wayang Silva saja. Tetapi kedua orang itu telah tidak ada lagi. Aku sudah tidak peduli lagi dengan semuanya.”
Pak Sudarmin menanggapi istrinya denga perkataan yang dingin dan ucapan yang menyayat hati. Hal itu lantas membuat Bu Desi shok sehingga hanya bisa terdiam sambil menitihkan air mata frustasi, melihat suaminya itu pergi dari hadapannya.
Pak Sudarmin pun berangkat bersama para bodyguardnya dengan mengendarai 3 buah mobil menuju langsung ke sekolah Kaiser dengan kecepatan tinggi. Tetapi, ketika rombongan itu melewati jalan tol di tepi jurang, tiba-tiba saja terjadi longsor dan bebatuan besar berjatuhan dari atas tebing menimpa mereka.
Ketiga mobil yang ditumpangi rombongan Pak Sudarmin itu pun terlempar ke jurang. Tidak ada satu pun yang selamat dari tragedi naas itu, termasuk Pak Sudarmin. Dan dari atas tebing, tampak sesosok berambut panjang yang seluruh tubuhnya tertutupi oleh asap hitam.
__ADS_1