
Aku terlahir sebagai anak tunggal dari seorang ayah penerus grup perusahaan generasi kedua. Hal itu lantas otomatis menjadikanku sebagai calon pewaris grup perusahaan generasi ketiga.
Sebagai seorang calon pewaris, aku dituntut untuk senantiasa bersikap sempurna. Kakek dan nenek dari pihak ibuku senantiasa mendikteku tentang bagaimana aku harus bersikap, apa yang harus kupelajari, bahkan sampai pada dengan siapa aku bisa bergaul. Sungguh kehidupan yang memuakkan.
Tidak hanya itu saja, pihak-pihak anggota keluarga dari keluarga cabang yang sedikit lebih tua dariku senantiasa mengintimidasiku, menindasku, dan bahkan tak segan-segan memperdengarkanku di belakang tentang segala hal yang tak ingin kudengar. Aku senantiasa tak tahan dengan hinaan mereka itu dan kadang-kadang berusaha kabur dari rumah.
Namun, ketika aku melakukan hal itu, kini giliran nenek dan kakekku yang menghukumku dengan berbagai macam pembelajaran tentang sikap. Aku benar-benar letih dengan semua itu.
Dari kecil, sejak aku berusia 3 tahun, aku sudah harus menjalani segala macam pelatihan untuk menjadi seorang pewaris yang baik dari nenek dan kakek dari pihak ibuku. Lebih buruknya lagi, kedua orang tuaku sama sekali tidak pernah peduli dengan penderitaanku itu.
Tetapi untunglah ada Kakek Ducias, kakek dari pihak ayahku, yang senantiasa memberikan kasih sayangnya kepadaku yang memberikanku sedikit motivasi untuk bertahan dengan pelatihan berat dan memuakkan itu.
Lalu suatu hari, tepat ketika aku berusia 6 tahun, adik sepupuku dari keluarga cabang pun ikut tinggal di rumah kami. Dia sungguh adik yang baik. Ketika aku murung karena beratnya pelatihan atau ketika anak-anak dari pihak keluarga cabang menjahiliku, dialah yang senantiasa menghiburku. Sejak kedatangannya ke rumah kami, hidupku terasa lebih bahagia. Hari-hari kujalani dengan lebih berharga.
Tetapi, aku begitu bodoh. Aku tidak bisa melihat segala apa yang terjadi di belakang. Aku terlalu naif dan hanya ingin melihat apa yang baik-baik saja. Karena sikapku itulah, aku menyakiti adik sepupuku itu tanpa kusadari.
Selama ini, ketika aku tidak lagi mengalami perundungan dari anak-anak pihak keluarga cabang, aku kira itu adalah hal yang terjadi secara alami. Aku tidak pernah menyangka bahwa adik sepupuku-lah yang menggantikan posisiku itu dalam mengalami perundungan. Namun berbeda denganku, adik sepupuku kuat sehingga mampu melawan balik mereka hingga mereka tidak berani lagi berulah di keluarga utama.
Aku sangat menyayangi adik sepupuku itu. Dia baik hati, ramah, ceria, senantiasa berpikiran positif, namun dia juga kuat dan tak mudah jatuh mental di hadapan orang-orang jahat. Aku selalu menganggap adik sepupuku itu sebagai hadiah dari Tuhan untukku agar aku tidak kesepian. Namun, sekali lagi aku begitu bodoh. Aku sama sekali tidak menyadari posisi kami berdua sehingga membuat nenekku menaruh perhatiannya padanya.
Karena kekurangcakapanku dalam pelatihan sebagai pewaris, banyak muncul desas-desus bahwa adik sepupuku-lah yang lebih pantas memiliki posisi itu. Alhasil, suatu hari aku menguping pembicaraan nenekku tentang bagaimana nenekku akan mengirim pembunuh bayaran untuk membunuh adik sepupuku itu karena rasa insecurenya bahwa posisiku sebagai calon pewaris akan direbut olehnya.
Namun, aku terlalu takut untuk menghadapi kenyataan sehingga aku senantiasa menanamkan sendiri di pikiranku bahwa aku sama sekali tidak mendengarkan apa-apa. Aku hanya bersembunyi dalam cangkangku.
Namun, setiap kali melihat adik sepupuku baik-baik saja hari demi harinya setelah aku mendengarkan pembicaraan rahasia Nenek tersebut, setiap kali pula perasaanku jadi lega. Aku sangat pengecut kan? Aku tidak pernah berani berbuat dan hanya bersembunyi dalam cangkangku sambil berharap kalau semuanya akan baik-baik saja.
__ADS_1
Bahkan ketika pada puncaknya bertepatan sebelum nenek dan kakek meninggal akibat kecelakaan di mana adik sepupuku itu dikunci di gudang tanpa diberi makan dan minum, aku hanya pura-pura tidak tahu.
Dengan tanpa tahu malunya, aku seperti itu, padahal akulah penyebab sampai nenekku punya alasan untuk mengurung adik sepupuku itu di gudang.
Memasuki kelas 2 SMP, adik sepupuku akhirnya dapat satu sekolah denganku setelah kepergian nenekku yang senantiasa mendiktekan derajat yang berbeda padaku dan adik sepupuku itu. Namun, sekali lagi aku berbuat bodoh.
Suatu hari, Dios memprovokasi aku bahwa aku hanyalah duri dalam daging bagi adik sepupuku itu yang senantiasa memberikannya masalah karena sikap bodoh dan tidak dewasaku ini. Karena tidak terima akan hal itu, jadilah aku mengulangi kebodohan untuk yang ketiga kalinya yang kali ini sangat tidak termaafkan.
Aku mempelopori pembulian Dios dengan meminta bantuan Araka yang menjadikannya koma bahkan setelah dua tahun lebih berlalu. Lagi-lagi, benar apa yang dikatakan Dios, aku menjadi duri dalam daging bagi adik sepupuku.
Tetapi mengapa, mengapa selalu adik sepupuku yang mendapatkan getahnya? Jika ini semua adalah salahku, harusnya aku yang menanggung semua akibatnya. Tetapi mengapa adik sepupuku yang harus dirundung anak-anak dari keluarga cabang itu? Mengapa adik sepupuku mesti menghadapi berbagai percobaan pembunuhan dari nenekku sendiri?
Dan bahkan sekarang karena kebodohanku, adik sepupuku sekali lagi mendapatkan ancaman pembunuhan dari seorang pembunuh berantai. Mengapa selalu adik sepupuku yang menanggung akibat dari kebodohanku?
***
Namun, tiba-tiba suatu surat masuk dengan diantarkan oleh makhluk berwujud jeli yang menyerupai bentuk burung berwarna biru. Danial pun membaca surat itu. Setelah membaca surat itu, surat itu lenyap seketika karena terbakar dan Danial pun tampak tersenyum sendu namun penuh kelegaan setelah membaca isi surat tersebut.
***
“Loki, ada apa?” Setelah mendengarkan ucapan Loki yang tiba-tiba ingin ikut bersamanya ke rumahnya, Kaiser pun menjadi heran dan bertanya.
Loki kemudian menunjuk matanya.
“Kamu tahu kan kespesialan seorang anak sindrom pelangi, Kaiser?”
__ADS_1
Mendengar ucapan Loki itu, Kaiser hanya terdiam, tetapi dipenuhi dengan begitu banyak tanda tanya di hatinya.
“Kita memiliki peluang besar untuk terbangkitkan dan menjadi seorang spiritualis hanya dengan sedikit usaha karena di dalam tubuh kita telah tertanam inti dari cakra. Dan akupun telah terbangkitkan.” Ujar Loki dengan penuh keseriusan pada tatapan matanya.
Kaiser tetap tak mengatakan apa-apa, atau lebih tepatnya tak dapat berkata apa-apa karena saking kagetnya yang dapat terlihat dari ekspresi wajahnya.
Justru Andika-lah yang memberikan komentar pertama.
“Loki, jadi kamu termasuk salah satu dari kumpulan para spiritualis itu?”
Mendengar komentar Andika, Loki tersenyum kecut.
“Aku paling tidak ingin mendengar komentar itu darimu, Andika, karena kamu juga salah satu dari orang yang terbangkitkan. Tapi kamu bahkan tidak menyadarinya sendiri.”
“Aku orang yang terbangkitkan? Tidak, tidak, itu tidak mungkin, soalnya aku tidak bisa mengeluarkan api, membelah angin, atau hal absurd lainnya.” Ujar Andika dengan setengah tidak percaya berusaha menolak perkataan Loki.
“Mari kita tinggalkan pembicaraan tentang Andika dulu soalnya ada yang lebih penting untukmu, Kaiser. Kamu tahu, kemampuanku adalah memprediksikan masa depan.”
Loki terdiam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
“Dan di masa depan yang aku prediksikan saat ini, ada kemungkinan kalau kamu akan mati malam ini.” Ujar Loki dengan ekspresi yang serius.
Ekspresi Kaiser pun berubah menjadi tajam dan was-was setelah mendengarkan ucapan Loki tersebut. Hal yang tidak jauh beda ditunjukkan oleh Fero. Sementara Andika menggertakkan giginya serta menggenggam kuat-kuat telapak tangannya dan tanpa sadar, dia seraya menitikkan air matanya.
“Namun, selama kamu mendengarkan ucapanku, masa depan yang terburuk itu dapat dihindari. Dengar, Kaiser, sebentar lagi kamu akan segera menerima panggilan telepon. Ke mana pun orang di dalam telepon itu memintamu untuk datang, jangan datang ke sana.” Ucap Loki dengan tegas.
__ADS_1